Laporan Praktikum Identifikasi Gugus Aldehid, Keton dan Karboksilat


A.  JUDUL PRAKTIKUM :
Identifikasi Gugus Aldehid, Keton dan Karboksilat
B.  HARI, TANGGAL PRAKTIKUM :
Kamis, 21 Februari 2019 (07.30 WIB)
C.  HARI, TANGGAL SELESAI PRAKTIKUM :
Kamis, 21 Februari 2019 (12.00 WIB)
D.  TUJUAN PRAKTIKUM                        :
1.    Mengidentifikasi senyawa organik yang mengandung gugus aldehid.
2.    Mengidentifikasi senyawa organik yang mengandung gugus keton.
3.    Mengidentifikasi senyawa organik yang mengandung gugus karboksilat.
4.  Membedakan antara gugus aldehid, keton dan karboksilat yang terdapat didalam senyawa organik
E.  KAJIAN TEORI
a.    Aldehid dan Keton
Aldehid adalah suatu senyawa yang mengandung sebuah gugus karbonil yang terikat pada sebuah atau dua buah atom hidrogen. Aldehid memiliki sifat lebih reaktif daripada alkohol, dapat mengalami reaksi adisi, dapat mengalami reaksi oksidasi, aldehid dapat dioksidasi menjadi asam, dapat mengalami reaksi poli-merisasi. Karakteristik dari aldehid ini adalah berwujud gas pada suhu kamar dengan bau tidak enak, berwujud cair pada suhu kamar dengan bau sedap, senyawa polar sehinggan titik didihnya tinggi dan tidak berwarna. Nama IUPEC dari aldehida diturunkan dari alkana dengan mengganti akhiran “ana“ dengan “al“. Nama umumnya didasarkan nama asam karboksilat ditambahkan dengan akhiran dehida (Petrucci, 1987).
Keton adalah suatu senyawa organik yang mempunyai sebuah gugus karbonil terikat pada dua gugus alkil. Keton ini bersifat polar karena gugus karbonilnya polar dan keton lebih mudah menguap daripada alkohol dan asam karboksilat. Karak teristik dari keton ini adalah berupa cairan tak berwarna, umumnya larut dalam air, mempunyai titik didih yang relatif lebih tinggi daripada senyawa non polar dan dapat direduksi oleh gas H2 menghasilkan alkohol sekundernya.
Reaksi yang menyebabkan penjenuhan pada ikatan rangkap disebut reaksi adisi (reaksi penjenuhan). Pada reaksi adisi, satu ikatan rangkap menjadi terbuka. Sementara itu pereaksi yang mengadisi terputus menjadi dua gugus yang kemudian terikat pada ikatan rangkap yang terbuka tersebut. Apabila pereaksi yang mengadisi bersifat polar gugus yang lebih positif terikat pada oksigen, sedangkan gugus yang lebih negatif terikat pada karbon.
Titik pusat reaktivitas dalam aldehida dan keton ialah ikatan pi dari gugus karbonilnya. Seperti alkena, aldehid dan keton mengalami adisi reagensia kepada ikatan pi-nya. Reaktivitas relatif aldehida dan keton dalam reaksi adisi sebagian dapat disebabkan oleh banyaknya muatan positif pada karbon karbonilnya, makin besar muatan itu akan makin reaktif. Bila muatan positif parsial ini tersebar ke seluruh ,olekul, maka senyawaan karbonil itu kurang reaktif dan lebih stabil. Gugus karbonil distabilkan oleh gugus alkil di dekatnya yang bersifat melepaskan elektron. Suaru keton dengan gugus R lebih stabil dibandingkan suatu aldehida yang hanya memiliki satu gugus R.
Faktor sterik juga memainkan peranan dalam kereaktifan relatif aldehida dan keton. Banyaknya gugus di sekitar karbonil menyebabkan halangan sterik yang lebih besar, suatu reaksi adisi dari gugus karbonil juga meningkatkan halangan sterik di sekitar karbon karbonil.
Aldehid dan Keton adalah senyawa-senyawa yang mengandung salah satu dari gugus-gugus penting di dalam kimia organik, yaitu gugus karbonil C=O. Suatu keton mempunyai dua gugus alkil (aril) yang terikat pada karbon karbonilnya. Gugus lain dalam suatu aldehida (R dalam rumus di bawah ini) dapat berupa alkil, aril atau H (Fessenden, 1999)
Senyawa aldehida dan keton yaitu atom karbon yang dihubungkan dengan atom oksigen oleh ikatan ganda dua (gugus karbonil). Aldehida adalah senyawa organic yang karbon-karbonilnya (karbon yang terikat pada oksigen) selalu berikatan dengan paling sedikit satu hydrogen.
Gugus karbonil adalah gugus yang paling menentukan sifat kimia aldehida dan keton. Oleh karena itu tidaklah mengherankan jika kebanyakan.
Sifat-sifat dari senyawa-senyawa ini adalah mirip satu sama lainnya. Meskipun demikian, oleh karena perbedaan dari kedua senyawa tersebut, yaitu :
1.      aldehida cukup mudah teroksidasi sedangkan keton sulit
2.      aldehida lebih reaktif daripada keton terhadap adisi nukleofilik, yang  mana reaksi ini karakteristik terdapat gugus karbonil.
Aldehid dan keton lazim terdapat dalam sistem makhluk hidup.ogesteron merupakan dua contoh aldehida dan keton yang  penting secara biologis.

