Laporan Praktikum Mempelajari Sifat-Sifat dan Reaksi Warna dari Protein


A.      Judul Percobaan     : Mempelajari Sifat-Sifat dan Reaksi Warna dari Protein
B.       Tanggal Percobaan : Kamis, 28 Maret 2019 (07.30 WIB)
C.      Selesai Percobaan   : Kamis, 28 Maret 2019 (12.00 WIB)
D.      Tujuan Percobaan
1.      Membedakan sifat kelarutan protein secara reversible dan irrefersibel
2.      Membedakan reaksi denaturasi protein yang disebabkan oleh asam, garam, dan garam lain dari logam berat, serta pemanasan berdasarkan pengamatan.
3.      Memahami penyebab terjadinyapengendapan pada protein
4.      Mengidentifikasi adanya protein melalui reaksi warna
E.       Dasar Teori
Sebagian besar ilmu kimia organisme hidup menyangkut 5 golongan senyawa utama yaitu: karbohidrat, lipida, mineral, asam nukleat dan protein. Protein menentukan kebanyakan sifat-sifat yang ditemukan dalam kehidupan. Protein memiliki berbagai fungsi biologis yang berbeda-beda yaitu Katalis enzim, Transport dan penyimpanan, Fungsi mekanik, Pergerakan, Pelindung dan Proses informasi.
Proses kimia dalam tubuh dapat berlangsung dengan baik karena adanya enzim, suatu protein yang berfungsi sebagai biokatalis. Di samping itu hemoglobin dalam butir darah merah (eritrosit) yang berfungsi mengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh jaringan tubuh adalah salah satu jenis protein. Protein (asal kata protos dari bahasa Yunani yang berarti “yang paling utama”) adalah senyawa organik  kompleks berbobot molekul tinggi yang merupakan polimer  dari monomer-monomer  asam amino yang dihubungkan satu sama lain dengan ikatan peptida. Kebanyakan protein merupakan enzim atau subunit enzim (Fessenden, 1986).
Protein merupakan komponen utama dalam semua sel hidup, baik tumbuhan maupun hewan. Pada sebagian besar jaringan tubuh, protein merupakan komponenn terbesar setelah air. Kira-kira lebih dari 50% berat kering sel terdiri atas protein. Protein adalah senyawa organik kompleks yang terdiri atas unsur-unsur karbon (50-55%), Hidrogen (7%), Oksigen (13%), dan Nitrogen (16%). Banyak pula protein yang mengandung Belerang (S) dan Fosfor (P) dalam jumlah sedikit (1-2%). Ada beberapa protein lainnya mengandung unsur logam seperti tembaga dan besi (Deman, 1997).
Secara kimiawi, protein merupakan senyawa polimer yang tersusun atas satuan-satuan asam amino sebagai monomernya. Asam-asam amino terikat satu sama lain melalui ikatan peptide, yaitu ikatan antara gugus karboksil (-COOH) asam amino yang satu dengan gugus amino (NH2) dari asam amino yang lain dengan melepaskan satu molekul air. Peptide yang terbentuk atas dua asam amino disebut peptida. Sebaliknya, peptide yang terdiri atas tiga, empat, atau lebih asam amino, masing-masing disebut tripeptida, tetrapeptida, dan seterusnya (Devi, 2010).
Protein adalah suatu polipeptida yang memiliki kira-kira 100 sampai 1800 atau lebih residu asam amino. Protein alamiah memiliki 20 jenis asam amino. Untuk setiap protein tertentu, urutan dan jenis-jenis asam amino yang menyusunnya sangat spesifik. Suatu protein yang hanya tersusun atas asam amino dan tidak mengandung gugus kimia lain disebut protein sederhana. Contohnya, enzim ribonuklease dan khimotripsinogen. Namun, banyak protein mengandung bahan lain selain asam amino seperti derivate vitamin, lipid, atau karbohidrat. Protein disebut protein konjugasi. Bagian yang bukan sama amino dari jenis protein ini disebut gugus prostetik. Contohnya, lipoprotein mengandung lipid dan glikoprotein mengandung gula (Devi, 2010).
Berdasarkan struktur molekulnya, protein dapat dibagi menjadi dua golongan utama, yaitu:
1.      Protein globuler, yaitu protein berbentuk bulat atau elips dengan rantai polipeptida yang berlipat. Umunya, protein globuler larut dalam air, asam, basa, atau etanol. Contoh: albumin, globulin, protamin, semua enzim dan antibody.
2.      Protein fiber, yaitu protein berbentuk serat atau serabut dengan rantai polipeptida memanjang pada satu sumbu. Hampir semua protein fiber memberikan peran struktural atau pelindung. Protein fiber tidak larut dalam air, asam, basa, maupun etanol. Contoh: keratin pada rambut, kolagen pada tulang rawan, dan fibroin ada sutera.
Sifat fisikokimia protein berbeda satu sama lain, tergantung pada komposisi dan jenis asam amino penyusunnya. Sebagian besar protein bila dilarutkan dalam air akan membentuk disperse koloidal dan tidak dapat berdifusi bila dilewatkan melalui membran semipermeabel. Beberapa protein mudah larut dalam air, tetapi ada pula yang sukar larut. Namun, semua protein tidak dapat larut dalam pelarut organik seperti eter, klorofom, atau benzene.
Struktur protein terdiri atas empat bagian, yakni primer, sekunder, tersier, dan kuartener.
1.    Struktur primer protein merupakan polimer dari monomer-monomer asam amino yang dihubungkan satu sama lain dengan ikatan peptida. Penentuan struktur primer protein dapat dilakukan dengan cara hidrolisis protein dengan asam kuat kemudian komposisi asam amino ditentukan dengan instrumen amino acid analyzer, penentuan massa molekular dengan spektrometri massa, analisis sekuens dari ujung-N dengan menggunakan degradasi Edman dan, kombinasi dari digesti dengan tripsin dan spektrometri massa (Scholzen dan Gerdes, 2000).
2.    Struktur sekunder protein adalah struktur tiga dimensi lokal dari berbagai rangkaian asam amino pada protein yang distabilkan oleh ikatan hidrogen. Berbagai bentuk struktur sekunder misalnya alpha helix yang berupa pilinan rantai asam-asam amino berbentuk seperti spiral, beta-sheet yang berupa lembaranlembaran lebar yang tersusun dari sejumlah rantai asam amino yang saling terikat melalui ikatan hidrogen atau ikatan tiol, beta-turn, dan gamma-turn. Penentuan struktur sekunder bisa dilakukan dengan spektroskopi circular dichroism (CD) dan Fourier Transform Infra Red (FTIR) (Scholzen dan Gerdes, 2000).
3.    Struktur tersier protein merupakan struktur tiga dimensi yang dibentuk dari gabungan aneka ragam dari struktur sekunder. Struktur tersebut biasanya berupa gumpalan (Scholzen dan Gerdes, 2000).
4.    Struktur kuartener terbentuk dari beberapa molekul protein yang dapat berinteraksi secara fisik tanpa ikatan kovalen membentuk oligomer yang stabil seperti dimer, trimer, atau kuartomer. Contoh struktur kuartener yang terkenal adalah enzim rubisco dan insulin (Scholzen dan Gerdes, 2000).
Gambar struktur protein: (1)struktur primer, (2) struktur sekunder, (3) struktur tersier, dan (4) struktur kuartener.
Fungsi dari protein dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu sebagai bahan struktural dan sebagai mesin yang bekerja pada tingkat molekular. Beberapa protein struktural berfungsi sebagai pelindung contohnya α dan β-keratin yang terdapat pada kulit, rambut, dan kuku. Protein struktural lain ada yang berfungsi sebagai perekat, seperti kolagen.
a.    Asam Amino
-  Pengertian dan Struktur
Asam amino merupakan satuan penyusun protein. Berdasarkan rumus bangunnya asam amino dapat dipandang sebagai turunan karboksilat, yang salah satu hidrogenya diganti oleh gugus amino (-NH3). Protein dapat dipecah kembali menjadi asam amino, yaitu dengan memakai asam, basa, ataupun hidrolisis dengan enzim. Asam amino tergolong amfoter yaitu dapat bereaksi asam atau basa.
Nama asam amino menunjukkan bahwa senyawa ini mempunyai dua gugus fungsi yaitu gugus karboksil yang bersifat asam dan gugus amino yang bersifat basa. Asam- asam amino yang terdapat dalam protein adalah asam α –aminokarboksilat (Fessenden, 1986).
Asam amino tersederhana adalah asam aminoasetat (H2NCH2CO2H) yang disebut glisina (glycine). Glycine tidak memiliki rantai samping sehingga tidak mengandung satu karbon kiral.Asam amino lain memiliki rantai samping, sehingga karbon α-nya bersifat kiral. Asam amino yang berasal dari protein termasuk dalam deret-L, artinya gugus-gugus disekeliling karbon α mempunyai konfigurasi yang sama seperti dalam L-gliseraldehida (Fessenden, 1986).
-  Sifat Fisika Asam Amino
1)      Titik leleh asam amino diatas 2000 C, sedangkan kebanyakan senyawa organik dengan bobot molekul sekitar itu berupa cairan pada temperatur kamar.
2)      Larut dalam air dan pelarut polar lain tetapi tidak larut dalam pelarut nonpolar seperti dietil eter atau benzena.
3)      Momen dipol yang besar
4)      Kurang bersifat asam dibandingkan sebagian besar asam karboksilat
5)      Kurang basa dibandingkan sebagian besar amina.
(Fessenden, 1986).
Sifat-sifat asam amino yang dapat larut dalam air dapat membentuk kristal. Harga konstanta dielekrikum yang tinggi, memiliki netralisasi seperti pada H+ dan OH- dan dalam medan listrik misalnya dengan elektrophoresa tak bergerak dalam kedaan tertentu. Masa asam amino dipercayai memiliki sifat amfoter atau dalam kedaan zwitter ion yang memiliki muatan (+) dan (-) yang seimbang.
Ion zwitter (asam amino)
·         Gugus karboksil melepas ion
·         Gugus amino menerima proton
·         Molekul asam amino dipolar

