Laporan Praktikum Pembuatan Sabun


A.      Judul Praktikum                            : Pembuatan Sabun
B.       Hari, Tanggal Praktikum              : Kamis, 14 Maret 2019 (07.00 WIB)
C.      Hari, Tanggal Selesai Praktikum : Kamis, 14 Maret 2019 (12.00 WIB)
D.      Tujuan Praktikum
1.      Dapat menentukan persamaan reaksi pada pembuatan sabun
2.      Dapat menjelaskan perbedaan produk sabun yang dibuat menggunakan basa NaOH dan KOH
3.      Membuat emulsi sabun
4.      Menjelaskan tentang proses pembentukan emulsi air sabun dengan minyak
5.      Menentukan kualitas minyak berdasarkan bilangan peroksida
E.       Dasar Teori
a.    Pengertian sabun
Sejak abad ke 12, sejarah sabun mulai diketahui dan dikembangkan oleh orang-orang Ingris pada abad ke 17 menggunakan soda abu. Pada awalnya orang mengenal bahan pembersih alami yang ada di sekitar tempat tinggal seperti air, lumpur, abu, batu apung, dan lain-lain dengan kemampuan membersihkan kotoran yang tidak maksimal karena hanya bisa menghilangkan kotoran di luar. Di kalangan masyarakat Indonesia sendiri nenek moyang kita sudah menggunakan sabun alami untuk membersihkan badan dan pakaian menggunakan produk nabati, dari cairan buah klerak, dan sudah dipraktekkan bisa membersihkan kotoran untuk mandi (Austin, 1984).
Sabun merupakan senyawa kimia yang dihasikan dari reaksi lemak atau minyak dengan alkali. Sabun juga merupakan garam-garam monovalen dari asam karboksilat dengan rumus umunya RCOOM, R adalah rantai lurus (alifatis) panjang dengan jumlah atom C bervariasi, yaitu antara C12 – C18 dan M adalah kation dari kelompok alkali atau ion amonium (Austin, 1984).
Sabun adalah campuran garam natrium atau kalium dari asam lemak yang dapat diturunkan dari minyak atau lemak dengan direaksikan dengan alkali (“seperti natrium atau kalium hidroksida) pada suhu 800-100 oC melalui suatu proses yang dikenal dengan saponifikasi. Larutan alkali yang biasa yang digunakan pada sabun keras adalah Natrium Hidroksida (NaOH) dan alkali yang biasa digunakan pada sabun lunak adalah Kalium Hidroksida (KOH). Lemak akan terhidrolisis oleh basa, menghasilkan gliserol dan sabun mentah. Secara tradisional, alkali yang digunakan adalah kalium yang dihasilkan dari pembakaran tumbuhan, atau dari arang kayu. Sabun dapat pula dibuat dari minyak tumbuhan seperti minyak zaitun (Fessenden & Fessenden, 1982).
Proses pembuatan sabun dikenal dengan istilah saponifikasi. Saponifikasi adalah reaksi hidrolisis asam lemak oleh adanya basa lemah/kuat. Berikut merupakan reksi saponifikasi:
Faktor – faktor yang mempengaruhi proses saponifikasi:
1.    Suhu Operasi
Proses saponifikasi trigliserida dapat berlangsung pada suhu kamar dan prosesnya sangat cepat berlangsung. Ditinjau dari segi termodinamikanya, kenaikan suhu akan menurunkan hasil, hal ini dapat dilihat dari persamaan Van`t Hoff:
Karena reaksi penyabunan merupakan reaksi eksotermis (ΔH negatif), maka dengan kenaikan suhu akan dapat memperkecil harga K (konstanta keseimbangan), tetapi jika ditinjau dari segi kinetika, kenaikan suhu akan menaikan kecepatan reaksi. Hal ini dapat dilihat dari persamaan Arhenius berikut ini:
Dalam hubungan ini, k adalah konstanta kecepatan reaksi, A adalah faktor tumbukan, E adalah energi aktivasi (cal/gr mol), T adalah suhu (ºK), dan R adalah tetapan gas ideal (cal/gr mol.K). Berdasarkan persamaan tersebut maka dengan adanya kenaikan suhu berarti harga k (konstanta kecepatan reaksi) bertambah besar. Jadi pada kisaran suhu tertentu, kenaikan suhu akan mempercepat        reaksi, yang artinya menaikkan hasil dalam waktu yang lebih cepat. Tetapi jika kenaikan suhu telah melebihi suhu optimumnya maka akan menyebabkan pengurangan hasil karena harga konstanta keseimbangan reaksi K akan turun yang berarti  reaksi bergeser ke arah pereaksi atau dengan kata lain hasilnya akan menurun (Pasaribu, 2004).

2. Pengadukan
Trigliserida, asam lemak, metil ester dan minyak sangat sukar larut dalam air, sedangkan larutan basa seperti NaOH sangat larut dalam air. Sehingga jika kedua reaktan ini diiamkan akan terbentuk dua lapisan dan reaksinya akan berlangsung lambat. Untuk menghindari hal tersebut maka pengadukan yang cukup kuat perlu dilakukan agar seluruh partikel dari reaktan dapat terdispersi satu sama lain dan dengan demikian laju reaksi akan semakin cepat.