Banyak aldehid dan keton mempunyai bau khas yang membedakannya. Umumnya aldehid berbau merangsang dan keton berbau harum. Misalnya, trans-sinamaldehid adalah komponen utama minyak kayumanis dan enantiomer-enantiomer karbon yang menimbulkan bau jintan dan tumbuhan permen. Keton testosteron dan estron banyak dikenal sebagai hormon yang menimbulkan cairan seksual (Fessenden, 1999).
Kegunaan lain pada aldehid dan keton juga masih banyak seperti formaldehida adalah suatu obat pembasmi kuman (desinfektan) dan bahan pengawet, vanilin suatu bumbu alamiah. Aldehida dan keton terkandung dalam berbagai produk sayur mayur seperti buah almond dan kayu manis, juga dalam produk hewani seperti hormon-hormon seks dan zat yang terdapat dalam rusa kecil.
Suatu alkohol primer dapat dioksidasi menjadi aldehid atau asam karboksilat. Alkohol sekunder dapat dioksidasi menjadi keton saja. Sedangkan pada alkohol tersier menolak oksidasi dengan larutan basa, dalam larutan asam alkohol mengalami dehidrasi menghasilkan alkena yang kemudian dioksidasi.
Beberapa oksidasi dari alkohol antara lain :
1.    Oksidasi menjadi aldehid. Hasil oksidasi mula-mula dari alkohol primer adalah suatu aldehid (RCH=O). Aldehid, siap dioksidasi menjadi asam karboksilat. Oleh sebab itu, reaksi antara alkohol primer dengan zat oksidator kuat akan menghasilkan asam karboksilat, dan bukan intermediet aldehid. Pereaksi tertentu harus dipakai apabila intermediet aldehid merupakan hasil yang diinginkan.
2.    Oksidasi menjadi keton. Suatu alkohol sekunder dioksidasi oleh oksidator yang reaktif kuat menjadi keton.
3.    Oksidasi menjadi asam karboksilat. Suatu oksidator kuat yang umum dapat mengoksidasi alkohol primer menjadi asam karboksilat.
Metode yang paling baik dan telah lama digunakan untuk mensintesis senyawa aldehid adalah oksidasi alkohol primer dan oksidasi pemutusan alkena. Berikut dapat dijelaskan  reaksi pemuatan aldehid.
1.      Oksidasi alkohol primer
Pada oksidasi alkohol primer ini, oksidator yang digunakan adalah senyawa KMnO4 atau K2Cr2O7 dalam suasana asam, yang kemudian dituliskan sebagai [O].
Contoh : Asetaldehida (etanal) dibuat dari etanol dengan reaksi berikut :
 
2.      Pemecahan glikol
3.      Mengalirkan uap alkohol promer diatas tembaga panas. Uap alkohol primer dapat teroksidasi dan menghasilkan suatu aldehida dengan katalis tembaga panas.
Contoh :
4.      Memanaskan garam kalsium suatu asam monokarboksilat jenuh dengan kalsium format. Pemanasam campuran garam kalsium asam monokarboksilat jenuh dengan kalsium format akan menghasilkan aldehida.
Contoh: :
                         
5.      Ozonolisis alkena : Alkena yang mempunyai paling tidak satu hidrogen vinilik akan mengalami pemecahan reaksi oksidasi dengan ozon menghasilkan aldehid. Jika reaksi ozonolisis dilakukan pada alkena siklik, maka akan didapat senyawa karbonil.

6.      Reduksi asil klorida : Jika asam karboksilat direaksikan dengan SOCl2 (tionil klorida), dan asil klorida yang dihasilkan direaksikan dengan litium tri-t-butoksialuminium hidrida pada suhu -78 OC , akan terbentuk senyawa aldehida.
Pembuatan keton ynag paling umum adalah oksidasi dari alkohol sekunder. Hampir semua oksidator dapat dipakai. Pereaksi yang khas antara lain khromium oksida (CrO3), phiridinium khlor kromat, natrium bikhromat (Na2Cr2O7) dan kalium permanganat (KMnO4) (Respati, 1986).
Ada beberapa perbedaan antara aldehid dan keton pada sifat dan struktur yang mempengaruhinya :
a.    Aldehid sangat mudah untuk beroksidasi, sedangkan keton mengalami kesukaran dalam beroksidasi.
b.    Aldehid biasanya lebih reaktif dari keton, terhadap suau reagen yang sama. Hal ini disebabkan karena atom karbonil dari aldehid kurang dilindungi dibandingkan dengan keton, begitu pula aldehid lebih mudah dioksidasi dari keton.
c.    Aldehid kalau teroksidasi akan menghasilkan asam karboksilat dengan jumlah atom yang sama tetapi untuk keton tidak, dikarenakan pada keton sering mengalami pemutusan ikatan yang menghasilkan 2 ikatan asamkarboksilat dengan jumlah atom karbon dari keton mula-mula (akibat putusnya ikatan karbon), keton siklik menghasilkan asam karboksilat dengan jumlah atom karbon yang sama banyak (Fessenden, 1999).
Jadi perbedaan kereaktifan antara aldehid dan keton melalui oksidator dapat digunakan untuk membedakan kedua senyawa tersebut.
Tata Nama Aldehida dan Keton
Dalam sistem IUPAC, nama suatu aldehida diturunkan dari nama alkana induknya dengan mengubah huruf akhir  -a menajdi –al. Tidak diperlukan nomor, gugus –CHO selalu memiliki nomor 1 untuk karbonnya.


