Laporan Praktikum Pengenalan Jenis-jenis Karbohidrat
A. Judul Praktikum : Pengenalan Jenis-jenis Karbohidrat
B. Tanggal Praktikum : Kamis, 11 April 2019 (07.30 WIB)
C. Tanggal Selesai Praktikum : Kamis, 11 April 2019
(12.00 WIB)
D. Tujuan Praktikum
- Menjelaskan
prinsip-prinsip dasar dalam reaksi pengenalan karbohidrat
- Melakukan
pengujian adanya monosakarida dan disakarida
- Melakukan
pengujian adanya gula pereduksi
- Melakukan
hidrolisis polisakarida dan disakarida
- Menghasilkan
hasil hidrolisis disakarida dan polisakarida
E. Dasar Teori
a. Definisi
Karbohidrat berasal dari kata “karbon” dan “hidrat”,
walaupun tidak mengandung molekul air namun kata karbohidrat tetap dipakai
sebagai kata ganti sakarida. Nama karbohidrat berasal dari kenyataan bahwa
kebanyakan senyawa dari golongan ini memiliki rumus empiris yang menunjukkan
bahwa senyawa tersebut adalah karbon “hidrat” dan memiliki nisbah 1: 2: 1 untuk
C, H, dan O. Perbandingan jumlah atom H dan O adalah 2 :1 seperti pada molekul
air (Matoharsono, 1976).
Karbohidrat didefinisikan sebagai
polihidroksialdehida, polihidroksiketon, atau senyawa yang menghasilkan senyawa
yang serupa pada hidrolisis. Dengan demikian, kimia karbohidrat adalah gabungan
dari 2 gugus fungsi yaitu gugus hidroksil dan gugus karbonil (Hart, 1983).
Karbohidrat biasa disebut juga karbon hidrat, hidrat arang, sacharon (sakarida)
atau gula. Karbohidrat berarti karbon yang terhidrat. Rumus umumnya adalah Cx(H2O)y.
Karbohidrat dibuat oleh tanaman melalui proses fotosintesis (Sentot, 2008).
x CO2 + y H2O + energi matahari è Cx (H2O)y + x O2
Karbohidrat mempunyai fungsi biologi yang
penting. Pati dan glikogen berperan sebagai penyedia sementara glukosa. Polimer
karbohidrat yang tidak larut berperan sebagai unsur struktural dan penyangga di
dalam dinding sel bakteri dan tanaman. Karbohidrat lain berfungsi sebagai
pelumas sendi kerangka, sebagai senyawa perekat di antara sel dan pemberi
spesifitas biologi pada permukaan sel (Lehninger, 1982).
1.
Notasi
D dan L
Penamaan karbohidrat yang pertama adalah dengan
notasi D atau L yang ditentukan karena adanya atom C dengan konfigurasi
asimetris (kiral) seperti pada gliseraldehida. Untuk gula dengan atom C
asimetris lebih dari satu, notasi D atau L ditentukan oleh atom C asimetris
terjauh dari gugus aldehida atau keton (Nelson, David M, 2008).
Gula yang biasa ditemui di alam adalah gula dama
bentuk isomer D. Meskipun begitu, gula dalam bentuk D merupakan bayangan cermin
dari gula yang berbentuk L. Kedua gula memiliki nama yang sama sebagai contoh
D- Gliseraldehida dan L-Gliseraldehida (Nelson, David M, 2008).

Gambar
1. D-Gliseraldehid dan L-Gliseraldehid
Sumber: Nelson, David M. 2008.
Lehninger Principles of Biochemistry
Faktor yang menjadi penentu dari bentuk glukosa ini
adalah posisi gugus hydrogen (-H) dan alkohol (-OH) dalam struktur molekulnya.
Apabila dalam suatu gula yang memili atom C asimetrik terjauh memiliki gugus
–OH pada sebelah kanan, maka notasi yang dimiliki gula tersebut adalah D,
begitu pula sebaliknya (Nelson, David M, 2008)
2.
Pembentukan
Hemiasetal dan Hemiketal
Dalam struktur suatu gula aldehida dapat bereaksi
dengan alkohol untuk membentuk hemiasetal. Sementara itu, keton bereaksi dengan
alkohol untuk membentuk hemiketal.

Gambar
2. Hemiasetal dan Hemiketal
Sumber: Nelson, David M. 2008.
Lehninger Principles of Biochemistry
3.
Siklisasi
D-Glukosa
Pentosa dan Heksosa dapat membentuk struktur siklik
melalui reaksi gugus keton atau aldehida dengan gugus –OH pada atom C asimetrik
terjauh. Gula tersebut kemudian membentuk hemiasetal intra-molekular sebagai
hasil reaksi aldehida dengan gugus –OH dan membentuk cincin.

Gambar
3. Siklisasi D-Glukosa
Sumber: Nelson, David M. 2008. Lehninger Principles
of Biochemistry.
c. Klasifikasi
Berdasarkan jumlah rantai karbon yang menyusunnya,
karbohidrat dibagi menjadi 3 golongan yaitu monosakarida, olisakarida, dan
polisakarida (Hart,1983)
1.
Monosakarida
Monosakarida adalah molekul karbohidrat yang tidak
dapat dipecah lagi menjadi molekul karbohidrat yang lebih sederhana melalui
proses hidrolisis. Molekul ini sering disebut sebagai gula sederhana (Whistler
dkk, 1996). Menurut Lehninger (1982) monosakarida tidak berwarna, bentuk
kristanya larut dalam air tetapi tidak larut dalam pelarut nonpolar.
Monosakarida digolongkan menurut jumlah karbon yang ada dan gugus fungsi
karbonilnya yaitu aldehida (aldosa) dan keton (ketosa). Yang termasuk
monosakarida yaitu : glukosa, fruktosa, dan galaktosa .
Monosakarida yang mengandung satu gugus aldehida
disebut aldosa, sedangkan ketosa mempunyai satu gugus keton, Manosakarida
dengan enam atom C disebut heksosa, misalnya glukosa (dekstrosa, atau gula
anggur), fruktosa (levulosa atau gula buah), dan galaktosa, sedangkan lima atom
C disebut pentosa, misalnya xilosa, arabinosa, dan ribosa. Monosakarida (sering
disebut gula sederhana) adalah sakarida yang tidak dapat dihidrolisis menjadi
bentuk yang lebih sederhana lagi. Bentuk monosakarida ini dapat dibagi lagi
menjadi beberapa yaitu, triosa, tetrosa, pentosa, hektosa, heptosa atau
oktasa (Jannah, 2013).
Triosa :
Gliserosa, Gliseraldehid, Dihidroksi aseton
Tetrosa :
theosa, Eritrosa, Xululosa
Pentosa :
Lyxosa, Xilosa, Arabinosa, Ribosa, Ribulosa
Hexosa :
Galaktosa, Glukosa, Mannosa, Fruktosa
Heptosa :
Sedoheptulosa
Berdasarkan
letak gugus karbonil, monosakarida dibagi menjadi:
· Aldosa
Apabila gugus karbonil berada pada ujung rantai
karbon, maka monosakarida tersebut
disebut Aldosa.
· Ketosa
Apabila gugus karbonil berada pada tengah rantai
karbon, maka monosakarida disebut Ketosa (Nelson, David M, 2008).
2.
Oligosakarida
Oligoskarida terdiri dari dua atau lebih
monosakarida yang pengaruh asamnya dapat mengalami hidrolisis menjadi
bentuk-bentuk monosakarida penyusunnya. Apabila oligosakarida merupakan
gabungan dari 2 molekul monosakarida disebut disakarida, dan apabila tersusun
dari tiga molekul monosakarida disebut trisakarida. Ikatan antara dua molekul
monosakarida disebut glikosidik. Ikatan ini terbentuk antara dua gugus hidroksi
dari atom C nomor 1 (disebut karbon anomerik) dengan gugus hidroksi dari atom C
molekul lain (biasanya atom C nomor 4) atau dengan melepas 1 mol air
(Lehninger, 1982). Yang termasuk oligosakarida adalah : sukrosa, maltosa, dan
laktosa.
Enzim maltase pada disakarida yang berfungsi
mengkretalisis hidrolisis maltosa, lactose yang berfungsi mengkretalisis
hidrolisis laktosa, dan sakrase yang berfungsi mengkretalisis hidrolisis
sakrosa (Jannah, 2013).
- Maltosa
tidak memiliki fungsi khusus dalam tubuh manusia, namun bisa dibilang bahwa
maltosa adalah reducing sugars atau gula yang dapat mereduksi. Dalam kehidupan
sehari-hari maltosa dapat berfungsi sebagai pemanis buatan, pembuatan bird dan
pembuatan makanan bayi.
- Laktosa
dapat dikatakan sebagai reducing sugars atau gula yang dapat mereduksi. Laktosa
dapat dikatakan juga sebagai gula susu, karena berfungsi sebagai pemanis di
susu.
- Sukrosa
adalah gula yang terbuat dalam tanaman, namun tidak dalam binatang dan gula
tersebut dianggap non-reducing sugars. Sukrosa berfungsi sebagai produk
intermediet dari fotosintesis dan sebagai konstituen utama dari fluida
sirkulasi dalam serangga, sebagai penyimpan energi (Nelson, David M, 2008).
Sukrosa → gabungan antara glukosa dan Fruktosa (C
1-2)
Maltosa → gabungan antara glukosa dan glukosa (C
1-4)
Trehalosa → gabungan antara glukosa dan glukosa (C
1-1)
Laktosa → gabungan antara glukosa dan galaktosa (C
1-4)

