Laporan Praktikum Titrasi Iodo-iodimetri dan Aplikasinya dalam Menentukan Kadar Cl2 dalam Pemutih
I.
Judul
percobaan : Titrasi Iodo-iodimetri dan Aplikasinya dalam Menentukan Kadar Cl2 dalam Pemutih
II.
Hari
dan tanggal :
senin, 19 November 2018 (09.30-12.00) WIB
III.
Tujuan
percobaan :
1. Membuat
dan menentukan (standarisasi) larutan Na2S2O3 dengan
Kalium Iodidat baku (iodometri).
2. Menentukan kadar Cl2 dalam larutan pemutih.
IV.
Kajian
teori
Iodometri adalah titrasi berdasarkan reaksi redoks, yang mana
oksidasi antara iodin sebagai pentiter dengan reduktor yang memiliki potensial
oksidasi lebih rendah dari sistem iodin-iodida dimana sebagai indikator adalah
larutan kanji.Redoks sendiri memilik definisi adalah suatu penetapan
kadar reduktor atau oksidator berdasarkan atas reaksi oksidasi dan reduksi
dimana reduktor akan teroksidasi dan oksidator akan tereduksi (Alamsyah, 1994).
Iodin bebas
bereaksi dengan natrium tiosulfat sebagai berikut :
S4O62−
+ 2 e− ⇌ 2 S2O32− (Eo
= + 0.08 V)
Na2S2O3
+ I2 → 2 NaI + Na2S4O6
Iodin bebas seperti halogen lain
dapat menangkap elektron dari zat pereduksi, sehingga
iodin sebagai oksidator. Ion I- siap
memberikan elektron dengan adanya zat penangkap elektron, sehingga I-
bertindak sebagai zat pereaksi.
I2 (padat)
+ 2e → 2I-
pada beberapa literatur sering dituliskan:
I3−
+ 2 e− ⇌ 3 I− (Eo = + 0.5355 V)
(Mendham,J,dkk,
2000)
Ketika larutan natrium tiosulfat dititrasi
dengan larutan iodin berwarna coklat gelap yang karakteristik dengan iodin akan hilang. Natrium
tiosulfat dapat dengan mudah diperoleh dalam keadaan kemurnian yang tinggi,
namun selalu ada saja sedikit ketidakpastian dari kandungan air yang tepat,
karena sifat flouresen atau melapuk-lekang dari garam itu dan karena
alasan-alasan lainnya. Karena itu, zat ini tidak memenuhi syarat untuk
dijadikan sebagai larutan baku standar primer. Ketika semua Na2S4O6
telah teroksidasi, maka kelebihan larutan iod akan menjadikan cairan tersebut
berwarna kuning pucat. karena itu dalam
iodometri memungkinkan titrasi tanpa menggunakan indikator. Namun
kelebihan iodin pada akhir titrasi memberikan warna yang samar, sehingga
penetapan titik akhir titrasi (ekivalen) menjadi sukar. Karena itu, lebih
disukai menggunakan pereaksi yang sensitif terhadap iodin sebagai indikator;
yaitu larutan kanji (amilum) apabila bereaksi dengan iod membentuk senyawa
adsorpsi berawarna biru (Khopkar,2002).
Dengan adanya larutan kanji, titik ekivalen
ditentukan dari kenampakan warna biru yang tetap pada kelebihan penambahan satu
tetes iodin. Sebaliknya, dimungkinkan juga untuk menitrasi larutan iodin dengan
tiosulfat sampai kelebihan satu tetes tiosulfat menghilangkan warna biru
larutan. Dalam kasus ini larutan kanji harus ditambahkan pada saat akhir
titrasi mendekati titik ekivalen, ketika iodin tunggal sedikit dan larutan yang
dititrasi berwarna kuning. Jika larutan kanji yang ditambahkan pada awal titrasi,
ketika masih banyak terdapat iodin dalam
larutan, maka sejumlah besar senyawa iod-kanji yang terbentuk akan
bereaksi lambat dengan tiosulfat (Widodo, 2010)
Dalam penentuan zat pengoksidasi didasarkan
pada reduksi ion I- sehingga harus digunakan larutan KI. Akhir
titrasi ditandai oleh penghentian pelepasan iodin. Namun keadaan tersebut tidak
dapat diamati. Dalam kasus ini digunakan metode substitusi tidak langsung,
yaitu pada campuran kalium iodida dan larutan asam (dalam jumlah berlebih)
ditambahkan dengan volume tertentu, oksidator yang akan ditentukan, kemudian
ditunggu hingga reaksinya selesai. Selanjutnya ion yang dilepaskan dititrasi
dengan tiosulfat. Banyaknya grek iod ekivalen dan grek tiosulfat akan sama
dengan zat pengoksidasi.