3. Konsentrasi Reaktan
Dalam reaksi kimia, reaksi yang berlangsung cepat adalah pada saat awal terjadinya reaksi, karena terdapat banyak reaktan dan produk yang masih sedikit. Karena pada reaksi saponifikasi menghasilkan air sebagai produk samping yang dapat membuat laju reaksi akan semakin kecil, maka untuk menghindari hal tersebut dilakukan dengan cara melarutkan basa alkali dengan air yang secukupnya sehingga menghasilkan larutan basa yang pekat.
Sabun termasuk salah satu jenis surfaktan yang terbuat dari minyak atau lemak alami. Surfaktan mempunyai struktur bipolar, bagian kepala bersifat hidrofilik dan bagian ekor bersifat hidrofobik. Karena sifat inilah sabun mampu mengangkat kotoran (biasanya lemak) dari badan atau pakaian (Akamal, 2006).
Jika diterapkan pada suatu permukaan air, sabun secara efektif   mengikat     partikel dalam suspensi mudah dibawa oleh air bersih.
Sabun adalah garam logam dari asam lemak, pada  prinsipnya sabun dibuat dengan cara mereaksikan asam lemak dan alkali sehingga terjadi reaksi penyabunan.
·         Reaksi pertama :
Lemak + NaOH       Hidrolisa mendidih          Gliserol + Asam lemak
·         Reaksi kedua :
3RCOOH + NaOH        Penyabunan        RCOONa + H2O
Suatu molekul sabun mengandung suatu rantai hidrokarbon panjang plus ujung ion. Bagian hidrokarbon dari molekul itu bersifat   hidrofobik dan larut dalam zat-zat non-polar, sedangkan ujung ion bersifat hidrofilik dan larut dalam air. Karena adanya rantai hidrokarbon, sebuah molekul sabun secara      keseluruhan tidaklah benar-benar larut dalam air. Namun sabun mudah tersuspensi dalam air karena membentuk misel (micelles), yakni segerombol (50-150)   molekul sabun yang rantai hidrokarbonnya mengelompok dengan ujung-ujung ionnya menghadap ke air (Austin, 1984).
Kegunaan sabun ialah kemempuannya mengemulsi kotoran berminyak sehingga dapat dibuang dengan pembilasan. Kemampuan   ini disebabkan oleh dua sifat sabun. Pertama, rantai hidrokarbon sebuah molekul sabun larut          dalam zat-zat non-polar, seperti tetesan-tetesan minyak. Kedua, ujung anion molekul sabun, yang tertarik pada air, ditolak oleh ujung     anion molekul-molekul sabun yang menyembul dari tetesan minyak lain. Karena tolak-menolak antara tetes-tetes sabun-minyak, maka minyak itu tidak dapat saling bergabung            tetapi tetap tersuspensi (Austin, 1984).
Sabun termasuk dalam kelas umum senyawa yang disebut surfaktan, yakni senyawa yang dapat menurunkan tegangan permukaan air. Molekul surfaktan apa saja mengandung suatu ujung hidrofobik (satu rantai molekul atau lebih) dan suatu ujung hidrofilik. Porsi hidrokarbon suatu molekul surfaktan harus mengandung 12 atom karbon atau lebih agar efektif (Austin, 1984).
Larutan encer sabun selalu terionkan membentuk anion dari alkil karboksilat, yang aktif sebagai pencuci sehingga sabun alkil natrium karboksilat disebut azt aktif anion. Gugus RCOO mempunyai sifat ganda, gugus alkil R bersifat hidrofob (menolak air) sedangkan gugus karboksilat – COO   bersifat hidrofil (Hard, 1982).
RCOONa è RCOO-     +     Na+
Larutan sabun selalu trhidrolisa di dalam air sehingga bersifat sedikit alkalis. Dengan penambahan indikator PP(fenolftalein) selalu berwarna          merah muda. Sehingga dalam waktu bersamaan akan terdapat molekul-moleku RCOONa, RCOOH dan ion-ion RCOO  , OH   dan Na+.
RCOONa è RCOOH     +     Na+
Sabun dan asam lemak dapat membentuk  :
X  RCOOH    +    Y  RCOONa è (RCOOH)X (RCOONa)Y
Suhu titer sabun adalah suhu dimana larutan koloid sabun berubah menjadi kasar dan tidak aktif lagi. Sedangkan titik keruh adalah suhu dimana larutan koloid sabun menjadi keruh karena terbentuknya dispersi kasar dan larutan sabun menjadi kental sehingga dapat dipilin. Titik keruh disebut juga suhu pilin. Suhu titer dan titik keruh tidak jauh berbeda dan merupakan indikasi dimana larutan sabun tidak aktif lagi. Maka untuk penggunaan sebagai detergen, larutan sabun dipanaskan sampai mendekati suhu titer (Hard, 1982).
Sabun larut dalam alkohol dan sedikit larut dalam pelarut lemak. Sabun secara koloidal di dalam air dan bersifat sebagi zat aktif permukaan. R – COOL . Gugus  R sebagi alkil bersifat menolak air (hidrofob) dan gugus – COOL bersifat menarik air (hidrofil) bila L berupa kation dari Na, K atau NH4. Larutan koloidal akan terbentuk dengan cepat pada suhu makin tinggi (Hard, 1982).
Larutan asam akan segera menghidrolisa sabun menjadi asam lemak kembali. Di dalam air dingin berbentuk gumpalan dan di dalam air panas akan melelh dan membentuk lapisan minyak yang jernih di prmukaan larutan asam.
R – COONa     +     HCl        H+       R – COOH      +     NaCl

b.   Sifat-sifat Sabun
1.      Sabun larut dalam alcohol dan sedikit larut dalam pelarut lemak
Sabun + air →  larutan koloid
2.      Dalam air terlarut secara kolodial dan bersifat surfaktan yang terdiri dari molekul yang suka air (hidrofil) dan tidak suka air (hidrofob).
3.      Dalam asam, sabun akan terhidrolisa menjadi asam lemak kembali.
RCOONa + HCl  →  RCOOH + NaCl
4.      Larutan encer sabun terionkan membentuk anion dari alkil karboksilat, yang aktif sebagai pencuci (ZAP).
5.      Hidrolisa dalam air bersifat alkali dan terbentuk molekul RCOONa, RCOOH, dan ion-ion RCOO-, OH-, dan Na+.
6.      Panjang rantai alkil akan mempengaruhi sifat fisik sabun seperti derajat hidrolisa, suhu titer, dan titik keruh. Untuk sabun jumlah C-nya 14,15, dan 17.
7.      Sabun bersifat basa. Sabun adalah garam alkali dari asam lemak suku tinggi sehingga akan dihidrolisis parsial oleh air. Karena itu larutan sabun dalam air bersifat basa.
CH3(CH2)16COONa + H2O → CH3(CH2)16COOH + NaOH
8.      Sabun menghasilkan buih atau busa. Jika larutan sabun dalam air diaduk maka akan menghasilkan buih, peristiwa ini tidak akan terjadi pada air sadah. Dalam hal ini sabun dapat menghasilkan buih setelah garamgaram Mg atau Ca dalam air mengendap.
CH3(CH2)16COONa + CaSO4 →Na2SO4 + Ca(CH3(CH2)16COO)2
9.      Sabun mempunyai sifat membersihkan. Sifat ini disebabkan proses kimia koloid, sabun (garam natrium dari asam lemak) digunakan untuk mencuci kotoran yang bersifat polar maupun non polar, karena sabun mempunyai gugus polar dan non polar. Molekul sabun mempunyai rantai hidrogen CH3(CH2)16 yang bertindak sebagai ekor yang bersifat hidrofobik (tidak suka air) dan larut dalam zat organic sedangkan COONa+ sebagai kepala yang bersifat hidrofilik (suka air) dan larut dalam air.