Keton diberi nama degan mengubah –a alkana menjadi –on. Bila perlu digunakan nama on.
Aldehida dan keton lazim, nama trivialnya digunakan secara luas. Aldehida diberi nama menurut nama asam karboksilat induknya dengan mengubah nama akhiran asam –oat atau asam –at menjadi akhiran aldehida (Fessenden, 1999).

Ada beberapa uji Reaksi yang bisa digunakan untuk membedakan aldehid dan keton, diantaranya :
1.    Uji Tollens
   Reagen Tollens adalah larutan ion perak beramoniak, direduksi  oleh aldehida menjadi logam perak, sedangkan aldehida dioksidasi menjadi asam yang bertalian. Pengoksidasi ringan yang digunakan dalam uji ini adalah larutan basa jernih dan tidak berwarna dari perak nitrat. Untuk mencegah pengendapan ion perak sebagai oksida pada suhu tinggi, maka ditambahkan beberapa tetes larutan amonia. Amonia membentuk kompleks larut air dengan ion perak.  Aldehid dioksidasi menjadi anion karboksilat, ion Ag+ dalam pereaksi Tollens direduksi menjadi logam Ag. Uji positif ditandai dengan terbentuknya cermin perak pada dinding dalam tabung reaksi. Reaksi dengan pereaksi Tollens mampu mengubah ikatan C-H pada aldehid menjadi ikatan C-O (Respati, 1986).
Aldehid merupakan senyawa yang mudah dioksidasi, positif dengan uji Tollens, gugus C = O polar, terbentuk dari oksidasi alkohol sekunder. Keton memiliki sifat gugus C = O polar, tidak kuat dioksidasi, negatif dengan uji Tollens, terbentuk dari oksidasi alkohol sekunder (Riawan, 1990).
   Pereaksi Tollens sering disebut sebagai perak amoniakal, merupakan campuran dari AgNO3 dan amonia berlebihan. Gugus aktif pada pereaksi tollens adalah Ag2O yang bila tereduksi akan menghasilakan endapan perak. Endapan perak ini akan menempel pada tabung reaksi yang akan menjadi cermin perak. Oleh karena itu Pereaksi Tollens sering juga disebut pereaksi cermin perak (Sudarmo, 2006).
                                                                                               cermin perak
2.      Uji Fehling atau Benedict
           Larutan fehling apabila bereaksi dengan aldehida akan memberikan endapan berwarna merah bata setelah dipanaskan dari Cu2O. Tetapi larutan ini tidak memberikan tes yang positif terhadap aldehida aromatik. Larutan fehling Cu2+ dalam natrium tartat (Respati, 1986).
Persamaan reaksinya :





aldehid


aldehid

 
R              +  2Cu2+  +  5OH-  à   R          O-  +  Cu2O↓  +  3H2O
                                                                 endapan merah bata

           Dalam menguji adanya gugus aldehid (senyawa aldehid) dengan pereaksi fehling maka akan memberikan perubahan dalam pereaksian positifnya yaitu dapat dilihat dalam reaksi berikut :

RCHO + 2Ag(NH3)2OH è RCOONH4 + 2Ag   + 3NH3 + 2H2O

Reagen fehling :
           Campuran dari larutan CuSO4 dan larutan alkali dari garam tartrat, campuran ini berwarna biru yang mengandung kompleks ion Cu2+ dalam suasana alkali. bila ditambahkan aldehida dan dipanaskan maka ion Cu2+ akan direduksi menjadi bervalensi satu dan mengedap sebagai Cu2O yang berwarna merah.
RCHO + Cu2+ + NaOH + H2O è RCOONa + Cu2O + 4H+

Larutan Aldehid + fehling A dan fehling B dipanaskan
-          Formaldehid : Ungu keruh kebiruan Biru tua, endapan merah bata
-          Glukosa Ungu : bening kebiruan Merah bata, endapan merah bata

3.      Uji Adisi Bisulfit
           Reaksi yang lazim dari senyawa-senyawa karbonil ialah reaksi adisi kepada ikatan rangkap karbonil. Reagen biasanya adalah suatu nukleofil. Aklehid dan beberapa keton yang tidak mengandung gugus yang besar disekeliling atom karbon karbonil bereaksi dengan larutan pekat natrium bisulfit menghasilkan adisi yang berwujud hablur berwarna putih. Hasil adisi ini bila beraksi dengan asam akan membebaskan kembali  senyawa  karbonil,  sehingga  reaksi  ini  kadang-kadang  berguna  untuk memisahkan senyawa karbonil dari campurannya dengan senyawa-senyawa lain (Hart, 2003).