Banyaknya zat pengoksidasi yang mampu
mengoksidasi ion I- menjadi I2 dapat ditentukan secara
iodometri, diantaranya Cl2, Br2, KMnO4, KClO3,
bubuk pemutih (CaOCl3), garam dari HNO2, hidrogen
peroksida, garam ferri, garam kupri, dan sebagainya (Mendham,J., 2000)
2I- + 2ClO- + 4H+
à Cl2 + I2 + H2O
Natrium Tiosulfat biasanya dibeli sebagai
pentahidrat, Na2C2O3.5H2O.
larutan-larutannya distandarisasi terhadap sebuah standar primer.
Larutan-larutan tersebut tidak stabil pada jangka waktu yang lama, sehingga
boraks dan natrium karbonat ditambahkan sebagai bahan pengawet. Reaksinya
berlangsung cepat sampai selesai tidak ada hasil sampingan. Jika pH dari
larutan di atas 9, tiosulfat teroksidasi secara parsial menjadi sulfat : 4I2
+ S2O32- + 5H2O à 8I-
+ 25O42- + 10H+. Dalam larutan yang netral,
atau sedikit alkalin, oksidasi menjadi sulfat tidak muncul terutama jika iodin
dipergunakan sebagai titran (Underwood, 2002).
indikator
yang digunakan dalam proses standarisasi ini adalah indikator amilum Penambahan
amilum yang dilakukan saat mendekati titik akhir titrasi dimaksudkan agar
amilum tidak membungkus iod karena akan menyebabkan amilum sukar dititrasi
untuk kembali ke senyawa semula. Proses titrasi harus dilakukan sesegera
mungkin, hal ini disebabkan sifat I2 yang mudah menguap Warna dari larutan iodin 0,1 N cukup intens
sehingga iodin dapat bertindak sebagai indikator bagi dirinya sendiri. Suatu
larutan (penyebab koloidal) dari kanji umum digunakan, karena warna gelap dari
kanji lebih umum dipergunakan, karena warna biru gelap dari kompleks
iodin-kanji bertindak sebagai tes yang sensitif untuk iodin (Rivai,1995)
Bubuk
pemutih terdiri dari campuran kalsium hipoklorit dan klorida basa (CaCl2),
Ca(OH)2.H2O. Kalsium hipoklorit atau yang biasa disebut kaporit
adalah senyawa kimia yang memiliki rumus kimia Ca(OCl)2.
Kaporit biasanya digunakan untuk menjernihkan air. Kalsium hipoklorit
adalah padatan putih yang siap didekomposisi di dalam air untuk kemudian
melepaskan oksigen dan klorin. Senyawa aktifnya adalah hipoklorit yang
mempunyai daya untuk memutihkan. Kalsium hipoklorit memiliki aroma klorin yang
kuat. Senyawa ini tidak terdapat di lingkungan secara bebas.
Kalsium
hipoklorit utamanya digunakan sebagai agen pemutih atau disinfektan. Senyawa
ini adalah komponen yang digunakan dalam pemutih komersial, larutan pembersih,
dan disinfektan untuk air minum, sistem pemurnian air, dan kolam renang. Ketika
berada di udara, kalsium hipoklorit akan terdegradasi oleh sinar matahari dan
senyawa-senyawa lain yang terdapat di udara. Di air dan tanah, kalsium
hipoklorit berpisah menjadi ion kalsium (Ca2+) dan hipoklorit (ClO-). Ion ini
dapat bereaksi dengan substansi-substansi lain yang terdapat di air.
Terdapat
dua jenis pemutih pakaian yang ada dipasaran, yaitu klorida bleach dan oksigen
bleach atau lebih disebut penghilang
noda pada kemasannya. Pemutih pakaian klorida bleach mengandung sodium
hipoklorit sedangkan oksigen bleach mengandung senyawa soda kristal alami dan
hidrogen peroksida. Apabila ingin menentukan kadal Cl2 makan
digunakan klorida bleach. Cara membedakannya adalah biasanya dalam petunjuk
pemakaian pada kemasan klorida bleach tidak dicampur dengan detergen sedangkan
untuk oksigen bleach dicampur dengan detergen. Contoh merk dipasaran untuk
klorida bleach adalah bayclin, sedangkan untuk oksigen bleach adalah vanish.
Pemutih pakaian berbentuk larutan mengandung natrium hipoklorit 5,25%.