c.    Bahan Pembuatan Sabun
Secara teoritis semua minyak atau lemak dapat digunakan untuk membuat sabun. Meskipun demikian, ada beberapa faktor yang dipertimbangkan dalam memilih bahan mentah untuk membuat sabun (Fessenden & Fessenden, 1982).
Berdasarkan bentuknya, sabun dibagi menjadi dua jenis, yaitu sabun bentuk padat dan bentuk cair. Sabun mandi cair memiliki kelebihan apabila dibandingkan dengan sabun mandi bentuk lainnya, karena mudah digunakan dan disimpan, tidak mudah rusak dan kotor (Marzoeki, 1980).
Semua jenis sabun menggunakan bahan dasar yang sama, yaitu minyak atau trigliserida. Pembuatan sabun mandi cair membutuhkan berbagai macam minyak ataupun lemak sebagai bahan baku utama. Jenis minyak yang digunakan akan mempengaruhi sifat sabun itu sendiri baik dalam tingkat jumlah busa dan pengaruh terhadap kulit. Bahan baku minyak pada pembuatan sabun mandi cair yang digunakan pada penelitian ini adalah minyak kelapa murni (VCO) dan minyak jarak (Castor Oil). Bahan baku tersebut dipilih karena memiliki beberapa keunggulan untuk dijadikan sabun mandi cair.
Menurut Sutarmi dan Rozaline (2005), kandungan gizi minyak kelapa murni memiliki cukup banyak manfaat. Komponen minyak   kelapa    murni  terdiri dari asam lemak jenuh (90%). Kandungan asam lemak  jenuh  tersebut adalah asam lemak laurat. Dari kandungan asam lemak jenuh tersebut  kegunaan minyak kelapa murni diantaranya dapat dijadikan bahan baku kosmetik          seperti lotion, pelembab bibir, conditioner rambut, dan sabun mandi.
1.        Minyak Kelapa Sawit
Minyak atau lemak merupakan senyawa lipid yang memiliki struktur berupa ester dari gliserol. Pada proses pembuatan sabun, jenis minyak atau lemak yang digunakan adalah minyak nabati atau lemak hewan. Perbedaan antara minyak dan lemak adalah wujud keduanya dalam keadaan ruang. Minyak akan berwujud cair pada  temperatur ruang (± 28°C), sedangkan lemak akan berwujud padat (Fessenden & Fessenden, 1982).
Minyak sawit mengandung asam lemak jenuh dan asam lemak tak jenuh dengan persentase yang hampir sama. Asam lemak yang pada rantai hidrokarbonnya terdapat ikatan rangkap disebut asam lemak tidak jenuh, dan apabila tidak terdapat ikatan rangkap pada rantai hidrokarbonnya disebut asam lemak jenuh. Asam palmitat dan asam oleat merupakan asam lemak yang dominan terkandung dalam minyak sawit, sedangkan kandungan asam lemak linoleat dan asam stearatnya sedikit. Asam     palmitat merupakan asam lemak jenuh rantai panjang yang memiliki titik cair (meelting point) yang tinggi yaitu 64°C. Kandungan asam palmitat   yang tinggi ini membuat minyak sawit lebih tahan terhadap oksidasi   (ketengikan) dibanding jenis minyak lain. Asam oleat merupakan asam lemak  tidak jenuh rantai panjang dengan panjang rantai C18 dan memiliki satu ikatan  rangkap. Titik cair asam oleat lebih rendah dibanding asam palmitat yaitu 14°C.
Distilat Asam Lemak Minyak Sawit
Penelitian ini menggunakan bahan baku berupa distilat asam lemak minyak sawit (DALMS) atau palm fatty acid distillate (PFAD). DALMS merupakan produk samping dari proses pemurnian minyak sawit  kasar yang banyak mengandung asam lemak bebas (ALB), yaitu sebesar    80%. Jumlah DALMS yang dihasilkan dari proses pemurnian minyak sawit di Indonesia sangat besar dan diprediksikan akan meningkat di tahun-tahun      mendatang. Distilat asam lemak minyak sawit (DALMS) dihasilkan dari proses pemurnian fisik (Physical refining). Pada proses pemurnian fisik diperoleh 5 persen DALMS dari berat minyak sawit. Selama proses pemurnian DALMS merupakan by-product pada tahap deasidifikasi-deodorisasi yang mengandung beberapa bahan fitokimia (Gapor, 2000).


 










Sumber: Zulkifli dkk, 2014.    
Minyak sawit mempunyai 16 nama carbon yang penuh asam lemak palmitic acid berdasarkan dalam minyak sawit sebagian besar berisikan lauric acid. Minyak  sawit sebagian besarnya tumbuh berasal alamiah untuk tocotrienol, bagian dari vitamin E. Minyak sawit didalamnya banyak mengandung vitamin K dan magnesium (Ketaren, 1987).
Asam lemak bebas terbentuk karena terjadinya reaksi hidrolisis terhadap minyak yang mengalami ketengikan. Asam lemak bebas dalam minyak tidak dikehendaki karena degradasi asam lemak bebas tersebut menghasilkan rasa dan bau yang tidak disukai. Oleh sebab itu, dalam pengolahan minyak diupayakan kandungan asam lemak bebas serendah mungkin.
Kadar asam lemak yang terkandung di  dalam minyak sawit seperti pada tabel 2.1. berikut ini.
2.        Minyak Goreng
Minyak goreng adalah minyak yang berasal dari lemak tumbuhan atau hewan yang dimurnikan dan berbentuk cair dalam suhu kamar dan biasanya digunakan untuk menggoreng makanan. Minyak goreng dari tumbuhan biasanya dihasilkan dari tanaman seperti kelapa, biji-bijian, kacang-kacangan, jagung, kedelai, dan kanola. Minyak goreng umumnya berasal dari minyak kelapa sawit.Minyak kelapa dapat digunakan untuk menggoreng karena struktur minyaknya yang memiliki ikatan rangkap sehingga minyaknya termasuk lemak tak jenuh yang sifatnya stabil.       Selain itu pada minyak kelapa terdapat asam lemak esensial yang tidak dapat disintesis oleh tubuh (Ketaren. 1987).
Kadar asam lemak yang terkandung di  dalam minyak sawit seperti pada tabel 2.2. berikut ini:
3.        Minyak Goreng Bekas
Minyak goreng bekas atau yang biasa disebut dengan minyak jelantah adalah minyak limbah yang bisa berasal dari jenis-jenis minyak goreng seperti halnya minyak jagung, minyak sayur, minyak samin dan sebagainya, minyak ini merupakan minyak bekas pemakaian kebutuhan rumah tangga umumnya. Sehubungan dengan banyaknya minyak goreng bekas dari sisa industri maupun rumah tangga dalam jumlah tinggi dan menyadari adanya bahaya konsumsi minyak goreng bekas, maka perlu dilakukan upaya-upaya untuk memanfaatkan minyak goreng bekas tersebut agar tidak terbuang dan mencemari lingkungan. Pemanfaatan minyak goreng bekas ini dapat dilakukan pemurnian agar dapat digunakan kembali sebagai media penggorengan atau digunakan sebagai bahan baku produk berbasis minyak seperti sabun (Susinggih, dkk, 2005).
Pemurnian Minyak Goreng Bekas
Pemurnian merupakan tahap pertama dari proses pemanfaatan minyak goreng bekas, yang hasilnya dapat digunakan sebagai minyak goreng kembali atau sebagai bahan baku produk untuk pembuatan sabun cair. Tujuan utama pemurnian minyak goreng ini adalah menghilangkan rasa serta bau yang tidak enak, warna yang kurang menarik dan memperpanjang daya simpan sebelum digunakan    kembali  (Susinggih, dkk, 2005).
Pemurnian minyak goreng bekas ini meliputi 3 tahap proses, yaitu :
1.    Penghilangan bumbu (despicing)
2.    Netralisasi
3.    Pemucatan (bleaching)

4.        Alkali
Jenis alkali yang umum digunakan dalam proses   saponifikasi adalah NaOH, KOH, Na2CO3, NH4OH, dan ethanolamines. NaOH, atau yang biasa dikenal dengan soda kaustik dalam industri sabun, merupakan alkali yang paling banyak digunakan dalam pembuatan sabun keras. KOH  banyak digunakan dalam pembuatan sabun cair karena sifatnya  yang      mudah larut dalam air. Na2CO3 (abu soda/natrium karbonat) merupakan alkali yang murah dan dapat menyabunkan asam lemak, tetapi       tidak dapat menyabunkan trigliserida (minyak atau lemak). Bahan baku pendukung digunakan untuk membantu proses penyempurnaan sabun hasil saponifikasi (pegendapan sabun dan pengambilan gliserin) sampai         sabun menjadi produk yang siap dipasarkan. Bahan-bahan tersebut        adalah NaCl (garam) dan bahan-bahan aditif. (Fessenden & Fessenden, 1982).

