Laporan Praktikum Pembuatan n-Butil Asetat
A. Judul Praktikum : Pembuatan
n-Butil Asetat
B. Hari, Tanggal Praktikum : Jum’at, 08
Maret 2019 (07.30 WIB)
C. Hari, Tanggal Selesai Praktikum : Jum’at, 08
Maret 2019 (12.00 WIB)
D. Tujuan Praktikum :
1.
Mahasiswa diharapkan dapat memahami reaksi pembuatan
n-butil asetat melalui reaksi esterifikasi
E. Dasar Teori
Proses esterifikasi adalah reaksi pembentukan ester dengan reaksi langsung
antara suatu asam karboksilat dengan suatu alkohol. Esterifikasi dapat
dikatalis oleh kehadiran ion H+. Nama ester berasal dari Essig-Äther (Jerman),
sebuah nama kuno untuk menyebut etil asam cuka ester (asam cuka etil)
(Ismiyati, 2011).
Reaksi pembuatan ester dikenal sebagai esterifikasi. Esterifikasi adalah
reaksi asam lemak bebas (asam karboksilat) dengan alkohol membentuk ester dan
air. Dengan esterifikasi, kandungan asam lemak bebas dapat dihilangkan dan
diperoleh tambahan ester. Reaksi ini dilaksanakan dengan menggunakan katalis
padat atau 3 katalis cair. Reaksi esterifikasi merupakan reaksi kesetimbangan.
Pada suhu ruang, reaksi ini tidak berlangsung tuntas dan jumlah produknya
sedikit.
Ester merupakan suatu reaksi reversible antara suatu asam karboksilat
dengan suatu alkohol. Produk esterifikasi disebut ester yang mempunyai sifat
yang khas yaitu baunya yang harum. Sehingga pada umumnya digunakan sebagai
pengharum (essence) sintetis. Reaksi esterifikasi merupakan reaksi reversible
yang sangat lambat. Tetapi bila menggunakan katalis asam sulfat atau asam
klorida, kesetimbangan reaksi akan tercapai dalam beberapa jam. Esterifikasi
dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah; struktur molekul dari
alkohol, suhu proses dan konsentrasi katalis maupun reaktan (Oxtoby, 1980).
Ester merupakan senyawa yang penting dalam industri dan secara biologis.
Lemak adalah ester yang mempunyai rantai panjang asam karboksilat dengan
trihidroksi alkohol(gliserol). Bau yang enak dan buah-buahan adalah campuran
yang kompleks dari ester volatil. Bau dari isopentenil asetat adalah mirip dengan
aroma buah pisang ataupun buah pir. Butil butanoat seperti aroma nanas,
sedangkan propil 2-metilpropanoat memberi aroma rum (minuman). Sedangkan
berton-ton senyawa polimer p-dimetil terephtalat disintesis setiap tahunnya
untuk membuat produk dengan nama Dacron, yang merupakan polimer dari ester
(Petrucci, 1985).
Dalam kimia, ester adalah suatu senyawa organik yang terbentuk melalui
penggantian satu (atau lebih) atom hidrogen pada gugus hidroksil dengan
suatu gugus organik (biasa dilambangkan dengan R’). Asam oksigen adalah suatu
asam yang molekulnya memiliki gugus -OH
yang hidrogennya (H) dapat terdisosiasi menjadi ion H+.
Ester dapat dibuat dari reaksi antara lain asam klorida dengan suatu
alkohol dalam media basa seperti piridin, dari reaksi asam anhidrida dengan
suatu alkohol, dan juga reaksi antara asam karboksilat dengan alkohol
menggunakan katalis karboksilat dan alkohol direfluks secara bersama-sama
dengan adanya asam sebagai katalis.
Penurunan dari ester yaitu asam karboksilat dengan mengganti gugus OH
dengan gugus OR (R adalah gugus alkil atau aril). Ester merupakan senyawa
organik yang bersifat netral, tidak bereaksi dengan logam Na dan PCl3.
Rumus umum ester adalah RCOOR’ dimana R dan R’ adalah gugus organik. Ester yang
terdiri dari asam-asam yang berat molekul rendah dan alkohol merupakan
senyawa-senyawa cair yang tidak berwarna, sedikit larut dalam air dengan
bau semerbak, dan mudah menguap. Ester dari beberapa asam karboksilat dengan
rantai panjang terdapat secara alamiah di dalam lemak, lilin, dan minyak
(Keenan, 1980).
Ester merupakan suatu senyawa yang dapat disintesis dari reaksi antara asam
karboksilat dan alkohol. Ester memiliki sifat fisik yang khas yaitu memberikan
aroma atau bau yang wangi. Beberapa ester dapat menghasilkan wangi buah buahan.