-  Macam-macam Asam Amino
Terdapat 20 asam amino yang lazim terdapat dalam protein: (Fessenden, 1986).
Menurut Lehninger 1997, tidak semua asam amino yang terdapat dalam molekul protein dapat dibuat didalam tubuh kita. Jadi ditinjau dari segi pembentukannya asam amino dapat dibagi dalam dua golongan yaitu sebagai berikut :
1.    Asam amino esensial (yang tidak dapat dibentuk dalam tubuh). Asam amino yang termasuk dalam kelompok esensial adalah isoleusin, leusin, lisin, metionin, fenilalanin, treonin, triptofan dan valin
2.    Asam amino non esensial (yang dapat dibentuk dalam tubuh dan harus diperoleh dari makanan sumber protein). Asam amino yang termasuk dalam kelompok non esensial adalah arginin, histidin, asam glutamate, asam aspartat, glutamine, prolin, asparagin, alamin,  glisin, serin dan sistein.
Struktur asam amino yang terdapat dalam protein ditemukan dalam bentuk ionik. Warna hitam menunjukkan bagian yang umum pada semua asam amino pada protein (kecuali prolin). Struktur ke-20 asam amino dibagi menjadi 4 golongan, yaitu:
1.    golongan dengan gugus R nonpolar atau hidrofobik
2.    golongan dengan gugus R polar, tetapi tidak bermuatan
3.    golongan dengan gugus R bermuatan negatif
4.    golongan dengan gugus R bermuatan positif. Gugus R di dalam golongan ini merupakan hidrokarbon. Lima asam amino dengan gugus R alifatik (alanin, valin, leusin, isoleusin, dan prolin) dua dengan lingkaran aromatik (fenilalanin dan triptofan, dan satu yang mengandung sulfur (metionin) (Sumardjo, 2006).
Golongan asam amino Mempunyai gugus Polar tidak bermuatan gugus R dari asam amino polar lebih larut dalam air, atau lebih hidrofilik dibandingkan dengan asam amino nonpolar, karena golongan ini mengandung gugus fungsionil yang membentuk ikatan hidrogen dengan air. Golongan ini meliputi glisin, serin, treonin, sistein, tirosin, asparagin, dan glutamin (Sumardjo, 2006).
Golongan asam amino yang mempunyai gugus R yang bermuatan negatif (asam)
golongan asam amino ini mengandung gugus R yang bermuatan total negatif  pada pH 7,0. asam amino ini meliputi asam aspartat danasam glutamat, yang masing-masing memiliki tambahan gugus karboksil (Sumardjo, 2006).
Golongan asam amino yang mempunyai gugus R bermuatan Positif (basa)
Golongan asam amino ini mempunyai gugus R dengan muatan total positif  pada pH 7,0. asam amino ini meliputi lisin, arginin, dan histidin (Sumardjo, 2006).
Reaksi kimia asam amino mencirikan gugus fungsionil yang terkandung. Karena semua asam amino mengandung gugus amino dan karboksil, senyawa ini akan memberikan reaksi kimia yang mencirikan gugus 4 gugus ini. Sebagai contoh, gugus amino dapat memberikan reaksi asetilasi, dan gugus karboksil esterifikasi (Sumardjo, 2006).
b.   Denaturasi dan Renaturasi Protein
Denaturasi adalah perubahan struktur tersier, sekunder, kuartener tanpa mengubah struktur primernya (tanpa memotong ikatan peptide). Proses ini bersifat khusus untuk protein dan mempengaruhi protein yang berlainan dan sampai yang tingkat berbeda pula. Denaturasi dapat terjadi oleh berbagai penyebab yang paling penting adalah bahan, pH, garam, dan pengaruh permukaan. Denaturasi biasanya dibarengi oleh hilangnya aktivitas biologi dan perubahan yang berarti pada beberapa sifat fisika dan fungsi seperti kelarutan (Deman, 1997).
Sebagian besar protein dapat diendapkan dari larutan air dengan penambahan asam tertentu seperti, asam trikloroasetat dan asam perklorat. Penambahan asam ini menyebabkan terbentuknya garam protein yang tidak larut. Zat pengendapan lainnya adalah tungstat, fosfotungstat dan metanofosfat. Protein juga diendapkan dengan kation tertentu seperti Zn2+ dan Pb2+.
Protein dapat mempertahankan kesesuaian bentuknya asalkan lingkungan fisik dan kimianya dipertahankan. Jika lingkungan berubah maka protein dapat terurai atau mengalami perubahan sifat (denaturasi), mereka dapat kehilangan struktur sekunder, tersier, dan kuarternya sehingga aktivitas biologisnya juga hilang.
1)      Kesesuaian bentuk protein bergantung pada ikatan hidrogen, yang lemah dan sangat sensitif terhadap perubahan pH dan suhu.
2)      Paparan singkat pada suhu yang tinggi (diatas 60oC) atau paparan pada asam atau basa kuat dalam periode waktu yang lama akan menyebabkan denaturasi karena ikatan hidrogen ruptur
a)      Sebagian protein dapat dikembalikan kebentuk aslinya, jika terdenaturasi tanpa harus menjadi insoluble
b)      Perbedaan panas yang besar dapat menyebabkan denaturasi yang menetap. Putih telur akan memadat dan menjadi insoluble jika dipanaskan.
Pemeriksaan protein umumnya berdasarkan reaksi warna. Reaksi ini adalah reaksi-reaksi khas protein yang berdasarkan ikatan peptide maupun adanya sifat-sifat tertentu dari asam amino yang dikandungnya. Beberapa reaksi-reaksi khusus protein yaitu:
1.    Reaksi Xantoprotein
Larutan asam nitrat pekat ditambahkan dengan hati-hati ke dalam larutan protein. Setelah dicampur terjadi endapan putih yang dapat berubah menjadi kuning apabila dipanaskan. Reaksi yang terjadi ialah nitrasi pada inti benzena yang terdapat pada molekul protein. Reaksi ini positif untuk protein yang mengandung tirosin,fenilalanin dan triptofan (Whitford, 2005).
2.    Reaksi Hopkins-Cole
Larutan protein yang mengandung triptofan dapat direaksikan dengan pereaksi Hopkins-Cole yang mengandung asam glioksilat. Pereaksi ini dibuat dari asam oksalat dengan serbuk magnesium dalam air. Setelah dicampur dengan pereaksi Hopkins-Cole, asam sulfat dituangkan perlahan-lahan sehingga membentuk lapisan di bawah larutan protein. Beberapa saat kemudian akan terjadi cincin ungu pada batas antara kedua lapisan tersebut (Whitford, 2005).
3.    Reaksi Millon
Pereaksi Millon adalah larutan merkuro dan merkuri nitrat dalam asam nitrat. Apabila pereaksi ini ditambahkan pada larutan protein, akan menghasilkan endapan putih yang dapat berubah menjadi merah oleh pemanasan. Pada dasarnya reaksi ini positif untuk fenol-fenol, karena terbentuknya senyawa merkuri dengan gugus hidroksifenil yang berwarna (Whitford, 2005).
4.    Reaksi Natriumnitroprusida
Natriumnitroprusida dalam larutan amoniak akan menghasilkan warna merah dengan protein yang mempunyai gugus -SH bebas. Jadi protein yang mengandung sistein dapat memberikan hasil positif (Yuwono, 2010).
5.    Reaksi Ninhidrin
Reaksi ninhidrin dapat dipakai untuk penentuan kuantitatif asam amino.Dengan memanaskan campuran asam amino dan ninhidrin, terjadilah larutan berwarna ungu yang identitasnya dapat ditentukan dengan cara spektrometri. Semua asam amino dan peptide yang mengandung gugus α amino bebas memberikan reaksi ninhidrin yang positif. Prolin dan hidroksiprolin yang gugus aminonya tersubtitusi, memberikan hasil reaksi lain yang berwarna kuning (Yuwono, 2010).

6.    Biuret
Biuret merupakan salah satu larutan yang digunakan untuk uji protein. Larutan ini merupakan campuran antara ion kupri sulfat yang dimasukkan dalam suasana basa, contohnya CuSO4.5H2O yang dimasukkan atau dicampur dengan NaOH. Larutan ini digunakan untuk mendeteksi protein dalam jumlah besar yang ditandai dengan adanya perubahan warna. Jika suatu sampel yang diuji mengandung lebih dari 2 ikatan peptida maka akan muncul warna ungu. Warna ini muncul karena terbentuknya ikatan koordinasi kompleks antara atom Cu dengan 4 atom nitrogen yang berasal dari ikatan peptida.
Selain penggunaan uji biuret, cara yang dapat digunakan untuk deteksi protein dalam organisme ialah menggunakan uji ninhidrin. Ninhidrin merupakan reagen pengoksidasi yang cukup kuat. Ninhidrin akan bereaksi dengan semua asam amino pada pH 4-8 sehingga terbentuk senyawa berwarna ungu. Reaksi ini merupakan reaksi yang sangat sensitif dan sesuai untuk penentuan asam amino secara kualitatif. Sehingga reagen ini dapat digunakan untuk mendeteksi ada atau tidaknya protein dalam suatu sampel.

F.       Alat Dan Bahan 
      -  Alat
1.      Tabung reaksi                                20 buah
2.      Gelas kimia 100 mL                      3 buah
3.      Gelas ukur 10 mL                         3 buah
4.      Kaki tiga                                       1 buah
5.      Kasa                                              1 buah
6.      Pembakar spirtus                           1 buah
7.      Penjepit kayu                                1 buah
8.      Pipet tetes                                     secukupnya
      - Bahan
1.      Susu sapi murni                             secukupnya
2.      Telur ayam horen                          secukupnya
3.      CH3COOH 1 N                            secukupnya
4.      (NH4)2SO4 \                                               secukupnya
5.      Formaldehid                                  secukupnya
6.      Aquades                                        secukupnya
7.      ZnSO4                                                         secukupnya
8.      PbSO4                                           secukupnya
9.      CuSO4                                           secukupnya
10.  FeSO4                                                          secukupnya
11.  NaNO3                                          secukupnya
12.  H2SO4 pekat                                  secukupnya
13.  NaOH                                           secukupnya
14.  Indikator pp                                  secukupnya
15.  Indikatror kongo                           secukupnya
16.  Indikator universal                        secukupnya
17.  HNO3 pekat                                  secukupnya
18.  HCl pekat                                      secukupnya
19.  NH4OH                                         secukupnya
20.  Larutan ninhidrin                          secukupnya
21.  Pb asetat                                        secukupnya

G.      Alur Percobaan
1. Denaturasi Protein
a. Denaturasi karena penambahan asam asetat






c.       Denaturasi karena pemanasan



















c.       Denaturasi karena penambahan formaldehid

                  




    2.      Sifat Amfoter Protein
a.       Uji Keasaman






b.      Uji Kebasaan
-          Larutan blanko



-          Larutan protein







        3. Pengendapan Protein
a.    Pengendapan protein dengan ammonium sulfat


 









b.      Pengendapan protein dengan asam mineral
1.    Uji HNO3 pekat                            2. Uji HCl pekat
                                                            














c.       Pengendapan protein dengan logam berat
1.    Uji dengan CuSO4                                 2. Uji dengan ZnSO4







 










3. Uji dengan PbSO4                                             4. Uji dengan FeSO4












5.    Uji dengan HgSO4








     4. Reaksi Warna Protein

a.    Reaksi Biuret                                                         

b.    Reaksi Ksanthoprotein


 








c.    Reaksi ninhidrin


 







d.      Reaksi millon







Terbentuk endapan kuning
 



Endapan/larutan berwarna merah
 
 







e.       Reaksi Hopkin-Cole






  5. Hidrolisis Protein dan Test Adanya Belerang


 








I.     Analisis Dan Pembahasan
Pada percobaan kali ini yaitu “Mempelajari Sifat-Sifat dan Reaksi Warna dari Protein”. Tujuan dari percobaan ini adalah membedakan sifat kelarutan protein secara reversible dan irreversibel, membedakan reaksi denaturasi protein yang disebabkan oleh asam, garam, dan garam lain dari logam berat, serta pemanasan berdasarkan pengamatan, memahami penyebab terjadinya pengendapan pada protein, dan mengidentifikasi adanya protein melalui reaksi warna.
Protein adalah sumber asam-asam amino yang mengandung unsur-unsur C,H,O dan N yang tidak berpasangan. Atom N pada rantai peptida bermuatan negatif sehingga mampu menarik atom H dari air yang bermuatan positif. Molekul air yang telah terikat tersebut dapat berikatan dengan molekul air yang lain, karena memiliki sebuah atom O dengan elektron yang tidak berpasangan
Molekul protein tersusun atas satuan-satuan asam amino yang berikatan melalui ikatan peptida yang terbentuk akibat penggabungan molekul asam amino (monopeptida) dengan mengeluarkan molekul air (polimerisasi kondensasi). Struktur protein sebagai berikut:
Molekul protein juga mengandung fosfor, belerang dan ada jenis protein yang mengandung unsur logam seperti besi dan tembaga.
Pada percobaan ini digunakan dua sampel untuk mempelajari sifat dan reaksi warna dari protein, yaitu telur ayam horn dan susu sapi murni. Percobaan yang dilakukan terdiri dari 5 percobaan meliputi denaturasi protein, sifat amfoter protein, pengendapan protein, reaksi warna protein, dan hidrolisis protein.
Langkah pertama dalam percobaan ini yaitu pembuatan larutan protein, larutan protein telur yang kami uji adalah dari telur horen. Dilakukan 2 kali pengenceran terhadap putih telur, yang pertama dilakukan pengenceran dengan perbandingan volume putih telur dan air adalah 1:2 sebanyak 25 ml putih telur  dan 50 ml air, yang kedua dilakukan pengenceran dengan perbandingan volume putih telur dan air adalah 1:3 sebanyak 15 ml putih telur dan 45 ml air. Pengenceran ini dilakukan agar pengujian pada sampel lebih mudah diamati. Sedangkan larutan protein dari susu dapat langsung diambil dari 50 ml susu sapi murni yang masih segar. Selanjutnya dilakukan 5 kali percobaan sesuai dengan tujuan praktikum ini.