Gambar
9. Struktur Disakarida
Sumber: Nelson, David M. 2008. Lehninger Principles
of Biochemistry
3.
Polisakarida
Polisakarida adalah gabungan dari banyak molekul
monosakarida dengan ikatan glukosakarida. Polisakarida dalam bahan makanan
berfungsi sebagai penguat testur, contohnya : selulosa, hemiselulosa, pektin,
dan lignin, serta sebagai sumber enrgi, contohnya : pati, dekstrin, dan
glikogen.
Monosakarida dan sakarida umumnya disebut
“gula-gula” karena memiliki rasa yang manis disebabkan gugus hidroksidanya,
sedangkan polisakarida tidak terasa manis karena ukuran molekulnya besar
sehingga tidak dapat masuk ke dalam sel-sel kunci yang terdapat pada permukaan
lidah (Sudarmadji, dkk, 1996).
Polisakarida dibagi berdasarkan keseragaman monomer
sebagai berikut:
· Homopolisakarida,
merupakan polisakarida yang tersusun atas monomer yang seragam. Berfungsi untuk
penyimpanan energi (starch dan glycogen) dan elemen struktural dinding sel
dalam tanaman dan eksoskeleton binatang (cellulose dan chitin).
· Heteropolisakarida,
merupakan polisakarida yang tersusun atas lebih dari satu macam monomer. Gula
tersebut memiliki fungsi sebagai pembantu ekstraseluler dalam organisme,
seperti lapisan kaku bakteri (peptidoglikan). Dalam binatang, ruang
ekstraseluler terisi dengan beberapa tipe heteropolisakarida, yang membentuk
matriks yang menahan sel individu dan memberikan proteksi, dan bentuk untuk
sel, tisu, dan organ (Nelson, David M, 2008).

Berikut
adalah beberapa contoh polisakarida yang penting:
Selulosa
· Selulosa
merupakan polisakarida yang banyak dijumpai dalam dinding sel pelindung
seperti batang dan
daun dari tumbuh-tumbuhan. Selulosa merupakan polimer yang berantai
panjang dan tidak bercabang. Adanya banyak ikatan hidrogen
membuat selulosa memiliki
kekuatan yang cukup
besar. Selulosa terdiri atas ikatan rantai lurus β,D-glukopiramosida.
Amilum
· Amilum terdiri
dari dua komponen
utama, yaitu amilosa
dan amilopektin. Amilosa tersusun dari molekul-molekul α-glukosa dengan
ikatan glikosida α-(1-4) membentuk rantai linier. Sedangkan amilopektin terdiri
atas rantai-rantai amilosa dengan ikatan α–(1-4) yang saling berikatan
membentuk cabang dengan ikatan glikosida α-(1-6).
Glikogen
· Glikogen
merupakan senyawa polisakarida yang tersusun dari banyak α-glukosa yang
membentuk struktur rantai yang sangat bercabang dibandingkan amilum. Struktur
glikogen melibatkan ikatan α–(1-4) pada rantai lurus dan juga α-(1-6) pada
percabangan (Nelson, David M, 2008).
d. Fungsi Karbohidrat
1.
Membantu
Proses Pencernaan
Makanan Dalam proses pencernaan, ada karbohidrat
(serat) yang dapat memperlancar pencernaan makanan. Serat membantu menyerap
mineral bermanfaat dalam tubuh dan menormalkan gerakan usus dengan menggertakan
tinja dan membuatnya lebih muda dilewati.
2.
Membantu
Penyerapan Kalsium
Karbohidrat
khusus seperti lakstosa
membantu penyerapan kalsium. Laktosa meningkatkan absorpsi pasif
kalsium dengan meningkatkan kelarutan kalsium pada ileum. Laktosa meningkatkan
absorpsi bila tersedia cukup enzim laktase.
3.
Sebagai
Pemanis
Gula memiliki fungsi sebagai pemanis, dimana ada
tingkat kemanisan untuk masing-masing karbohidrat, salah satu fungsinya yaitu
fruktosa sebagai pemanis untuk permen (Nelson, David M, 2008).
Pengujian
ini dapat dilakukan
dengan dua (2)
macam cara, yaitu; pertama kualitatif menggunakan reaksi
pembentukan warna dan
yang kedua kuantitatif
menggunakan prinsip kromatografi (TLC/Thin Layer Cromatograpgy, GC/Gas
Cromatography, HPLC/High Performance
Liquid Cromatography).
Dikarenakan efisiensi pengujian,
pada umumnya untuk
pengujian secara kualitatif hanya
digunakan prinsip yang pertama yaitu adanya pembentukan warna sebagai dasar
penentuan kandungan karbohidrat dalam suatu bahan. Karbohidrat
dengan zat tertentu
akan menghasilkan warna
tertentu yang dapat digunakan untuk analisis kualitatif. Bila
karbohidrat direaksikan dengan larutan naftol dalam alcohol. Kemudian
ditambahkan H2SO4 pekat secara hati-hati, pada batas cairan akan berbentuk furfural yang berwarna ungu.Reaksi ini
disebut reaksi molisch
dan merupakan reaksi
umum bagi karbohidrat. terdapat
tujuh (7) macam reaksi pembentukan warna, yaitu (Nelson, David M, 2008) :
1.
Reaksi
Mollisch
Prinsip:
bahan yang mengandung
monosakarida bila direaksikan dengan H2SO4 pekat akan
terhidrolisis membentuk furural. Furfural ini akan membentuk persenyawaan
dengan naftol ditandai dengan terbentuknya warna violet(cincin). Oleh karena
H2SO4 dapat menghidrolisis oligosakarida
dan polisakarida.
Larutan karbohidrat yang telah ditetesi dengan
Molish, lalu dihidrolisis dengan asam sulfat pekat (H2SO4)
maka, terjadi pemutusan ikatan glikosidik dari rantai karbohidrat polisakarida
menjadi disakarida dan monoskarida. Larutan yang bereaksi positif akan
memeberikan cincin yang berwarna ungu ketika direaksikan dengan naftol dan asam
sulfat pekat (Nelson, David M, 2008).
2.
Reaksi
Benedict
KH
+ camp CuSO4, Na-Sitrat, Na2CO3 → Cu2O endapan merah bata
Prinsip:
larutan CuSO4 dalam suasana alkali akan direaksikan oleh gula yang mempunyai
gugus aldehida sehingga cupri oksida (CuO) tereduksi menjadi Cu2O yang berwarna
merah bata.
Reaksi Benedict bertujuan untuk
mengetahui identifikasi monosakarida berdasarkan sifat kemampuannya
mereduksi. Larutan uji dicampurkan dengan pereaksi Benedict kemudian
dipanaskan. Hasil positif ditunjukkan dengan terbentuknya endapan berwarna biru
kehijauan, merah, atau kuning tergantung kadar gula pereduksi yang ada (Nelson,
David M, 2008).
Gula reduksi dapat dibuktikan dengan terbentuknya
endapan yang berwarna merah bata. Akan tetapi tidak selamanya warna larutan
atau endapan yang terbentuk warna bata, hal ini bergantung pada konsentrasi
atau kadar gula reduksi yang dikandung oleh tiap-tiap larutan uji. Terbentuknya
endapan merah bata ini sebagai hasil reduksi ion Cu2+ menjadi ion Cu+ oleh
suatu gugus aldehid atau keton bebas yang terkandung dalam gula reduksi yang
berlangsung dalam suasan basa. Sifat basa yang dimiliki oleh pereaksi Benedict
ini dikarenakan adanya senyawa Natrium Karbonat (Nelson, David M, 2008).
Caranya:
5ml pereaksi dalam tabung reaksi ditambahkan 8 tetes larutan contoh,
kemudian tabung reaksi
ditempatkan dalam air
mendidih selama 5 menit. Timbulnya endapan
warna hijau,kuning atau
merah orange menunjukkan adanya
gula pereduksi dalam contoh.
3.
Reaksi
Barfoed
KH
+ camp CuSO4 dan CH3COOH → Cu2O endapan merah bata
Prinsip: monosakarida akan
mereduksi reagen barfoed
yang bersifat asam sehingga
kekuatan hidrolisis menurun dan mengakibatkan tidak dapat mereduksi disakarida.
Caranya:
pereaksi terdiri dari cupri asetat dan asam asetat. Dalam 5ml pereaksi dalam
tabung reaksi ditambahkan
1ml larutan contoh, kemudian tabung reaksi
ditempatkan dalam air mendidih
selama 1 menit. Endapan berwarna merah orange
menunjukkan adanya monosakarida dalam contoh (Nelson, David M, 2008).
4.
Uji
Seliwanoff
KH (ketosa) + H2SO4 furfural
+ resorsinol warna merah.
KH (aldosa) + H2SO4 furfural
+ resorsinol negatif
Fruktosa dapat dibuktikan dengan uji Selwanoff.
Larutan uji dicampurkan dengan pereaksi Seliwanoff kemudian dan dicatat
waktunya. Hasil positif ditunjukkan dengan terbentuknya larutan berwarna merah
(Nelson, David M, 2008).
Prinsip:
Pada uji ini sukrosa dan fruktosa yang menghasilkan warna larutan yang spesifik
yakni warna Merah yang mengidentifikasikan adanya kandungan Fruktosa dalam karbohidrat jenis monosakarida
itu. HCl yang terkandung dalam pereaksi Seliwanoff ini menghindrasi fruktosa
menghasilkan hidroksifurfural sehingga furfural mengalami kondensiasi setelah
pertambahan resorsinol membentuk larutan yang berwarna Merah (Nelson, David M,
2008).
Carannya:
1ml larutan contoh ditambahkan kedalm 5ml pereaksi (3,5ml recorsinol 0,5%
dengan 12ml HCL pekat,kemudian encerkan dengan 35 ml dengan air
suling) kemudian ditempatkan
dalam air mendidih
selama 10 menit. Warna merah
cherry menunjukkan adanya fruktosa dalam contoh (Nelson, David M, 2008).
5.
Uji
Iodin
KH (polisakarida) + Iod (I2) →
warna spesifik (biru kehitaman)
Uji iodin secara khusus dipergunakan untuk
mengidentifikasi adanya polisakarida amilum. Amilum merupakan polisakarida yang
terbagi menjadi dua fraksi yaitu Amilosa dan Amilopektin.
Prinsip: polisakarida
akan membentuk reaksi dengan
iodine dan memberikan warna
spesifik tergantung jenis
karbohidratnya. Amilosa dan iodine berwarna biru yang larut dalam
air, amilo pectin yang tidak larut dalam air dengan penambahan Iodium
memberikan warna ungu sampai merah, glikogen dan dextrin berwarna merah coklat.
Amilum dalam suasana asam bila dipanaskan akan terhidrolisis daat dengan Iodine
dan menghasilkan warna biru sampai tidak berwarna (Nelson, David M, 2008).
Pereaksi Iodine jika dicampur dengan Amilum
menghasilkan larutan berwarna biru pekat yang menandakan hasil positif terhadap
kandungan poliakarida tetapi untuk larutan uji Monosakarida dan Disakarida
tidak menghasilkan warna larutan yang spesifik, oleh karena itu hasil yang
ditunjukkan negatif. Terbentuknya warna biru disebabkan molekul Amilosa dan
Amilopektik yang membentuk suatu molekul dengan molekul dari larutan Iodine.
Oleh karena itu, monosakarida dan disakarida tidak menghasilkan warna larutan
yang spesifik karena tidak mengandung Amilosa an Amilopektin (Nelson, David M,
2008).
Caranya:
larutan contoh diasamkan dengan HCl. Sementara itu dibuat larutn iodine
dalam larutan KI.
Larutan contoh sebanyak
satu tetes ditambahkan kedalam
larutan iodin. Timbulnya warna
biru menunjukkan adanya pati
dalam contoh,sedangkan warna
merah menunjukkan adanya glikogen (Nelson, David M, 2008).
6.
Reaksi
Fehling
KH
+ camp CuSO4, K-Na-tatrat, NaOH → Cu2O endapan merah bata
Ketiga reaksi diatas memiliki prinsip yang hampir
sama, yaitu menggunakan gugus aldehid pada gula untuk mereduksi senyawa Cu2SO4
menjadi Cu2O (enpadan berwarna merah bata) setelah dipanaskan pada suasana basa
(Benedict dan Fehling) atau asam (Barfoed) dengan ditambahkan agen pengikat
(chelating agent) seperti Na-sitrat dan K-Na-tatrat (Nelson, David M, 2008).
7.
Reakis
Ozason
Reaksi ini dapat digunakan baik untuk larutan aldosa
maupun ketosa, yaitu dengan menambahkan
larutan fenilhidrazin, lalu
dipanaskan hingga terbentuk
kristal berwarna kuning yang dinamakan hidrazon (osazon) (Nelson, David M, 2008).
F. Alat dan Bahan
·
Alat
1. Tabung
reaksi 14
buah.
2. Rak
tabung reaksi 1 buah.
3. Pipet
tetes 20 buah.
4. Gelas
ukur 3 buah.
5. Gelas
kimia 1000 ml 1 buah.
6. Pembakar
spirtus 1 buah.
7. Kaki
tiga 1 buah.
8. Kasa 1 buah.
·
Bahan
1. Larutan
glukosa 1
ml.
2. Larutan
sukrosa 1
ml.
3. Larutan
amilum 8
ml.
4. Larutan
laktosa 1
ml.
5. Larutan
fruktosa 1
ml.
6. Reagen
Molish 1
ml.
7. Reagen
Benedict 9
ml.
8. Ragen
Fehling 2
ml.
9. Reagen
Barfoed 1
ml.
10. Reagen
Seliwanof 16
ml.
11. Reagen
Tollens 2
ml.
12. Amoniak
encer secukupnya.
13. Larutan
H2SO4 pekat 2
ml.
14. Larutan
HCl 3M 3
ml.
15. Larutan
NaOH 3M 6
ml.
16. Aquades 38
ml.
17. Iodine 3
tetes.
G. Alur Percobaan
. Uji Molisch
a. Sukrosa

