Laporan Praktikum Titrasi Pengendapan dan Aplikasinya Dalam Menentukan Kadar Cl Dalam Air Keran


I.              Judul Percobaan                      : Titrasi Pengendapan dan Aplikasinya Dalam Menentukan Kadar Cl Dalam Air Keran
II.           Tanggal/Hari Percobaan         : 19 November 2018 (9.30-12.00)
III.        Tujuan Percobaan                   :
1. Standarisasi larutan AgNO3 dengan NaCl
2. penentuan kadar Cl- dalam air keran
IV.        Tinjauan Pustaka
Titrasi pengendapan terdiri dari titran dan analit, titrasi pengendapan merupakan titrasi yang melibatkan pembentukan endapan dan garam yang tak mudah larut antara titran dan analit. Hal dasar yang diperlukan dari titrasi jenis ini adalah pencapaian keseimbangan pembentukan yang cepat setiap kali titran ditambahkan pada analit, tidak adanya interferensi yang mengganggu titrasi, dan titik akhir titrasi yan mudah diamati.
Endapan adalah zat yang memisahkan diri sebagai suatu fase padat yang keluar dari larutan. Endapan dapat berupa kristal atau koloid, dan dapat dikeluarkan dari larutan dengan penyaringan atau penyusingan (centrifuge). Endapan terbentuk jika larutan menjadi larutan jenuh dengan zat yang bersangkutan. Kelarutan tidak bergantung pada tekanan karena prosesnya dilakukan dalam bejana terbuka pada tekanan atmosfer. Kelarutan zat bergantung pada sifat dan konsentrasi zat lain, terutama ion-ion dalam campuran tersebut (Svehla, G.,1979).
Salah satu jenis titrasi pengendapan yang sudah lama dikenal adalah melibatkan reaksi antara ion halida (Cl-, I-, Br-) dengan ion perak Ag+. Titrasi ini disebut sebagai argentometri, yaitu titrasi penentuan analit yang berupa ion halida (pada umumnya) dengan menggunakan larutan baku AgNO3 sebagai larutan baku. Titrasi argentometri juga dapat digunakan untuk menentukan thioalkohol, asam lemak, dan beberapanion divalent seperti ion phospat dan ion arsenat (Khopkhar,1990).
Reaksi pengendapan ialah apakah reaksi ini dapat terjadi pada suatu keadaan tertentu. Jika Q adalah nilai hasil kali ion-ion yang terdapat dalam larutan, maka kesimpulan yang lebihumum mengenai pengendapan dasar larutan adalah : Pengendapan terjadi jika Q > Kspy. Pengendapan tak terjadi jika Q < Kspy. Larutan tepat jenuh jika Q = Ksp. Jika suatu garam memiliki tetapan hasil kali larutan yang besar, maka dikatakan garam tersebut mudah larut. Sebaliknya jika harga tetapan hasil kali larutan dari suatu garam tertentu sangat kecil, dapat dikatakan bahwa garam tersebut sukar untuk larut. Harga tetapan hasil kali kelarutan dari suatu garam dapat berubah dengan perubahan temperatur. Umumnya kenaikan temperatur akan memperbesar kelarutan suatu garam, sehingga harga tetapan hasil kali kelarutan garam tersebut juga akan semakin besar (Petrucci,1987).
Dasar reaksi titrasi pengendapan ialah terjadinya endapan pada reaksi antara zat analit dengan penitrasi, misalnya :
Ag+ + X- → AgX(s), dimana X = halogen
Ag+ + CrO42- → Ag2CrO4(s) (merah bata)
 (Panduan Praktikum,2018)
Ada beberapa cara untuk menentukan titik ekivalen pada titrasi pengendapan, antara lain :
1.      Dengan pembentukan endapan berwarna (Cara Mohr).
Pada metode ini, titrasi halida dengan AgNO3 dilakukan dengan indikator K2CrO4. Terutama untuk menentukan garam klorida dengan titrasi langsung, atau menentukan garam perak dengan titrasi kembali setelah ditambah larutan NaCl berlebih. Indikator menyebabkan terjadinya reaksi pada titik akhir titrasi. Pada titik akhir titrasi, ion Ag+ yang berlebih akan diendapkan sebagai Ag2CrO4 yang berwarna merah bata yang sangat sedikit sekali dapat larut. Titrasi ini hendaknya dilakukan dalam suasana netral atau sedikit basa, yakni dalam rentang pH 6,5 – 9. Jika pH terlalu asam, sebagian indikator K2CrO4 akan berbentuk HCrO4, sehingga larutan AgNO3 lebih banyak yang dibutuhkan untuk membentuk endapan Ag2CrO4.  Sedangkan pada pH yang terlalu basa, sebagian Ag+ akan diendapkan mnejadi perak karbonat atau perak hidroksida, sehingga larutan AgNO3 sebagai penitrasi lebih banyak yang dibutuhkan (Underwood,2002).