1.    Denaturasi pretein
Denaturasi protein merupakan suatu proses dimana terjadi perubahan atau modifikasi terhadap konformasi protein, lebih tepatnya terjadi pada struktur tersier maupun kuartener dari protein. Pada struktur tersier protein misalnya, terdapat empat jenis interaksi pada rantai samping seperti ikatan hidrogen, jembatan garam, ikatan disulfida, interaksi non polar pada bagian non hidrofobik.
Jika protein dalam sel hidup didenaturasi, maka dapat menyebabkan gangguan terhadap aktivitas sel dan kemungkinan kematian sel. protein didenaturasi dapat menunjukkan berbagai karakteristik, dari hilangnya kelarutan untuk agregasi komunal. agregasi Komunal adalah fenomena agregasi protein hidrofobik untuk datang mendekat dan membentuk ikatan antara mereka, sehingga mengurangi luas areal terkena air.
Uji denaturasi protein berfungsi untuk menguji adanya kandungan protein yang terkandung dari larutan albumin dan larutan putih telur 1% sampai 5%, dimana terjadi perubahan struktur protein yang menyimpang dari struktur alamiahnya yang mengakibatkan  hilangnya sifat biologis dari suatu  protein.

a.    Denaturasi protein ketika penambahan asam asetat
Percobaan ini digunakan untuk mempelajari salah satu sifat protein, protein dapat mengalami denaturasi akibat penambahan asam, salah satunya adalah asam asetat. Penambahan asam dapat mengacaukan jembatan garam dengan adanya muatan ionik yang terdapat pada protein sehingga jembatan garam menjadi kacau dan protein dapat dikatakan terdenaturasi.
Langkah pertama ialah menyiapkan sampel larutan protein telur dan susu sebanyak 5 ml dan dimasukkan kedalam dua tabung reaksi A dan B, kemudian ditambah 2 tetes asam asetat 1N dan dikocok agar laruta menjadi homogen. Penambahan asam asetat pada larutan protein menyebabkan terjadinya pH pada larutan protein. Menurut (Fessenden & Fessenden, 1986), perubahan pH juga dapat mengakibatkan  denaturasi. Denaturasi protein ini umumnya bersifat irreversible.
Pengendapan protein oleh asam asetat terjadi cukup cepat karena adanya panas. Pertama-tama terjadi presipitasi yaitu pembentukan presipitat atau partikel kecil yang melayang-layang dalam larutan dan dapat mengendap dalam waktu singkat (Suwedo, 1994). Presipitat tersebut akan saling tergabung membentuk agregat (partikel yang lebih besar) dari presipitat tapi belum mengendap. Jika jumlah agregat terus bertambah maka akan saling membentuk endapan. Adanya ion H+ menyebabkan sebagian jembatan atau ikatan peptida terputus. Dalam suasana asam, ion H+ akan bereaksi dengan gugus COO membentuk COOH sedangkan sisanya (asam) akan berikatan dengan gugus amino NH2 membentuk NH3+, sehingga apabila larutan peptida dalam keadaan isoelektris diberi asam akan menyebabkan bertambahnya gugus bermuatan yang membentuk afinitas terhadap air dan kelarutan dalam air (Triyono, 2010).
Setelah penambahan  asam asetat 1 N pada larutan telur dan susu timbul endapan putih dan larutan putih keruh yang menunjukkan bahwa endapan pada larutan protein telur masih  bersifat sebagai protein (albumin), dan endapan pada larutan protein susu masih bersifat sebagai protein (triptofan,kasein). Akibat dari timbulnya endapan tersebut maka telah terjadi perubahan struktur  tersier ataupun kwartener menjadi primer. Perubahan struktur yang diakibatkan proses denaturasi ini adalah perubahan konfigurasi protein dari bentuk -heliks menjadi memanjang. Kerusakan struktur itu menyebabkan wujud protein dari yang semula larut, berubah menjadi endapan.
Berikut ini adalah gambar illustrasi dari bentuk struktur primer,sekunder, tersier, dan kuartener serta proses denaturasi protein:

Related image
Gambar 1.1. bentuk struktur primer, sekunder, tersier dan kuartener

Related image

Gambar 1.2. illustrasi denaturasi protein
Kemudian langkah selanjutnya kedua tabung reaksi dipanaskan didalam penangas air selama 5 menit dan endapan semakin banyak, karena pemanasan dapat mempercepat proses denaturasi sehingga kemampuan mengikat  airnya menurun. Hal ini terjadi karena energi panas akan mengakibatkan  terputusnya interaksi non-kovalen yang ada pada struktur alami protein tetapi  tidak memutuskan ikatan kovalennya yang berupa   ikatan peptida. Berikut reaksinya:

b.   Denaturasi karena pemanasan
Percobaan ini dilakukan untuk mempelajari salah satu sifat protein, yaitu protein dapat mengalami denaturasi akibat perubahan temperatur.
Langkah pertama ialah memasukkan 2-3 ml larutan protein telur dan susu kedalam dua tabung reaksi A dan B kemudian dipanaskan selama 1 menit. Pemanasan pada larutan protein menyebabkan terjadinya perubahan temperatur pada larutan protein yang dapat menyebabkan denaturasi. Setelah pemanasan, pada larutan protein susu terbentuk endapan, dan pada larutan protein telur dihasilkan larutan keruh dan terbentuk endapan. Terbentuknya endapan ini menandakan bahwa protein telah terdenaturasi, terjadi perubahan konfigurasi protein dari bentuk -heliks menjadi memanjang.
Setelah itu larutan didinginkan kemudian kedua larutan masing-masing dibagi menjadi 2 bagian dengan perbandingan volume yang sama. Pada bagian A1 dan B1 ditambahkan 1-2 tetes larutan (NH4)2SO4 kemudian dipanaskan dan terbentuk endapan dan keruh pada larutan protein telur, pada bagian A2 dan B2 hanya dilakukan pemanasan saja dan terbentuk endapan serta keruh pada larutan protein telur. Perbandingan uji coba  dari pelakuan pertama dan kedua adalah endapan yang dibentuk lebih banyak pada perlakuan pertama yaitu dengan penambahan (NH4)2SO4 daripada perlakuan kedua tanpa penambahan (NH4)2SO4. Penambahan garam (NH4)2SO4 menyebabkan terjadinya dehidrasi protein (kehilangan air), sehingga protein terendapkan dan hasil akhir endapan  lebih banyak dibandingkan tabung reaksi tanpa penambahan (NH4)2SO4.

c.    Denaturasi karena penambahan formaldehid
Percobaan ini dilakukan untuk mempelajari salah satu sifat protein, yaitu protein dapat mengalami denaturasi akibat penambahan senyawa kimia, yaitu formaldehid.
Langkah pertama yaitu 1-15 ml formaldehid dimasukkan kedalam dua tabung reaksi, yaitu taubung reaksi A dan B, kemudian ditambahkan larutan protein telur dan susu kedalam masing-masing tabung reaksi. Penambahan formaldehid akan mendenaturasi protein dikarenakan terbentuknaya derivat asama amino dimetil akibat adanya reaksi antara formaldehid dengan gugus amin pada protein. Jumlah endapan menunjukkan kuantitas protein yang terdenaturasi.
Formaldehid adalah gas yang larut dalam air dengan volume 40% dari total berat larutan. Formalin terdapat dalam bentuk polimer dari formaldehyde. Bentuk ini tak dapat digunakan untuk fiksasi yang dapat digunakan adalah bentuk monomernya. Selain itu formalin bersifat asam karena mengandung asam formiat akibat oksidasi formaldehyde. Formaldehyde jika bereaksi dengan protein akan membentuk hubungan diantara rangkaian-rangkaian protein yang berdekatan, sehingga dapat mempertahankan protein terhadap degradasi dan denaturasi (Zulham, 2009).
Dari ketiga percobaan denaturasi dapat disimpulkan bahwa Denaturasi protein atau dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu akibat penambahan senyawa kimia seperti formaldehid, perubahan suhu, serta penambahan asam (perubahan pH). Kerusakan protein dapat diidentifikasi dengan adanya endapan yang dihasilkan.

2.    Sifat amfoter protein
Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui sifat amfoter dari protein (dapat bersifat basa maupun asam), dengan mereaksikan dengan larutan asam dan larutan basa.
Adanya gugus amino dan karboksil bebas pada ujung-ujung rantai molekul protein, menyebabkan protein mempunyai banyak muatan (polielektrolit) dan bersifat amfoter (dapat bereaksi dengan asam maupun dengan basa). Sifat ini  timbul karena adanya gugus amino (-NH2) yang bersifat basa dan gugus karboksil (-COOH) yang bersifat asam yang terdapat pada molekul protein pada ujung-ujung rantainya, maka dengan larutan asam atau pH rendah, gugus amino pada protein akan bereaksi dengan ion H+, sehingga protein bermuatan positif. Sebaliknya dalam larutan  basa gugus karboksilat bereaksi dengan ion OH, sehingga protein bersifat negatif.



a.    Uji keasaman
Langkah pertama ialah 3 ml aquades dimasukkan kedalam dua tabung reaksi A dan B, kemudian ditambahkan 1 tetes HCl 1 N dan ditambah indikator kongo dan larutan berubah warna menjadi biru. Penambahan HCl dapat mempengaruhi kesetimbangan, yaitu dengan cara asam-basa bergeser sedemikian sehingga HCl sebagai pemberi suasana asam. Indikator kongo atau indikator merah kongo memiliki nama kimia Asam difenil-bis-azo α-naftilamina-4-sulfonat yang dalam larutan asam akan berwarna ungu dan dalam larutan basa akan berwarna merah dengan trayek pH 3.0 – 5.0 (Vogel, 1979). Didapatkan hasil larutan yang berwarna ungu yang menunjukkan bahwa larutan tersebut bersifat asam.
Kelarutan protein akan meningkat jika diberi perlakuan asam yang berlebih, hal ini terjadi karena ion positif pada asam yang menyebabkan protein yang semula bemuatan netral atau nol menjadi bermuatan positif yang menyebabkan kelarutannya bertambah. Semakin jauh derajat keasaman larutan protein dari titik isoelektrisnya, maka kelarutannya akan semakin bertambah (Triyono, 2010).
Setelah itu ditambahkan 2-3 ml larutan protein telur dan susu kedalam tabung A dan B. Terjadi perubahan warna dan terbentuk endapan berwarna merah pada larutan protein telur dan perubahan warna menjadi merah pada larutan protein susu. Perubahan warna ini menandakan berubahnya pH larutan yang semula asam menjadi basa. Hal ini disebabkan karena asam amino dalam protein mengikat H+ dari HCl sehingga bentuk ion dipol asam amino yang semula berbentuk ion dipol yang memiliki sifat netral sifatnya berubah menjadi basa yang ditandai dengan terbentuknya warna merah pada tabung reaksi. Reaksi yang terjadi yaitu :
Pada reaksi diatas suatu asam amino mengandung ion karboksilat (COO-) maupun suatu ion ammonium (-NH3+) dalam sebuah molekul. Oleh karena itu asam amino bersifat amfoter yang dapat bereaksi dengan asam maupun basa, dalam asam dapat menghasilkan suatu kation. Dari hasil percobaan ini dibuktikan bahwa protein dapat bereaksi dengan asam, atau dapat dikatakan bahwa ia berperan sebagai basa dalam suasana asam (Fessenden & Fessenden 1986).

b.   Uji dalam suasana basa
Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui sifat amfoter dari protein (dapat bersifat basa maupun asam), dengan mereaksikan dengan larutan asam dan larutan basa.
Langkah pertama dalam percobaan ini ialah dengan membuat larutan blanko terlebih dahulu pada tabung I, dengan cara 3 ml NaOH dimasukkan kedalam tabung reaksi dan ditambah indikator pp. Larutan blanko digunakan sebagai pembanding dari hasil reaksi uji emfoter protein dalam suasana basa yang menghasilkan larutan berwarna merah.
Selanjutnya pada tabung reaksi IIA dan IIB dimasukkan larutan protein telur dan susu, kemudian ditambahkan larutan NaOH 0,1 M dan ditambah indikator pp. Indikator fenolftalein dalam larutan asam akan tidak berwarna dan dalam larutan basa akan berwarna merah muda dengan trayek pH 8.3 – 10.0 (Vogel, 1979). Setelah penambahan indikator fenolftalein terjadi perubahan warna dari jernih tidak berwarna menjadi merah muda yang menunjukkan larutan NaOH memiliki sifat basa karena indikator PP akan berwarna merah muda pada suasana basa. Hal ini juga disebabkan karena asam amino dalam protein mengikat OH- dari NaOH sehingga bentuk ion dipol asam amino yang semula berbentuk ion dipol yang memiliki sifat netral sifatnya berubah menjadi asam yang ditandai dengan hilangnya warna merah muda pada tabung reaksi. Reaksi yang terjadi yaitu:
Pada reaksi diatas suatu asam amino mengandung ion karboksilat (COO-) maupun suatu ion ammonium (-NH3+) dalam sebuah molekul. Oleh karena itu asam amino bersifat amfoter yang dapat bereaksi dengan asam maupun basa, dalam basa dapat menghasilkan suatu anion. Dari hasil percobaan ini dibuktikan bahwa protein dapat bereaksi dengan basa, atau dapat dikatakan bahwa ia berperan sebagai asam dalam suasana basa (Fessenden & Fessenden, 1986).