4.      Pengujian Fenilhidrazin
           Uji ini akan memperlihatkan adanya ikatan rangkap O dan C. Uji positif akan ditandai dengan larutan yang berwarna kuning, jingga atau merah dan terdapat endapan. Jika padatan yang terbentuk berukuran kecil maka larutan akan berwarna kuning, sedangkan jika padatan berukuran besar maka larutan akan berwarna mendekati merah. Baik pada aldehid maupun keton, uji ini akan menunjukkan hasil positif (Riswiyanto, 2009).
           2,4-dinitrofenilhidrazin sering disingkat menjadi 2,4-DNP atau 2,4-DNPH. Larutan 2,4- dinitrofenilhidrazin dalam sebuah campuran metanol dan asam sulfat dikenal sebagai pereaksi Brady.
H2N – NH2 (hidrazin)
           Fenilhidrazin, salah satu atom hidrogen dalam hidrazin digantikan oleh sebuah gugus fenil, C6H5. Ini didasarkan pada sebuah cincin benzen. Pada 2,4-dinitrofenilhidrazin, ada dua gugus nitro, NO2, yang terikat pada gugus fenil di posisi karbon 2 dan 4. Sudut yang padanya terikat nitrogen dianggap sebagai atom karbon nomor 1, dan perhitungan dilakukan searah arah jarum jam (Riswiyanto, 2009).
           Rincian reaksi antara aldehid dengan 2,4-dinitrofenilhidrazin sedikit bervariasi tergantung pada sifat-sifat aldehid yang terlibat, dan pelarut yang didalamnya dilarutkan 2,4-dinitrofenilhidrazin. Pada prosedur berikut, anggap kita menggunakan 2,4- dinitrofenilhidrazin dalam bentuk pereaksi Brady (sebuah larutan 2,4-dinitrofenilhidrazin dalam metanol dan asam sulfat):
           Masukkan beberapa tetes aldehid, atau bisa juga larutan aldehid dalam metanol, ke dalam pereaksi Brady. Terbentuknya endapan kuning atau oranye terang mengindikasikan adanya ikatan rangkap C=O dalam sebuah aldehid. Reaksi uji ini adalah yang paling sederhana untuk sebuah aldehid. reaksi keseluruhan dapat ditulis berikut :
           R dan R' bisa berupa kombinasi dari gugus-gugus hidrogen atau hidrokarbon (seperti gugus alkil). Jika sekurang-kurangnya satu dari kedua gugus tersebut adalah hidrogen, maka senyawa asalnya adalah aldehid. Produk reaksi dikenal sebagai "2,4-dinitrofenilhidrazon". Perlu diperhatikan bahwa yang berubah hanya akhiran saja, dari akhiran "-in" menjadi "-on". Ini kemungkinan membingungkan.
           Produk dari reaksi dengan etanal disebut sebagai etanal 2,4-dinitrofenilhidrazon; produk dari reaksi dengan propanon disebut propanon 2,4-dinitrofenilhidrazon - dan seterusnya.Ini tidak terlalu sulit.
           Reaksi ini dikenal sebagai reaksi kondensasi. Reaksi kondensasi merupakan reaksi dimana dua molekul bergabung bersama disertai dengan hilangnya sebuah molekul kecil dalam proses tersebut. Dalam hal ini, molekul kecil tersebut adalah air. Dari segi mekanisme, reaksi ini adalah reaksi adisi-eliminasi nukleofilik. 2,4-dinitrofenilhidrazin pertama-pertama memasuki ikatan rangkap C=O (tahap adisi) menghasilkan sebuah senyawa intermediet yang selanjutnya kehilangan sebuah molekulair (tahap eliminasi) (Besari, 1962).

5.      Uji Haloform
           Atom hidrogen yang terikat pada atom karbon alfa dari aldehid dan keton mudah diganti oleh halogen di dalam larutan biasa. Reaksi ini didasarkan pada reaksi yang cepat antara ion enolat dengan halogen. Oleh karena pengaruh tarikan elektron dari halogen, maka atom hidrogen yang masih ada pada atom karbon alfa akan lebih asam dan lebih mudah tertukar oleh halogen. Oleh karena itu, gugus metil yang terikat pada atom karbon karbonil mudah sekali diubah menjadi senyawa trihalo metil oleh halogen dari basa.
           Senyawa trihalo yang dihasilkan ini mudah sekali diuraikan oleh basa menghasilkan haloform. Oleh karena itu, rekasi ini dapat digunakan untuk menyediakan iodoform, bromoform, dan kloroform. Biassnya rekasi ini digunakan untuk menunjukkan adanya metil keton (R-CO-CH3). Senyawa ini bila direaksikan dengan iodium dan basa segera menghasilkan iodoform yang mengendap sebagai hablur berwarna kuning dan berbau obat. Oleh karena reagen di dalam reaksi ini ialah suatu oksidator, maka
aldehidaldehidsuatu alkohol yang mengandung suatu gugus (-CH(OH)3) sehingga akan menghasilkan pengujian yang positif (Fessenden, 1999).

R         Cl3   +   3OH-   à    R           O-   +   CHI3
Iodoform
6.      Kondensasi Aldol
           Kedua molekul yang berkndensasi didalam kondensasi aktif tidak perlukedua-duanya mempunyai atom hydrogen alfa, mudah berkondensasi dengan benzaldehid yang tidak mempunyai atom hydrogen alfa karena benzaldehid sendiri tidak bisa menjalankan reaksi aldol (Riyadhi, 2010).