b. Glukosa

c. Amilum

d. Fruktosa

2. Uji seliwanoff
a. Amilum

b. Laktosa

c. Glukosa

d. Fruktosa

3. Uji Barford
a. Amilum

b. Glukosa

c. Laktosa

d. Fruktosa

4. Uji Tollens
Membuat
reagen tollens.

Pengujian
tollens.
a. Sukrosa

b. Amilum

c. Laktosa

d. Glukosa

e. Fruktosa

5. Tes Fehling
a. Tabung
1

b. Tabung
2

c. Tabung
3

d. Tabung
4

e. Tabung
5

6. Tes Benedict
a. Tabung
1

b. Tabung
2

c. Tabung
3

d. Tabung
4

e. Tabung
5

7. Hidrolisis Sukrosa




8. Hidrolisis pati



I.
Analisis dan
Pembahasan
Pada
percobaan ini mengenai jenis-jenis karbohidrat yang bertujuan untuk melakukan
prinsip-prinsip dasar dalam reaksi pengenalan karbohidrat, melakukan pengujian adanya monosakarida dan
disakarida, melakukan pengujian adanya gula pereduksi, melakukan hidrolisis
polisakarida dan disakarida, serta menguji hasil hidrolisis disakarida dan
polisakarida.
Berdasarkan teori karbohidrat dapat digolongkan kedalam 3
jenis yaitu monosakarida, disakarida, dan polisakarida. Contoh karbohidrat yang
termasuk monosakarida adalah glukosa dan sukrosa. Yang termasuk disakarida adalah
sukrosa, maltose, dan laktosa. Sedangkan contoh polisakarida adalah amilum
(pati) (Hart, 2003).
Karbohidrat
dapat diuji keberadaannya dengan menggunakan beberapa pereaksi. Terdapat 8
percobaan yaitu uji molish, uji seliwanoff, uji barfoed, uji tollens, uji
fehling, uji benedict, hidrolisis sukrosa, dan hidrolisis pati.
a.
Uji
molish
Prinsip uji mollish yaitu mengidentifikasi adanya
karbohidrat dalam suatu zat atau senyawa. Prinsip reaksi yang terjadi yaitu
dehidrasi pada karbohidrat oleh asam sulfat pekat untuk menghasilkan aldehid.
Jika senyawa yang dihidrasi oleh asam sulfat adalah pentosa maka hasilnya
adalah furfural atau hidroksimetil. Fultural untuk mengidentifikasi adanya
karbohidrat secara umum. Jika senyawa yang dihirasi oleh asam sulfat pekat adalah
heksosa maka akan menghasilkan 5-hidroksimetil furfural. Hasil dari proses
hidroksi dikondensasi oleh α-naftol membentuk warna ungu (Schreck &
Lefrfedo, 1994).
Uji positif ditandai dengan timbulnya cincin merah
ungu yang merupakan kondensasi antara furfural atau hidroksi metil furfural
degan α-naftol dalam pereaksi molish. Uji in bisa digunakan untuk semua jenis
karbohidrat (Riswiyanto, 2009). Reaksi pembentukan furfural merupakan hasil
reaksi atau pelepasan molekul air dari senyawa. Oleh karena furfural atau
derivatnya membentuk cincin senyawa
kompleks berwarna merah bila direaksikan dengan α-naftol atau timol, reaksi ini
dapat dijadikan sebagai reaksi identifikasi karbohidrat.
Langkah pertama yang dilakukan dalam percobaan ini
adalah 5 tabung reaksi. Kelima tabung reaksi diisi dengan menggunakan sampel
yang berbeda-beda. Yaitu amilum, glukosa, sukrosa, fruktosa, dan laktosa.
Kemudian ditambahkan 5 tetes pereaksi molish dan 7-8 tetes H2SO4 hingga
terbentuk dua lapisan. Pada uji molish H2SO4 berfungsi untuk menghidrasi
karbohidrat dan membantu menghidrolisis atau memecahkan molekul disakarida
menjadi monosakarida dan polisakarida menjadi disakarida dan monosakarida yang
kemudian terhidrasi menjadi tururnan furfural yang bereaksi dengan α-naftol
atau timol membentuk senyawa berwarna merah-ungu. Hasil dari penambahan pereaksi
molish adalah larutan berwarna jingga dan hasil dari penambahan H2SO4 adalah terbentuknya
cincin berwarna jingga dengan lapisan bawah berwarna hitam dan lapisan atas
berwarna merah keunguan. Terbentuknya cincin berwarna jingga tersebut
menunjukkan bahwa ikatan glikosidik menghasilkan monosakarida yang selanjutnya
didehidrasi menjadi furfural. Selanjutnya di diamkan 2 menit dan ditambahkan
air sebanyak 5 ml. Hasil pengamatan setiap sampel sebagai berikut:
1.
Amilum
Hasil percobaan yang menghasilkan cincin berwarna
jingga yang menunjukkan bahwa amilum merupakan suatu golongan karbohidrat
polisakarida. Larutan diencerkan dengan menggunakan 5 ml aquades didapatkan
larutan berwarna coklat keunguan. Hal
ini menunjukkan bahwa sampel tersebut positif terhadap uji karbohidrat ini.
Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:
-