3.    Pengendapan protein
Pada percobaan pengendapan ini bertujuan untuk mengetahui reaksi yang reversibel dan irreversibel. Ada beberapa Uji pengendapan protein yang sering digunakan dalam uji kandungan protein yaitu pertama uji Pengendapan dengan Logam, pada pH di atas titik isoelektrik protein bermuatan negative, sedangkan di bawah titik isoelektrik protein bermuatan positif. Olehkarena itu untuk mengendapkan protein dengan ion logam diperlukan pH larutan di atas titik isoelektrik, sedangkan untuk pengendapan protein dengan ion negative memerlukan pH larutan di bawah titik isoelektrik.
Pengendapan protein pada percobaan ini yaitu pengendapan dengan  (NH4)2SO4,  dengan asam mineral (HNO3 pekat dan HCl pekat),  dengan logam berat (CuSO4, Pb-asetat, ZnSO4, FeSO4, dan HgSO4).

a.      Pengendapan protein dengan ammonium sulfat
Pada percobaan ini bertujuan unuk membuktikan bahwa protein dapat diendapkan dengan penambahan ammonium sulfat. Prinsip dari percobaan ini adalah dehidrasi protein (kehilangan air pada molekul protein), ketika protein kehilangan air maka protein dengan kelarutan terendah akan mengendap.
Langkah pertama ialah memasukkan 3-4 ml larutan protein telur dan susu di masukkan kedalam dua tabung reaksi A dan B, ditambah 3-4 ml larutan jenuh ammonium sulfat dan terbentuk endapan putih. Penambahan garam ammonium sulfat dapat mengikat molekul air dan terjadi kompetisi pengikatan air antara protein dan ammonium sulfat. Ammonium sulfat dapat menurunkan jumlah air yang diikat oleh protein karena air cenderung berikatan dengan ammonium sulfat. Sehingga ketika protein mengalami dehidrasi atau kehilangan molekul air, protein yang memiliki tingkat kelarutan terendah dan akan mengendap yang ditunjukkan dengan larutan yang mengkeruh atau terbentuknya endapan pada kedua tabung reaksi.
Setelah itu sebanyak 1 ml larutan protein dipindahkan kedalam tabung reaksi dan ditambah 2-3 ml aquades, hasilnya adalah endapan larut. Protein yang diendapkan dengan cara ini tidak mengalami perubahan kimia sehingga dapat dengan mudah dilarutkan kembali melalui penambahan air, dan pengendapan cara ini bersifat reversible.

b.      Uji HNO3 pekat dan HCl pekat
Percobaan ini bertujuan untuk membuktikan bahwa protein dapat diendapkan dengan penambahan asam mineral. Prinsip dari percobaan ini adalah terbentuknya senyawa garam dari reaksi asam mineral pekat dengan gugus amino protein. Asam mineral pekat yang digunakan pada percobaan ini adalah HNO3 pekat dan HCl pekat.
Pada uji HNO3 pekat, langkah pertama pada percobaan ini ialah 1 ml HNO3 pekat dimasukkan kedalam dua tabung reaksi A dan B, ditambahkan 1-1,5 ml larutan protein telur dan susu melewati dinding tabung kemudian didiamkan dan terbentuk endapan cincin putih pada kedua tabung yang disebabkan oleh reaksi asam dengan gugus amino pada protein. Penambahan asam nitrat menghasilkan endapan yang bersifat irreversible. Berikut ini adalah reaksinya:
Setelah itu kedua tabung reaksi dikocok dan ditambahkan larutan HNO3 pekat berlebih. Penambahan asam  nitrat berlebih menghasilkan endapan yang bersifat irreversible, dibuktikan dengan semakin banyaknya endapan yang terbentuk pada larutan protein telur dan susu.
Pada uji HCl pekat, langkah pertama pada percobaan ini ialah 1 ml HCl pekat dimasukkan kedalam dua tabung reaksi A dan B, ditambahkan 1-1,5 ml larutan protein telur dan susu melewati dinding tabung kemudia didiamkan dan terbentuk endapan cincin putih pada kedua tabung. Terbentuknya endapan ini disebabkan oleh reaksi asam dengan gugus amino pada protein. Penambahan larutan HCl menghasilkan endapan yang bersifat irreversible. Berikut ini adalah reaksinya:
Setelah itu kedua tabung reaksi dikocok dan ditambahkan larutan HCl pekat berlebih. Penambahan asam klorida berlebih menyebabkan endapan larut kembali, larutan menjadi agak jernih. Sehingga penambahan asam klorida menghasilkan endapan yang bersifat reversible.
Dari percobaan tersebut menunjukkan bahwa protein yang ditambahkan dengan asam nitrat menghasilkan endapan yang bersifat irreversibel, sedangkan protein yang ditambahkan dengan asam klorida menghasilkan endapan yang bersifat reversible.

c.       Pengendapan protein dengan penambahan  logam berat
Pada percobaan ini bertujuan untuk membuktikan bahwa protein dapat diendapkan oleh logam berat. Dasar reaksi pengendapan oleh logam berat adalah penetralan muatan. Pengendapan dapat terjadi apabila protein berada dalam bentuk isoelektrik yang bermuatan negatif. Dengan adanya muatan positif dari logam berat akan terjadi reaksi netralisasi dari protein dan dihasilkan garam netral proteinat yang mengendap. Reaksi ini merupakan reaksi yang reversibel.
Pada percobaan ini akan dilakukan pengujian dengan lima macam logam berat dimana logam berat tersebut dalam larutan airnya. Untuk pengujian ini digunakan CuSO4, Pb(CH3COO)2, ZnSO4, FeSO4, dan HgSO4.

·      Pengujian dengan logam Cu sebagai CuSO4
Langkah pertama pada percobaan ini ialah 1-1,5 ml larutan protein telur dan susu dimasukkan kedalam dua tabung reaksi A dan B, kemudian ditambahkan larutan CuSO4 berwarna biru dan dikocok terbentuk endapan berwarna biru. Adanya endapan biru tersebut menandakan bahwa terjadi reaksi netralisasi antara ion logam berat Cu2+ dengan protein dengan mengikat dua isoelektrik negatif, sehingga pada reaksi ini dihasilkan garam netral proteinat. Berikut ini adalah persamaan reaksinya:
Setelah itu ditambahkan lagi larutan CuSO4 berlebih dan endapan larut. Melarutnya kembali endapan garam proteinat ini menunjukkan bahwa pengendapan protein dengan logam berat ini bersifat reversibel akibat adanya reaksi kesetimbangan yang bergeser ke arah kanan.

·      Pengujian logam Pb Pb sebagai Pb(CH3COO)2
Langkah pertama pada percobaan ini ialah 1-1,5 ml larutan protein telur dan susu dimasukkan kedalam dua tabung reaksi A dan B, kemudian ditambahkan larutan Pb asetat dan dikocok terbentuk endapan berwarna putih. Adanya endapan putih tersebut menandakan bahwa terjadi reaksi netralisasi antara ion logam berat Pb2+ dengan protein dengan mengikat dua isoelektrik negatif, sehingga pada reaksi ini dihasilkan garam netral proteinat. Berikut ini adalah persamaan reaksinya:
 Setelah itu ditambahkan lagi larutan Pb asetat berlebih dan endapan larut. Melarutnya kembali endapan garam proteinat ini menunjukkan bahwa pengendapan protein dengan logam berat ini bersifat reversibel akibat adanya reaksi kesetimbangan yang bergeser ke arah kanan.

·      Pengujian dengan logam Zn sebagai ZnSO4
Langkah pertama pada percobaan ini ialah 1-1,5 ml larutan protein telur dan susu dimasukkan kedalam dua tabung reaksi A dan B, kemudian ditambahkan larutan ZnSO4 dan dikocok terbentuk endapan berwarna putih. Adanya endapan putih tersebut menandakan bahwa terjadi reaksi netralisasi antara ion logam berat Zn2+ dengan protein dengan mengikat dua isoelektrik negatif, sehingga pada reaksi ini dihasilkan garam netral proteinat. Berikut ini adalah persamaan reaksinya:
         Setelah itu ditambahkan lagi larutan ZnSO4 berlebih dan endapan larut. Melarutnya kembali endapan garam proteinat ini menunjukkan bahwa pengendapan protein dengan logam berat ini bersifat reversibel akibat adanya reaksi kesetimbangan yang bergeser ke arah kanan.

·      Pengujian dengan logam Fe sebagai FeSO4
Langkah pertama pada percobaan ini ialah 1-1,5 ml larutan protein telur dan susu dimasukkan kedalam dua tabung reaksi A dan B, kemudian ditambahkan larutan FeSO4 berwarna kuning kecoklatan dan dikocok terbentuk endapan keruh pada larutan protein susu dan berwarna kecoklatan jernih dan endapan putih pada larutan protein telur. Adanya endapan tersebut menandakan bahwa terjadi reaksi netralisasi antara ion logam berat Fe2+ dengan protein dengan mengikat dua isoelektrik negatif, sehingga pada reaksi ini dihasilkan garam netral proteinat. Berikut ini adalah persamaan reaksinya:
Setelah itu ditambahkan lagi larutan FeSO4 berlebih dan endapan larut. Melarutnya kembali endapan garam proteinat ini menunjukkan bahwa pengendapan protein dengan logam berat ini bersifat reversibel akibat adanya reaksi kesetimbangan yang bergeser ke arah kanan.
Garam logam berat seperti Cu, Zn, dan Fe  akan membentuk endapan logam proteinat. Ikatan yang terbentuk sangat kuat dan dapat memutuskan ikatan peptida, sehingga protein mengalami denaturasi. Secara bersama gugus –COOH dan gugus –NH2 yang terdapat dalam protein dapat bereaksi dengan ion logam berat dan membentuk senyawa kelat. Denaturasi akibat campuran logam berat pada protein terjadi karena ikatan sulfur pada protein tertarik oleh ikatan logam berat, sehingga proses denaturasi terjadi dengan adanya perubahan struktur kandungan senyawa pada protein tersebut saat ion pada protein bereaksi dengan ion logam berat yang tercampur didalamnya. Adanya perbedaan warna pada endapan yang dihasilkan berasal dari warna logam berat yang ditambahkan.
Berikut ini adalah reaksi dari logam berat:
4.    Reaksi warna protein
Percobaan ini digunakan untuk mempelajari reaksi warna protein. Percobaan ini terdiri dari 5 percobaan yaitu reaksi biuret, reaksi ksanthoprotein, reaksi nihidrin, reaksi millon, dan reaksi hopkin-cole.
a.    Reaksi biuret
Uji biuret didasarkan pada reaksi antara ion Cu2+ dan ikatan peptida dalam suasana basa. Uji ini untuk mendeteksi ada tidaknya ikatan peptida yang membentuk suatu protein.
Langkah pertama dalam percobaan ini ialah 3 ml larutan protein telur dan susu dimasukkan kedalam tabung reaksi A dan B, kemudian ditambahkan 1 ml NaOH 40% dan ditambah CuSO4 0,5% terbentuk larutan berwarna ungu. Fungsi penambahan 1 mL NaOH 40% ini berfungsi untuk membuat suasana basa.
Reaksi positif pada perubahan warna menjadi ungu akibat adanya penambahan CuSO4 akibat tejadinya pensenyawaan antara Cu dan N dari ikatan polipeptida atau ikatan-ikatan peptida yang menyusun protein. Pengjian protein selalu dilakukan pada kondisi alkasi/basa karena dalam suasana basa CuSO4 bereaksi dengan senyawa yang mengandung dua atau lebih ikatan peptida membentuk kompleks berwarna ungu. Protein melarutkan hidroksida tembaga untuk membenuk kompleks warna.
Pada warna merah muda atau merah jambu terbentuk apabila larutan protein yang diselidiki mempunyai molekul yang kecil, miaslnya preteosa dan pepton. Larutan violet terbentuk apabilalarutan protein yang diselidiki memiliki molekul yang besar, misalnya gelatin.
Reaksi biuret positif untuk semua jenis protein dan hasil antara hidrolisisnya jika masih mempunyai dua atau lebih iakatan peptida, dan negativ untuk asam amino. Sehingga dapat disimpulkan ketika protein susu dan telur diuji dengan biuret akan menghasilkan uji positif. Reaksinya adalah sebagai berikut:

b.   Reaksi Xanthoprotein
Langkah percobaan ini ialah 3 ml larutan protein telur dan susu dimauskkan kedalam tabung reaksi A dan B, kemudian ditambahkan 1 ml HNO3 pekat membentuk gumpalan warna putih, karena adanya protein yang mengandung residu asam amino dengan radikal fenil dalam struktur kimia (protein yang mengandung asam amino fenilalanin atau tirosin). Larutan kemudian dipanaskan, terbentuk larutan berwarna kuning. Kedua tabung reaksi kemudian didinginkan dan ditambah larutan amonia hingga berwarna jingga. Berikut ini adalah persamaan reaksinya:
Uji positif pada reaksi ini ditandai dengan terbentuknya larutan berwarna jingg yang berasal dari senyawa polinitrobenzena hasil reaksi nitrasi cincin benzena dalam asam amino. Pada penambahan senyawa alkali warna kuning akan hilang dan berubah menjadi jingga disebabkan sifat keasaman fenol bereaksi dengan alkali. Warna jingga ini apabila diasamkan akan berubah kembali menjadi kuning. Struktur dari tirosin, fenil alanin.
Dari percobaan ini dapat diidentifikasi bahwa antara protein telur dan susu memberikan reaksi positif mengandung asam amino dengan inti benzene seperti  fenilalanin, tirosin, albumin, triptofan dan lain sebagainya yang ditandai dengan terbentuknya endapan kuning.

c.    Uji dengan ninhidrin
Ninhidrin adalah suatu reagen yang berguna untuk mendeteksi asam amino dan menetapkan konsentrasinya dalam larutan. Senyawa ini merupakan hidrat dari triketon siklik, dan bila bereaksi dengan asam amino menghasilkan zat berwarna ungu.
Langkah pertama dalam percobaan ini ialah mengatur pH larutan protein pada telur dan susu, kemudian diambil 1 ml dan dimasukkan kedalam dua tabung reaksi A dan B, setelah itu ditambah 10 tetes larutan ninhidrin dan dipanaskan. Pemanasan dengan ninhidrin berlebih menghasilkan produk berwarna biru pada semua asam amino yang memiliki gugus α-amino bebas, sedangkan produk yang dihasilkan oleh prolin berwarna kuning, karena pada molekul ini terjadi substitusi gugus α-amino. Warna biru menunjukkan bahwa uji ninhidrin positif, karena pada asam amino terdapat gugus karboksil yang dapat dilepaskan atau tereduksi akan bereaksi dengan NH3 dengan proses dekarboksilasi dan menghasilkan suatu amina. Gugus amino pada asam amino dapat bereaksi dengan asam nitrit dan melepaskan gas nitrogen.