7.      Asam Karboksilat
           Asam karboksilat   adalah suatu senyawa organik yang mengandung  gugus karboksil, -CO2H. Gugus karboksil mengandung sebuah gugus karbonil dan sebuah gugus hidroksil. Antar aksi dari kedua gugus ini mengakibatkan sutau kereaktivan kimia yang unik untuk asam karboksilat (Riyadhi, 2010).
b.   Asam Karboksilat
Asam-asam karboksilat penting secara biologis maupun komersial. Karena gugus karboksil bersifat polar dan tak terintangi, maka reaksinya tidak terlalu dipengaruhi oleh sisa molekul.
Sifat kimia yang paling menonjol dari asam karboksilat adalah keasamannya. Dibandingkan degnan asam mineral seperti HCl dan HNO3 (pKa sekitar 1 atau lebih rendah), asam karboksilat adalah asam lemah (pKa yang khas adalah sekitar 5). Namun asam karboksilat lebih bersifat asam daripada alkohol atau fenol, terutama karena stabilitas-resonansi anion karboksilatnya, RCO2-.

F.   ALAT DAN BAHAN
1.      Alat
1.      Tabung reaksi                                           14 buah
2.      Rak tabung reaksi                                    1 buah
3.      Gelas kimia                                              2 buah
4.      Gelas ukur                                                2 buah
5.      Termometer                                              1 buah
6.      Erlenmeyer 50 mL                                   1 buah
7.      Corong kaca                                             1 buah
8.      Spatula                                                     1 buah
9.      Kertas saring                                            2 buah
10.  Pembakar spirtus                                      1 buah
11.  Kaca arloji                                                2 buah
12.  Desikator                                                  1 buah
13.  Melting Block                                          1 buah
14.  Pipa kapiler                                              1 buah
15.  Kaki tiga                                                  1 buah
16.  Pipet tetes                                                20 buah

2.      Bahan
1.      AgNO3 5%                                              3 ml
2.      Asetaldehid                                              secukupnya
3.      n-Heptaldehid                                          3 tetes
4.      Formaldehid                                             secukupnya
5.      Sikloheksanon                                          3 tetes
6.      Reagen Fehling A                                    5 ml
7.      Reagen Fehling B                                    5 ml
8.      Reagen Benedict                                      15 ml
9.      Larutan Formaldehid                               secukupnya
10.  Aseton                                                      3 tetes
11.  Etanol                                                       10 ml
12.  Benzaldehid                                             13 tetes
13.  Larutan NaHSO3                                     5 ml
14.  Larutan CH3COOH                                5 ml
15.  Larutan HCl pekat                                   secukupnya
16.  Formalin                                                   secukupnya
17.  Isopropil alkohol                                      3 tetes
18.  Larutan NaOH 5 %                                  secukupnya
19.  Larutan NaOH 1 %                                  5 ml
20.  Larutan NHOH 2 %                               3 ml
21.  Larutan 2,4-dinitrofenilhidrazin              2 ml
22.  Reagen fenilhidrazin                                10 ml
23.  Larutan iodium                                        secukupnya
24.  Pipa kapiler                                              1 buah
25.  Larutan CH3COONa 10 %                      5 ml
26.  Larutan KMnO4 1 %                                3 ml
27.  Larutan FeCl3 5 %                                   10 ml
28.  Larutan K4FeCN6 1 M                             secukupnya
29.  HCl pekat                                                 secukupnya


G.      ALUR PERCOBAAN
1.      Uji Tollens


 
1.      Dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang telah dibersihkan dengan air sabun, air suling, dan dikeringkan
2.      Ditambahkan 2 tetes larutan NaOH 5%
3.      Dicampur dengan baik
4.      Text Box: Reagen TollensDitambahkan tetes demi tetes larutan NH4OH 2% sambil dikocok samai larut




a.      Tabung A
b.      Tabung B

c.       Tabung C
d.      Tabung D
2.      Uji Fehling dan Benedict




 


Text Box: Reagen FehlingDimasukkan ke dalam gelas kimi lalu diaduk hingga homogen


a.       Uji Fehling


1.      Tabung A

2.      Tabung B
3.      Tabung C

4.      Tabung D



b.      Uji Benedict


1.      Tabung A
2.      Tabung B








3.      Tabung C
4.      Tabung D


3.      Uji Bisulfit








Text Box: Hasil Pengamatan
 














4.      Pengujian dengan Fenilhidrazin
a.       Fenilhidrazin
Text Box: Hasil Pengamatan
1.      Dicuci dengan sedikit air dingin
2.      Ditambahkan sedikit keton/etanol
3.      Dibiarkan menjadi kering
4.      Diamati dan ditentukan titik lelehnya
 



b.      Sikloheksanon
Text Box: Hasil Pengamatan
1.      Dicuci dengan sedikit air dingin
2.      Ditambahkan sedikit metanol/etanol
3.      Dibiarkan menjadi kering
4.      Diamati dan ditentukan titik lelehnya
 


5.      Rekasi Haloform
a.      Tabung I
b.      Tabung II

6.      Kondensasi Alkohol

7.      Identifikasi Karboksilat
1.      Ditambahkan K4FeCN­6
2.      Dibandingkan dengan warna Ferriklorida dalam jumlah yang sama
 