2.      Dengan pembentukan persenyawaan berwarna yang larut (Cara Volhard).
Indikator Fe+ untuk titran KSCN atau NH4scn. Untuk menentukan garam perak dengan titrasi langsung atau garam-garam klorida, bromida, dan iodida dengan titrasi setelah ditambahkan larutan baku AgNO3 berlebih (Underwood,2002).
3.      Dengan indikator (Cara Fajans).
Menggnakan indikator adsorpsi menurut macam anion yang diendapkan oleg Ag+, pH bergantung dari mana anion dan indikator yang digunakan (Underwood,2002).
Faktor-faktor yang mempengaruhi kelarutan :
1.      Temperatur : kelarutan bertambah dengan naiknya temperatur. Kadangkala endapan yang baik terbentuk pada larutan panas, tetapi jangan dilakukan penyaringan terhadap larutan panas karena pengendapan dipengaruhi oleh factor temperatur.
2.      Sifat pelarut : garam-garam anorganik lebih larut dalam air. Berkurangnya kelarutan di dalam pelarut organik dapat diguanakan sebagai dasar pemisahan dua zat.
3.      Efek ion sejenis : kelarutan endapan dalam air berkurang jika larutan tersebut mengandung satu dari ion-ion penyusun endapan, sebab pembatasan Ksp. Baik kation atau anion yang ditambahkan, mengurangi konsentrasi ion penyusun endapan sehingga endapan garam bertambah.
4.      Efek ion-ion lain : beberapa endapan bertambah kelarutannya apabila dalam larutan terdapat garam-garam yang berbeda dengan endapan. Hal ini disebut sebagai efek garam netral atau efek aktivitas. Semakin kecil koefisien aktivitas dari dua buah ion, semakin besar hasil kali konsentrasi molar ion-ion yang dihasilkan.
5.      Pengaruh pH : kelarutan garam dari air asam lemah tergantung pada pH larutan.
6.      Pengaruh hidrolisis : jika garam dari asam lemah dilarutkan dalam air, akan menghasilkan perubahan (H+). Kation dari spesies garam mengalami hidrolisis sehingga menambah kelarutannya.
7.      Pengaruh kompleks : kelarutan garam yang sedikit larut merupakan fungsi konsentrasi zat lain yang membentuk kompleks dengan kation garam tersebut (Underwood,2002).

V.           Alat dan Bahan
V.1.     Alat
            1. Piknometer                                      1 buah
            2. Pipet 25 mL                                    1 buah
            3. Labu ukur 250 mL                          1 buah
4. Statif dan Klem                              1 set
5. Buret 50 mL                                    1 buah
            6. Gelas kimia                                     1 bua
7. Erlenemeyer                                    3 buah
V.2.     Bahan
            1. Air keran                                         75 mL
            2. Indikator K2CrO4 5%                    5 tetes
            3. AgNO3                                           50 mL
            4. Aquades
VI.        Alur Percobaan
1.      Text Box: NaCl Standarisasi larutan AgNO3  0,1 N dengan NaCl p.a sebagai bahan baku


 












Text Box: Endapan Ag2CrO4 (merah bata)

Reaksi :

-     NaCl (aq)  +  AgNO3 (aq)   AgCl (s) putih  + NaNO3 (aq)  
-     2AgNO3 (aq) +  2CrO4 (aq)  Ag2CrO4 (s)merah bata  + 2KNO3 (aq)

2.      Penentuan kadar NaCl dalam air keran


 