Namun selain itu ester dapat pula menghasilkan aroma selain buah buahan
(Fessenden, 1992). Zat-zat pengharum (essen) yang terkandung dalam
tumbuh-tumbuhan tidak lain adalah ester. Pada buah-buahan keharumannya
tergantung dari ester yang terkandung di dalamnya. Gugus fungsional asam
karboksilat adalah gugus karboksil, yang hidrogennya bersifat asam lemah
(Halim, 1990).
Pada sintesis ester, asam asetat melepaskan gugus –OH dan alkohol
melepaskan gugus H yang dikeluarkan sebagai H2O. Reaksi tersebut adalah reaksi
kesetimbangan. Oleh karena itu, untuk memperoleh hasil yang banyak, dilakukan
dengan salah satu pereaksi berlebih, atau dapat juga dilakukan mengeluarkan
ester yang terbentuk agar kesetimbangan bergeser ke arah produk (Hedricson,
1998).
F. Alat dan Bahan
·
Alat
1.
Gelas ukur 1
buah
2.
Gelas kimia 1
buah
3.
Labu alas bulat 1
buah
4.
Spatula 1
buah
5.
Pipet tetes 5
buah
6.
Neraca analitik 1
buah
7.
Corong pisah 1
buah
8.
Refluks 1
buah
9.
Alat destilasi 1
buah
10. Corong 1
buah
11. Heating
mantle 1
buah
·
Bahan
1.
n-butil alkohol 10
ml
2.
Asam asetat glasial 30
ml
3.
Asam sulfat pekat 96-98% 3 tetes
4.
Aquades secukupnya
5.
Larutan NaHCO3 jenuh 7
ml
6.
MgSO4 kristal anhidrat 1
gram
G. Alur Percobaan
|
10 mL n-butanol
|
|
1.
Dimasukkan
ke dalam labu dasar bulat
2.
Ditambah 1
butir batu didih
3.
Ditambah
sedikit demi sedikit 3 tetes H2SO4 pekat
4.
Ditambah 30
mL asam asetat glasial
5.
Dipasang
pendingin refluks
6.
Dipanaskan
campuran hingga suhu 90-100°C selama 3 jam
7.
Didinginkan
± 5 menit
8.
Dimasukkan
campuran ke dalam corong pemisah
9.
Ditambahkan
30 mL air, dikocok dengan kuat
10.
Dipisahkan
|
|
Residu
|
|
Filtrat
|
|
1.
Ditambah 25
mL aquades
2.
Ditambah 7
mL NaHCO3 jenuh
3.
Dikocok
4.
Dipisahkan
dengan corong pemisah
|
|
Residu
|
|
Filtrat
|
|
1.
Ditambah 1
gram MgSO4 yang telah dioven
2.
Dikocok dan
disaring
|
|
Filtrat
|
|
Residu
|
|
1.
Ditimbang
massa ester
|
|
Massa ester
|
H. Hasil Pengamatan
|
No. Perc
|
Prosedur Percobaan
|
Hasil Pengamatan
|
Dugaan/Reaksi
|
Kesimpulan
|
|
|
Sebelum
|
Sesudah
|
||||
|
1
|
|
· N-butanol
tidak berwarna
· H2SO4
larutan tidak berwarna
· CH3COOH
glasial larutan berwarna kuning
· MgSO4
kristal berwarna putih
· Aquades
tidak berwarna
· NaHCO3
jenuh larutan tidak berwarna
|
· N-butanol
+ H2SO4 +CH3COOH glasial = larutan berwarna
kuning
· Dipanaskan
larutan berwarna kuning kecoklatan
· Berbau
pisang
|
NaHCO3(aq)
+ CH3COOH(aq) ® CH3COONa(aq) + CO2(g)
+ H2O(l)
MgSO4(s)
+ 7H2O(l) ®MgSO4
+ 7H2O(l)
|
· Pembuatan
n-butil asetat dilakukan dengan cara esterifikasi n-butanol dan asam asetat
glasial
· Massa
ester yang dihasilkan 3,85 gram
· Rendemen
30,39%
|
I. Analisis dan pembahasan
Esterifikasi adalah salah satu jenis reaksi dimana reaksi tersebut untuk
menghasilkan ester. Ester merupakan sebuah hidrokarbon yang diturunkan dari
asam karboksilat. Sebuah asam karboksilat mengandung gugus -COOH, dan pada
sebuah ester hidrogen di gugus ini digantikan oleh sebuah gugus
hidrokarbon dari beberapa jenis. Ester dapat dihasilkan dengan cara
mereaksikan antara sebuah alcohol dengan asam karboksilat yang dapat dituliskan
sebagai berikut:
Percobaan “pembuatan n-butil” ini bertujuan agar mahasiswa dapat memahami
reaksi pembuatan n-butil asetat melalui reaksi esterifikasi. Reaksi
esterifikasi adalah suatu reaksi yang terjadi antara asam karboksilat dan
alkohol dengan katalis asam sulfat yang menghasilkan ester (Fessenden &
Fessenden, 1982). Percobaan ini melalui mekanisme reaksi SN2 karena menggunakan
alkohol primer. Alkohol primer memiliki kereaktifan yang cukup tinggi bila
dibandingkan dengan asam astetat yang merupakan asam karboksilat yang hanya
berperan kecil dalam pembentukan ester.