V.
Alat
dan bahan
a.
Alat
- Labu
Ukur 100 mL 1 buah
- Pipet
Gondok 10 mL 1
buah
- Labu
Erlenmeyer 250 mL 3 buah
- Pipet
tetes secukupnya
- Buret 1 buah
- Statif
dan Klem 1 buah
- Neraca
analitik 1 buah
- Gelas
ukur 1
buah
- Picnometer 1
buah
- Spatula 1
buah
- Gelas
kimia 2
buah
- Corong 1 buah
b.
Bahan
- Serbuk
KIO3 0,7183
garam
- Larutan
Na2S2O3 secukupnya
- Larutan
HCl 4N 3
ml
- Larutan
KI 0,1 N 20% 12
ml
- Larutan
kanji secukupnya
- Larutan
H2SO4 1:6 9
ml
- Larutan
ammonium molibdat 3% 9
tetes
- Air
suling (air aquades) secukupnya
- Sampel
(larutan pemutih proclean) 2
ml
VI.
Alur
percobaan
a. Penentuan
(standarisasi) larutan Natrium Tiosulfat ± 0,1 N dengan Kalium Iodidat Baku
KIO3
|
1.
Ditimbang ±
0,1783 gram
2.
Dipindah ke
dalam labu ukur 100 ml
3.
Dilarutkan
dengan aquades dan diencerkan hingga tanda batas
4.
Dikocok
hingga homogen
|
Larutan
KIO3
|
5.
Dimasukkan
ke dalam erlenmeyer 250 mL sebanyak 10mL
6.
Ditambahkan
larutan KI 20% 2 mL dan HCl 4 N 1 mL
7.
Ditritasi
dengan larutan natrium tiosulfat (Na2S2O3)
|
Larutan
berwarna kuning muda
|
8.
Ditambahkan
larutan amilum hingga berwarna biru
9.
Ditritasi
sampai warna biru hilang
10. Dicatat volume Na2S2O3
11. titrasi di ulang sebanyak 3 kali
|
Konsentrasi
larutan Na2S2O3
|
b. Menentukan kadar Cl2
dalam pemutih
Cairan pemutih
|
1.
Dihitung berat jenis larutan
pemutih
2.
Dicatat merk sampel
3.
Diambil 2 ml dimasukkan
kedalam labu ukur 100 ml
4.
Diencerkan hingga tanda batas
5.
Dimasukkan 10 ml kedalam
erlenmeyer 250 mL
6.
Ditambahkan 2 mL KI 20%
7.
Ditambah 3 ml H2SO4 1:6
8.
Ditambahkan 3 tetes ammonium
molibdat 3%
|
Larutan berwarna coklat
|
1. Dititrasi
dengan NaS2O3 0,1 M sampai warna coklat hampir hilang
2. Ditambahkan
larutan amilum hingga perubahan warna
3. Titrasi
dilanjutkan hingga warna biru hilang
4. Ditritasi
(titrasi di ulang sebanyak 3 kali)
|
Kadar
Cl2
|
VII. Hasil pengamatan
No.
|
Prosedur
Percobaan
|
Hasil
Pengamatan
|
Dugaan / Reaksi
|
Kesimpulan
|
||||||||
1
|
A. Penentuan
(standarisasi) larutan N2S2O3 ± 0,1 N dengan
Kalium Iodidat baku KIO3
|
§ Serbuk KIO3
= berwarna putih
§ Aquades = tidak
berwarna
§ Larutan standar
KIO3 = tidak berwarna
§ Larutan Na2S2O3 = tidak berwarna
§ Larutan KI 20% = berwarna kuning
§ Larutan HCl = tidak berwarna
§ Larutan kanji = tidak berwarna
|
§ Serbuk KIO3
+ aquades = tidak berwarna
§ Larutan standar
KIO3 + KI 20% = tidak berwarna
§ Larutan standar
KIO3 + KI 20% + HCl = berwarna kecoklatan dan ada endapan hitam
§ Larutan standar
KIO3 + KI 20% + HCl + dititrasi dengan N2S2O3
= kuning muda
§ Larutan standar
KIO3 + KI + HCl + dititrasi + larutan kanji = biru kehitaman
§ Larutan standar
KIO3 + KI + HCl + dititrasi + larutan kanji + dititrasi = tidak
berwarna
§ Volume I
(sebelum + amilum)
V1Na2S2O3 = 9,3 mL
V2Na2S2O3 = 9,5 mL
V3Na2S2O3 = 9,4 mL
§ Volume II
(setelah + amilum)
V1Na2S2O3 = 0,3 mL
V2Na2S2O3 = 0,3 mL
V3Na2S2O3 = 0,4 mL
|
KIO3(s) + H2O(l)
KIO3
(aq)
Penambahan KI 20%
2IO3- (aq) + 12H+ +
10e-
I2
(aq) + 6H2O (l)
2I- (aq)
I2
(aq) + 2e-
IO3- (aq) + 6H+ +
5I-
3I2
(aq) + 3H2O (l)
- Pada titik akhir titrasi
I2 (aq) +2e-
2I-
(aq)
2S2O32- (aq)
S4O62- (aq) + 2e-
I2 (aq) + 2S2O32-
(aq)
2I- (aq) + S4O62-
(aq)
|
Berdasarkan perhitungan diperoleh Normalitas Na2S2O3 :
§ N1Na2S2O3 = 0,052 N
§ N2Na2S2O3 = 0,051 N
§ N3Na2S2O3 =
0,051 N
§ Normalitas
rata-rata Na2S2O3 = 0,0513 N
|
|||||||
1.