Reaksi :
-     AgNO3 (aq) + NaCl (aq)  AgCl (s) + NaNO3 (aq) Endapan Putih
-     2AgNO3 (aq) + K2CrO4 (aq)  Ag2CrO4 (s) + 2KNO3 (aq) Endapan merah bata
VII.     Reaksi-Reaksi dan Rumus Perhitungan
Reaksi-reaksi:
-     NaCl (aq)  +  AgNO3 (aq)   AgCl (s)  + NaNO3 (aq)   Endapan Putih
-     2AgNO3 (aq) +  2CrO4 (aq)  Ag2CrO4 (s) + 2KNO3 (aq)  Endapan Merah
-     AgNO3 (aq) + NaCl (aq)  AgCl (s) + NaNO3 (aq) Endapan Putih
-     2AgNO3 (aq) + K2CrO4 (aq)  Ag2CrO4 (s) + 2KNO3 (aq) Endapan merah bata


VIII.       Hasil Pengamatan
NO
Prosedur Percobaan
Hasil Pengamatan
Dugaan Reaksi
Kesimpulan
Sebelum
Sesudah
1.
































2.
















Text Box: NaClStandarisasi larutan AgNO3  0,1 N dengan NaCl p.a sebagai bahan baku

 










Text Box: Larutan NaCl









 


















Text Box: Air keranPenentuan kadar NaCl dalam air keran


 













Text Box: Endapan Ag2CrO4 (merah bata)
·     NaCl : kristal putih
·     Aquades : larutan tidak berwarna
·     Indikator K2CrO4 : berwarna kuning
·     Larutan AgNO3 : tidak berwarna




















·      Air keran : tidak berwarna
·      Indikator K2CrO4 5% : larutan berwarna kuning
·      Aquades : larutan tidak berwarna
·      AgNO3 : larutan tidak berwarna
·       
·     Larutan NaCl : tidak berwarna
·     Larutan NaCl + K2CrO4 : larutan berwarna kuning
·     Setelah dititrasi larutan keruh ada endapan merah bata
·     Volume AgNO3
V1 = 10,7 mL
V2 = 12,9 mL
V3 = 12,4 mL
V rata-rata = 12 mL


















· Air keran + K2CrO4 :larutan berwarna kuning
· Setelah dititrasi dengan AgNO3 larutan keruh terbentuk endapan merah bata
· Volume AgNO3
V1 = 13 mL
V2 = 17,3 mL
V3 = 13,5 mL
V rata-rata = 14,6 mL
·     NaCl (aq)  +  AgNO3 (aq)   AgCl (s)  + NaNO3 (aq)   Endapan Putih
·     2AgNO3 (aq) +  2CrO4 (aq)  Ag2CrO4 (s) + 2KNO3 (aq)  Endapan Merah
·     Prinsip metode mohr dengan melakukan titrasi terhadap sampel dengan menggunakan larutan perak nitrat (AgNO3) sehingga terbentuk endapan AgCl berwarna merah bata.











· AgNO3 (aq) + NaCl (aq)  AgCl (s) + NaNO3 (aq) Endapan Putih
· 2AgNO3 (aq) + K2CrO4 (aq)  Ag2CrO4 (s) + 2KNO3 (aq) Endapan merah bata
· Permenkes air bersih = 600 mg/L ppm

·      Rata-rata konsentrasi AgNO3 adalah 0,008 M
·      Rata-rata kadar Cl dalam air keran ialah 0,066%