d.   Fungsi sabun
Fungsi dari sabun adalah kemampuannya mengemulsi kotoran berminyak sehingga dapat di buang dengan pembilasan, kemampuan ini disebabkan oleh dua sifat sabun yaitu:
a.       sabun alkali tanah untuk detergen (zat pencuci) RCOONa, RCOOK, RCOONH4 sabun alkali logam mineral untuk zat tahan air yang tidak permananen (RCOO)2Ca, (RCOO)2Mg, (RCOO)3Al (Fessenden & Fessenden, 1982).
b.      Sabun yang digunakan sebagai pencuci pada umumnya dibuat dari basa natrium yang direaksikan dengan asam lemak berantai panjang. Untuk tujuan tertentu sabun dapat dibuat dari garam kalium, misalnya untuk sabun yang lebih lunak dan lebih larut dalam air.
Detergent atau sabun dapat digunakan sebagai pembersih pada air sadah karena detergent tidak dapat bereaksi dengan air sadah sehingga tidak akan menimbulkan endapan yang dimungkinkan daapat merugikan. Sedangkan pada sabun tidak dapat bekerja pada air sadah karena sabun bereaksi pada air sadah yang dapat menimbulkan kerusakan atau kerak pada baju maupun lantai.
Adapun sebab sabun dan detergen bisa menjadi sebagai pembersih kotoran atau lemak dikarenakan sabun dan detergen terdiri dari ujung hidrokarbon yang bersifat hidrokarbon yang bersifat non polar dan ujung satunya besifat polar. Bagian non polar akan mengelilingin tetesan minyak dan melarutkannya sesuai dengan asas like dissolved like, sedangkan ujung polar dari molekul tersebut segera akan terlarut dalam air. Detergent lebih efektif membersihkan kotoran karena kerja detergent tidak dipengaruhi air sadah. Sedangkan   sabun tidak bekerja efektif pada air sadah.
e.    Senyawa Bioaktif dan Fraksi Tidak Tersabunkan
Senyawa bioaktif merupakan metabolit sekunder yang dihasilkan tumbuhan melalui serangkaian reaksi metabolisme sekunder. Metabolit     sekunder disintesis terutama dari metabolit-metabolit primer seperti asam amino, asetil     Co-A, asam mevalonat dan zat antara dari jalur shikimat. Pada dasarnya tumbuhan yang berpotensi sebagai tumbuhan obat memiliki kandungan senyawa bioaktif seperti alkaloid, terpenoid, fenolik, steroid, dan flavonoid dengan     jumlah yang sangat bervariasi (Colegate, 2000).
Sumber: Ahmadi, 2011.
Keunggulan DALMS adalah sebagian besar vitamin E dalam bentuk tokotrienol (70%) dan sisanya adalah tokoferol (30%). Tokotrienol mempunyai efek fisiologis yang lebih luas dari tokoferol. Selain itu, DALMS juga mengandung komponen seperti sterol yang meliputi Stigmasterol , Kampesterol dan β-Sitosterol , serta senyawa hidrokarbon yaitu skualen. Oleh karena kandungan DALMS yang masih mengandung senyawa bioaktif multi komponen maka perlu dikarakterisasi (Musalamah, 2005).

F.       Alat Bahan
·      Alat
1.        Tabung reaksi                                           10 buah
2.        Rak tabung reaksi                                    1 buah
3.        Penjepit kayu                                           1 buah
4.        Pipet tetes                                                Secukupnya
5.        Gelas ukur                                                2 buah
6.        Gelas kimia                                              3 buah
7.        Pengaduk kaca                                         1 buah
8.        Erlenmeyer                                               3 buah
9.        Kaki 3                                                      1 buah
10.    Spirtus                                                      1 buah
11.    Seng                                                         1 buah
12.    Termometer                                              1 buah
13.    Statif dan klem                                        1 set
14.    Buret                                                        2 buah
15.    Vial                                                          20 buah
16.    Cetakan                                                    1 buah
·       Bahan
1.      Minyak kelapa                                          20 gram
2.      Minyak sawit                                           20 gram
3.      Minyak curah                                           20 gram
4.      Alkohol                                                    30 gram
5.      Asam stearat                                            3 gram
6.      Larutan KOH                                           secukupnya
7.      Padatan NaOH                                        4,2 gram
8.      Gliserin                                                     3 gram
9.      Etanol                                                       secukupnya
10.  Minyak zaitun                                          3 ml
11.  Pewarna makanan                                    6 tetes
12.  Parfum bibit                                             9 tetes
13.  Indikator pp                                             15 tetes
14.  Aquades                                                   secukupnya
G.      Alur Percobaan
1.    Pembuatan Sabun
2.      Sifat Emulsi Sabun
3.      Bilangan Penyabunan
4.      Bilangan Asam

H.      Hasil Pengamatan
No. Perc
Prosedur Percobaan
Hasil Pengamatan
Dugaan/Reaksi
Kesimpulan
Sebelum
Sesudah
1
Pembuatan sabun


-  NaOH = padatan berwarna putih
-  Aquades = tidak berwarna
-  Minyak sawit = larutan berwarna kuning jernih
-  Asam stearat = butiran berwarna putih
-  Alkohol = larutan tidak berwarna
-  Minyak zaitun larutan tidak berwarna
-  Minyak curah = larutan berwarna kuning
-  Minyak kelapa = larutan tidak berwarna
-  NaOH + H2O = larutan tak berwarna
Minyak sawit:
-  Minyak sawit + asam stearat + dipanaskan = larutan berwarna kuning kecokatan
-  Ditambah NaOH + alkohol+gliserin= larutan berwarna kuning menggumpal
-  Dipanaskan= larutan berwarna kuning, gumpalan mencair
-  Ditambah minyak zaitun = larutan berwarna  kuning
-  Ditambah pewarna+pewangi= larutan berwarna merah
Minyak curah:
-  Minyak curah+asam stearat+dipanaskan= larutan berwarna kuning kecoklatan
-  Ditambah NaOH + alkohol+gliserin= larutan berwarna kuning menggumpal
-  Dipanaskan= larutan berwarna  kuning, gumpalan mencair
-  Ditambah minyak zaitun= larutan berwarna kuning
-  Ditambah pewarna dan pewangi= larutan berwarna  hijau
Minyak kelapa
-  Minyak kelapa+asam stearat + dipanaskan = larutan tidak berwarna
-  Ditambah NaOH + alkohol+ gliserin= larutan berwarna putih mengumpal
-  Dipanaskan= larutan tidak berwarna
-  Ditambah minyak zaitun= larutan tidak berwarna
-  Ditambah pewangi dan pewarna= larutan berwarna ungu

Reaksi Saponifikasi :

Sabun dibuat dengan mereaksikan minyak dengan NaOH dimana reaksinya disebut reaksi saponifikasi
2
Sifat emulsi sabun

-   Aquades= larutan tidak berwarna
-   Sabun= padatan berwarna kuning pucat
-   Minyak kelapa= larutan tidak berwarna
-   Minyak curah= larutan berwarna kuning
-   Minyak sawit= larutan berwarna kuning
-   Larutan sabun= larutan tidak berwarna
-   Sabun+aquades panas= membentuk larutan sabun encer
Minyak sawit
Tabung 1
-   aquades+minyak sawit+larutan sabun= terbentuk emulsi memisah pada t= 1,49 menit.
Tabung 2
-   Aquades+minyak sawit= larutan membentuk dua lapisan pada t= 40 menit.
Minyak curah
Tabung 1
-    Aquades+minyak curah+sabun= terbentuk emulsi memisah pada t= 1,44 menit.
Tabung 2
-    aquades+minyak curah= terbentuk dua lapisan pada t=31 detik
Minyak kelapa
Tabung 1
-   aquades+ minyak kelapa+ sabun= terbentuk emulsi memisah pada t= 1,16 menit.
-   Tabung 2
-   aquades+ minyak kelapa= terbentuk 2 lapisan pada t= 15 menit.
Waktu yang diperlukan untuk membentuk emulsi pada air dan minyak lebih cepat daripada air, minya, dan sabun (Marella dan Sugianto,2006).
Berdasarkan percobaan kecepatan emulsi terdapat pada minyak kelapa>minyak sawit> minyak curah