-
-






-
-
-












2.
Glukosa
Hasil percobaan yang menghasilkan cincin berwarna
jingga tersebut menunjukkan bahwa ikatan glikosidik menghasilkan monosakarida
yang selanjutnya didehidrasi menjadi furfural bahwa sukrosa merupakan suatu
golongan karbohidrat disakarida. Larutan diencerkan dengan menggunakan 5 ml
aquades didapatkan larutan berwarna kecoklatan.
Hal ini menunjukkan bahwa sampel tersebut positif terhadap uji
karbohidrat ini. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:





3.
Sukrosa
Hasil percobaan yang menghasilkan cincin berwarna
jingga yang menunjukkan bahwa ikatan glikosidik menghasilkan monosakarida yang
selanjutnya didehidrasi menjadi furfural. Hasil percobaan yang menghasilkan
cincin berwarna jingga tersebut menunjukkan bahwa sukrosa merupakan suatu
golongan karbohidrat disakarida. Larutan yang dihasilkan tersebut kemudian
diencerkan dengan menggunakan 5 ml aquades (larutan tidak berwarna) dan
didapatkan larutan yang tidak berwarna dengan endapan yang berwarna coklat
dengan sedikit ungu. Hal ini menunjukkan
bahwa sampel tersebut positif terhadap uji karbohidrat ini. Reaksi yang terjadi
adalah sebagai berikut:





4.
Fruktosa
Hasil percobaan yang menghasilkan cincin berwarna
jingga tersebut menunjukkan bahwa fruktosa merupakan suatu golongan karbohidrat
monosakarida. Larutan yang dihasilkan tersebut kemudian diencerkan dengan
menggunakan 5 ml aquades (larutan tidak berwarna) dan didapatkan larutan yang
tidak berwarna dengan endapan yang berwarna coklat dengan sedikit biru. Hal ini menunjukkan bahwa sampel tersebut
positif terhadap uji karbohidrat ini. Reaksi yang terjadi adalah sebagai
berikut:








5.
Laktosa
b.
Uji
seliwanoff
Percobaan kedua yang kami lakukan adalah uji
seliwanoff yang bertujuan untuk menegetahui gula aldose atau ketosa yang
terkandung dalam suatu karbohidrat. Prinsip percobaan ini yaitu konversi
fruktosa menjadi asam levulinat dan hidroksimetil furfural oleh asam
hidroklorida panas. Terbentuknya warna merah ceri karena ketosa mengalami
kondensasi hidrosi metil furfural dengan resorsinol. Aldosa yang bereaksi
dengan reagen seliwanoff menghasilkan warna jingga. Reagen seliwanoff terdiri
atas resorsinol, berfungsi sebagai kondesator, dan HCl, sebagai dehidrator. Dimana
HCl pekat menghasilkan hidroksi metil
furfural dengan penambahan resorsinol akan mengalami kondensasi membentuk
kompleks berwana merah jingga atau merah bata.
Uji ini didasarkan pada fakta bahwa ketika
dipanaskan, ketosa lebih cepat terdehirasi daripada aldosa. Fruktosa dan
sukrosa merupakan dua jenis gula yang
memberikan uji positif. Sukrosa menghasilkan uji positif karena ia adalah
disakarida yang terdiri dari fruktosa dan glukosa (Aprilia Kusbandari, 2015).
Pada percobaan ini digunakan 5 sampel, yaitu amilum,
glukosa, sukrosa, fruktosa, dan laktosa.
Langkah pertama yang dilakukan dalam percobaan ini
adalah larutan amilum, glukosa, sukrosa, fruktosa, dan laktosa dimasukkan
kedalam 5 tabung reaksi. Kemudian masing-masing sampel ditambahkan 5 tetes reagen
seliwanoff, setelah itu dikocok dan dipanaskan diatas penangas air dan terjadi
perubahan warna menjadi merah.
|
Amilum
|
(-) larutan kekuningan
|
|
Glukosa
|
(-) tidak berwarna
|
|
Sukrosa
|
(+ aldosa) jingga
|
|
Laktosa
|
(-) larutan kekuningan
|
|
Fruktosa
|
(+ ketosa) larutan merah
|
Pada uji yang kami lakukan pada sampel amilum,
glukosa, sukrosa, fruktosa, dan laktosa terhadap reagen seliwanoff. Pada sampel
amilum, laktosa, dan glukosa tidak ada gugus aldehid ataupun keton karena pada
uji dengan seliwanoff tidak menunjukkan perubahan warna menjadi jingga ataupun
merah. Sukrosa yang diuji dengan seliwanoff positif mengandung gugus aldosa
karena berubah warna menjadi jingga. Fruktosa yang diuji positif mengandung
gugus ketosa karena perubahan warnanya menjadi merah. Hal tersebut sesuai
dengan teori bahwa Fruktosa dan sukrosa merupakan dua jenis gula yang memberikan uji positif
(Aprilia Kusbandari, 2015). amilum, glukosa, sukrosa, fruktosa, dan laktosa.
Reaksinya sebagai berikut:
-
Amilum
+ nH2o 
- Glukosa


- Fruktosa
2
+ 
furfural Resorsinol
- Laktosa



c.
Uji barfoad
Pereaksi Barfoed merupakan larutan tembaga asetat
dalam air yang ditambahkan asam asetat atau asam laktat.
Pereaksi ini digunakan untuk membedakan monosakarida dan disakarida dengan cara
mengontrol kondisi percobaan, seperti pH dan waktu pemanasan. Prinsipnya adalah
reduksi Cu2+ yang terdapat dalam pereaksi barfoed oleh gugus pereduksi pada
monokasarida dalam suasana asam. Reaksi positif ditunjukkan dengan munculnya
endapan merah jingga atau merah bata. Pada uji barfoed glukosa, fruktosa,
laktosa dan sukrosa bereaksi positif yang ditandai dengan adanya endapan merah
bata setelah dipanaskan (Ardi Priyadi, dkk, 2015).
Tujuan dari pengujian barfoed ini adalah untuk
membedakan monosakarida dan disakarida.
Langkah pertama dalam percobaan ini adalah 5 tetes
larutan amilum, glukosa, sukrosa, fruktosa, dan laktosa dimasukkan kedalam
tabung reaksi, kemudian ditambahkan 5 ml reagen barfoad, setelah itu tabung
reaski dimasukkan kedalam penangas air. Hasil pengamatan ketika setelah
dipanaskan selama 2 menit terbentuk endapan merah maka termasuk kedalam
golongan monoskarida, sedangkan jika terbentuk endapan setelah 10 menit maka
termasuk kedalam golongan disakarida.
Hasil pengamatan
pada masing-masing tabung reaksi adalah:
|
Amilum
|
(-)
endapan merah
|
|
Glukosa
|
(-)
endapan merah
|
|
Sukrosa
|
(-)
endapan merah
|
|
fruktosa
|
(+) endapan
merah
|
|
Laktosa
|
(-)
endapan merah
|
Dari hasil percobaan diatas maka hasil uji positif
terdapat dalam larutan fruktosa yang ditandai dengan terbentuknya endapan
berwarna merah setelah dipanaskan, dan pada larutan amilum, glukosa, sukrosa,
dan laktosa merupakan uji negatif, karena tidak terbentuk endapan berwarna
merah. Hal tersebut tidak sesuai dengan teori bahwa pada uji barfoed glukosa,
fruktosa, laktosa dan sukrosa bereaksi positif yang ditandai dengan adanya
endapan merah bata setelah dipanaskan (Ardi Priyadi, dkk, 2015).
Peneyebab terjadi tidak adanya kesesuaian pada
percobaan uji barfoad adalah fruktosa lebih mudah tereduksi dibandingkan yang
lainnya karena berada dalam kesetimbangan dengan dua aldehid distereometrik
serta penggunaaan suatu zat antara tautometrik enandiol (Fessenden & Fessenden,
1986). Pada uji amilum tidak terjadi endapan merah karena amilum bukan
merupakan disakarida namun polisakarida. Glukosa yang merupakan disakarida
namun tidak terbentuk endapan merah karena gugus karbonil pada glikosida
diblokade. Tidak terbentuk endapan merah bata pada glukosa juga karena keadaan
asam mengakibatkan susahnya reaksi yang terjadi pada glukosa dengan reagen
barfoed.
Persamaan
reaksi pada uji barfoad adalah:
- Amilum
- Glukosa