IX.        Analisis Pembahasan dan Diskusi
Titrasi pengendapan merupakan titrasi yang melibatkan pembentukan endapan dari garam yang tidak mudah larut antara titran dan analit. Salah satu jenis titrasi pengendapan yang sudah lama dikenal adalah melibatkan reaksi pengendapan antara ion halida ( Cl-, I-, Br) dengan ion perak Ag+. Titrasi ini biasanya disebut sebagai argentometri, yaitu titrasi penentuan analit yang berupa ion halida dengan menggunakan larutan standar perak nitrat AgNO3. Dasar titrasi argentometri adalah pembentukan endapan yang tidak mudah larut antara titrant dan analit. Sebagai contoh yang banyak dipakai adalah titrasi penentuan NaCl dimana ion Ag+ dari titran akan bereaksi dengan ion Cl- dari analit membentuk garam yang tidak mudah larut.
Percobaan penentuan kadar Cl- atau klorida ini bertujuan untuk melakukan standarisasi larutan AgNO3 dengnan NaCl, dan mengetahui kadar ion klorida (Cl-) dari suatu sampel air keran yang didapatkan dari daerah Darmo. Kerugian dari adanya klorida adalah ion ini tidak memiliki daya desinfeksi sehingga tidak dapat membasmi mikroorganisme seperti bakteri, amoeba, maupun ganggang dan lain – lain. Kelemahan lainnya adalah karena klor telah direduksi menjadi klorida maka kemampuan untuk mengoksidasi ion – ion logam, dan memecah molekul organik seperti warna tidak dapat dilakukan lagi. Oleh karena itu untuk mengetahui kelayakan air di daerah tersebut dilakukan pengujian kadar Cl- atau klorida pada sampel air yang diambil dari salah satu keran di daerah tersebut dengan titrssi argentometri menggunakan metode Mohr.
Percobaan pertama yaitu untuk menentukan volume AgNO3 pada larutan blanko yang nantinya digunakan sebagai faktor pengurang untuk menentukan kadar Cl- dalam sampel. Garam NaCl tidak berwarna atau berbentuk kristal putih yang sudah ditimbang sebanyak 0,0589 gram dan dimasukkan ke dalam labu ukur 100 ml kemudian diencerkan dengan aquades hingga tanda batas, dan kemudian larutan dikocok hingga homogen. Langkah selanjutnya ialah memipet larutan NaCl tidak berwarna yang diukur 10 ml dengan menggunakan gelas pengukur dan dimasukkan kedalam erlenmayer 250 ml, kemudian larutan NaCl ditambahkan 10 ml aquades yang juga sudah diukur menggunakan gelas ukur dan ditambahkan 10 tetes indikator K2Cr2O4 berwarna kuning, dan erlenmayer digoyangkan agar indikator K2Cr2O4 dapat tercampur dengan larutan NaCl hingga warna larutan menjadi berwarna kuning, Fungsi dari penambahan K2Cr2O4 adalah sebagai indikator. Langkah selanjutnya ialah isi buret dengan larutan AgNO3 ±0,1 N tidak berwarna sampai tanda batas, kemudian larutan yang terdapat di erlenmayer dititrasi menggunakan larutan AgNO3. dan terjadi perubahan warna dengan diikuti oleh munculnya endapan AgCrO4 berwarna merah bata. . Pengulangan dilakukan selama 3 kali.
Pada awal pentitrasian, ion Cl- dari NaCl yang terdapat dalam larutan di dalam erlenmayer bereaksi dengan ion Ag+  sehingga membentuk endapan putih AgCl, sedangkan larutan pada awalnya berwarna kuning karena adanya penambahan indikator K2CrO4. Setelah dititrasi oleh beberapa tetesan larutan AgNO3, endapan berubah menjadi kemerahan. Jika ion ion perak ditambah kedalam suatu larutan yang mengandung ion klorida dengan konsetrasi besar dan ion kromat dengan konsentrasi kecil, perak klorida (AgCl) akan mengandap terlebih dahulu, sedangkan  perak kromat (Ag2CrO4) tidak terbentuk sebelum konsentrasi ion perak meningkat sampai ternilai yang cukup besar untuk melebihi Ksp dari perak kromat, atau dengan kata lain endapan merah dari Ag2CrO4 akan terbentuk ketika mendekati titik equivalen atau tercapainya titik equivalen, yaitu saat ion Cl- tepat habis bereaksi dengan ion Ag+. apabila ion klorida atau bromida telah habis diendapkan oleh ion perak, maka ion kromat akan bereaksi membentuk endapan perak kromat yang berwarna merah bata sebagai titik akhir titrasi. Penambahan AgNO3 yang sedikit berlebih menyebabkan ion Ag+ bereaksi dengan ion CrO42- dari indikator membentuk endapan putih dengan warna larutan merah bata.  Volume AgNO3 yang dibutuhkan untuk membentuk endapan merah bata yaitu sebanyak .
Perc. Titrasi ke
Volume NaCl + Aquades
Volume AgNO3
1
10 ml NaCl
10 ml aquades
10,7 ml
2
10 ml NaCl
10 ml aquades
12,9 ml
3
10 ml NaCl
10 ml aquades
12,4 ml