Pembentukan emulsi tapa sabun membutuhkan waktu yang lebih cepat sedangkan emulsi menggunakan sabun membutuhkan waktu yang lama.
3.
bilangan asam
-     Minyak sawit berwarna jernih
-     Minyak curah berwarna kuning jernih
-     Minyak kelapa tidak berwarna
-     KOH 0,1 N tidak berwarna
-     Etanol larutan tidak berwarna Indikator PP tidak berwarna
-    
-     Minyak sawit + etanol + PP = larutan tidak berwarna + 2 fasa
-     Dititrasi larutan menjadi softpink
-     V KOH = 1,3 ml
-     Minyak curah + etanol + PP = larutan tidak berwarna + 2 fasa
-     Dititrasi larutan menjadi softpink
-     V KOH = 1,5 ml
-     Minyak kelapa + etanol + PP = larutan tidak berwarna + 2 fasa
-    
Semakin tinggi bilangan asam, maka kualitas minyak semakin buruk (ketaren, 1986)
Kualitas minyak: minyak kelapa > minyak sawit > minyak curah

·    Bilangan asam minyak curah = 3,366
·    Bilangan minyak sawit = 1,4586
·    Bilangan minyak kelapa = 1.122
Sesuai dengan teori bahwa bilangan asam pada minyak kelapa rendah sehingga minyak kelapa memiliki kualitas baik, sedangkan minyak curah memiliki kualitas buruk karena bilangan asamnya tinggi.
4.
Bilangan penyabunan
-      Minyak sawit berwarna jernih
-      Minyak curah berwarna kuning jernih
-      Minyak kelapa tidak berwarna
-      KOH 0,5 N beralkohol tidak berwarna
-      Indikator PP tidak berwarna
-     HCl larutan tidak berwarna
- Minyak sawit + KOH = larutan warna kuning (+) 2 fasa
- Setelah direfluks menghasilkan 2 fasa
- Ditambah indikator PP menjadi larutan warna pink
- Dititrasi menjadi tidak berwarna
- V HCl = 18,7 ml
- Minyak curah + KOH = larutan warna kuning (++) 2 fasa
-  Setelah direfluks menghasilkan 2 fasa
- Ditambah indikator PP menjadi larutan warna pink
- Dititrasi menjadi tidak berwarna
- V HCl = 18,5 ml
- Minyak kelapa + KOH = larutan berwarna,2 fasa
- Setelah direfluks menghasilkan 2 fasa
- Ditambah indikator PP menjadi larutan warna pink
- Dititrasi menjadi tidak berwarna
-     V HCl = 16 ml
C17H26COOH (aq) + KOH (aq) à C17H26COOK (aq) + H2O (l)
Semakin tinggi bilangan penyabunan semakin bagus kualitas sabun (ketaren, 1986)
-      Bilangan penyabunan minyak kelapa = 133,2375
-      Bilangan penyabunan minyak sawit = 65,9175
-      Bilangan penyabunan minyak curah = 7,0125
Kualitas sabun yang paling baik adalah sabun yang terbuat dari minyak kelapa