d.   Uji dengan larutan millon
Reaksi millon digunakan untuk protein yang mengandung asam amino dengan radikal hidroksi fenil sebagai penyusunnya. Sehingga reaksi ini khusus untuk protein yang struktur kimianya mengandung residu tirosin. Prinsip dari pengujian millon adalah penambahan senyawa Hg ke dalam protein sehingga penambahan logam ini akan menghasilkan endapan putih dari senyawa merkuri. Untuk protein yang mengandung tirosin penambahan pereaksi Millon menghasilkan warna merah.
Langkah pertama pada percobaan ini ialah 2 ml larutan protein telur dan susu dimasukkan kedalam tabung reaksi A dan B ditambah 1 ml reagen millon (larutan merkuri nitrit dan merkuri nitrat dalam campuran asam nitrit dan asam nitrat) kemudian dipanaskan dan terbentuk endapan berwarna putih kekuningan.
Setelah itu didinginkan dengan air, dan ditambah 1 tetes larutan NaNO2 1% kemudian dipanaskan kembali, terbentuk endapan berwarna merah. Penambahan NaNO2 1% ini berfungsi agar merkuri dapat bereaksi membentuk endapan merah. Hal ini disebabkan karena adanya reaksi tirosin dengan logam merkuri. Reaksi yang terjadi yaitu:
protein derivat sekunder, seperti proteosa dan pepton dengan pereaksi ini pada pemanasan hanya terbentuk larutan berwarna merah. Dimana kompleks berwarna merah tersebut menunjukkan adanya gugus hidroksifenil (tyrosin) pada kedua protein.

e.    Reaksi Hopkins-cole
Pada percobaan ini bertujuan untuk mengidentifikasi adanya asam amino dalam protein yang mengandung inti indol. Prinsip dasar dari pengujian ini adalah terbentuknya kondensasi dua inti indol dari triptofan dengan aldehid. Uji positif pada percobaan ini ditandai dengan larutan yang berwarna ungu.
Langkah pertama pada percobaan ini ialah 1 ml larutan protein telur dan susu dimasukkan kedalam tabung reaksi A dan B, ditambah 1 tetes formaldehid encer dan merkuri sulfat serta 1 ml asam sulfat pekat melalui dinding tabung reaksi, terbentuk dua lapisan dan terdapat cincin berwarna ungu.
Asam glioksilat dan asam sulfat pekat dapat membentuk larutan pekat berwarna violet pada penggojlokan dengan larutan protein yang mengandung residu triptofan dalam struktur kimianya. Gelatin dan protein-protein lain yang tidak memepunyai residu triptofan dalam struktur kimianya, dengan reaksi hopkins cole tidak dapat membentuk warna violet pada penggojlokannya, karena adanya nitrit, nitrat, dan klorat yang mengganggu jalannya reaksi hopkins cole.
Berdasarkan pengujian yang telah dilakukan, menunjukkan hasil negatif yang menandakan bahwa kedua sampel putih telur ayam kampung dan susu sapi tidak mengandung asam amino triptofan., karena tidak tebentuk cincin ungu akibat kondensasi dua inti indol. Reaksi antara triptofan dan aldehid yaitu:
5.    Hidrolisis protein dan tes adanya belerang
Prinsip dasar dari percobaan ini adalah hidrolisis protein dimana akibat hidrolisis ini ikatan peptida dari polimer protein putus dan berubah menjadi monomer-monomer asam amino dan sebagian gugus amino berubah menjadi ammonia. Jika dalam asam amino memiliki atom S maka asam amino dapat terurai menjadi H2S yang dapat diamati dengan penambahan garam Pb pada suasana basa sehingga terbentuk endapan hitam PbS.
Langkah pertama dalam percobaan ini adalah 1 ml larutan protein telur dan susu dimasukkan kedalam tabung reaksi A dan B, kemudian ditambah 1 ml larutan NaOH 40% setelah itu dipanaskan selama 1 mneit dan ditetesi larutan Pb asetat. Penambahan NaOH 40% dapat menghirolisis ikatan peptide dari polimer protein. Hidrolisis ini menghasilkan monomer asam amino. Didalam protein terdapat asam amino yang mengandung atom S seperti sistein atau metionin.maka menghasilkan warna hitam (++) karena atom S bereaksi dengan asam asetat membentuk endapan PbS.
Dari percobaan ini menunjukkan bahwa kandungan asam amino metionin atau sistein pada telur lebih banyak daripada susu, hal  ini ditunjukkan dari perbedaan kepekatan warna hitam yang dihasilkan ketika ditambahkan larutan Pb asetat untuk membentuk endapan PbS.

Dari ke lima percobaan yang sudah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa kandungan protein pada putih telur lebih besar daripada kandungan protein pada susu sapi murni. Hal ini dapat ditandai dengan banyaknya endapan ketika proses denaturasi, uji sifat amfoter, pengendapan protein dan reaksi warna pada uji protein yang menunjukkan hasil dari uji coba larutan protein mudah terbentuk dan diamati daripada susu sapi murni. Perbandingan protein pada putih telur ayam horen dan susu sapi juga dapat dilihat pada tabel sebagai berikut ini:
Tabel 1. Nutrisi yang terkandung dalam putih telur
Komposisi Putih Telur
Nilai Analisis
Kadar Air
8.0%
Protein
80%
Lemak Kasar
0.2%
Karbohidrat
0.1%
Abu
3.0%
pH
6.5

Image result for kandungan gizi pada susu sapi pdf


              Kesimpulan
1.      Protein mengalami denaturasi jika dilakukan penambahan asam ditandai dengan terbentuknya endapan
2.      Protein mengalami denaturasi jika terjadi perubahan suhu yang tinggi ditandai terbentuknya endapan putih.
3.      Protein mengalami denaturasi jika ditambah dengan gugus aldehid ditandai dengan terbentuknya endapan putih.
4.      Protein memiliki sifat amfoter yaitu dapat berperan sebagai asam dan juga dapat berperan sebagai basa
5.      Larutan protein susu dan telur dapat mengendap dengan amonium sulfat dan dapat larut kembali. Sifatnya reversible.
6.      Pengendapan protein dengan asam mineral. Sifatnya irreversible
7.      Pengendapan larutan protein oleh asam mineral pekat. Bersifat reversible
8.      Pengendapan dengan logam berat bersifat reversible
9.      Larutan protein susu dan telur membentuk ikatan peptida dengan ikatan peptide pada susu lebih panjang daripada putih telur, ditandai dengan terbentuknya larutan berwarna ungu.
10.  Larutan protein telur dan susu murni mengandung protein ditandai dengan warna larutan yang menjadi warna ungu
11.  Larutan protein telur mengandung protein yakni asam amino tirosin yang ditandai dengan terbentuknya endapan merah
12.  Larutan protein telur dan susu yang mengandung protein menunjukkan uji negative, yang menandakan sampel tersebut tidak mengandung asam amino triptofan.
13.  Protein mengandung belerang ditandai dengan terbentuknya endapan coklat kehitaman pada larutan protein susu dan endapan hitam pada larutan

Daftar Pustaka
Agus triyono. 2010. Memperlajari Pengaruh Penambahan Beberapa Asam pada Proses Isolasi Protein Terhadap Tepung Protein Isolat Kacang Hijau. Seminar rekayasa kimia dan proses. ISSN:1411-4216.
Deman. 1997. Kimia Makanan. Bandung: ITB Press.
Devi N. 2010. Nutrition and Food Gizi untuk Keluarga. Jakarta: PT Kompas Media Nusantara.
Hadiwiyato, Suwedo. 1994. Teori dan Prosedur Pengujian Mutu Susu dan Hasil Olahannya. Yogyakarta: liberty.
Lehninger AL. 1982. Dasar-Dasar Biokimia. Jakarta: Erlangga.
Ralp J. Fessenden and Joan S. Fessenden. 1986. Organic Chemistry,Third Edition. Califfornia 94002,Massachuset, USA: University Of Montana, , Wadsworth, Inc, Belmont.
Scholzen, T., dan J. Gerdes. 2000. The Ki-67 Protein: From the Known dan the Unknown. Journal of Cellular Physiology. Vol 182. 311–322
Sumardjo, Damin. 2006. Buku Panduan Kuliah Mahasiswa Kedokteran dan Progam Srata I Bioeksakta. Jakarta: Buku kedokteran EGC.
Vogel, A. 1979. Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro Bagian 1 Edisi V. Jakarta: PT. Kalma Media Pustaka.
Whitford, David. 2005. Protein Structure and Function. England: John willey and Sons.
Yuwono, Tribowo. 2010. Biologi Molekular. Jakarta: Erlangga.
Zulham, M. 2009. Penuntun Praktikum Histoteknik Biomedik. Medan: Departemen Histologi Fkusu.


Lampiran
a.        Jawaban pertanyaan
1.        Jelaskan apa fungsi pengujian protein dengan masing-masing reagen uji (CuSO4, HgCl2, HNO3, Pb-asetat)!
Jawab :
  1. CuSO4 à digunakan untuk uji adanya logam berat pada protein yang ditandai dengan adanya pengendapan apabila protein positif mengandung logam berat.
  2. HgCl2 à digunakan untuk uji protein yang mengandung gugus hidroksil phenil (-OH).
  3. HNO3 à digunakan untuk uji adanya cincin benzene dari garam asam amino penyusun protein, yaitu pada percobaan ini ketika asam nitrat pekat ditambahkan dan menghasilkan turunan nitrobenzene.
  4. Pb asetat à digunakan untuk uji adanya asam amino sistein dan metionin, yaitu dalam percobaan ini akan menghasilkan larutan warna hitam karena atom S bereaksi dengan asam asetat membentuk endapan PbS.

2.        Bagaimana pengaruh pelarut organic (aseton dan etanol) terhadap sifat denaturasi protein?
Jawaban :
Pengaruh pelarut organic (aseton, etanol) terhadap sifat denaturasi protein adalah protein atau asam nukleat akan kehilangan struktur sekunder dan tersiernya karena pelarut organic mengakibatkan protein dapat terdenaturasi.

3.        Sebutkan macam-macam ikatan yang menyebabkan polipeptida menjadi stabil dalam bentuk α-heliks!
Jawaban :
  1. Ikatan disulfide
Terbentuk antara 2 residu sistein yang saling berhubungan 2 bagian rantai polipeptida melalui residu sistein.
  1. Ikatan hydrogen
Terbentuk antara gugus NH- atau –OH dan gugus C = O dalam ikatan peptide atau –COO- dalam gugus R.
 
I.     Analisis Dan Pembahasan
Pada percobaan kali ini yaitu “Mempelajari Sifat-Sifat dan Reaksi Warna dari Protein”. Tujuan dari percobaan ini adalah membedakan sifat kelarutan protein secara reversible dan irreversibel, membedakan reaksi denaturasi protein yang disebabkan oleh asam, garam, dan garam lain dari logam berat, serta pemanasan berdasarkan pengamatan, memahami penyebab terjadinya pengendapan pada protein, dan mengidentifikasi adanya protein melalui reaksi warna.
Protein adalah sumber asam-asam amino yang mengandung unsur-unsur C,H,O dan N yang tidak berpasangan. Atom N pada rantai peptida bermuatan negatif sehingga mampu menarik atom H dari air yang bermuatan positif. Molekul air yang telah terikat tersebut dapat berikatan dengan molekul air yang lain, karena memiliki sebuah atom O dengan elektron yang tidak berpasangan
Molekul protein tersusun atas satuan-satuan asam amino yang berikatan melalui ikatan peptida yang terbentuk akibat penggabungan molekul asam amino (monopeptida) dengan mengeluarkan molekul air (polimerisasi kondensasi). Struktur protein sebagai berikut:
Molekul protein juga mengandung fosfor, belerang dan ada jenis protein yang mengandung unsur logam seperti besi dan tembaga.
Pada percobaan ini digunakan dua sampel untuk mempelajari sifat dan reaksi warna dari protein, yaitu telur ayam horn dan susu sapi murni. Percobaan yang dilakukan terdiri dari 5 percobaan meliputi denaturasi protein, sifat amfoter protein, pengendapan protein, reaksi warna protein, dan hidrolisis protein.
Langkah pertama dalam percobaan ini yaitu pembuatan larutan protein, larutan protein telur yang kami uji adalah dari telur horen. Dilakukan 2 kali pengenceran terhadap putih telur, yang pertama dilakukan pengenceran dengan perbandingan volume putih telur dan air adalah 1:2 sebanyak 25 ml putih telur  dan 50 ml air, yang kedua dilakukan pengenceran dengan perbandingan volume putih telur dan air adalah 1:3 sebanyak 15 ml putih telur dan 45 ml air. Pengenceran ini dilakukan agar pengujian pada sampel lebih mudah diamati. Sedangkan larutan protein dari susu dapat langsung diambil dari 50 ml susu sapi murni yang masih segar. Selanjutnya dilakukan 5 kali percobaan sesuai dengan tujuan praktikum ini.