Text Box: Hasil Pengamatan



H.  HASIL PENGAMATAN
No. Perc
Prosedur Pengamatan
Hasil Pengamatan
Dugaan/Reaksi
Kesimpulan
Sebelum
Sesudah
1




































































2
















































































3






































4















































5























6























7
· Uji Tollens













Tabung A
Tabung B
Tabung C

Tabung D

·                    Uji Fehling
Tabung A








Tabung C
Tabung D
·                    Uji Benedict
Tabung A
Tabung C






Tabung D

Uji Bisulfit
























·                    Uji Fenilhidrazin





·                    Uji Sikloheksanon

·                    Reaksi Haloform
Tabung 1
Tabung 2



·         Kondensasi Alkohol









·                    Identifikasi Karboksilat
Tabung 1















Tabung 2
-   Larutan AgNO3 larutan tidak berwarna.
-   Larutan NaOH larutan tidak berwarna.
-   Larutan NH4OH  larutan tidak berwarna.











-   Reagen Tollens larutan tidak berwarna.
-   Larutan benzaldehid  larutan tidak berwarna.







-   Reagen Tollens larutan tidak berwarna.
-   Formalin larutan tidak berwarna.
-    



-    Reagen Tollens larutan tidak berwarna.
-    Aseton larutan tidak berwarna.







-   Reagen Tollens larutan tidak berwarna.
-   Sikloheksanon larutan tidak berwarna.




-   Larutan Fehling A berwarna biru muda.
-   Larutan Fehling B larutan tidak berwarna.



-   Reagen Fehling larutan berwarna biru tua.
-   Formaldehid larutan tidak berwarna.





-          Reagen Fehling larutan berwarna biru tua.
-          Aseton larutan tidak berwarna.





-          Reagen Fehling larutan berwarna biru tua.
-          Sikloheksanon larutan tidak berwarna.


-          Reagen Benedict larutan berwarna biru  muda.
-          Formaldehid larutan tidak berwarna.


-          Reagen Benedict larutan berwarna biru  muda.
-          Aseton larutan tidak berwarna.








-   Reagen Benedict larutan berwarna biru  muda.
-   Sikloheksanon larutan tidak berwarna.

-   Larutan NaHSO3 berwarna kuning keruh.
-   Aquades tidak berwarna.
-   Aseton larutan tidak berwarna.
-   Etanol larutan tidak berwarna.
-   HCl pekat larutan tidak berwarna.




























-   Fenilhidrazin larutan berwarna coklat keruh.
-   Benzaldehid larutan tidak berwarna.
-   Aquades tidak berwarna.
-   Etanol larutan tidak berwarna.













-   Fenilhidrazin larutan berwarna coklat keruh.
-   Sikloheksanon larutan tidak berwarna.
-   Aquades tidak berwarna.
-   Etanol larutan tidak berwarna.













-   NaOH larutan tidak berwarna.
-   Aseton larutan tidak berwarna.
-   Iodium larutan berwarna kuning kecoklatan.



-   NaOH larutan tidak berwarna.
-   Isopropil alkohol larutan tidak berwarna.
-   Iodium larutan berwarna kuning kecoklatan.


-   NaOH larutan tidak berwarna.
-   Asetaldehid larutan tidak berwarna.



















-   Asam cuka tidak berwarna.
-   KMnO4 larutan berwarna ungu kehitaman.


















-   CH3COONa larutan tidak berwarna.
-   FeCl3 larutan berwarna kuning.
-   K4FeCN6 larutan tidak berwarna.
-   Larutan AgNO3 + larutan NaOH= endapan coklat.
-   Ditambah 35 tetes larutan  NH4OH menjadi larutan tidak berwarna.












-   Reagen Tollens+ benzaldehid larutan tak berwarna.
-   Setelah dipanaskan terbentuk endapan bulat berwarna putih dan larutan larutan tidak berwarna.

-   Reagen Tollens + formalin larutan berwarna hitam.
-   Setelah dipanaskan terbentuk cermin perak.

-   Reagen Tollens + aseton larutan berwarna coklat.
-   Setelah dipanaskan larutan berwarna sedikit kuning.



-   Reagen Tollens + sikloheksanon larutan tidak berwarna.
-   Setelah dipanaskan larutan berwarna kehitaman.

-   Larutan Fehling B + Fehling A berwarna biru tua.

-   Reagen Fehling + formaldehid 3 tetes larutan berwarna biru tua.
-   Setelah dipanaskan terbentuk endapan merah bata, larutan biru tua.
-   Reagen Fehling + aseton 3 tetes larutan berwarna biru tua.
-   Setelah dipanaskan larutan berwarna biru tua.








-   Reagen Fehling + sikloheksanon 3 tetes larutan berwarna biru tua.
-   Setelah dipanaskan larutan berwarna biru tua.


-   Reagen Benedict + formaldehid larutan biru muda.
-   Setelah dipanaskan terbentuk endapan merah bata.

-   Reagen Benedict + aseton larutan biru muda.
-   Setelah dipanaskan larutan berwarna biru muda.





-   Benedict + sikloheksanon larutan biru muda dengan sedikit gelembung.
-   Setelah dipanaskan  larutan berwarna biru muda.