Data yang diperoleh dari percobaan tersebut ialah nilai Normalistas NaCl sebesar 0,01 N, dari nilai Normalitas NaCl dapat ditemukan nilai normalitas AgNO3 tiap titrasi. Pada titrasi pertama diperoleh nilai normalitas AgNO3 sebesar 0,009 N, Pada titrasi kedua diperoleh nilai Normalitas AgNO3 sebesar 0,007 N, dan pada titrasi ketiga diperoleh nilai Normalitas AgNO3 sebesar 0,008 N,  dengan rata-rata nilai Normalitas AgNO3 sebesar 0,008 N.
Perhitungan Konsentrasi Rata-rata :
N AgNO3 = 
         =
         = 0,008 N
Percobaan selanjutnya adalah untuk penentuan kadar Cl- dalam sampel air keran. Sampel diambil 25 mL kemudian diukur berat jenisnya menggunakan piknometer, berat jenis yang didapatkan ialah 24,126 gram. Kemudian larutan sampel dimasukkan ke dalam labu ukur 100 ml dan dilakukan penambahan  aquades hingga tanda batas. Setelah itu, larutan dipipet dengan pipet gondok sebanyak 25 ml juga diukur menggunakan gelas ukur dan dimasukkan kedalam erlenmayer 250 ml, dilakukan penambahan 5 tetes indikator K2Cr2O4 berwarna kuning, dan erlenmayer digoyangkan agar indikator K2Cr2O4 dapat tercampur dengan larutan sampel hingga warna larutan menjadi berwarna kuning rata. Sama halnya dengan tahap standarisasasi dimana fungsi penambahan larutan K2Cr2O4 adalah sebagai indikator dalam metode Mohr. Kemudian larutan sampel dititrasi dengan larutan AgNO3. Pada awal penambahan, ion Cl- dari NaCl yang terdapat dalam larutan bereaksi dengan ion Ag+ yang ditambah sehingga membentuk endapan putih AgCl. Sedangkan larutan pada awalnya berwarna kuning karena penambahan indikator K2CrO4 . Saat terjadi titik ekuivalen yaitu saat ion Cl- tepat habis bereaksi dengan ion Ag+, penambahan AgNO3 yang sedikit berlebih menyebabkan ion Ag+ bereaksi dengan ion CrO42- dari indikator membentuk endapan putih dengan warna larutan merah bata. Percobaan diulangi tiga kali untuk replikas. Volume AgNO3 yang dibutuhkan untuk membentuk endapan merah bata yaitu sebanyak :
Perc. Titrasi ke
Volume sampel
Volume AgNO3
1
25 ml
13 ml
2
25 ml
17,3 ml
3
25 ml
13,5 ml

Data yang diperoleh dari percobaan tersebut ialah nilai massa jenis air keran:
 =  = 0,965 g/mL
Dari rumus dan hasil tersebut dapat disimpulkan massa gram sampel sebesar:
m =  = 0,965 x 25  = 24,125
dan nilai konsetrasi air keran yang dapat ditemukan pada tiap tiap titrasi. Pada titrasi pertama diperoleh nilai Normalitas sampel sebesar 0,0041 N, Pada titrasi kedua diperoleh nilai Normalitas sampel sebesar 0,0055  N, dan pada titrasi ketiga diperoleh nilai Normalitas sampel sebesar 0,0043 N,  dengan rata-rata nilai Normalitas AgNO3 sebesar 0,0046 N.
N Sampel        = 
= 0,0046 N
Berikut ini adalah sebagian data nilai standar kualitas air bersih dan air minum berdasarkan keputusan permenkes Indonesia :
Permenkes Tentang Standar Kualitas Air Bersih Dan Air Minum
Nomor            : 416/Menkes/Per/Ix/1990
Tanggal          : 3 September 1990


Persyaratan air minum
Persyaratan air bersih
Parameter
Satuan
Kadar maksimum yang diperbolehkan
Kadar maksimum yang diperbolehkan
Air Raksa
mg/L
0,001
0,001
Aluminium
mg/L
0,2
Arsen
mg/L
0,05
0,05
Barium
mg/L
1

Besi
mg/L
0,3
1
Fluorida
mg/L
1,5
1,5
Kadmium
mg/L
0,005
0,005
Kesadahan (Ca CO3)
mg/L
500
500
Klorida
mg/L
250
600