Pada percobaan ini dilakukan dengan mereaksikan n-butil alkohol dengan asam
asetat agar menghasilkan ester n-butil asetat dengan cara merefluks asam
karboksilat dengan alkohol dan katalis H2SO4 pekat. Dalam
reaksi ini n-butil alkohol merupakan senyawa pembatas yang akan habis
bereaksi sementara itu asam asetat akan bersisa. n– butil asetat
merupakan ester yang berbau pisang dan berwarna bening kekuningan.
Langkah pertama yaitu merekasikan n-butil alkohol dengan asam asetat glassial
yang berfungsi sebagai penyedia gugus karboksil sehingga dapat membantu
terbentuknya suatu ester, karena pada reaksi pembentukan ester, asam asetat merupakan
salah satu komponen penyusun utamanya. Kemudian ditambahkan larutan H2SO4
yang berfungsi sebagai katalis agar reaksi esterifikasi dapat berjalan dengan
cepat. Selain itu, katalis juga memungkinkan untuk mencari mekanisme reaksi
yang baru dengan cara memilih energi aktivasi yang lebih rendah, sehingga
energi aktivasi bisa dicapai dengan cepat dan laju reaksi meningkat. Pada
reaksi esterifikasi, ion H+ dari asam sulfat berperan dalam pembentukan ester
dan juga berperan dalam reaksi sebaliknya yaitu hidrolisis ester. Reaksi
esterifikasi ini juga merupakan reaksi reversible. Larutan campuran yang berada
di labu dasar bulat. Fungsi batu didih adalah untuk meratakan panas sehingga
panas menjadi homogen pada seluruh bagian pelarut. Apabila dipanaskan, pori-pori
dalam batu didih akan membantu penangkapan udara pada larutan dan melepaskannya
ke permukaan larutan, sehingga menyebabkan timbulnya gelembung-gelembung kecil
pada batu didih.
Langkah kedua pada proses esterifikasi adalah melakukan refluks, proses
refluks digunakan untuk mereaksikan asam asetat dan butanol dalam reaktor.
Refluks merupakan metode pemanasan yang tidak mengurangi massa dan energi dari
sistem reaktor. Hal ini terjadi karena Uap yang dihasilkan oleh pemanasan
tersebut berjalan ke arah kondensor, di dalam kondensor, uap akan mengalami
pendinginan, sehingga uap akan membentuk embun kemudian embun akan membentuk
cairan yang dapat menetes dan kembali lagi pada tabung labu dasar bulat.
Proses refluks dihentikan ketika suhu cairan dalam reaktor mencapai suhu
maksimal yaitu sekitar 3 jam dan telah konstan. Cairan dalam reaktor mengandung
ester, air dan sedikit sisa asam karboksilat (asam asetat). Ester memiliki
sifat fisik yang khas yaitu memberikan aroma atau bau yang wangi. Beberapa
ester dapat menghasilkan wangi buah buahan. Namun selain itu ester dapat pula
menghasilkan aroma selain buah buahan (Fessenden dan Fessenden, 1992). Persamaan
reaksinya adalah:
Setelah dingin, larutan hasil reaksi dituangkan ke dalam corong pisah dengan
metode ekstraksi corong pisah (ekstraktor) yang memanfaatkan kelarutan dari
setiap zat. dan ditambahkan air sebanyak 30 ml. Penambahan air bertujuan untuk
mengikat senyawa polar yang ada didalam larutan hasil reaksi yang dihasilkan
dari proses esterifikasi serta mencuci ester dengan mengocoknya dengan kuat.
Cara mengocok corong pemisah dilakukan dengan arah memutar ke depan atau ke
belakang. Selang beberapa menit, tutup pada corong pemisah dibuka hingga
terdengar suara gas yang keluar, pengocokan dihentikan ketika sudah tidak lagi
terbentuk gas. Setelah dilakukan pengocokkan, larutan didiamkan hingga larutan terbentuk
dua lapisan. Dalam larutan tersebut terdapat gelembung dan terbentuk dua
lapisan, dimana lapisan atas merupakan ester sedangkan lapisan bawah merupakan
air. Air berada dibawah karena memiliki massa jenis yang lebih besar bila
dibandingkan dengan ester. Setelah terbentuk 2 lapisan, corong pemisah dibuka
sehingga lapisan bawah yang berupa air akan keluar beserta semua pengotor polar
yang ada didalam larutan.