1.    Denaturasi pretein
Denaturasi protein merupakan suatu proses dimana terjadi perubahan atau modifikasi terhadap konformasi protein, lebih tepatnya terjadi pada struktur tersier maupun kuartener dari protein. Pada struktur tersier protein misalnya, terdapat empat jenis interaksi pada rantai samping seperti ikatan hidrogen, jembatan garam, ikatan disulfida, interaksi non polar pada bagian non hidrofobik.
Jika protein dalam sel hidup didenaturasi, maka dapat menyebabkan gangguan terhadap aktivitas sel dan kemungkinan kematian sel. protein didenaturasi dapat menunjukkan berbagai karakteristik, dari hilangnya kelarutan untuk agregasi komunal. agregasi Komunal adalah fenomena agregasi protein hidrofobik untuk datang mendekat dan membentuk ikatan antara mereka, sehingga mengurangi luas areal terkena air.
Uji denaturasi protein berfungsi untuk menguji adanya kandungan protein yang terkandung dari larutan albumin dan larutan putih telur 1% sampai 5%, dimana terjadi perubahan struktur protein yang menyimpang dari struktur alamiahnya yang mengakibatkan  hilangnya sifat biologis dari suatu  protein.

a.    Denaturasi protein ketika penambahan asam asetat
Percobaan ini digunakan untuk mempelajari salah satu sifat protein, protein dapat mengalami denaturasi akibat penambahan asam, salah satunya adalah asam asetat. Penambahan asam dapat mengacaukan jembatan garam dengan adanya muatan ionik yang terdapat pada protein sehingga jembatan garam menjadi kacau dan protein dapat dikatakan terdenaturasi.
Langkah pertama ialah menyiapkan sampel larutan protein telur dan susu sebanyak 5 ml dan dimasukkan kedalam dua tabung reaksi A dan B, kemudian ditambah 2 tetes asam asetat 1N dan dikocok agar laruta menjadi homogen. Penambahan asam asetat pada larutan protein menyebabkan terjadinya pH pada larutan protein. Menurut (Fessenden & Fessenden, 1986), perubahan pH juga dapat mengakibatkan  denaturasi. Denaturasi protein ini umumnya bersifat irreversible.
Pengendapan protein oleh asam asetat terjadi cukup cepat karena adanya panas. Pertama-tama terjadi presipitasi yaitu pembentukan presipitat atau partikel kecil yang melayang-layang dalam larutan dan dapat mengendap dalam waktu singkat (Suwedo, 1994). Presipitat tersebut akan saling tergabung membentuk agregat (partikel yang lebih besar) dari presipitat tapi belum mengendap. Jika jumlah agregat terus bertambah maka akan saling membentuk endapan. Adanya ion H+ menyebabkan sebagian jembatan atau ikatan peptida terputus. Dalam suasana asam, ion H+ akan bereaksi dengan gugus COO membentuk COOH sedangkan sisanya (asam) akan berikatan dengan gugus amino NH2 membentuk NH3+, sehingga apabila larutan peptida dalam keadaan isoelektris diberi asam akan menyebabkan bertambahnya gugus bermuatan yang membentuk afinitas terhadap air dan kelarutan dalam air (Triyono, 2010).
Setelah penambahan  asam asetat 1 N pada larutan telur dan susu timbul endapan putih dan larutan putih keruh yang menunjukkan bahwa endapan pada larutan protein telur masih  bersifat sebagai protein (albumin), dan endapan pada larutan protein susu masih bersifat sebagai protein (triptofan,kasein). Akibat dari timbulnya endapan tersebut maka telah terjadi perubahan struktur  tersier ataupun kwartener menjadi primer. Perubahan struktur yang diakibatkan proses denaturasi ini adalah perubahan konfigurasi protein dari bentuk -heliks menjadi memanjang. Kerusakan struktur itu menyebabkan wujud protein dari yang semula larut, berubah menjadi endapan.
Berikut ini adalah gambar illustrasi dari bentuk struktur primer,sekunder, tersier, dan kuartener serta proses denaturasi protein:

Related image
Gambar 1.1. bentuk struktur primer, sekunder, tersier dan kuartener

Related image

Gambar 1.2. illustrasi denaturasi protein
Kemudian langkah selanjutnya kedua tabung reaksi dipanaskan didalam penangas air selama 5 menit dan endapan semakin banyak, karena pemanasan dapat mempercepat proses denaturasi sehingga kemampuan mengikat  airnya menurun. Hal ini terjadi karena energi panas akan mengakibatkan  terputusnya interaksi non-kovalen yang ada pada struktur alami protein tetapi  tidak memutuskan ikatan kovalennya yang berupa   ikatan peptida. Berikut reaksinya:

b.   Denaturasi karena pemanasan
Percobaan ini dilakukan untuk mempelajari salah satu sifat protein, yaitu protein dapat mengalami denaturasi akibat perubahan temperatur.
Langkah pertama ialah memasukkan 2-3 ml larutan protein telur dan susu kedalam dua tabung reaksi A dan B kemudian dipanaskan selama 1 menit. Pemanasan pada larutan protein menyebabkan terjadinya perubahan temperatur pada larutan protein yang dapat menyebabkan denaturasi. Setelah pemanasan, pada larutan protein susu terbentuk endapan, dan pada larutan protein telur dihasilkan larutan keruh dan terbentuk endapan. Terbentuknya endapan ini menandakan bahwa protein telah terdenaturasi, terjadi perubahan konfigurasi protein dari bentuk -heliks menjadi memanjang.
Setelah itu larutan didinginkan kemudian kedua larutan masing-masing dibagi menjadi 2 bagian dengan perbandingan volume yang sama. Pada bagian A1 dan B1 ditambahkan 1-2 tetes larutan (NH4)2SO4 kemudian dipanaskan dan terbentuk endapan dan keruh pada larutan protein telur, pada bagian A2 dan B2 hanya dilakukan pemanasan saja dan terbentuk endapan serta keruh pada larutan protein telur. Perbandingan uji coba  dari pelakuan pertama dan kedua adalah endapan yang dibentuk lebih banyak pada perlakuan pertama yaitu dengan penambahan (NH4)2SO4 daripada perlakuan kedua tanpa penambahan (NH4)2SO4. Penambahan garam (NH4)2SO4 menyebabkan terjadinya dehidrasi protein (kehilangan air), sehingga protein terendapkan dan hasil akhir endapan  lebih banyak dibandingkan tabung reaksi tanpa penambahan (NH4)2SO4.

c.    Denaturasi karena penambahan formaldehid
Percobaan ini dilakukan untuk mempelajari salah satu sifat protein, yaitu protein dapat mengalami denaturasi akibat penambahan senyawa kimia, yaitu formaldehid.
Langkah pertama yaitu 1-15 ml formaldehid dimasukkan kedalam dua tabung reaksi, yaitu taubung reaksi A dan B, kemudian ditambahkan larutan protein telur dan susu kedalam masing-masing tabung reaksi. Penambahan formaldehid akan mendenaturasi protein dikarenakan terbentuknaya derivat asama amino dimetil akibat adanya reaksi antara formaldehid dengan gugus amin pada protein. Jumlah endapan menunjukkan kuantitas protein yang terdenaturasi.
Formaldehid adalah gas yang larut dalam air dengan volume 40% dari total berat larutan. Formalin terdapat dalam bentuk polimer dari formaldehyde. Bentuk ini tak dapat digunakan untuk fiksasi yang dapat digunakan adalah bentuk monomernya. Selain itu formalin bersifat asam karena mengandung asam formiat akibat oksidasi formaldehyde. Formaldehyde jika bereaksi dengan protein akan membentuk hubungan diantara rangkaian-rangkaian protein yang berdekatan, sehingga dapat mempertahankan protein terhadap degradasi dan denaturasi (Zulham, 2009).
Dari ketiga percobaan denaturasi dapat disimpulkan bahwa Denaturasi protein atau dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu akibat penambahan senyawa kimia seperti formaldehid, perubahan suhu, serta penambahan asam (perubahan pH). Kerusakan protein dapat diidentifikasi dengan adanya endapan yang dihasilkan.

2.    Sifat amfoter protein
Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui sifat amfoter dari protein (dapat bersifat basa maupun asam), dengan mereaksikan dengan larutan asam dan larutan basa.
Adanya gugus amino dan karboksil bebas pada ujung-ujung rantai molekul protein, menyebabkan protein mempunyai banyak muatan (polielektrolit) dan bersifat amfoter (dapat bereaksi dengan asam maupun dengan basa). Sifat ini  timbul karena adanya gugus amino (-NH2) yang bersifat basa dan gugus karboksil (-COOH) yang bersifat asam yang terdapat pada molekul protein pada ujung-ujung rantainya, maka dengan larutan asam atau pH rendah, gugus amino pada protein akan bereaksi dengan ion H+, sehingga protein bermuatan positif. Sebaliknya dalam larutan  basa gugus karboksilat bereaksi dengan ion OH, sehingga protein bersifat negatif.



a.    Uji keasaman
Langkah pertama ialah 3 ml aquades dimasukkan kedalam dua tabung reaksi A dan B, kemudian ditambahkan 1 tetes HCl 1 N dan ditambah indikator kongo dan larutan berubah warna menjadi biru. Penambahan HCl dapat mempengaruhi kesetimbangan, yaitu dengan cara asam-basa bergeser sedemikian sehingga HCl sebagai pemberi suasana asam. Indikator kongo atau indikator merah kongo memiliki nama kimia Asam difenil-bis-azo α-naftilamina-4-sulfonat yang dalam larutan asam akan berwarna ungu dan dalam larutan basa akan berwarna merah dengan trayek pH 3.0 – 5.0 (Vogel, 1979). Didapatkan hasil larutan yang berwarna ungu yang menunjukkan bahwa larutan tersebut bersifat asam.
Kelarutan protein akan meningkat jika diberi perlakuan asam yang berlebih, hal ini terjadi karena ion positif pada asam yang menyebabkan protein yang semula bemuatan netral atau nol menjadi bermuatan positif yang menyebabkan kelarutannya bertambah. Semakin jauh derajat keasaman larutan protein dari titik isoelektrisnya, maka kelarutannya akan semakin bertambah (Triyono, 2010).
Setelah itu ditambahkan 2-3 ml larutan protein telur dan susu kedalam tabung A dan B. Terjadi perubahan warna dan terbentuk endapan berwarna merah pada larutan protein telur dan perubahan warna menjadi merah pada larutan protein susu. Perubahan warna ini menandakan berubahnya pH larutan yang semula asam menjadi basa. Hal ini disebabkan karena asam amino dalam protein mengikat H+ dari HCl sehingga bentuk ion dipol asam amino yang semula berbentuk ion dipol yang memiliki sifat netral sifatnya berubah menjadi basa yang ditandai dengan terbentuknya warna merah pada tabung reaksi. Reaksi yang terjadi yaitu :
Pada reaksi diatas suatu asam amino mengandung ion karboksilat (COO-) maupun suatu ion ammonium (-NH3+) dalam sebuah molekul. Oleh karena itu asam amino bersifat amfoter yang dapat bereaksi dengan asam maupun basa, dalam asam dapat menghasilkan suatu kation. Dari hasil percobaan ini dibuktikan bahwa protein dapat bereaksi dengan asam, atau dapat dikatakan bahwa ia berperan sebagai basa dalam suasana asam (Fessenden & Fessenden 1986).

b.   Uji dalam suasana basa
Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui sifat amfoter dari protein (dapat bersifat basa maupun asam), dengan mereaksikan dengan larutan asam dan larutan basa.
Langkah pertama dalam percobaan ini ialah dengan membuat larutan blanko terlebih dahulu pada tabung I, dengan cara 3 ml NaOH dimasukkan kedalam tabung reaksi dan ditambah indikator pp. Larutan blanko digunakan sebagai pembanding dari hasil reaksi uji emfoter protein dalam suasana basa yang menghasilkan larutan berwarna merah.
Selanjutnya pada tabung reaksi IIA dan IIB dimasukkan larutan protein telur dan susu, kemudian ditambahkan larutan NaOH 0,1 M dan ditambah indikator pp. Indikator fenolftalein dalam larutan asam akan tidak berwarna dan dalam larutan basa akan berwarna merah muda dengan trayek pH 8.3 – 10.0 (Vogel, 1979). Setelah penambahan indikator fenolftalein terjadi perubahan warna dari jernih tidak berwarna menjadi merah muda yang menunjukkan larutan NaOH memiliki sifat basa karena indikator PP akan berwarna merah muda pada suasana basa. Hal ini juga disebabkan karena asam amino dalam protein mengikat OH- dari NaOH sehingga bentuk ion dipol asam amino yang semula berbentuk ion dipol yang memiliki sifat netral sifatnya berubah menjadi asam yang ditandai dengan hilangnya warna merah muda pada tabung reaksi. Reaksi yang terjadi yaitu:
Pada reaksi diatas suatu asam amino mengandung ion karboksilat (COO-) maupun suatu ion ammonium (-NH3+) dalam sebuah molekul. Oleh karena itu asam amino bersifat amfoter yang dapat bereaksi dengan asam maupun basa, dalam basa dapat menghasilkan suatu anion. Dari hasil percobaan ini dibuktikan bahwa protein dapat bereaksi dengan basa, atau dapat dikatakan bahwa ia berperan sebagai asam dalam suasana basa (Fessenden & Fessenden, 1986).