I.         Analisis Pembahasan
a.    Sabun
Sabun merupakan campuran dari senyawa natrium dengan asam lemak yang digunakan sebagai bahan pembersih tubuh, berbentuk padat, busa, dengan atau tanpa zat tambahan lain serta tidak menimbulkan iritasi pada kulit. Sabun dibuat dengan dua cara, yaitu proses saponifikasi dan proses netralisasi minyak. Proses saponifikasi minyak akan diperoleh produk sampingan yaitu gliserol, sedangkan proses netralisasi tidak akan memperoleh gliserol. Proses saponifikasi terjadi karena reaksi antara trigliserida dengan alkali, sedangkan proses netralisasi terjadi karena reaksi asam lemak bebas dengan alkali.
Dalam percobaan ini dilakukan pembuatan sabun dengan mereaksikan alkali dan minyak, reaksi ini juga biasa disebut sebagai reaksi saponifikasi. Pembuatan sabun dalam percobaan ini bertujuan untuk menentukan persamaan reaksi pada pembuatan sabun, menjelaskan perbedaan produk sabun yang dibuat menggunakan basa NaOH dan KOH, membuat emulsi sabun, dan menjelaskan tentang proses pembentukan emulsi air sabun dengan minyak, serta menentukan kualitas minyak berdasarkan bilangan peroksida.
Percobaan ini menghasilkan sabun dari tiga bahan baku yang berbeda yaitu minyak kelapa, minyak kelapa sawit, dan minyak curah. Hasil dari proses pembuatan sabun ini berguna untuk mengetahui perbandingan sabun yang dihasilkan. Proses yang digunakan pada penelitian kali ini merupakan proses secara kimia yaitu saponifikasi.
Tiga macam minyak sebagai bahan baku pembuatan sabun:
·      Minyak sawit merupakan minyak yang sangat umum digunakan sebagai bahan pembuat sabun batang. Hampir semua sabun batang yang ada di pasaran menggunakan minyak kelapa sawit. Minyak kelapa sawit berfungsi untuk menghasilkan sabun yang  keras dan dapat bertahan lama saat digunakan. Minyak kelapa sawit dapat menghambat busa yang dihasilkan oleh sabun jika digunakan terlalu banyak.
·      Minyak curah
·      Minyak kelapa Merupakan minyak yang sangat penting sebagai bahan pembuat sabun. Minyak kelapa berfungsi sebagai penghasil busa dalam sabun dan menghasilkan sabun yang keras. Juga merupakan agen pembersih pada sabun. Karena bersifat membersihkan kadang memberikan rasa yang kering di kulit.
Pada percobaan pertama yaitu pembuatan sabun menggunakan sampel minyak sawit, minyak curah, dan minyak kelapa. Sampel minyak  yang digunakan ialah seberat 10 gram ditambah dengan asam stearat 1 gram, campuran tersebut dipanaskan sampai asam stearat larut sempurna atau mencair dalam minyak kelapa sawit. Tujuan ditambahkannya asam stearat adalah untuk mengeraskan sabun dan menstabilkan busa, a sam lemak ini juga bisa menghasilkan sabun yang lebih tahan lama saat pemakaian. Larutan dipanaskan sampai suhu 70˚C, pada suhu di atas 70oC viskositas sabun tidak dapat meningkat secara signifikan, suhu yang terlalu panas juga akan mengoksidasi minyak berlebih yang disebut auto oksidasi sehingga miyak yang dihasilkan rusak atau mengalami ketengikan yang ditandai dengan berubahnya warna minyak menjadi kuning kecoklatan. Akan tetapi dibawah suhu 75oC viskositasnya dapat meningkat secara cepat, karena viskositas sabun bergantung pada temperature sabun dan komposisi lemak atau minyak yang dicampurkan. Suhu yang digunakan dibawah 70o C juga berdampak pada asam stearat tidak larut dengan sempurna. Kemudian larutan tersebut didinginkan sampai suhu mencapai 50˚C, karena reaksi pada larutan NaOH optimal pada suhu 50o C, kemudian ditambahkan larutan NaOH dan diaduk terus.
Pada proses pembuatan sabun ini digunakan jenis alkali basa yakni Natrium Hidroksida (NaOH). Natrium Hidroksida digunakan untuk pembuatan sabun keras atau batang, sedangkan basa alkali Kalium Hidroksida digunakan untuk sabun lunak atau cair. KOH membutuhkan air yang lebih sedikit, sedangkan NaOH menghasilkan sabun yang keras dan buram atau tidak tempus pandang karena kelarutan NaOH dalam air lebih kecil daripada KOH. Sabun yang diperoleh dari logam Na atau K dengan asam lemak tinggi pada umumnya mudah larut dalam air panas. Hasil kelarutan ini memberikan larutan koloid yang berwarna putih susu. Sifat kelarutan ini akan berkurang apabila dalam air terdapat ion-ion logam yang mampu menghasilkan reaksi substitusi yang hasilnya adalah berupa endapan garam kalsium, sedangkan supernatannya merupakan cairan yang mempunyai sifat tidak menghasilkan busa pada pengocokan.
Dilakukan pencampuran NaOH harus disamakan suhunya terlebih dahulu, karena suhu merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi laju reaksi. Jika suhu dinaikkan maka laju reaksi semakin besar karena kalor yang diberikan akan menambah energi kinetik partikel pereaksi, akibatnya jumlah dari energi tumbukan bertambah besar, begitu pun sebaliknya. Larutan yang telah sama suhunya kemudian dicampurkan.
Setelah itu ditambahkan alkohol 10 gram dan gliserin 4 gram. Fungsi dari penambahan alcohol yaitu sebagai pelarut pada proses pembuatan sabun transparan karena sifatnya yang mudah larut dalam air dan lemak. Sedangkan gliserin merupakan humektan sehingga dapat berfungsi sebagai pelembap pada kulit. Larutan tersebut diaduk kemudian dipanaskan kembali dengan terus diaduk sampai larutan berubah menjadi jernih. Setelah itu ditambahkan minyak zaitun yang fungsinya sebagai zat pengaktif, untuk memadatkan sabun, mengahasilkan busa yang banyak, melembabkandan melembutkan kulit. Sabun yang berasal dari zaitun cukup keras teksturnya tetapi lembut bagi kulit.
Penambahan dalam pembuatan sabun juga perlu dilakukan, seperti penambahan zat pewarna yang akan membuat sabun makin menarik, pewangi untuk membuat  nyaman pemakai, dan penambahan susu dapat digunakan untuk menggantikan air untuk melarutkan alkali. Alkali dengan susu menghasilkan reaksi yang berbeda. Panas yang dihasilkan alkali akan membakar gula yang terkandung dalam susu. Menghasilkan warna yang kecoklatan. Tidak berpengaruh jelek, hanya masalah warna saja. Susu memberikan efek melembapkan pada kulit. Susu yang biasa digunakan antara lain susu kambing, sapi, dan kelapa (santan). selanjutnya dituangkan ke dalam cetakan sebelum campuran memadat. Pada sabun dari minyak sawit, pemadatan sabun memerlukan waktu yang relative singkat. Sabun yang dihasilkan berwarna kuning pekat.
Dari percobaan pembuatan sabun yang telah dilakukan, dapat diketahui bahwa Saponifikasi adalah proses yang digunakan untuk memisahkan asam lemak bebas dari minyak atau lemak dengan cara mereaksikan asam lemak bebas dengan basa atau pereaksi lainnya sehingga membentuk sabun (soap stock) (Ketaren, 1986).
Asam lemak pada percobaan ini berasal dari minyak sedangkan basa yang digunakan adalah NaOH, sehingga persamaan reaksinya adalah sebagai berikut:
Perbandingan dari ketiga minyak tersebut didapatkan bahwa kualitas sabun yang paling baik ialah sabun yang terbuat dari minyak kelapa. Menurut ketaren (1986), salah satu minyak nabati yang sudah diketahui memiliki efek penyabunan yang baik adalah minuak kelapa murni (VCO). VCO memiliki sifat mudah tersaponifikasi (tersabunkan). Asam lemak yang paling dominan dalam VCO adalah asam laurat yaitu sebesar 52%. Asam laurat sangat memiliki peranan pada saponifikasi karena memiliki kelarutan yang tinggi dan menghasilkan pembusaan yang sangat baik untuk produk sabun (Ketaren, 1986).
Cepatnya proses pengerasan pada sabun disebebakan karena Tidak ada batas usia minyak jelantah yang bisa dibuat sabun. semakin lama usia minyak jelantah, maka proses oksidasi yang dialami oleh minyak semakin banyak sehingga kandungan asam lemak bebas nya semakin tinggi. kandungan asam lemak bebas ini justru akan mempermudah proses saponifikasi (penyabunan), hanya saja bau yang ditimbul juga berbau tengik. Semakin tinggi kandungan asam lemak maka semakin cepat sabun itu mengeras.
Penentuan asam lemak dapat dipergunakan untuk mengetahui kualitas dari minyak atau lemak, hal ini dikarenakan bilangan asam dapat dipergunakan untuk mengukur dan mengetahui jumlah asam lemak bebas dalam suatu bahan atau sampel. Semakin besar angka asam maka dapat diartikan kandungan asam lemak bebas dalam sampel semakin tinggi, besarnya asam lemak bebas yang terkandung dalam sampel dapat diakibatkan dari proses hidrolisis ataupun karena proses pengolahan yang kurang  baik (Ketaren, 1986).
b.        Sifat emulsi
Pada percobaan sifat emulsi sabun ini percobaan dilakukan untuk mengetahui sifat emulsi dari tiap sabun yang dihasilkan pada percobaan pertama. Sabun yang diuji adalah sabun yang telah dibuat dari minyak sawit, minyak curah, dan minyak kelapa. Percobaan emulsi ini dilakukan dengan membandingkan waktu yang dihasilkan tiap sabun yang sudah dikocok untuk dapat memisah. Semakin lama waktu yang diperlukan sabun untuk memisah, maka semakin kuat sifat emulsinya.
Pada pengujian emulsi sabun dari minyak kelapa, dilakukan dengan melarutkan sabun 0.2 gram dengan aquades panas sebanyak 3 ml, larutan tersebut dicampur dengan minyak kelapa sebanyak 5 tetes kemudian dikocok. Pengocokan ini dilakukan agar menghasilkan emulsi. Kemudian didiamkan sampai lapisan air dan minyak terpisah. Setelah lebih dari 1.16 menit terjadi pemisahan lapisan antara lapisan air dan lapisan minyak. Berarti sabun yang dibuat itu mengalami emulsi yang sempurna.
Sabun merupakan bahan surfaktan. Bahan ini dapat mengurangi tegangan permukaan larutan, sehingga dengan adanya proses ini pembentukan busa atau sifat emulsinya akan meningkat. Pembentukan emulsi dapat terjadi karena ada campuran minyak dengan air, hal ini disebabkan oleh sifat struktur sabun yang mempunyai dua kutub yaitu kutub yang bersifat hidrofilik dan kutub yang bersifat hidrofobik. Dimana kutub hidrofilik akan menuju ke lapisan air, sedangkan kutub hidrofobik menuju ke lapisan udara. Dengan adanya sifat tersebut, maka cairan dalam air akan membentuk emulsi. Semakin lama waktu pemisahan air dengan minyak, maka emulsi dari sabun akan semakin baik.
Pada pengualangan kedua dan ketiga menggunakan sampel minyak curah dan minyak sawit, didapatkan hasil waktu yang diperlukan minyak curah dalam membentuk emulsi yaitu selama 1,44 menit dan pada minyak sawit ialah 1,49 detik.
Sebagai pembanding dari pengujian emulsi sabun ini yaitu dengan cara mencampur aquades 3 mL dengan 5 tetes minyak sawit, curah dan kelapa dengan tanpa pemberian sabun pada larutan tersebut dan dikocok kuat- kuat agar bercampur homogen. Setelah didiamkan dan diamati, tarnyata membutuhkan waktu sekitar 40, 31, dan 15 detik  untuk terjadinya pemisahan antara lapisan air dengan lapisan minyak.