-   Larutan NaHSO3 setelah didinginkan berwarna kuning keruh.
-   Setelah ditambah aseton terbentuk endapan putih dan larutan tidak berwarna.
-   Setelah ditambah etanol larutan berwarna putih kekuningan.
-   Setelah disaring residu berwarna putih dan filtrat berwarna kuning.
-   Setelah ditambah HCl pekat menjadi tidak berwarna.











-   Fenilhidrazin + benzaldehid larutan berwarna kuning, endapan coklat kemerahan, bau menyengat.
-   Setelah disaring filtrat berwarna kuning dan endapan coklat kemerahan.
-   Setelah residu dicuci menggunakan aquades dan etanol berwarna coklat kemerahan bau menyengat.



-   Fenilhidrazin + sikloheksanon larutan berwarna kuning, endapan coklat kemerahan, bau menyengat.
-   Setelah disaring filtrat berwarna kuning dan endapan coklat kemerahan.
-   Setelah residu dicuci menggunakan aquades dan etanol berwarna coklat kemerahan bau menyengat.


-   NaOH+aseton larutan tidak berwarna.
-   Setelah ditambah iodium larutan berwarna kuning dan endapan berwarna kuning.
-   Bau antiseptik.

-   NaOH+isopropil alkohol larutan tidak berwarna.
-   Setelah ditambah iodium larutan berwarna kuning keruh.
-   Bau antiseptik.



-   NaOH + asetaldehid larutan tidak berwarna dan bergelembung.
-   Setelah dididhkan, larutan berbau menyengat.

















-   Asam cuka + KMnO4 larutan berwarna ungu.





















-   CH3COONa + FeCl3 larutan berwarna coklat kemerahan.
-   Setelah dipanaskan terbentuk endapan merah coklat dan larutan coklat kekuningan.
-   Serelah disaring, filtrat tidak berwarna.
-   Setelah ditambahkan  K4FeCN6 larutan berwarna kuning.
-          2AgNO3(aq) + 2NaOH (aq)         Ag2O(s) + 2NaNO3(aq) + HO(l)
-          2Ag+(aq) + 2OH-(aq)
         Ag2O(aq) + H2O(l)                         
-          2Ag2O(aq) + NHOH (aq)        2[Ag(NH3)2]+ (aq) + 2OH-(aq)










-          (aq) + 2[Ag(NH3)2]+ (aq)

(aq) +2Ag(s)

-          (aq) + 2[Ag(NH3)2]+ (aq)
 (aq) + 2Ag(s) + 4 NH3(aq) + 2H+(aq)





-          2[Ag(NH3)2]+ (aq) +
(aq)









-          (aq) + 2[Ag(NH3)2]+ (aq)





-          (aq) + 2Cu2+(aq)        


-          CuO(s) + 3H2O(l)+(aq)











-          (aq) + 2Cu2+(aq)








-          (aq) + 2Cu2+(aq)





-          (aq) + 2Cu2+(aq)        CuO(s) + (aq) + 2H2O(l)


-          (aq)+2Cu2+(aq)








-          (aq) + 2Cu2+(aq)



-          NaHSO3(aq) + (aq) (aq)
 (proton transfer)(aq)
-          (aq)CH3COCH3(aq)+ NaCl(aq)+SO2(g)+ H2O(l)










-          Titik leleh menurut teori, Google, 120°C.
 (aq)(aq)
(aq)















-          Titik leleh menurut teori, Google, 80°C.
(aq)
(aq) + H2O(l)













-  (aq) + 3I2(aq) + 3NaOH(aq)         3H2O (l) + 3NaI(aq) + CHCI3(aq) +(aq)
-  (aq) + I2 (aq) + 2 NaOH (aq)          2HI (aq) + (aq) + 2H2O(l)
-  (aq) + 3I2 (aq) + 3NaOH (aq)         3HI (aq) + 2 H2O (l) + (aq)
-  (aq) + NaOH(aq)        CHI3 (aq) + CH3COONa (aq)

(Gambar 1 Reaksi Aldol


-  CH3COOH(aq) + 2MnO4(aq)          3CO2 (g) + 2  MnO2(s) + 2 OH-(aq) + 2 H2O(l)






















-  CH3COONa (aq) + FeCl(aq)       CH3COO- (aq) + NaCl(aq) + Fe3+ (aq)
-  CH3COO- (aq) +  Fe3+ (aq)+2H2O(l)       [Fe(OH)2(CH3COO)6]+  (aq) +  2H+(aq)
-  [Fe(OH)2(CH3COO)6]+  (aq) + 4H2O(l)      3 Fe(OH)2CH3COO(s) + 3CH3COOH(aq)+ H+ (aq)
- Uji Tollens digunakan untuk identifikasi adanya senyawa aldehid dan keton (formalin) dibuktikan dengan terbentuknya endapan perak.


































































- Uji Fehling dapat digunakan untuk identifikasi gugus aldehid ditandai dengan adanya endapan berwarna merah bata pada uji formaldehid. Reagen Fehling tidak dapat bereaksi dengan senyawa keton (aseton dan heksanon).





























- Reagen Benedict dapat digunakan untuk identifikasi gugus aldehid (formaldehid) dengan terbentuknya endapan berwarna merah bata.