% ppm menurut permenkes ialah :
600 PPM =  
Sedangkan data kadar Cl- yang kami peroleh ialah :
X  =
     = 0,066%
Dari data tersebut telah diketahui bahwa larutan sampel yang kami uji coba melalui titrasi pengendapan dan aplikasinya dalam menentukan kadar Cl- air keran lebih besar daripada %ppm permenkes, karena kadar Cl- yang terdapat dalam air keran cenderung lebih banyak dan melebihi Kadar maksimum yang diperbolehkan sebagai persyaratan air bersih di Indonesia yang layak digunakan.
X.           Kesimpulan
Dari praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa :
   Berdasarkan hasil titrasi argentometri pada percobaan kedua dengan metode Mohr didapatkan hasil bahwa dengan volume titrasi 13 mL kadar ion klorida dalam sampel sebesar 0,058%. Sedangkan untuk volume titrasi 17,3 mL pada titrasi kedua kadar ion klorida dalam sampel sebesar 0,078% dan pada titrasi ketiga volume titrasi 13,5 mL didapatkan kadar ion klorida pada sampel sebesar 0,062%. Dari rata- rata kadar ion klorida pada sampel didapatkan hasil sebesar 0,066%. Secara teori, berdasarkan Permenkes tanggal 3 September 1990, dijelaskan bahwa kadar maksimum ion klorida adalah sebesar 0,06%  yang diperbolehkan untuk digunakan sebagai pemenuh kebutuhan sehari-hari. Berdasarkan data dan perbandingan tersebut, dapat disimpulkan bahwa air yang diperoleh dari daerah Raya Darmo-Surabaya tidak layak untuk dikonsumsi maupun sebagai pemenuh kebutuhan sehari-hari.
XI.        Jawaban Pertanyaan
1.      Buatlah kurva titrasi antara volume AgNO3 dan pCl untuk titrasi antara 50 mL 0,1 M larutan NaCl dengan larutan AgNO3 0,1 M.
Jawab :
a). Pada waktu mula-mula titrasi [Cl-] = 0,1 M, sehingga –log[Cl-] = pCl = 1,00
b). Setelah penambahan 10 ml (VT) pada 50 ml (VR) kita dapatkan:
pCl= 1,17
dalam persamaan di atas VR = volume reaktan, VT = volume titran, MR = molaritas reaktan dan MT = molaritas titran
c). Setelah penambahan 49,9 ml AgNO3
          pCl = 4
d). Pada titik ekuivalen, [Ag+] = [Cl-] = [Cl-] [Cl-]= [Cl-]2
[Cl-]2 =  sehingga [Cl-] = 10-5 pCl = 5. Pada titik ekuivalen tidak ada ion Cl- atau pun Ag+ uang tersisa (berlebih) dan konsentrasi didapat dari Ksp
 sehingga
e). Setelah penambahan 6- ml AgNO3, konsentrasi dari ion Ag+ adalah     pAg = 2,04. Karena pCl + pAg = 10; pCl + 2,04 = 10; pCl = 7,96

2.      Berapa konsentrasi garam NaCl dalam suatu larutan, apabila 25 mL larutan tersebut jika direaksikan dengan 25 mL 0,2 M larutan AgNO3, dan kelebihan larutan AgNO3 tepat bereaksi habis dengan larutan KSCN 28 mL 0,1 M.
V NaCl        = 25 mL
V AgNO3    = 25 mL
M AgNO3     = 0,2 M
V KSCN      = 28 mL
M KSCN     = 0,1  M
kelebihan larutan AgNO3 tepat bereaksi habis dengan larutan
Ditanya       : Konsentrasi NaCl ?
Jawab         :
karena habis bereaksi dengan larutan KSCN berarti v1 = v2
Molek sisa AgNO3   = molek KSCN
Mol . 1 . sisa AgNO3               = 28 mL . 1 . 0,1 M
Mol sisa AgNO3        = 2,8 mmol

NaCl    +          AgNO3                à        AgCl + NaNO3
Mula             x mmol           5,0 mmol
Reaksi                                  2,2 mmol        
Sisa                   -                  2,8 mmol