|
Penentuan kadar Cl2 dalam sampel (larutan
pemutih Bayklin)
|
§ Larutan Na2S2O3 = tidak berwarna
§ Larutan pemutih = tidak berwarna
§ Aquades = tidak berwarna
§ Larutan KI = berwarna kuning
§ Amonium molibdat tidak berwarna
§ H2SO4 = tidak berwarna
§ Larutan kanji = tidak berwarna
|
§ Larutan pemutih
+ aquades = tidak berwarna
§ Larutan pemutih
+ KI = coklat kekuningan
§ Larutan pemutih
+ KI + H2SO4 = merah kecoklatan
§ Larutan pemutih
+ KI + H2SO4+ ammonium molibdat = coklat
§ Larutan pemutih
+ KI + H2SO4+ ammonium molibdat + dititrasi = kuning
muda
§ Larutan pemutih
+ KI + H2SO4+ ammonium molibdat + dititrasi + larutan
amilum = coklat kebiruan
§ Larutan pemutih
+ KI + H2SO4+ ammonium molibdat + dititrasi + larutan amilum + dititrasi = tidak berwarna
§ V titrasi I
(sebelum + amilum)
V1 Na2S2O3 = 5,9 mL
V2 Na2S2O3 = 5,9 mL
V3 Na2S2O3 = 5,9 mL
§ V titrasi II
(setelah + amilum)
V1 Na2S2O3 = 1,7 mL
V2 Na2S2O3 = 1,6 mL
V3 Na2S2O3 = 1,9 mL
|
OCl- (aq) + 2I- (aq) + 2H+ (aq)
I2
(aq) + Cl- (aq) + 2H2O (l)
- Pada titik
akhir ekivalen
2S2O32- (aq)
S4O62-
(aq) + 2e-
2e- + S2
2I-
2S2O32- (aq)
2I- (aq) + S4O62-
(aq)
|
Berdasarkan perhitungan kadar Cl2 dalam pelarutan pemutih Proclin sebesar = 3,28%
|
VIII.
Analisis
dan Pembahasan
Dasar
atau aspek penting pada praktikum kali ini yaitu cara menimbang, pipetsasi,
menggunakan piknometer dan melakukan titrasi, karena ini adalah praktikum kimia
analitik kuantitatif bukan kualitatif, yang mana angka sangat penting dan harus
diperhatikan. Saat menimbang, kita tidak mungkin mendapatkan hasil timbangan
yang sama persis dengan prosedur, namun mendekati massa zat yang ditetapkan.
Hal ini adalah wajar, karena angka yang muncul di timbangan analitik bisa lebih
dari 6 angka dibelakang koma. Oleh karena itu, untuk menyiasati hal ini, kita
harus melihat angka pentingnya. Misalnya dibutuhkan 0,125 gram gula namun saat
menimbang didapatkan hasil yang mendekati adalah 0,125022 gram, maka hasil
timbangan ini dianggap benar karena angka penting dalam prosedur adalah 3 angka
dibelakang koma, angka ke-4 haruslah 0 namun untuk angka ke-5 dan seterusnya
bebas.
Pipetsasi
atau cara memipet adalah cara untuk memindahkan larutan dari wadah satu ke
wadah lainnya. Memipet harus dilakukan dengan benar agar tidak merusak larutan.