+ Cu2O (s) (endapan merah bata)
- Sukrosa

- Fruktosa

+
Cu2O
(s) (endapan merah bata)
- Laktosa

d.
Uji
tollens
Pereaksi tollens merupakan suatu oksidator/pengoksidasi
lemah. Uji
tollens dapat digunakan untuk membedakan senyawa-senyawa
yang mengandung gugus karbonil, -CO-. Karena sifat pengoksidasinya lemah, maka
tollens tidak dapat mengoksidasi senyawa keton dan dapat digunakan untuk
mengoksidasi gugus aldehid, -CHO menjadi asam karboksilat, -COOH.
Pada percobaan ke empat bertujuan untuk mendeteksi
gula pereduksi dengan reagen tollens. Uji tollens menggunakan prinsip reaksi
reduksi oksidasi. Senyawa yang menjadi reduktor adalah aldehid karena aldehid
dioksidasi menjadi anion karboksilat. Reagen tollens bertindak sebagai
oksidator karena ion Ag+ dalam reagensia
tollens diredukri menjadi logam Ag.
Pereaksi tollens ini dapat dibuat dari larutan perak
nitrat, AgNO3. Mula-mula larutan ini direaksikan dengan basa kuat, NaOH(aq),
kemudian endapan coklat Ag2O yang terbentuk dilarutkan dengan larutan amonia hidroksida
sehingga membentuk kompleks perak amoniak, Ag(NH3)2+(aq) (Riswiyanto, 2009).
Langkah pertama dalam percobaan ini adalah larutan
sampel amilum, glukosa, sukrosa, fruktosa dan laktosa dimasukkan kedalam tabung
reaksi, kemudian ditambahkan reagen tollens yang sudah dibuat sebanyak 5 tetes,
setelah itu semua sampel dimasukkan kedalam penangas air dan ditunggu hingga
terbentuknya cincin perak dalam tabung reaksi. Tujuan dari pemanasan adalah
untuk mempercepat jalannya reaksi dan mempercepat proses pembentukan cermin
perak pada sampel.
|
Amilum
|
(-) tidak ada cermin perak
|
|
Glukosa
|
(+) tidak ada cermin perak
|
|
Sukrosa
|
(-) terbentuk cermin perak
|
|
Fruktosa
|
(+) terbentuk cermin perak
|
|
Laktosa
|
(+) tidak ada cermin perak
|
Terbentuknya cermin perak tersebut menunjukkan bahwa
sampel yang digunakan mengandung gugus aldehid. Dari hasil percobaan tersebut
menunjukkan bahwa pada sampel glukosa, fruktosa dan laktosa terbentuk cincin
perak.
1. Amilum
Pada sampel amilum tidak terbentuk cermin perak
karena amilum mempunyai hemiasetal pada satu ujung dari molekulnya. Akibatnya,
amilum tidak dapat mereduksi pereaksi tollens. Hal ini menunjukkan bahwa amilum
bukan merupakan gula pereduksi. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:

2. Glukosa
Cermin perak yang dihasilkan pada sampel glukosa.
Hal ini dikarenakan glukosa tersebut mengandung gugus aldosa sehingga dapat
mereduksi Ag+ yang terkandung dalam reagen tollens tersebut menjadi Ag sehingga
pada sampel tersebut terbentuk cermin perak. Reaksi yang terjadi adalah sebagai
berikut:

3. Sukrosa
Terbentuknya cermin perak pada sampel sukrosa karena
sukrosa tersebut terhidrolisis menjadi monomer glukosa dan fruktosa. Glukosa
yang terbentuk tersebut mengandung gugus aldosa sehingga dapat mereduksi Ag+
yang terkandung dalam reagen tollens tersebut menjadi Ag sehingga pada sampel
tersebut terbentuk cermin perak. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:

4. Fruktosa
Fruktosa adalah gula pereduksi yang memiliki
struktur hemiasetal sehingga cermin perak dapat terbentuk. Reaksi yang terjadi
adalah sebagai berikut:

5. Laktosa
Pada sampel laktosa pun juga terbentuk cermin perak.
Terbentuknya cermin perak pada sampel laktosa karena laktosa tersebut
terhidrolisis menjadi monomer glukosa dan galaktosa. Galaktosa yang terbentuk
tersebut mengandung gugus aldosa sehingga dapat mereduksi Ag+ yang terkandung
dalam reagen tollens tersebut menjadi Ag sehingga pada sampel tersebut
terbentuk cermin perak. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:

e.
Uji
fehling
Uji fehling merupakan uji yang dilakukan untuk
mengidentifikasi adanya karbohidrat dalam sampel reaksi positif yaitu
ditentukannya endapan merah bata (Winarno,1992).
Uji Fehling
bertujuan untuk mengetahui adanya gugus aldehid. Reagent yang digunakan dalam
pengujian ini adalah Fehling A (CuSO4) dan Fehling B (NaOH dan KNa tartarat)
(Riswiyanto, 2009).
Prinsip yang digunakan sama seperti uji tollens
yaitu reaksi oksidasi reduksi. Ion Cu2+ pada fehling mengoksidasi gugus aldehid
menjadi Cu+ yang ditandai dengan terbentuknya endapan merah bata. Reagen
fehling terdapat dua yaitu fehling A dan fehling B dengan Fehling A terdiri
atas senyawa CuSO4 dalam air dan fehling B yaitu larutan garam kalium natrium
tatrat. Tetap digunakannya fehling B bukan hanya fehling A karena garam kalium
natrium tatrat dapat mencegah pengendapan CuCO3.
Langkah pertama dalam percobaan ini adalah 2 tetes
sampel amilum, glukosa, sukrosa, fruktosa dan laktosa dimauskkan kedalam tabung
reaksi, kemudian ditambahkan reagen fehling. Larutan fehling pada percobaan ini
berfungsi untuk mengoksidasi gugus aldosa yang terdapat pada sampel. Kemudian
larutan yang dihasilkan dikocok hingga homogen dan dipanaskan dalam penangas
air selama 3-4 menit. Pemanasan dalam reaksi ini bertujuan agar gugus aldehid
pada sampel terbongkar ikatannya dan dapat bereaksi dengan ion
OH- membentuk asam karboksilat. Cu2O (endapan merah bata) yang terbentuk
merupakan hasil sampingan dari reaksi pembentukan asam karboksilat (Riswiyanto,
2009).
Hasil positif pada uji fehling ini ditandai dengan
terbentuknya endapan merah bata pada sampel yang mengandung gugus aldosa.
|
Amilum
|
(-) endapan merah
|
|
Glukosa
|
(+) endapan merah
|
|
Sukrosa
|
(+) endapan merah
|
|
Fruktosa
|
(+) endapan merah
|
|
Laktosa
|
(+) endapan merah
|
Dari hasil percobaan tersebut menunjukkan bahwa pada
glukosa, sukrosa, fruktosa, dan laktosa terbentuk endapan berwarna merah bata
yang menunjukkan bahwa ion Cu2+ dari reagen fehling telah tereduksi menjadi
endapan Cu2O. Hal ini disebabkan karena disakarida yang merupakan gula pereduksi
dan hemiasetal dengan karbon anomerik bebas, sehingga didalam air gugus ini
berada dalam kesetimbangan dengan bentuk aldehida rantai terbuka. Sehingga hal
inilah yang membuat sampel laktosa, glukosa, dan fruktosa terdapat endapan
berwarna merah bata dan membuktikan bahwa didalam sampel tersebut terkandung
gugus aldose.
Sedangkan pada larutan sampel amilum tidak terbentuk
endapan berwarna merah bata. Hal ini menunjukkan bahwa amilum bukan merupakan
gula pereduksi dan tidak mengandung gugus aldehid. Persamaan reaksi yang
terjadi:
-
Amilum
+ 2Cu2+ + 5OH-
- Glukosa
+ 2Cu2+ + 5OH- à
+ 3H2O(l)
+ Cu2O (s) (endapan merah bata)
- Sukrosa
+ 2Cu2+ + 5OH-
- Fruktosa
+ 2Cu2+ + 5OH- à
+ 3H2O(l) + Cu2O(s)(endapan merah bata)
- Laktosa
+ 2Cu2+ + 5OH- à
+ Cu2O(s) (endapan merah bata) + 3H2O(l)
f.
Uji benedict
Pada percobaan ini bertujuan untuk menguji adanya
gula pereduksi pada sampel karbohidrat yang mengandung gugus aldosa. Prinsip
dasar dari tes Benedict adalah larutan CuSO4 dalam suasana alkali akan bereaksi
dengan gula yang mempunyai gugus aldehid sehingga Cupri Oksida (CuO) tereduksi
menjadi Cu2O yang berwarna merah bata.
Uji Benedict berdasarkan pada reduksi dari Cu2+
menjadi Cu+ oleh karbohidrat yang mempunyai gugus aldehid atau keton bebas.
Pereaksi Benedict mengandung CuSO4, Na2CO3 dan Na-sitrat.
Langkah pertama dalam percobaan ini adalah 5 tetes larutan
sampel amilum, glukosa, sukrosa, fruktosa dan laktosa dimasukkan kedalam tabung
reaksi kemudian ditambahkan 5 tetes reagen benedict yang berfungsi untuk mengoksidasi gugus aldosa
pada sampel yang akan diuji setelah itu dikocok dan dipanaskan didalam penangas
air untuk mempercepat proses terjadinya reaksi redoks antara ion Cu2+ yang
terdapat pada larutan benedict dengan sampel yang diuji.
|
Amilum
|
(-)
endapan merah bata
|
|
Glukosa
|
(-)
endapan merah bata
|
|
Sukrosa
|
(+)
endapan merah bata
|
|
Fruktosa
|
(+)
endapan merah bata
|
|
Laktosa
|
(+)
endapan merah bata
|
Hasil positif pada uji benedict ini ditandai dengan
terbentuknya endapan merah bata pada sampel yang mengandung gugus aldosa.
Berdasarkan hasil pengamatan tersebut didapatkan
hasil bahwa sukrosa, fruktosa, dan laktosa mengandung uji positid. Sedangkan
amilum dan glukosa merupakan uji negatif.
1.
Amilum
Karena amilum bukan merupakan gula pereduksi dan
tidak mengandung gugus aldehid. Reaksinya sebagai berikut:
+ 2Cu2+
2.
Glukosa
Pada sampel glukosa, ion Cu2+ dari reagen benedict
telah tereduksi menjadi endapan Cu2O. Hal ini disebabkan karena mengandung
suatu gugus hemiasetal dengan karbon anomerik bebas, sehingga didalam air gugus
ini berada dalam kesetimbangan dengan bentuk aldehida rantai terbuka. Reaksinya
sebagai berikut:
+ 2 Cu2+
+
Cu2O (s)
3.
Sukrosa
sukrosa merupakan gula pereduksi dan mengandung
gugus aldehid. Sukrosa mengandung gugus aldehid karena apabila ia dihidrolisis
akan menghasilkan glukosa dan fruktosa, dimana keduanya mengandung suatu gugus
hemiasetal dengan karbon anomerik bebas, sehingga didalam air gugus ini berada
dalam kesetimbangan dengan bentuk aldehida rantai terbuka sehingga dapat
mereduksi ion Cu2+ dari reagen benedict menjadi endapan Cu2O. Reaskinya sebagai
berikut:
4.
Fruktosa
5.
Laktosa
Laktosa merupakan gula pereduksi (Solomon, )
sehingga saat direaksikan dengan reagen benedict maka terbentuk endapan merah
kehitaman. Reaksinya sebagai berikut:
+
2 Cu2+
+
Cu2O (s)
g.
Hidrolisis
sukrosa
Sukrosa adalah karbohidrat golongan disakarida.
Hidrolisis sukrosa ini untuk membuktikan apakah
hasil hidrolisis dari sukrosa adalah
glukosa dan fruktosa yaitu dengan cara sukrosa dihidrolisis,
larutan yang telah dihidrolisis kemudian diuji dengan reagen benedict untuk
membuktikan glukosa dan reagen seliwanoff untuk membuktikan ada fruktosa
(Yazid, 2006).
Tujuan dari percobaan hidrolisis sukrosa adalah
menghidrolisis sukrosa dan menguji hasil hidrolisis sukrosa. Prinsip yang
digunakan yaitu pengujian dengan reagen benedict dan seliwanoff, saat diuji
dengan reagen seliwanoff mempunyai endapan jingga maka hidrolisis sempurna
terjadi, kemudian saat diuji dengan reagen benedict terbentuk endapan merah
bata maka sukrosa terhidrolisis sempurna. Sukrosa terhidrolisis sempurna
menjadi fruktosa dan glukosa. Percobaan
hidrolisis sukrosa dilakukan dengan 3 perlakuan, perlakuan pertama penambahan
HCl + NaOH, perlakuan kedua penambahan air + NaOH, perlakuan ketiga penambahan
air + air pada sukrosa.
Langkah pertama dalam percobaan ini adalah 0,5 ml
sukrosa dilarutkan dengan 6 ml aquades kemudian dibagi kedalam tiga tabung
reaksi dengan volume larutan sama banyak.
1.
Tabung
pertama
Pada tabung pertama ditambahkan 1 ml HCl 3 M yang
HCl berfungsi menghidrolisis sukrosa menjadi glukosa dan fruktosa, kemudian
dipanaskan didalam penangas air dan setelah itu didinginkan pada suhu kamar.
Selanjutnya ditambahkan larutan NaOH 1,5 mL yang berfungsi untuk memberikan
suasana basa pada larutan sehingga proses hidrolisis dapat terjadi agar dapat mempercepat
laju mutarotasi. Larutan kemudian dibagi kedalam 2 tabung raeksi yang
masing-masing diuji dengan dua reagen yaitu reagen benedict dan seliwanof.
Uji dengan benedict didapatkan hasil larutan berwarna
biru tidak ada endapan. Fungsi dari benedict adalah untuk mengetahui adanya
gula pereduksi dan sebagai indikator bahwa sukrosa sudah terhidrolisis atau
belum. Setelah dilakukan pemanasan didapatkan hasil yang sama seerti sebelum
dipanaskan yaitu larutan berwarna biru terdapat endapan merah bata. Endapan
merah bata yang larutan sukrosa terhidrolisis secara sempurna.
Uji hasil perlakuan pertama dengan seliwanoff
diperoleh hasil larutan tidak berwarna kemudian dipanaskan dan hasil yang
didapatkan tetap tidak berwarna, didapatkan pada uji seliwanoff sukrosa tidak
terhidrolisis sempurna. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:
+ 
- Reagen
seliwanoff


+ 

- Reagen
benedict



2.
Tabung kedua
Pada tabung reaksi kedua ditambahkan 1 ml air sebagai
penghidrolisis dan dipanaskan didalam penangas air kemudian didinginkan pada suhu kamar untuk menurunkan suhu larutan
sebelum ditabahkan dengan NaOH karena sifat dari NaOH sendiri yang merupakan
eksoterm sehingga menghasilkan panas, setelah itu ditambahkan 1,5 ml NaOH untuk
memberikan suasana basa pada larutan sehingga proses hidrolisis dapat terjadi dan
selanjutnya dibagi menjadi 2.
Uji dengan reagen benedict terjadi terbentuknya
larutan berwarna hijau kehitaman. Fungsi dari benedict adalah untuk mengetahui
adanya gula pereduksi dan sebagai indikator bahwa sukrosa sudah terhidrolisis
atau belum. Kemudian larutan yang terbentuk tersebut dipanaskan dalam penangas
air selama 5 menit dan dihasilkan larutan berwarna biru sedikit muda. Tidak
terbentuknya endapan tersebut menunjukkan bahwa sukrosa yang diuji tersebut
sudah terhidrolisis sebagian.
Sedangkan pada uji reagen seliwanof didapatkan
larutan tidak berwarna. Fungsi dari seliwanof adalah untuk mengetahui adanya gugus
ketosa, gula pereduksi (glukosa) dan sebagai indikator bahwa fruktosa sudah
terhidrolisis atau belum. Tidak terbentuknya endapan dan perubahan warna
tersebut menunjukkan bahwa sukrosa yang diuji tersebut belum sudah.
Reaksinya sebagai berikut:
+
- Reagen
seliwanoff


+ 

- Reagen
benedict



3.
Tabung
ketiga
Pada tabung reaksi ketiga yaitu ditambahkan 1 ml air
kemudian dipanaskan didalam penangas air dan didinginkan.
Pada uji
reagen benedict terbentuk larutan berwarna biru. Fungsi dari benedict
adalah untuk mengetahui adanya gula pereduksi dan sebagai indikator bahwa
sukrosa sudah terhidrolisis atau belum. Terbentuknya larutan berwarna biru muda
tersebut dan tidak terbentuknya endapan tersebut menunjukkan bahwa sukrosa yang
diuji tersebut tidak terhidrolisis.
Pada uji dengan reagen seliwanoff didapatkan larutan
tidak berwarna. Fungsi dari seliwanof adalah untuk mengetahui adanya gugus
ketosa, gula pereduksi (glukosa) dan sebagai indikator bahwa fruktosa sudah
terhidrolisis atau belum. terbentuknya larutan tidak. Fungsi dari seliwanof
adalah untuk mengetahui adanya gugus ketosa, gula pereduksi (glukosa) dan
sebagai indikator bahwa fruktosa sudah terhidrolisis atau belum. Tidak
terbentuknya larutan tidak berwarna menunjukkan bahwa sukrosa yang diuji
tersebut tidak terhidrolisis. Reaksinya sebegai berikut:
+
- Reagen
seliwanoff