c.    Bilangan asam
Pada percobaan ini bertujuan untuk menentukan kualitas minyak berdasarkan bilangan asam. Minyak yang digunakan adalah minyak kelapa, minyak sawit, dan minyak curah.
Bilangan asam adalah bilangan yang menunjukkan berapa mg KOH yang diperlukan untuk menetralkan lemak (khususnya asam lemak bebas) dalam 1 mg lemak. Bilangan asam merupakan parameter penting dalam penentuan kalitas minyak. Bilangan ini menunjukkan banyaknya asam lemak bebes yang ada didalam minyak akibat terjadi rekaishidroliisis pada minyak terutama pada pengolahan. Asam lemak merupakan struktur kerangka dasar untuk kebanyakan bahan lipid (Agoes, 2008).
Asam lemak adalah senyawa hidrokarbon yang berantai panjang dan lurus, dimana bagian ujungnya mengikat gugus karboksilat, asam lemak mempunyai satu atau lebih rangkap dan memiliki jumlah atom karbon genap. Asam lemak tak jarang terdapat di alam, tetapi terdapat sebagai ester dalam gabungan dengan fungsi alkohol. Asam lemak dapat berskala dari hewan maupun tumbuhan dan mempunyai rurmus umum.
Angka asam besar menunjukkan asam lemak bebas yang besar yang berasal dari hidorlisis minyak ataupun karena proses pengolahan yang kurang baik. Semakin tinggi asam makin rendah kualitasnya. Melalui proses hidrogenasi dengan bantuan katalis Pt atau Ni, asam lemak tidak jenuh diubah menjadi asam lemak jenuh, dan melalui proses penyabunan dengan basa NaOH dan KOH akan terbentuk sabun dan gliserol suatu asam lemak (Agoes, 1989).
Pada percobaan pertama yaitu 5 gram sampel minyak sawit, minya curah, dan minyak kelapa ditambah etanol, etanol dapat menarik air yang melingkupi molekul-molekul minyak sehingga terjadi pemisahan fase minyak dengan etanol. Sehinggga setelah penambahan etanol pada minyak, akan terbentuk 2 lapisan. Fungsi penambahan etanol pada percobaan ini adalah untuk melarutkan minyak pada sampel agar dapat berekasi dengan basa. Karena etanol mampu mengikat asam lemak bebas yang bersifat polar sehingga asam dan basa akan larut pada etanol yang bersifat polar. Selain itu etanol dapat berfungsi sebagai pengaktif kerja enzim lipase sebelum titrasi.
Penentuan kadar asam lemak bebas menggunakan titrasi asam basa, dimana sampel langsung dititrasi dengan KOH dengan penambahan indikator PP. Fungsi penambahan indikator PP yaitu sebagai pembuktian bahwa sampel tersebut bersifat asam atau basa serta untuk mengetahui terjadinya suatu titik ekivalen dalm proses penitrasian. Didapatkan hasil titrasi berwarna merah muda pada volume KOH 1,3 ml yang menunjukkan bahwa sampel larutan tersebu bersifat basa. Berikut persamaan reaksinya:
Text Box:                                 


Bilangan asam ditentukan dengan cara titrasi alkalimetri, yairu teknik titrasi dengan pereaksi suatu alkali (NaOH). Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:
R-COOH + KOH  R-COOK + H2O
Penentuan bilangan asam sebagai berikut:
BA =
Keterangan:
V NaOH: Volume basa (ml
M NaOH: Konsentrasi basa (M)
Mr ( NaOH): Massa molekul relatif basa (g mol-1)
Didapatkan hasil perhitungan bilangan asam pada minyak sawit sebesar 1,4586, minyak curah sebesar 3,366 dan minyak kelapa sebesar 1,122. Dari percobaan ini dapat dibuktikan sesuai dengan teori bahwa bilangan asam yang besar menunjukkan asam lemak bebas yang besar pula, yang berasal dari hidrolisa minyak tau lemak, ataupun karena proses pengolahan yang kurang baik. Semakin tinggi bilangan asam, maka semakin rendah kualitasnya (Ketaren, 1986). Bilangan asam pada minyak kelapa lebih rendah sehingga minyak kelapa memiliki kualitas minyak yang baik. Sedangkan minyak curah memiliki kualitas yang buruk karena memiliki bilangan asam yang tinggi.
Minyak kelapa<minyak sawit<minyak curah
d.        Bilangan penyabunan
Bilangan penyabunan adalah jumlah miligram NaOH yang diperlukan untuk menyabunkan satu gram minyak dan lemak (Ketaren, 1986). Bilangan penyabunan adalah jumlah mg NaOH yang dibutuhkan untuk menyabunkan 1 g lemak. Untuk menetralkan 1 molekul gliserida diperlukan 3 molekul alkali. Pada trigliserida dengan asam lemak yang rantai C-nya pendek, akan didapakt bilangan penyabunan yang lebih tinggi daripada asam lemak dengan rantai C panjang.
Bilangan penyabunan: (V2-V1)
Pada percobaan ini yaitu 2 gram sampel minyak sawit, minyak curah, dan minyak kelapa dimasukkan kedalam 0,5 N KOH yang beralkohol kemudian di refluks. Fungsi pemanasan refluks adalah agar reaksi antara alkohol dan minyak tersebut dapat bereaksi dengan cepat dan proses saponifikasi berjalan dengan sempurna., sehingga pada saat titrasi diharapkan asam lemak bebas larut seutuhnya dalam alkohol. Reaktan yang digunakan adalah KOH beralkohol yang memiliki sifat mudah menguap sehingga dilakukan proses refluks untuk mencegah KOH menguap selama proses pemanasan. Ditambahkan indikator PP untuk pembuktian bahwa sampel tersebut bersifat asam atau basa serta untuk mengetahui terjadinya suatu titik ekivalen dalm proses penitrasian.
Kelebihan KOH pada campuran kemudian dititrasi dengan menggunakan larutan HCL 0,5 N hingga minyak kembali berubah kembali menjadi warna semula (sebelum ditetesi indikator PP). jumlah HCl yang diperlukan masing-masing campuran agar kembali seperti warna minyak asal adalah 18,7 ml untuk minyak sawit, 18,5 ml untuk minyak curah, dan 16  ml untuk minyak kelapa. Persamaan reaksi pada percobaan ini adalah:
Selanjutnya dihitung bilangan penyabunan dan didapatkan hasil untuk minyak sawit sebesar 65,9175, minyak curah  sebesar 7,0125, dan minyak kelapa sebesar 133,2375. Secara teoritis, semakin tinggi bilangan penyabunan maka semakin baik kualitas minyak (Ketaren, 1986).


J.        Kesimpulan
1.        Sabun dibuat dengan mereaksikan minyak dengan NaOH dimana reaksinya disebut reaksi saponifikasi
2.        Berdasarkan percobaan kecepatan emulsi terdapat pada minyak kelapa>minyak sawit> minyak curah. Pembentukan emulsi tapa sabun membutuhkan waktu yang lebih cepat sedangkan emulsi menggunakan sabun membutuhkan waktu yang lama.
3.        -Bilangan asam minyak curah = 3,366
-Bilangan minyak sawit = 1,4586
-Bilangan minyak kelapa = 1.122
Sesuai dengan teori bahwa bilangan asam pada minyak kelapa rendah sehingga minyak kelapa memiliki kualitas baik, sedangkan minyak curah memiliki kualitas buruk karena bilangan asamnya tinggi
4.        -Bilangan penyabunan minyak kelapa = 133,2375
-Bilangan penyabunan minyak sawit = 65,9175
-Bilangan penyabunan minyak curah = 7,0125
-Kualitas sabun yang paling baik adalah sabun yang terbuat dari minyak kelapa.