Cara memipet dengan benar adalah tekan karet pipet sebelum ujung pipet masuk ke
dalam botol reagen, kemudian lepaskan tekanan pada karet pipet saat ujung pipet
telah berada cukup dalam dari volume larutan, lalu pindahkan ke wadah yang
diingankan. Jangan sampai terjadi gelembung saat melepaskan tekanan pada karet
pipet karena hal itu dapat merusak larutan.
Piknometer
yaitu alat yang digunakan untuk mengitung berat jenis suatu larutan. Untuk
menggunakannya yaitu pertama kita harus menimbang piknometer kosong menggunakan
neraca analitik dan dicatat massanya. Setelah itu masukkan larutan kedalam
piknometer hingga penuh atau tumpah lalu tutup menggunakan tutup piknometer.
Usahakan dalam larutan tidak ada gelembung karena jika ada gelembung, maka berat
yang dihitung merupakan berat larutan dan gelembung. Setelah itu timbang
piknometer menggunakan neraca analitik dan catat massanya. Untuk mengetahui
berat larutan, maka kurangkan massa piknometer berisi larutan dengan piknometer
kosong. Dan untuk mengetahui berat jenis larutan bagilah massa piknometer
berisi larutan dengan volume larutan.
Titrasi
dilakukan berkali-kali di judul ini, maka dari itu kita harus mempunyai
kemampuan yang baik. Dalam melakukan titrasi, hal-hal yang dipersiapkan yaitu
larutan titran dan buret dan larutan analit dalam erlenmeyer. Larutan titran
dalam buret dimasukkan menggunakan corong kaca hingga tinggi larutan kurang
lebih 2-3 cm diatas nol. Saat memasukkan larutan titran, ada baiknya tinggi
buret sejajar dengan mata agar dapat terlihat volume yang telah dimasukkan
kedalamnya, setelah itu keluarkan larutan titran agar tepat berada pada angka 0
mL mensikus cekung. Larutan titran kecepatan keluarnya dapat diatur dengan
menggunakan kran buret, sedangkan larutan analit harus digoyang-goyangkan saat
titrasi berlagsung sehingga gerakan tangan kita harus konstan. Hal ini
dilakukan agar pencampuran antara larutan titran dan analit dengan indikator
merata sehingga perubahan warna dapat berubah secara akurat.
Setelah
aspek-aspek penting diatas dijabarkan, sekarang kita akan mulai melakukan
percobannya. Titrasi yang akan kita lakuka adalah titrasi iodometri untuk
menentukan kadar Cl2 dalam pemutih. Titrasi ini disebut titrasi
iodometri karena sesuai dengan ciri-ciri berikut :
Iodometri
|
Iodimetri
|
Termasuk
kedalam Reduktometri
|
Termasuk
kedalam Oksidimetri
|
Larutan
Na2S2O3 (Tio) sebagai penitar (Titran)
|
Larutan
I2 sebagai Penitar (Titran)
|
Penambahan
Indikator Kanji disaat mendekati titik akhir.
|
Penambahan
Indikator kanji saat awal penitaran
|
Termasuk
kedalam Titrasi tidak langsung
|
Termasuk
kedalam Titrasi langsung
|
Oksidator
sebagai titrat
|
Reduktor
sebagai titrat
|
Titrasi
dalam suasana asam
|
Titrasi
dalam suasana sedikit basa/netral
|
Penambahan
KI sebagai zat penambah
|
Penambahan
NaHCO3 sebagai zat penambah
|
Titran
sebagai reduktor
|
Titran
sebagai oksidator
|
(Said, 1998)
Pertama-tama
kami melakukan standarisasi larutan baku Na2S2O3
menggunakan larutan KIO3. Mula-mula
KIO3 ditimbang sebanyak 0,1783 gram lalu disimpan dalam vial.
Menimbang KIO3 dilakukan dengan menggunakan timbangan analitik yang
telah diberi vial dan dikalibrasi, KIO3 diambil sedikit demi sedikit
menggunakan spatula kemudian dimasukkan ke dalam vial yang ada di dalam
timbangan. Setelah ditimbang, KIO3 dipindahkan ke dalam labu ukur
100 mL menggunakan corong kaca, kemudian larutkan dengan beberapa mL aquades.
Setelah itu tambahkan aquades sampai tanda batas dan kocok hingga homogen.
Didapatkan hasil larutan baku KIO3 tidak berwarna.