3.    Pengendapan protein
Pada percobaan pengendapan ini bertujuan untuk mengetahui reaksi yang reversibel dan irreversibel. Ada beberapa Uji pengendapan protein yang sering digunakan dalam uji kandungan protein yaitu pertama uji Pengendapan dengan Logam, pada pH di atas titik isoelektrik protein bermuatan negative, sedangkan di bawah titik isoelektrik protein bermuatan positif. Olehkarena itu untuk mengendapkan protein dengan ion logam diperlukan pH larutan di atas titik isoelektrik, sedangkan untuk pengendapan protein dengan ion negative memerlukan pH larutan di bawah titik isoelektrik.
Pengendapan protein pada percobaan ini yaitu pengendapan dengan  (NH4)2SO4,  dengan asam mineral (HNO3 pekat dan HCl pekat),  dengan logam berat (CuSO4, Pb-asetat, ZnSO4, FeSO4, dan HgSO4).

a.      Pengendapan protein dengan ammonium sulfat
Pada percobaan ini bertujuan unuk membuktikan bahwa protein dapat diendapkan dengan penambahan ammonium sulfat. Prinsip dari percobaan ini adalah dehidrasi protein (kehilangan air pada molekul protein), ketika protein kehilangan air maka protein dengan kelarutan terendah akan mengendap.
Langkah pertama ialah memasukkan 3-4 ml larutan protein telur dan susu di masukkan kedalam dua tabung reaksi A dan B, ditambah 3-4 ml larutan jenuh ammonium sulfat dan terbentuk endapan putih. Penambahan garam ammonium sulfat dapat mengikat molekul air dan terjadi kompetisi pengikatan air antara protein dan ammonium sulfat. Ammonium sulfat dapat menurunkan jumlah air yang diikat oleh protein karena air cenderung berikatan dengan ammonium sulfat. Sehingga ketika protein mengalami dehidrasi atau kehilangan molekul air, protein yang memiliki tingkat kelarutan terendah dan akan mengendap yang ditunjukkan dengan larutan yang mengkeruh atau terbentuknya endapan pada kedua tabung reaksi.
Setelah itu sebanyak 1 ml larutan protein dipindahkan kedalam tabung reaksi dan ditambah 2-3 ml aquades, hasilnya adalah endapan larut. Protein yang diendapkan dengan cara ini tidak mengalami perubahan kimia sehingga dapat dengan mudah dilarutkan kembali melalui penambahan air, dan pengendapan cara ini bersifat reversible.

b.      Uji HNO3 pekat dan HCl pekat
Percobaan ini bertujuan untuk membuktikan bahwa protein dapat diendapkan dengan penambahan asam mineral. Prinsip dari percobaan ini adalah terbentuknya senyawa garam dari reaksi asam mineral pekat dengan gugus amino protein. Asam mineral pekat yang digunakan pada percobaan ini adalah HNO3 pekat dan HCl pekat.
Pada uji HNO3 pekat, langkah pertama pada percobaan ini ialah 1 ml HNO3 pekat dimasukkan kedalam dua tabung reaksi A dan B, ditambahkan 1-1,5 ml larutan protein telur dan susu melewati dinding tabung kemudian didiamkan dan terbentuk endapan cincin putih pada kedua tabung yang disebabkan oleh reaksi asam dengan gugus amino pada protein. Penambahan asam nitrat menghasilkan endapan yang bersifat irreversible. Berikut ini adalah reaksinya:
Setelah itu kedua tabung reaksi dikocok dan ditambahkan larutan HNO3 pekat berlebih. Penambahan asam  nitrat berlebih menghasilkan endapan yang bersifat irreversible, dibuktikan dengan semakin banyaknya endapan yang terbentuk pada larutan protein telur dan susu.
Pada uji HCl pekat, langkah pertama pada percobaan ini ialah 1 ml HCl pekat dimasukkan kedalam dua tabung reaksi A dan B, ditambahkan 1-1,5 ml larutan protein telur dan susu melewati dinding tabung kemudia didiamkan dan terbentuk endapan cincin putih pada kedua tabung. Terbentuknya endapan ini disebabkan oleh reaksi asam dengan gugus amino pada protein. Penambahan larutan HCl menghasilkan endapan yang bersifat irreversible. Berikut ini adalah reaksinya:
Setelah itu kedua tabung reaksi dikocok dan ditambahkan larutan HCl pekat berlebih. Penambahan asam klorida berlebih menyebabkan endapan larut kembali, larutan menjadi agak jernih. Sehingga penambahan asam klorida menghasilkan endapan yang bersifat reversible.
Dari percobaan tersebut menunjukkan bahwa protein yang ditambahkan dengan asam nitrat menghasilkan endapan yang bersifat irreversibel, sedangkan protein yang ditambahkan dengan asam klorida menghasilkan endapan yang bersifat reversible.

c.       Pengendapan protein dengan penambahan  logam berat
Pada percobaan ini bertujuan untuk membuktikan bahwa protein dapat diendapkan oleh logam berat. Dasar reaksi pengendapan oleh logam berat adalah penetralan muatan. Pengendapan dapat terjadi apabila protein berada dalam bentuk isoelektrik yang bermuatan negatif. Dengan adanya muatan positif dari logam berat akan terjadi reaksi netralisasi dari protein dan dihasilkan garam netral proteinat yang mengendap. Reaksi ini merupakan reaksi yang reversibel.
Pada percobaan ini akan dilakukan pengujian dengan lima macam logam berat dimana logam berat tersebut dalam larutan airnya. Untuk pengujian ini digunakan CuSO4, Pb(CH3COO)2, ZnSO4, FeSO4, dan HgSO4.

·      Pengujian dengan logam Cu sebagai CuSO4
Langkah pertama pada percobaan ini ialah 1-1,5 ml larutan protein telur dan susu dimasukkan kedalam dua tabung reaksi A dan B, kemudian ditambahkan larutan CuSO4 berwarna biru dan dikocok terbentuk endapan berwarna biru. Adanya endapan biru tersebut menandakan bahwa terjadi reaksi netralisasi antara ion logam berat Cu2+ dengan protein dengan mengikat dua isoelektrik negatif, sehingga pada reaksi ini dihasilkan garam netral proteinat. Berikut ini adalah persamaan reaksinya:
Setelah itu ditambahkan lagi larutan CuSO4 berlebih dan endapan larut. Melarutnya kembali endapan garam proteinat ini menunjukkan bahwa pengendapan protein dengan logam berat ini bersifat reversibel akibat adanya reaksi kesetimbangan yang bergeser ke arah kanan.

·      Pengujian logam Pb Pb sebagai Pb(CH3COO)2
Langkah pertama pada percobaan ini ialah 1-1,5 ml larutan protein telur dan susu dimasukkan kedalam dua tabung reaksi A dan B, kemudian ditambahkan larutan Pb asetat dan dikocok terbentuk endapan berwarna putih. Adanya endapan putih tersebut menandakan bahwa terjadi reaksi netralisasi antara ion logam berat Pb2+ dengan protein dengan mengikat dua isoelektrik negatif, sehingga pada reaksi ini dihasilkan garam netral proteinat. Berikut ini adalah persamaan reaksinya:
 Setelah itu ditambahkan lagi larutan Pb asetat berlebih dan endapan larut. Melarutnya kembali endapan garam proteinat ini menunjukkan bahwa pengendapan protein dengan logam berat ini bersifat reversibel akibat adanya reaksi kesetimbangan yang bergeser ke arah kanan.

·      Pengujian dengan logam Zn sebagai ZnSO4
Langkah pertama pada percobaan ini ialah 1-1,5 ml larutan protein telur dan susu dimasukkan kedalam dua tabung reaksi A dan B, kemudian ditambahkan larutan ZnSO4 dan dikocok terbentuk endapan berwarna putih. Adanya endapan putih tersebut menandakan bahwa terjadi reaksi netralisasi antara ion logam berat Zn2+ dengan protein dengan mengikat dua isoelektrik negatif, sehingga pada reaksi ini dihasilkan garam netral proteinat. Berikut ini adalah persamaan reaksinya:
         Setelah itu ditambahkan lagi larutan ZnSO4 berlebih dan endapan larut. Melarutnya kembali endapan garam proteinat ini menunjukkan bahwa pengendapan protein dengan logam berat ini bersifat reversibel akibat adanya reaksi kesetimbangan yang bergeser ke arah kanan.

·      Pengujian dengan logam Fe sebagai FeSO4
Langkah pertama pada percobaan ini ialah 1-1,5 ml larutan protein telur dan susu dimasukkan kedalam dua tabung reaksi A dan B, kemudian ditambahkan larutan FeSO4 berwarna kuning kecoklatan dan dikocok terbentuk endapan keruh pada larutan protein susu dan berwarna kecoklatan jernih dan endapan putih pada larutan protein telur. Adanya endapan tersebut menandakan bahwa terjadi reaksi netralisasi antara ion logam berat Fe2+ dengan protein dengan mengikat dua isoelektrik negatif, sehingga pada reaksi ini dihasilkan garam netral proteinat. Berikut ini adalah persamaan reaksinya:
Setelah itu ditambahkan lagi larutan FeSO4 berlebih dan endapan larut. Melarutnya kembali endapan garam proteinat ini menunjukkan bahwa pengendapan protein dengan logam berat ini bersifat reversibel akibat adanya reaksi kesetimbangan yang bergeser ke arah kanan.
Garam logam berat seperti Cu, Zn, dan Fe  akan membentuk endapan logam proteinat. Ikatan yang terbentuk sangat kuat dan dapat memutuskan ikatan peptida, sehingga protein mengalami denaturasi. Secara bersama gugus –COOH dan gugus –NH2 yang terdapat dalam protein dapat bereaksi dengan ion logam berat dan membentuk senyawa kelat. Denaturasi akibat campuran logam berat pada protein terjadi karena ikatan sulfur pada protein tertarik oleh ikatan logam berat, sehingga proses denaturasi terjadi dengan adanya perubahan struktur kandungan senyawa pada protein tersebut saat ion pada protein bereaksi dengan ion logam berat yang tercampur didalamnya. Adanya perbedaan warna pada endapan yang dihasilkan berasal dari warna logam berat yang ditambahkan.
Berikut ini adalah reaksi dari logam berat:
4.    Reaksi warna protein
Percobaan ini digunakan untuk mempelajari reaksi warna protein. Percobaan ini terdiri dari 5 percobaan yaitu reaksi biuret, reaksi ksanthoprotein, reaksi nihidrin, reaksi millon, dan reaksi hopkin-cole.
a.    Reaksi biuret
Uji biuret didasarkan pada reaksi antara ion Cu2+ dan ikatan peptida dalam suasana basa. Uji ini untuk mendeteksi ada tidaknya ikatan peptida yang membentuk suatu protein.
Langkah pertama dalam percobaan ini ialah 3 ml larutan protein telur dan susu dimasukkan kedalam tabung reaksi A dan B, kemudian ditambahkan 1 ml NaOH 40% dan ditambah CuSO4 0,5% terbentuk larutan berwarna ungu. Fungsi penambahan 1 mL NaOH 40% ini berfungsi untuk membuat suasana basa.
Reaksi positif pada perubahan warna menjadi ungu akibat adanya penambahan CuSO4 akibat tejadinya pensenyawaan antara Cu dan N dari ikatan polipeptida atau ikatan-ikatan peptida yang menyusun protein. Pengjian protein selalu dilakukan pada kondisi alkasi/basa karena dalam suasana basa CuSO4 bereaksi dengan senyawa yang mengandung dua atau lebih ikatan peptida membentuk kompleks berwarna ungu. Protein melarutkan hidroksida tembaga untuk membenuk kompleks warna.
Pada warna merah muda atau merah jambu terbentuk apabila larutan protein yang diselidiki mempunyai molekul yang kecil, miaslnya preteosa dan pepton. Larutan violet terbentuk apabilalarutan protein yang diselidiki memiliki molekul yang besar, misalnya gelatin.
Reaksi biuret positif untuk semua jenis protein dan hasil antara hidrolisisnya jika masih mempunyai dua atau lebih iakatan peptida, dan negativ untuk asam amino. Sehingga dapat disimpulkan ketika protein susu dan telur diuji dengan biuret akan menghasilkan uji positif. Reaksinya adalah sebagai berikut:

b.   Reaksi Xanthoprotein
Langkah percobaan ini ialah 3 ml larutan protein telur dan susu dimauskkan kedalam tabung reaksi A dan B, kemudian ditambahkan 1 ml HNO3 pekat membentuk gumpalan warna putih, karena adanya protein yang mengandung residu asam amino dengan radikal fenil dalam struktur kimia (protein yang mengandung asam amino fenilalanin atau tirosin). Larutan kemudian dipanaskan, terbentuk larutan berwarna kuning. Kedua tabung reaksi kemudian didinginkan dan ditambah larutan amonia hingga berwarna jingga. Berikut ini adalah persamaan reaksinya:
Uji positif pada reaksi ini ditandai dengan terbentuknya larutan berwarna jingg yang berasal dari senyawa polinitrobenzena hasil reaksi nitrasi cincin benzena dalam asam amino. Pada penambahan senyawa alkali warna kuning akan hilang dan berubah menjadi jingga disebabkan sifat keasaman fenol bereaksi dengan alkali. Warna jingga ini apabila diasamkan akan berubah kembali menjadi kuning. Struktur dari tirosin, fenil alanin.
Dari percobaan ini dapat diidentifikasi bahwa antara protein telur dan susu memberikan reaksi positif mengandung asam amino dengan inti benzene seperti  fenilalanin, tirosin, albumin, triptofan dan lain sebagainya yang ditandai dengan terbentuknya endapan kuning.