Maka: mmol NaCl yang bereaksi adalah 2,2 mmol.
2,2 mmol = X mmol
2,2 mmol = VNaCl x [NaCl]
2,2 mmol = 25 mL x [NaCl]
[NaCl] = 2,2 mmol / 25 mL = 0,088 N


Daftar Pustaka
Khopkhar, S.M. 1990. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta : UI Press.
Petrucci, Ralph H. 1987. Kimia Dasar. Jakarta : Erlangga.
Svehla, G. 1979. Vogel’s Text Book of Macro and Semimicro Qualitative Inorganic Analysis (fifth edition).London : Limited Group Ltd.
Tim Dosen. 2018. Panduan Praktikum Kimia Analitik II Analisis Kuantitatif. Surabaya : Jurusan Kimia FMIPA Unesa.
Underwood, A.L dan Day, R.A. 2002. Analisis Kimia Kuantitatif Edisi Keenam. Jakarta : Erlangga.
a.      Lampiran Perhitungan
Percobaan 1
STANDARISASI LARUTAN AgNO3

Diketahui :
massa NaCl  = 0,0589
Mr NaCl       = 58,5
V. Alikuot    = 10 ml
VA AgNO3    = 10,7
VB AgNO3    =  12,9
VC AgNO3      =  12,4
Ditanya :
Molaritas NaCl
M NaCl =
        =
           = 0,01
N NaCl = n x M
            =  1 X 0,01
            = 0,01
Perhitungan Normalitas AgNO3
·      percobaan A (titrasi pertama)
AgNO3 = NaCl
N1 . V1 = N2 + V2
N1 . 10,7 = 0,01 . 10
N1 = 0,009
·      percobaan B (titrasi kedua)
AgNO3 = NaCl
N1 . V1 = N2 + V2
N1 . 12,9 = 0,1 . 10
N1 = 0,007 N
·         Percobaan C (titrasi ketiga)
AgNO3 = NaCl
N1 . V1 = N2 . V2
N1 . 12,4 = 0,01 x 10            
N1 = 0,008
Perhitungan Konsentrasi Rata-rata
N AgNO3 =                   =              = 0,008 N
Percobaan 2
PENENTUAN KADAR Cl- DALAM AIR KERAN
Diketahui :
N AgNO3 = 0,008 N
massa sample air keran = 24,1269
Volume air keran = 25 mL
VA AgNO3    = 13 mL
VB AgNO3    =  17,3 mL
VC AgNO3      =  13,5 mL
Ditanya :
·         perhitungan massa jenis air keran
 =  = 0,965 g/mL
·         Massa gram sampel
m =
    = 0,965 x 25
    = 24,125
PERHITUNGAN KONSENTRASI AIR KERAN
·         Percobaan A
Sampel = AgNO3
N1 . V1 = N2 . V2
N1 . 25 = 0,008 .  13
N1 = 0,0041 N
·         Percobaan B
Sampel = AgNO3
N1 . V1 = N2 + V2
N1 . 25 = 0,008 . 17,3
N1 = 0,0055 N
·         Percobaan C
Sampel = AgNO3
N1 . V1 = N2 + V2
N1 . 25 = 0,008 . 13,5
N1 = 0,0043
·         perhitungan konsentrasi rata-rata
N Sampel  =  
= 0,0046N
MENGHITUNG KADAR Cl-
·         Percobaan A (titrasi pertama)
N              =
     0,0041      =


= 0,014 gram
Kadar Cl
= x100%
=
= 0,058 %
·         Percobaan B (titrasi kedua)
N         =
0,0055 =
= 0,019 gram
Kadar Cl
 =  x 100%
=
= 0,078 %


·         Percobaan C (titrasi ketiga)
N       =
0,0043=
= 0,015 gram
kadar Cl      
=   x 100%
= 
= 0,062 %
RATA RATA KADAR Cl- DALAM AIR KERAN
X  =
     = 0,066%
PPM MENURUT KEMENKES =
600 PPM =  



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perbedaan Open Acces dan Close Acces serta Kelebihan dan Kekurangannya

Laporan Praktikum Rekristalisasi dan Pembuatan Aspirin

Laporan Praktikum Titrasi Penetralan (Asidi-Alkalimetri) dan Aplikasi Penentuan Kadar NH3 dalam Pupuk ZA