Langkah
selanjutnya menstandarisasi larutan Na2S2O3
atau biasa disebut tiosulfat. Tiosulfat yang dipakai dalam titrasi iodometri
dapat distandarisasi dengan menggunakan senyawa oksidator yang memiliki
kemurnian tinggi (analytical grade)
seperti K2Cr2O7, KIO3, KbrO3,
atau senyawaan tembaga(II). Larutan KIO3 dalam labu ukur dipindahkan
10 mL ke dalam erlenmeyer 250 mL kemudian ditambahkan 2 mL larutan KI 20% dan 1
mL larutan HCl 4 N setelah itu titrasi dengan larutan Na2S2O3
hingga berwarna kuning muda, catat volume larutan yang keluar dari buret.
Tambahkan 50 tetes indikator amilum hingga berubah warna menjadi kuning
kehitaman, titrasi kembali dengan larutan Na2S2O3
sampai larutan dalam erlenmeyer tidak berwarna. Catat volume larutan Na2S2O3
yang keluar dari buret lalu jumlahkan dengan volume titrasi yang sebelumnya.
Titrasi ini diulang sebanyak 3 kali dan didapatkan konsentrasi rata-rata Na2S2O3.
Volume yang didapatkan yaitu 9,6 mL; 9,8 mL; 9,8 mL.
Percobaan
selanjutnya yaitu aplikasi dari titrasi iodo-iodimetri, yaitu menentukan kadar
Cl2 dalam pemutih pakaian. Merk pemutih pakaian yang akan digunakan
yaitu Bayclin dengan kadar NaClO yang tertera di kemasan adalah 5,25%. Langkah
pertama yaitu menentukan berat jenis pemutih pakaian dengan piknometer, lalu
masukkan 2 mL ke dalam labu ukur 100 mL dilarutkan dengan beberapa mL aquades
kemudian diencerkan dengan aquades hingga tanda batas. Ambil 10 mL masukkan ke
dalam erlenmeyer lalu tambahkan 2 mL KI 20%, 3 mL asam sulfat 1:6, dan 3 tetes
amonium malibdat 3 % larutan menjadi berwarna coklat. Titrasi larutan dengan
larutan Na2S2O3 hingga warna coklat hampir
hilang atau memudar, catat volume larutan Na2S2O3.
Kemudian tambahkan 50 tetes amilum hingga berwarna kuning kehitaman. Titrasi
kembali dengan larutan Na2S2O3 hingga larutan
menjadi tidak berwarna, catat volume larutan Na2S2O3
lalu tambahkan dengan volume sebelumnya. Akan didapatkan kadar Cl2.
Volume yang didapatkan yaitu 7,6 mL; 7,5 mL; 7,8 mL.
Pada
percobaan standarisasi larutan Na2S2O3
menggunakan larutan KIO3 penimbangan menggunakan vial agar KIO3
tersimpan rapi hinga hari praktikum. Pengambilan sedikit demi sedikit bertujuan
agar kita dapat mengetahui kapan saat berhenti menambahkan KIO3
hingga mendekati massa prosedur. Pengenceran KIO3 dengan beberapa mL
aquades bertujuan untuk membuat campuran lebih mudah homogen daripada
dilarutkan langsung dengan 100 mL aquades. Pemindahan KIO3
menggunakan corong kaca bertujuan agar KIO3 jatuhnya langsung dan
terarah ke dalam labu ukur. Percobaan ini tidak terjadi reaksi antara KIO3
dengan aquades, karena aquades merupakan pelarut universal, sehingga proses ini
bisa disebut pengenceran KIO3 dengan reaksi :
KIO3(s) + H2O
(l) KIO3(aq)
Fungsi penambahan larutan H2SO4
bertujuan untuk menjadikan suasana asam serta ditambahkan juga dengan 3 tetes
Amonium molibdat 3% sebagai katalis untuk mempercepat reaksi. Amilum
ditambahkan setelah titrasi pertama karena amilum difungsikan sebagai indikator
untuk titrasi selanjutnya karena kompleks amilum I2 terdisosiasi
sangat lambat akibatnya maka banyak I2 yang akan terabsorbsi oleh
amilum jika amilum ditambahkan pada awal titrasi, alasan kedua adalah biasanya
iodometri dilakukan pada media asam kuat sehingga akan menghindari terjadinya
hidrolisis amilum.
Keuntungan penggunaan indikator amilum
yaitu harganya murah sedangkan kerugiannya ialah:
·
Tidak mudah
larut dalam air tak stabil pada suspensi dengan air.
·
Membentuk
kompleks yang sukar larut dalam air bila bereaksi dengan iodium, sehingga tidak
boleh ditambahkan pada awal titrasi, harus ditunggu hingga warna kuning pucat.
·
Dapat
menimbulkan titik akhir titrasi yang tiba-tiba.