Daftar pustaka
Agoes, G., 2008. Pengembangan Sediaan Farmasi, Edisi Revisi & Pelunasan. Bandung: ITB.
Ahmadi, K dan Estiasih, T. 2011. Kristalisasi Pelarut Suhu  Rendah Pada Pembuatan Konsentrat Vitamin E dari Destilat Asam Lemak  Minyak  Sawit : Kajian Jenis Pelarut. Jurnal  Teknologi Pertanian Vol. 11 No. 1.
Akmal, Yopita. 2006. Alkali Bebas Pada Berbagai Sabun. Padang: Jurusan Farmasi FMIPA Universitas Andalas.
Austin, T. George. 1984. Shreve’s Chemical Process Industries. Fifth edition. New York: McGraw-Hill Book Company.
Colegate, S.M and R.J. Molyneux. 2000. Bioactive Natural Products : Detection, Isolation, and Structural Determination. Boca Raton: CRC Press.
Fessenden  R, J,. dan Fessenden J, S.  1982. Kimia Organik. Jakarta: Erlangga.
Gapor, A.M.T. 2000. A Study On The Utilization Of PFAD As a Source of Squalene, Proceedings of the 2000 National Seminar on Palm Oil Milling,    Refining Technology, Quality and Invironment. Selangor: Malaysian Palm Oil Board.
Hard, Harold. 1982. Kimia Organik Jilid 2. Jakarta: Erlangga.
Ketaren. 1987. Pengantar Teknologi Minyak dan Lemak Pangan, Edisi I.  Jakarta: UI-PRESS.
Marzoeki, A. 1980. Teknologi Pembuatan Sabun. Ujung Pandang: Kanisius.
Sutarmi dan Rozaline H. 2005. Taklukan Penyakit dengan VCO (Virgin Coconut Oil). Depok: Penebar Swadaya.
Musalamah, M., M.Y. Nizam, A.H. Noor Aini, A. I. Azian, M. T. Gapor, and W. Z. Wah Ngah. 2005. Comparative Effect Of Palm Vitamin E and Alfa Tocopherol On Heading An Wound Tissue Antioxidant Enzyme Level In Diabetic Rats. Lipids 40: 575-580.
Pasaribu, N. 2004. Minyak Buah Kelapa Sawit. Sumatra Utara: Jurusan Kimia. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara.
Rowe, R.C. et Al. 2009. Handbook Of Pharmaceutical Excipients, 6th Ed. London: The Pharmaceutical Press.
Sugianto. 2006. Pasa Modal, Cetakan Kedua. Bandung: Alfabeta.
Susinggih, Wijana, dkk. 2005. Mengolah Minyak Goreng Bekas. Surabaya: Trubus Agrisarana.
Zulkifli Mochammad dan Estiasih Teti. 2014. Sabun dari Destilat Asam Lemak Minyak Sawit. Jurnal pangan dan agroindustri, No. 4, Vol. 2.

Lampiran
1.      Jawaban Pertanyaan
1.    Bagaimana cara membuat sabun keras dan lunak (dalam bentuk alur kerja/diagram alir)?
Jawab:
Pembuatan Sabun Keras
   
   



    Pembuatan Sabun Lunak
          


 










  



2.    Tulislah secara lengkap reaksi pembuatan sabun?
Jawab:
a.         Pembuatan Sabun  :
NaOH(s) + H2O(l)                                NaOH(aq)
2 RCO2Na + Ca2+               (RCOO)2Ca ↓ + 2 Na+.
b.         Bilangan Asam  :
c.          Bilangan Penyabunan  :

3.    Bagaimana diagram alur untuk membuat emulsi sabun?
Jawab:
Tabung reaksi 1

Tabung reaksi 2
4.    Jelaskan bagaimana proses terjadinya emulsi sabun?
Jawab:
Emulsi adalah dispersi atau suspensi metastabil suatu cairan lain yang kedua tidak saling melarutkan. Supaya terbentuk emulsi yang stabil diperlukan suatu zat pengemulsi yang disebut emulsifier atau emulsifying agent yang berfungsi menurunkan tegangan permukaan antara kedua fase cairan. Cara kerja emulsifier terutama disebabkan oleh bentuk molekulnya yang dapat terikat baik pada minyak maupun air. Emulsifier akan membentuk lapisan di sekeliling minyak sebagai akibat menurunnya tegangan permukaan, sehingga mengurangi kemungkinan bersatunya butir-butir minyak satu sama lainnya.
Sabun merupakan bahan surfaktan. Bahan ini dapat mengurangi tegangan permukaan larutan, sehingga dengan adanya proses ini pembentukan busa atau sifat emulsinya akan meningkat. Hal ini disebabkan oleh sifat struktur sabun yang mempunyai dua kutub yaitu kutub yang bersifat hidrofilik dan kutub yang bersifat hidrofobik. Dimana kutub hidrofilik akan menuju ke lapisan air, sedangkan kutub hidrofobik menuju ke lapisan udara. Dengan adanya sifat tersebut, maka cairan dalam air akan membentuk emulsi.

5.    Jelaskan perbedaan produk sabun antara sabun dengan mneggunakan alkali NaOH dengan KOH?
Jawab:
Perbedaannya terletak pada produk sabun yang dihasilkan. Keduanya merupakan alkali, namun apabila minyak direaksikan dengan NaOH maka produk sabun yang dihasilkan berupa sabun padat, sedangkan bila direaksikan dengan KOH maka produk yang dihasilkan akan berupa sabun lunak, atau bahkan sabun cair.

2.      Perhitungan
a.    Bilangan Asam
Diketahui                     :
N KOH= 0,1 N
Massa Sampel= 5 gram
V KOH pada minyak sawit= 1,3 ml
V KOH pada minya curah= 1,5 ml
V KOH pada minyak kelapa   = 0,8 ml
Ditanya: Bilangan asam pada masing-masing minyak
Jawab:
·      Bilangan asam minyak sawit          =
                                                            =
                                                            = 1,4586
·      Bilangan asam minyak curah          =
                                                            =
                                                            = 1,683
·      Bilangan asam minyak kelapa        =
                                                            =
                                                            = 0,8976

b.   Bilangan Penyabunan
Diketahui                :
N HCl = 0,5 N
Mr KOH = 56,1 gram/mol
V KOH= 25 ml
Massa sampel= 2 gram
V HCl pada minyak sawit = 18,7 ml
V HCl pada minyak curah= 18,5 ml
V HCl pada minyak kelapa= 16 ml

Ditanya: Bilangan penyabunan pada masing-masing minyak
Jawab:
· Bilangan penyabunan pada  minyak sawit=   =  
                                                   = 88,3575
· Bilangan penyabunan pada  minyak curah=   =  
                                                  = 91,1625
· Bilangan penyabunan pada  minyak kelapa         =   =  
                                                  = 126,225

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perbedaan Open Acces dan Close Acces serta Kelebihan dan Kekurangannya

Laporan Praktikum Rekristalisasi dan Pembuatan Aspirin

Laporan Praktikum Titrasi Penetralan (Asidi-Alkalimetri) dan Aplikasi Penentuan Kadar NH3 dalam Pupuk ZA