Filtrat yang tersisa pada corong pisah kembali ditambahkan dengan NaHCO3
yang tidak berwarna kemudian dikocok hingga tidak terbentuk adanya gas. penambahan
NaHCO3 berfungsi untuk mengikat asam karboksilat yang tersisa
dan menetralkan larutannya dengan melepaskan air. Kemudian ditambahkan aquades
sebanyak 25 ml yang berfungsi sebagai pencuci larutan, menghilangkan garam
terlarut, dan membuat larutan agar menjadi homongen. Haisl reaksi yang
didapatkan ialah terjadi pembentukan garam, gas karbondioksida dan air. Seperti
pada persamaan reaksi sebagai berikut:
CH3COOH (aq) + NaHCO3 (aq) → CH3COONa (aq)
+ CO2 (g) + H2O (l)
Setelah itu filtrat dipindahkan kedalam gelas kimia dan ditambahkan 1 gram
MgSO4 yang merupakan butiran kristal berwarna putih. Persamaan
reaksinya adalah:
MgSO4 (s) xH2O (l) → MgSO4xH2O
(s)
Setelah dicampur, MgSO4 tidak dapat larut karena kristal MgSO4
hanya berfungsi sebagai pengikat kandungan air yang mungkin masih terdapat pada
n-butil asetat, sehingga n-butil asetat murni tidak mengandung air. Larutan
kemudian didekantasi, Dekantasi sendiri adalah suatu metode pemisahan yang
paling sederhana bila dibandingkan dengan metode pemisahan yang lainnya. Metode
ini cukup dilakukan dengan cara mendiamkan campuran untuk beberapa saat hingga
terdapat endapan, kemudian larutan dituang secara perlahan-lahan ke tempat
lain, misalnya gelas kimia untuk mendapatkan larutan tanpa endapan. Kemudian
diukur volume ester n-butil yang terbentuk, yaitu didapatkan massa ester 3,85
gram dengan hasil akhir rendemennya sebesar 30,39%.
J. Kesimpulan
1. Pembuatan
n-butil asetat dilakukan dengan cara esterifikasi n-butanol dan asam asetat
glasial.
2. Didapatkan
massa ester 3,85 gram dengan hasil akhir rendemennya sebesar 30,39%.
Daftar Pustaka
Fessenden, R.J.1992. Kimia
Organik edisi Ketiga. Jakarta : Penerbit Erlangga.
Halim, 1990. Analisis Kimia Kuantitatif edisi 1.
Jakarta: Erlangga.
Hedricson. 1988. Penuntun
Praktikum Kimia Organik Sintetik. Makassar: Fakultas Farmasi UMI.
Ismiyati, 2011. Buku Ajar Statistik dan Probabilitas Untuk
Teknik Bagi Peneliti Utama. Semarang: UNDIP.
Keenan, Charles W.
1980. Ilmu Kimia Untuk Universitas.
Jakarta: Erlangga.
Oxtovy, David W. Dkk. 1999. Prinsio-prinsip Kimia Modern edisi keempat jilid 1. Jakarta:
Erlangga.
Petrucci, Ralph H. 1985. Kimia Dasar Prinsip dan Terapan Modern edisi keempat jilid 3.
Jakarta: Erlangga.
.Lampiran
1.
Lampiran
Perhitungan
Diketahui
:
-
ρ butanol
= 0,81 g/ml
-
ρ CH3COOH = 1,05 g/ml
-
Mr Butanol =
74 g/ml
-
Mr n-butil =
116 g/mol
-
V butanol =
10 ml
-
V asam asetat glasial = 30 ml
-
M H2SO4 pekat = 18,385 M
M H2SO4
pekat =
=
=
0,01103 M
Ditanya : massa n-butil asetat ?
1.
Massa
n-butil asetat berdasarkan teori
·
Massa butanol = ρ ×V
= 0,81 g/ml ×10 ml
= 8,1 gram
·
Mol butanol =
=
=
0,1094 mol
·
Massa asam asetat glasial = ρ ×V
= 1,05 g/ml ×30 ml
= 31,5 gram
·
Mol asam asetat glasial =
=
=
0,5250 mol
CH3COOH (l) + C4H5OH (l) → CH3COOC4H5 (aq) + H2O (l)
m 0,5250 mol 0,1094 mol
r 0,1094 mol 0,1094 mol 0,1094 mol 0,1094 mol
s 0,4156 mol - 0,1094 mol 0,1094 mol
·
mol n-butil asetat = 0,1094 mol
·
massa n-butil asetat = 3,857
2.
Massa
n-butil asetat berdasarkan percobaan
%
rendemen =
=
= 30,39%
Komentar
Posting Komentar