Dari data tersebut, bisa didapatkan massa dari Cl2,
berturut-turut yaitu : 0,03298 gram, 0,03414 gram, dan 0,03298 gram. Setelah
diperoleh massa dari Cl2, dapat diketahui kadar Cl2 dalam
pemutih pakaian Bayclin, berturut-turut yaitu 1,63 %, 1,69 %, 1,63 %, dan kadar
Cl2 rata-rata adalah sebesar 1,65 %.
IX.
Kesimpulan
1.
Percobaan ini
termasuk percobaan titrasi iodometri.
2.
Diperoleh volume untuk larutan standar Na2S2O3 berturut-turut adalah 9,6
mL, 9,8 mL, dan 9,8 mL, sedangkan untuk konsentrasi larutan standar Na2S2O3berturut-turut
adalah 0,1119 N, 0,1080 N, 0,1080 dan konsentrasi rata-ratanya adalah 0,1093 N.
3.
Kadar Cl2 dalam pemutih, diperoleh volume larutan
standar Na2S2O3 berturut-turut adalah 7,6 mL, 7,5 mL, dan 7,8 mL, sedangkan
untuk perhitungan kadar Cl2 dalam pemutih pakaian Bayclin
berturut-turut diperoleh 1,63%, 1,69%, 1,63%, dan kadar Cl2 rata-rata adalah
1,65%. Tidak lebih dari yang tertera di kemasan.
X.
jawaban
pertanyaan
1. Apa
perbedaan antara titrasi iodometri dan iodimetri?
Iodometri
|
Iodimetri
|
Termasuk
kedalam Reduktometri
|
Termasuk
kedalam Oksidimetri
|
Larutan
Na2S2O3 (Tio) sebagai penitran (Titran)
|
Larutan
I2 sebagai Penitran (Titran)
|
Penambahan
Indikator Kanji disaat mendekati titik akhir.
|
Penambahan
Indikator kanji saat awal penitaran
|
Termasuk
kedalam Titrasi tidak langsung
|
Termasuk
kedalam Titrasi langsung
|
Oksidator
sebagai titrat
|
Reduktor
sebagai titrat
|
Titrasi
dalam suasana asam
|
Titrasi dalam
suasana sedikit basa/netral
|
Penambahan
KI sebagai zat penambah
|
Penambahan
NaHCO3 sebagai zat penambah
|
Titran
sebagai reduktor
|
Titran
sebagai oksidator
|
2. Bagaimana
reaksi antara kalium iodat + kalium iodide + asam klorida? Setiap 1 mol kalium
iodat sama dengan berapa ekivalen?
2IO3- + 12H+
+ 10 e- → I2 + 6H2O x1
2I- → I2
+ 2e- x5
2IO3- + 12H+
+10 e- → 6 I2 + 6H2O
10
I- → 5 I2 + 10 e-
2IO3- + 12H+
+10 I- → 6 I2 + 6H2O
IO3- + 6H+
+ 5I- → 3 I2 + 3H2O
1 kalium iodat sama dengan 6 ekivalen.
3. Jelaskan
beberapa kekurangan amilum digunakan sebagai indikator!
Jawab:
Indikator
kanji memiliki kekurangan, diantaranya:
a.
Tidak larut dalam air
b.
Ketidakstabilan suspense dalam air
c.
Dengan iod memberi suatu kompleks yang tak larut
dalam air, sehingga kanji tidak boleh ditambah terlalu dini
d. Susah
mendapat titik akhir jika larutan encer
e.
Tidak boleh berada pada medium sangat asam
kaarena akan terjadi hidrolisis.
4. Mengapa
pada titrasi iodimetri indicator amilum ditambahka pada saat mendekati titik
ekivalen?
Jawab:
Karena apabila pemberian kanji terlalu
awal, maka akan menyebabkan iod menguraikan amilum dan hasil penguraian dapat
mengganggu perubahan warna titik akhir.
5. Mengapa
penambahan larutan Na2S2O3 menggunakan aquades
mendidih?
Jawab
:
Pemanasan aquades berfungsi untuk menghilangkan
oksigen pada aquades agar tidak bereaksi dengan bahan yang akan dibuat
larutannya, apabila aquades tidak dipanaskan maka oksigen tersebut akan
bereaksi dengan bahan dan akan mengubah konsetrasi bahan sehingga konsentrasi
bahan tidak sesuai dengan apa yang diinginkan.