c.    Uji dengan ninhidrin
Ninhidrin adalah suatu reagen yang berguna untuk mendeteksi asam amino dan menetapkan konsentrasinya dalam larutan. Senyawa ini merupakan hidrat dari triketon siklik, dan bila bereaksi dengan asam amino menghasilkan zat berwarna ungu.
Langkah pertama dalam percobaan ini ialah mengatur pH larutan protein pada telur dan susu, kemudian diambil 1 ml dan dimasukkan kedalam dua tabung reaksi A dan B, setelah itu ditambah 10 tetes larutan ninhidrin dan dipanaskan. Pemanasan dengan ninhidrin berlebih menghasilkan produk berwarna biru pada semua asam amino yang memiliki gugus α-amino bebas, sedangkan produk yang dihasilkan oleh prolin berwarna kuning, karena pada molekul ini terjadi substitusi gugus α-amino. Warna biru menunjukkan bahwa uji ninhidrin positif, karena pada asam amino terdapat gugus karboksil yang dapat dilepaskan atau tereduksi akan bereaksi dengan NH3 dengan proses dekarboksilasi dan menghasilkan suatu amina. Gugus amino pada asam amino dapat bereaksi dengan asam nitrit dan melepaskan gas nitrogen.

d.   Uji dengan larutan millon
Reaksi millon digunakan untuk protein yang mengandung asam amino dengan radikal hidroksi fenil sebagai penyusunnya. Sehingga reaksi ini khusus untuk protein yang struktur kimianya mengandung residu tirosin. Prinsip dari pengujian millon adalah penambahan senyawa Hg ke dalam protein sehingga penambahan logam ini akan menghasilkan endapan putih dari senyawa merkuri. Untuk protein yang mengandung tirosin penambahan pereaksi Millon menghasilkan warna merah.
Langkah pertama pada percobaan ini ialah 2 ml larutan protein telur dan susu dimasukkan kedalam tabung reaksi A dan B ditambah 1 ml reagen millon (larutan merkuri nitrit dan merkuri nitrat dalam campuran asam nitrit dan asam nitrat) kemudian dipanaskan dan terbentuk endapan berwarna putih kekuningan.
Setelah itu didinginkan dengan air, dan ditambah 1 tetes larutan NaNO2 1% kemudian dipanaskan kembali, terbentuk endapan berwarna merah. Penambahan NaNO2 1% ini berfungsi agar merkuri dapat bereaksi membentuk endapan merah. Hal ini disebabkan karena adanya reaksi tirosin dengan logam merkuri. Reaksi yang terjadi yaitu:
protein derivat sekunder, seperti proteosa dan pepton dengan pereaksi ini pada pemanasan hanya terbentuk larutan berwarna merah. Dimana kompleks berwarna merah tersebut menunjukkan adanya gugus hidroksifenil (tyrosin) pada kedua protein.

e.    Reaksi Hopkins-cole
Pada percobaan ini bertujuan untuk mengidentifikasi adanya asam amino dalam protein yang mengandung inti indol. Prinsip dasar dari pengujian ini adalah terbentuknya kondensasi dua inti indol dari triptofan dengan aldehid. Uji positif pada percobaan ini ditandai dengan larutan yang berwarna ungu.
Langkah pertama pada percobaan ini ialah 1 ml larutan protein telur dan susu dimasukkan kedalam tabung reaksi A dan B, ditambah 1 tetes formaldehid encer dan merkuri sulfat serta 1 ml asam sulfat pekat melalui dinding tabung reaksi, terbentuk dua lapisan dan terdapat cincin berwarna ungu.
Asam glioksilat dan asam sulfat pekat dapat membentuk larutan pekat berwarna violet pada penggojlokan dengan larutan protein yang mengandung residu triptofan dalam struktur kimianya. Gelatin dan protein-protein lain yang tidak memepunyai residu triptofan dalam struktur kimianya, dengan reaksi hopkins cole tidak dapat membentuk warna violet pada penggojlokannya, karena adanya nitrit, nitrat, dan klorat yang mengganggu jalannya reaksi hopkins cole.
Berdasarkan pengujian yang telah dilakukan, menunjukkan hasil negatif yang menandakan bahwa kedua sampel putih telur ayam kampung dan susu sapi tidak mengandung asam amino triptofan., karena tidak tebentuk cincin ungu akibat kondensasi dua inti indol. Reaksi antara triptofan dan aldehid yaitu:
5.    Hidrolisis protein dan tes adanya belerang
Prinsip dasar dari percobaan ini adalah hidrolisis protein dimana akibat hidrolisis ini ikatan peptida dari polimer protein putus dan berubah menjadi monomer-monomer asam amino dan sebagian gugus amino berubah menjadi ammonia. Jika dalam asam amino memiliki atom S maka asam amino dapat terurai menjadi H2S yang dapat diamati dengan penambahan garam Pb pada suasana basa sehingga terbentuk endapan hitam PbS.
Langkah pertama dalam percobaan ini adalah 1 ml larutan protein telur dan susu dimasukkan kedalam tabung reaksi A dan B, kemudian ditambah 1 ml larutan NaOH 40% setelah itu dipanaskan selama 1 mneit dan ditetesi larutan Pb asetat. Penambahan NaOH 40% dapat menghirolisis ikatan peptide dari polimer protein. Hidrolisis ini menghasilkan monomer asam amino. Didalam protein terdapat asam amino yang mengandung atom S seperti sistein atau metionin.maka menghasilkan warna hitam (++) karena atom S bereaksi dengan asam asetat membentuk endapan PbS.
Dari percobaan ini menunjukkan bahwa kandungan asam amino metionin atau sistein pada telur lebih banyak daripada susu, hal  ini ditunjukkan dari perbedaan kepekatan warna hitam yang dihasilkan ketika ditambahkan larutan Pb asetat untuk membentuk endapan PbS.

Dari ke lima percobaan yang sudah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa kandungan protein pada putih telur lebih besar daripada kandungan protein pada susu sapi murni. Hal ini dapat ditandai dengan banyaknya endapan ketika proses denaturasi, uji sifat amfoter, pengendapan protein dan reaksi warna pada uji protein yang menunjukkan hasil dari uji coba larutan protein mudah terbentuk dan diamati daripada susu sapi murni. Perbandingan protein pada putih telur ayam horen dan susu sapi juga dapat dilihat pada tabel sebagai berikut ini:
Tabel 1. Nutrisi yang terkandung dalam putih telur
Komposisi Putih Telur
Nilai Analisis
Kadar Air
8.0%
Protein
80%
Lemak Kasar
0.2%
Karbohidrat
0.1%
Abu
3.0%
pH
6.5

Image result for kandungan gizi pada susu sapi pdf

J.      Kesimpulan
1.      Protein mengalami denaturasi jika dilakukan penambahan asam ditandai dengan terbentuknya endapan
2.      Protein mengalami denaturasi jika terjadi perubahan suhu yang tinggi ditandai terbentuknya endapan putih.
3.      Protein mengalami denaturasi jika ditambah dengan gugus aldehid ditandai dengan terbentuknya endapan putih.
4.      Protein memiliki sifat amfoter yaitu dapat berperan sebagai asam dan juga dapat berperan sebagai basa
5.      Larutan protein susu dan telur dapat mengendap dengan amonium sulfat dan dapat larut kembali. Sifatnya reversible.
6.      Pengendapan protein dengan asam mineral. Sifatnya irreversible
7.      Pengendapan larutan protein oleh asam mineral pekat. Bersifat reversible
8.      Pengendapan dengan logam berat bersifat reversible
9.      Larutan protein susu dan telur membentuk ikatan peptida dengan ikatan peptide pada susu lebih panjang daripada putih telur, ditandai dengan terbentuknya larutan berwarna ungu.
10.  Larutan protein telur dan susu murni mengandung protein ditandai dengan warna larutan yang menjadi warna ungu
11.  Larutan protein telur mengandung protein yakni asam amino tirosin yang ditandai dengan terbentuknya endapan merah
12.  Larutan protein telur dan susu yang mengandung protein menunjukkan uji negative, yang menandakan sampel tersebut tidak mengandung asam amino triptofan.
13.  Protein mengandung belerang ditandai dengan terbentuknya endapan coklat kehitaman pada larutan protein susu dan endapan hitam pada larutan

Daftar Pustaka
Agus triyono. 2010. Memperlajari Pengaruh Penambahan Beberapa Asam pada Proses Isolasi Protein Terhadap Tepung Protein Isolat Kacang Hijau. Seminar rekayasa kimia dan proses. ISSN:1411-4216.
Deman. 1997. Kimia Makanan. Bandung: ITB Press.
Devi N. 2010. Nutrition and Food Gizi untuk Keluarga. Jakarta: PT Kompas Media Nusantara.
Hadiwiyato, Suwedo. 1994. Teori dan Prosedur Pengujian Mutu Susu dan Hasil Olahannya. Yogyakarta: liberty.
Lehninger AL. 1982. Dasar-Dasar Biokimia. Jakarta: Erlangga.
Ralp J. Fessenden and Joan S. Fessenden. 1986. Organic Chemistry,Third Edition. Califfornia 94002,Massachuset, USA: University Of Montana, , Wadsworth, Inc, Belmont.
Scholzen, T., dan J. Gerdes. 2000. The Ki-67 Protein: From the Known dan the Unknown. Journal of Cellular Physiology. Vol 182. 311–322
Sumardjo, Damin. 2006. Buku Panduan Kuliah Mahasiswa Kedokteran dan Progam Srata I Bioeksakta. Jakarta: Buku kedokteran EGC.
Vogel, A. 1979. Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro Bagian 1 Edisi V. Jakarta: PT. Kalma Media Pustaka.
Whitford, David. 2005. Protein Structure and Function. England: John willey and Sons.
Yuwono, Tribowo. 2010. Biologi Molekular. Jakarta: Erlangga.
Zulham, M. 2009. Penuntun Praktikum Histoteknik Biomedik. Medan: Departemen Histologi Fkusu.


Lampiran
a.        Jawaban pertanyaan
1.        Jelaskan apa fungsi pengujian protein dengan masing-masing reagen uji (CuSO4, HgCl2, HNO3, Pb-asetat)!
Jawab :
  1. CuSO4 à digunakan untuk uji adanya logam berat pada protein yang ditandai dengan adanya pengendapan apabila protein positif mengandung logam berat.
  2. HgCl2 à digunakan untuk uji protein yang mengandung gugus hidroksil phenil (-OH).
  3. HNO3 à digunakan untuk uji adanya cincin benzene dari garam asam amino penyusun protein, yaitu pada percobaan ini ketika asam nitrat pekat ditambahkan dan menghasilkan turunan nitrobenzene.
  4. Pb asetat à digunakan untuk uji adanya asam amino sistein dan metionin, yaitu dalam percobaan ini akan menghasilkan larutan warna hitam karena atom S bereaksi dengan asam asetat membentuk endapan PbS.

2.        Bagaimana pengaruh pelarut organic (aseton dan etanol) terhadap sifat denaturasi protein?
Jawaban :
Pengaruh pelarut organic (aseton, etanol) terhadap sifat denaturasi protein adalah protein atau asam nukleat akan kehilangan struktur sekunder dan tersiernya karena pelarut organic mengakibatkan protein dapat terdenaturasi.

3.        Sebutkan macam-macam ikatan yang menyebabkan polipeptida menjadi stabil dalam bentuk α-heliks!
Jawaban :
  1. Ikatan disulfide
Terbentuk antara 2 residu sistein yang saling berhubungan 2 bagian rantai polipeptida melalui residu sistein.
  1. Ikatan hydrogen
Terbentuk antara gugus NH- atau –OH dan gugus C = O dalam ikatan peptide atau –COO- dalam gugus R.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perbedaan Open Acces dan Close Acces serta Kelebihan dan Kekurangannya

Laporan Praktikum Rekristalisasi dan Pembuatan Aspirin

Laporan Praktikum Titrasi Penetralan (Asidi-Alkalimetri) dan Aplikasi Penentuan Kadar NH3 dalam Pupuk ZA