+ 

- Reagen
benedict



h.
Hidrolisis
pati
Pada proses hidrolisis pati yang sering digunakan adalah
hidrolisis dengan larutan asam encer dimana kecepatan reaksinya sebanding
dengan konsentrasi asam. Digunakan larutan asam karena reaksi antara air dan
pati berjalan sangat lambat sehingga diperlukan bantuan katalisator untuk
memperbesar kereaktifan air. Katalis yang biasa digunakan adalah asam klorida,
asam nitrat, dan asam sulfat (Yazid, 2006).
Tujuan dari percobaan hidrolisis pati adalah
menghidrolisis sukrosa dan menguji hasil hidrolisis pati. Hasil hidrolisis pati
dekstrosa derajat konversi yang dinyatakan dengan Dekstrosa Ekuivalen (DE)
dimana pati yang sama sekali belum terhidrolisis memiliki nilai DE = 0. Prinsip
dasar hidrolisis pati adalah memotong ikatan a-1,4–glukosida
dan a-1,6–glukosida
dari amilopektin sehingga ukuran pati akan menjadi lebih kecil.
Proses pengujian hasil hidrolisis pati diuji dengan
iodine dan benedict, pati yang mengalami hidrolisis sempurna saat bereaksi
dengan iodine akan menghasilkan larutan tidak berwarna sedangkan saat
direaksikan dengan benedict terdapat endapan merah bata, jika tidak sempurna
proses hidrolisisnya maka larutan akan menjadi warna ungu kehitaman saat
direaksikan dengan iodine dan tidak terdapat endapan merah saat direaksikan
dengan benedict.
Percobaan hidrolisis pati dilakukan dengan 3
perlakuan, perlakuan pertama penambahan HCl + NaOH, perlakuan kedua penambahan
air + air + pemanasan, perlakuan ketiga penambahan air + air pada pati.
1.
Tabung
pertama
Pada tabung reaksi pertama 2 ml amilum ditambahkan 2
ml HCl 3M sebagai penghidrolisis, kemudian dipanaskan dalam penangas air untuk
mempercepat proses hidrolisis dan didinginkan pada suhu kamar untuk menurunkan
suhu larutan sebelum ditambah dengan NaOH, setelah itu ditambahkan 3 ml NaOH 3M
untuk memberikan suasana basa pada larutan sehingga proses hidrolisis dapat
terjadi. Selanjutnya larutan tersebut dibagi kedalam 2 tabung reaksi.
Untuk tabung reaksi A ditambahkan 1 tetes iod
berwarna kuning. Amilum termasuk kedalam kelompok polisakarida. Polisakarida
memiliki struktur yang spiral (menutup) yang apabila ditetesi Iod, maka molekul
Iod akan terperangkap di dalamnya. Akibatnya larutan ini akan terbentuknya kompleks iod-amilum. Setelah
itu dibandingkan dengan larutan iodium yang dicampur dengan amilum yang
berwarna biru kehitaman.
Untuk tabung B ditambahkan 3 tetes reagen benedict
dan didapatkan larutan berwarna sedikit biru. Fungsi benedict adalah adalah
untuk mengetahui adanya gula pereduksi dan sebagai indikator bahwa pati sudah
terhidrolisis atau belum. Setelah direaksikan dihasilkan larutan berwarna biru.
Setelah itu larutan kemudian dipanaskan didalam penangas air dan terbentuk
larutan berwarna biru dan endapan merah bata. Hal ini menunjukkan bahwa didalam
sampel terkandung gugus ketosa, gula pereduksi dan fruktosa yang terkandung
dalam sampel sudah terhidrolisis sempurna.
Persamaan
reaksinya sebagai berikut:
- Tabung
pertama

+ 
- Tabung
1A
+ I2(aq) + 2Na+(aq) ®
2NaI (aq)
- Tabung
1B
+ 2Cu2+ à
+ Cu2O(s) (endapan merah bata)
2.
Tabung
kedua
Pada tabung reaksi kedua 2 ml amilum ditambah 2 ml
air sebagai penghidrolisis, kemudian dipanaskan didalam penangas air untuk
mempercepat proses hidrolisis dan didinginkan pada suhu kamar untuk menurunkan
suhu larutan. Setelah itu ditambahkan 3 ml air dan larutan tersebut dibagi
kedalam dua tabung reaksi.
Untuk tabung reaksi A ditambahkan 1 tetes iodine
(larutan berwarna kuning). Amilum termasuk kedalam kelompok polisakarida.
Polisakarida memiliki struktur yang spiral (menutup) apabila ditetesi Iod maka
molekul Iod akan terperangkap di dalamnya yang mengakibatkan terbentuknya
kompleks iod-amilum. Setelah itu larutan dibandingkan dengan larutan pembanding
yang berisi larutan iod dan amilum yang berwarna briu kehitaman.
Untuk tabung reaksi B ditambahkan 3 tetes benedict
(larutan berwarna biru) untuk mengetahui adanya gula pereduksi dan sebagai
indikator bahwa pati sudah terhidrolisis atau belum, didapatkan larutan
berwarna sedikit biru yang menunjukkan bahwa didalam sampel terkandung gugus
ketosa, gula pereduksi dan fruktosa yang terkandung dalam sampel terhidrolisis
sebagian. Setelah itu larutan dipanaskan diatas penangas air untuk mempercepat
proses reaksi yang terjadi.
Persamaan
reaksinya sebagai berikut:
- Tabung
kedua

+ 
- Tabung
2A
+ I2(aq) + 2Na+(aq) ®
2NaI (aq)
- Tabung
2B
+ 2Cu2+ à
+ Cu2O(s)(endapan merah bata)
3.
Tabung
ketiga
Pada tabung reaksi ketiga 2 ml larutan amilum
ditambah dengan 2 ml air sebagai penghidrolisis dan didiamkan dalam suhu kamar,
setelah itu ditambahkan 3 ml air dan dibagi kedalam dua tabung reaksi.
Untuk tabung reaksi A ditambahkan 1 tetes iodine
(larutan berwarna kuning). Amilum termasuk kedalam kelompok polisakarida.
Polisakarida memiliki struktur yang spiral (menutup), apabila ditetesi larutan
Iod maka molekul Iod akan terperangkap di dalamny yang mengakibatkan terbentuknya
kompleks iod-amilum. Kemudian dibandingkan dengan larutan pembanding yang
berisi larutan iodium dan amilum yang berwarna biru kehitaman.
Untuk tabung reaksi B ditambahkan 3 tetes reagen
benedict (larutan berwarna biru) untuk mengetahui adanya gula pereduksi dan
sebagai indikator bahwa pati sudah terhidrolisis atau belum, dan didapatkan
larutan berwarna sedikit biru yang menunjukkan bahwa didalam sampel terkandung
gugus ketosa, gula pereduksi dan fruktosa yang terkandung dalam sampel tidak
terhidrolisis. Kemudian dipanaskan diatas penangas air untuk mempercepat proses
reaksi yang terjadi.
Persamaan
reaksinya sebagai berikut:
- Tabung
ketiga

+ 
- Tabung
3A
+ I2(aq) + 2Na+(aq) ®
2NaI (aq)
- Tabung
3B
+ 2Cu2+ à
+ Cu2O(s) (endapan merah bata)
Daftar
pustaka
Albert Lehninger; David L. Nelson; Michael M. Cox. 2008.
Lehninger Principles of Biochemistry. W. H. Freeman
BeMiller, J.N. dan R.L. Whistler. 1996.
Carbohydrates. Dalam: Food Chemistry, Third Edition. Fennema, O.R. ed. New
York: Marcel Dekker. pp. 157-223.
Chintia, Vanila. 2015. Analisis
Kualitatif Karbohidrat. http://vanilachintia
mahanani.blogspot.co.id/2015/03/analisis-kualitatif-karbohidrat.html.
Diakses pada tanggal 10 Maret 2016 pukul 13.00 WITA
Hart, H. 1983. Kimia Organik Suatu Kuliah
Singkat. Erlangga. Jakarta.
Jannah, Risqiyatul. 2013. Uji
Kualitatif Untuk Karbohidrat. http://kikyrisqiyatulj.blogspot.co.id/2013/10/uji-kualitatif-untuk-karbohidrat.html.
Diakses pada tanggal 10 Maret 2016 pukul 13.30 WITA
Lehninger, Albert L. 1982. Principles of
Biochemistry. 5 edition. Food Trade Press Ltd. London.
Lehninger, A. L., 1982, Dasar-dasar Biokimia,
Jlilid 1, Alih bahasa, Maggi Thenawijaya, Erlangga, Jakarta.
Martoharsono, Soeharsono.
1975. Biokimia. Gadjah Mada University Press.: Yogyakarta
Nelson, D.L. dan M.M. Cox. 2004. Lehninger
Principles of Biochemistry, Fourth Edition. New York: W.H. Freeman.
Sentot , Budi
Raharjo. 2008 KIMIA berbasis
EKSPERIMEN 3. Platinum: Jakarta
Sudarmadji, Slamet, Bambang Haryono, Suhardi.
1986. Analisa Bahan Makanan dan Pertanian. Liberty. Yogyakarta.
Sumardjo, Darmin. 2006. Pengantar Kimia: Buku
Panduan Kuliah Mahasiwa Kedokteran dan Program Strata 1. Fakultas Bioeksakta.
Jakarta: Penerbit Kedokteran EGC.
Lampiran
a.
Jawaban
pertanyaan
1.
Tuliskan senyawa penyusun reagen –
reagen yang digunakan dalam uji pengenalan karbohidrat !
Jawab:
Reagen
Molish
Reagen
molish tersusun atas alfa-naftol dan alkohol atau kloroform. Dalam prosedur
uji, larutan ujinya dikombinasikan dengan sejumlah kecil reagen molish dalam
sebuah tabung reaksi. Setelah dicampur, kemudian ditambahkan asam sulfat
melalui dinding tanpa pengadukan. Uji positif ditandai dengan terbentuknya
cincin ungu pada antarmuka antara lapisan asam dan lapisan uji. Dalam reagen
molish, jika terjadi reaksi positif maka senyawa tersebut terhidrolissi menjadi
monosakarida oleh asam mineral kuat. Pentosa terhidrasi menjadi furfural,
sedangkan heksosa terhidrasi menjadi 5-hidroksi-metilfurfural. Berikut terdapat
rumus dari alfa-naftol, yaitu:

Reagen
Seliwanoff
Dalam
reagen seliwanoff, terdapat senyawa asam klorida yang akan mendehidrasi gula
menjadi furfural yang akan bereaksi dengan resorsinol dengan membentuk senyawa
berwarna merah ceri dan tersususn atas 0,5% resorsinol dan 5N HCl. Uji
seliwanoff digunakan untuk membedakan gula (karbohidrat) yang diuji termasuk
dalam kategori ketosa(gugus keton) atau aldosa(gugus aldehid) dimana akan
menunjukkan uji positif pada gula ketosa.Berikut terdapat rumus dari reagen
seliwanoff, yaitu:

Reagen
Barfoed
Reagen
barfoed menggunakan asam asetat karena
reaksinya terjadi dalam suasana asam (sekitar pH 4,6). Uji barfoed akan menunjukkan
uji positif dengan terbentuknya endapan berwarna merah sedangkan uji negatifnya
larutan tetap berwarna biru tanpa tterbentuk endapan merah. Uji ini digunakan
digunakan untuk membedakan antara monosakarida dan disakarida dimana
monosakarida akan teroksidasi oleh ion Cu2+ membentuk gugus
karboksilat dan endapan tembaga (II) oksida.
Reagen
Tollens
Reagen
tollens tersusun atas 1 mL AgNO3 1%, 1 mL NaOH 2 M, dan NH4OH
encer. Uji tollens digunakan untuk menentukan senyawa yang mengandung
gugus karbonil termasuk dalam aldehid atau keton dimana aldehid akan
menunjukkan uji positif dengan terbentukkan cermin perak pada dinding tabung.
Reagen
Fehling
Reagen
fehling dibuat dengan dua larutan yang terpisah yaitu Fehling A dan Fehling B.
Fehling A adalah larutan encer berwarna biru dari tembaga (II) sulfat,
sedangkan fehling B adalah larutan jernih dari kalium natrium tartrat encer dan
basa kuat(biasanya natrium hidroksida). Uji fehling digunakan untuk membedakan
antara karbohidrat larut dalam air dan gugus fungsional keton, dan digunakan
juga dalam uji monosakarida.
Reagen
Benedict
Reagen
benedict tersusun atas CuSO4 (menyediakan Cu2+),
Na-sitrat(mencegah terjadinya endapan Cu(OH)2 atau CuCO3),
dan Na2CO3(alkali yang megubah gugs karbonil bebas dari
gula menjadi bentuk enol yang reaktif). Uji benedict digunakan sebagai uji gula
reduksi.
2.
Jelaskan prinsip – prinsip reaksi yang
terjadi antara reagen dan karbohidrat yang diuji !
Jawab:
Percobaan
Molisch
Uji
positif ditandai dengan terbentuknya cincin ungu pada antarmuka antara lapisan
asam dan lapisan uji. Dalam reagen molish, jika terjadi reaksi positif maka
senyawa tersebut terhidrolissi menjadi monosakarida oleh asam mineral kuat.
Pentosa terhidrasi menjadi furfural, sedangkan heksosa terhidrasi menjadi
5-hidroksi-metilfurfural. Sehingga prinsip dari percobaan ini adalah
terbentuknya cincin ungu pada antarmuka antara lapisan asam dan lapisan uji.
Percobaan
Seliwanoff
Uji
seliwanoff digunakan untuk membedakan gula (karbohidrat) yang diuji termasuk
dalam kategori ketosa(gugus keton) atau aldosa(gugus aldehid) dimana akan
menunjukkan uji positif pada gula ketosa. Sehingga prinsip dari percobaan ini
adalah terbentuknya warna merah. HCl akan mengubah heksosa menjadi hidroksi
metal furfural yang kemudian akan bereaksi dengan resorsinol membentuk kompleks
yang berwarna merah.
Percobaan
Barfoed
Uji
barfoed akan menunjukkan uji positif dengan terbentuknya endapan berwarna merah
sedangkan uji negatifnya larutan tetap berwarna biru tanpa tterbentuk endapan
merah. Uji ini digunakan digunakan untuk membedakan antara monosakarida dan
disakarida dimana monosakarida akan teroksidasi oleh ion Cu2+
membentuk gugus karboksilat dan endapan tembaga (II) oksida. Prinsip dari
percobaan barfoed terjadinya reduksi Cu2+ menjadi Cu+.
Percobaan
Tollens
Uji
tollens digunakan untuk menentukan senyawa yang mengandung gugus karbonil
termasuk dalam aldehid atau keton dimana aldehid akan menunjukkan uji positif
dengan terbentuknya cermin perak pada dinding tabung. Prinsip dari percobaan
tollens yaitu terbentuknya cermin perak pada dinding tabung.
Percobaan
Fehling
Uji
fehling digunakan untuk membedakan antara karbohidrat larut dalam air dan gugus
fungsional keton, dan digunakan juga dalam uji monosakarida. Prinsip dari
percobaan fehling yaitu terjadinya oksidasi pada gugus aldehid, tetapi tidak
mereduksi gugus keton.
Percobaan
Benedict
Uji
benedict digunakan sebagai uji gula reduksi. Prinsip percobaan benedict yaitu
terjadinya reduksi Cu2+ menjadi Cu+ dan mengendap sebagai
Cu2O yang berwarna merah bata.
3.
Glukosa yang berada dalam bentuk asiklik
hanya 0,2% selebihnya merupakan siklik. Jelaskan mengapa terjadi reaksi
oksidasi glukosa dengan pereaksi Tollens dan Fehling !
Jawab
Glukosa
akan teroksidasi dengan membentuk cermin perak pada uji dengan pereaksi
tollens, sedangkan uji dengan pereaksi fehling akan membentuk endapan berwarna
merah bata karena glukosa tersebut akan terhidrolisasi dengan memutuskan rantai
siklik dari glukosa (struktur Haworth) yang tidak mengandung gugus aldosa
terurai (desiklisasi) menjadi struktur Fischer (rantai terbuka) yang mengandung
gugs aldosa. Sehingga, glukosa akan menghasilkan uji positif terhadap reagen
tollens dan fehling.


4.
Jelaskan beberapa fakta berikut:
- Sukrosa
bersifat nukan pereduksi dengan tes Benedict, sedangkan pada kondisi tersebut
laktosa menunjukkan gula pereduksi.
Jawab:
Sukrosa (gula pasir) tidak mempunyai sifat dapat
mereduksi ion-ion Cu2+ jika struktur Haworth terurai (membentuk
rantai terbuka) sehingga tidak terdeteksi oleh pereaksi Benedict. Sukrosa
mengandung dua monosakrida (fruktosa dan glukosa) yang terikat melalui ikatan
glikosidik sedemikian rupa sehingga tidak mengandung gugus aldehid bebas dan
alfa hidroksi keton. Pada sukrosa, walaupun tersusun oleh glukosa dan fruktosa,
namun atom karbon anomerik keduanya saling terikat, sehingga pada setiap unit
monosakarida tidak lagi terdapat gugus aldehida atau keton yang dapat
bermutarotasi menjadi rantai terbuka, hal ini menyebabkan sukrosa tak dapat
mereduksi pereaksi benedict. Sehingga sukrosa juga tidak bersifat pereduksi.


- Monosakarida
bereaksi dengan pereaksi Barfoed lebih cepat dibanding dengan disakarida
pereduksi.
Jawab:
Sukrosa (disakarida) mengalami
perubahan yang lebih lambat dibandingkan glukosa (disakarida). Hal tersebut
terjadi karena sifat dari sukrosa yang lemah dalam mereduksi ion-ion Cu2+
dalam larutan tembaga (II) asetat.
Komentar
Posting Komentar