Daftar Pustaka
Alamsyah, A. 1994. Analisa Kuantitatif Beberapa Senyawa
Farmasi. Medan:
Universitas
Sumatera Utara Press
Day,
R.A. dan Underwood, A.L. 2002. Analisis
Kimia kuantitatif Edisi Ke-6. Jakarta : Erlangga
Khopkar,
SM. 2002. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta:
Penerbit Universitas Indonesia
Mendham, J.; Denney, R. C.; Barnes, J. D.; Thomas, M.J.K.; Denney, R.
C.; Thomas, M. J. K. (2000), Vogel's Quantitative Chemical Analysis (6th
ed.), New York: Prentice Hall
Mulyono. (2006). Membuat
Reagen Kimia di Laboratorium. Jakarta:PT Bumi
Aksara
Rivai, Harizul.
1995. Asas Pemeriksaan Kimia. Jakarta:
UI-Press
Widodo, Didik Setyo., Lusiana, Retno Ariadi (2010). Kimia
Analisis Kuantitatif. Yogyakarta:
Graha Ilmu
a. lampiran perhitungan
1.
Penentuan
(Standarisasi) Larutan Na2S2O3
Diketahui
:
§ massa
KIO3 = 0,3974 gram
§ Mr.
KIO3 = 214
§ V
KIO3
§ Va
Na2S2O3 = (9,3+0,3) = 9,6 ml
§ Vb
Na2S2O3 = (9,5+0,3) = 9,8 ml
§ Vc
Na2S2O3 = (9,4+0,4) = 9,8 ml
Ditanya :
1. Normalitas
KIO3=…?
2. Normalitas
Na2S2O3=…?
Jawab:
1. Menghitung
Normalitas dari larutan KIO3
N =
N =
N =
0,04999 N
2. Menghitung
Normalitas dari larutan Na2S2O3
a. Percobaan
1
(N.V)
KIO3 = (N.V) Na2S2O3
0,04999
N x 10 ml = N2 x 9,6 ml
0,4999 = N2
x 9,6 ml
N2 = 0,052 N
b. Percobaan
2
(N.V)
KIO3 = (N.V) Na2S2O3
0,04999
N x 10 ml = N2 x 9,8 ml
0,4999 = N2
x 9,8 ml
N2 = 0,051 N
a. Percobaan
3
(N.V)
KIO3 = (N.V) Na2S2O3
0,04999 N x 10 ml = N2
x 9,8 ml
0,4999 = N2
x 9,8 ml
N2 = 0,051 N
c. Normalitas
Na2S2O3 rata-rata:
=
=
= 0,0513 N
2.
Penentuan
Kadar Cl2 dalam sampel (larutan pemutih)
Diketahui :
§ massa
jenis larutan pemutih = 26,377 gram
§ ρ
=
=
=
1,055 gram/ml
§ massa
larutan pemutih (sampel) = ρ x v = 1,055 gram/ml x 2 ml = 2,11 gram
§ Mr.
Cl2 = 17,75
§ Va
Na2S2O3 = (5,9+1,7) = 7,6 ml
§ Vb
Na2S2O3 = (5,9+1,6) = 7,5 ml
§ Vc
Na2S2O3 = (5,9+1,6) = 7,8 ml
Ditanya : Kadar Cl2 dalam sampel (larutan
pemutih)
Jawab:
a. Percobaan
1
(N.V)
Na2S2O3 =
(N.V) Cl2
0,0513
N x 7,6 ml = N2 x 10 ml
0,389 = N2
x 10 ml
N2 = 0,0389 N
M =
0,0389 =
0,0389
x 17,75= m x 10
0,6904 = m x 10
Massa = 0,069 gram
Kadar
Cl =
x 100%
=
x 100%
= 3,27 %
b. Percobaan
2
(N.V)
Na2S2O3 =
(N.V) Cl2
0,0513
N x 7,5 ml = N2 x 10 ml
0,384 = N2 x 10 ml
N2 = 0,0384 N
M =
0,0384 =
0,0384
x 17,75 = m x 10
0,6816 = m x 10
Massa = 0,068 gram
Kadar
Cl =
x 100%
=
x 100%
= 3,22 %
c. Percobaan
3
(N.V)
Na2S2O3 =
(N.V) Cl2
0,0513
N x 7,8 ml = N2 x 10 ml
0,400 = N2 x 10 ml
N2 = 0,0400 N
M =
0,0400 =
0,0400
x 17,75 = m x 10
0,71 = m x 10
Massa = 0,071 gram
Kadar
Cl =
x 100%
=
x 100%
= 3,36 %
Kadar rata-rata Cl dalam sempel (larutan pemutih)
=
=
3,28 %
Komentar
Posting Komentar