- Adisi bisulfit mengakibatkan putusnya ikatan rangkap pada keton menjadi ikatan tunggal. Adisi berwujud hablur  berwarna putih. Penambahan HCl membebaskan gugus karbonil ditandai dengan hablur atau endapan yang larut kembali.



























- Titik leleh pada praktikum 127°C.






















- Titik leleh pada praktikum 82°C.






















- Aseton direaksikan dengan I2 dan NaOH membentuk iodoform ditandai dengan terbentuknya endapan kuning.

- Isopropil alkohol dengan NaOH dan I2 membentuk iodoform ditandai dengan terbentuknya endapan kuning dalam suasana basa.





























- Asetaldehid yang direaksikan dengan basa encer mengalami kondensasi yang menghasilkan aldol.
- Untuk mengidentifikasi asam karboksilat dapat menggunakan asam asetat yag teroksidasi oleh KMnO dengan terbentuknya endapan coklat. Pada filtrat terjadi reaksi pengompleksan.


I.     ANALISIS DAN PEMBAHASAN
1.    Reagen Tollens
Reagen Tollens adalah larutan ion perak beramoniak, direduksi  oleh aldehida menjadi logam perak, sedangkan aldehida dioksidasi menjadi asam yang bertalian. Pengoksidasi ringan yang digunakan dalam uji ini adalah larutan basa jernih dan tidak berwarna dari perak nitrat. Untuk mencegah pengendapan ion perak sebagai oksida pada suhu tinggi, maka ditambahkan beberapa tetes larutan amonia. Amonia membentuk kompleks larut air dengan ion perak.  Aldehid dioksidasi menjadi anion karboksilat, ion Ag+ dalam pereaksi Tollens direduksi menjadi logam Ag. Uji positif ditandai dengan terbentuknya cermin perak pada dinding dalam tabung reaksi. Reaksi dengan pereaksi Tollens mampu mengubah ikatan C-H pada aldehid menjadi ikatan C-O (Respati, 1986).
Alkohol sekunder dapat dioksidasi menjadi keton selanjutnya keton tidak dapat dioksidasi lagi dengan menggunakan pereaksi Tollens. Hal ini disebabkan karena keton tidak mempunyai atom hidrogen yang menempel pada atom karbon karbonil. Keton hanya dapat dioksidasi dengan keadaan reaksi yang lebih keras dibandingkan dengan aldehid. Hasil dari pengujian Tollens adalah, jika yang diuji merupakan senyawa keton, maka tidak ada perubahan pada larutan tersebut, sedangkan jika yang diuji merupakan senyawa aldehid, maka pada larutan akan menghasilkan endapan perak berwarna abu-abu atau yang sering disebut cermin perak pada tabung.
Pengujian pertama ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan aldehid dan keton melalui pengujian kimia sederhana yaitu uji Tollens. Uji Tollens merupakan salah satu uji yang digunakan untuk membedakan senyawa aldehid dan senyawa keton. Prinsip dari uji Tollens adalah reaksi reduksi dan oksidasi, dimana Aldehid bertindak sebagai reduktor (Aldehid akan dioksidasi menjadi anion karboksilat) sedangkan reagen tollens bertindak sebagai oksidator (ion Ag+ dalam reagensia Tollens direduksi menjadi logam Ag). Langkah pertama setelah dilakukan pembersihan alat (dioven) untuk mensterilkan alat-alat yang akan digunakan untuk pembuatan reagen tollens, setelah itu dilakukan pembuatan reagen tollens dengan cara  mencampurkan 2 mL AgNO3 5% jernih tak berwarna dengan 2 tetes NaOH 5% jernih tak berwarna. Fungsi dari penambahan NaOH adalah memberi suasana basa pada larutan. Didapatkan hasil campuran antara larutan AgNO3 dan larutan NaOH  yang menghasilkan larutan berwarna kecoklatan.
Persamaan reaksinya yaitu :
Setelah terjadi endapan kemudian ditambahkan tetes demi tetes larutan tak berwarna NH4OH 2% sambil dikocok sampai endapan larut sempurna. Fungsi penambahan larutan NH4OH 2%  sebagai pelarut untuk melarutkan endapan ion perak sebagai oksida (Ag2O) yang telah terbentuk dan dihasilkan reagen Tollens. Untuk menghasilkan reagen Tollens diperlukan larutan NH4OH 2% sebanyak 35 tetes untuk melarutkan endapan secara sempurna. Persamaan reaksi yang terjadi yaitu :

Pereaksi Tollens
Selanjutnya pengujian reagen Tollens. Reagen Tollens dengan senyawa aldehid dapat bereaksi, sedangkan dengan senyawa keton reagen Tollens tidak dapat bereaksi. Disediakan empat tabung reaksi yang masing-masing diberi dua tetes sampel uji. larutan benzaldehid untuk tabung pertama, larutan formalin untuk tabung kedua, larutan aseton untuk tabung ketiga, dan larutan sikloheksanon untuk tabung keempat. Semua  tabung dikocok dan ditunggu   sampai   10   menit kemudian dipanaskan pada suhu 50oC didalam penangas air. Fungsi dari pemanasan untuk mempercepat terjadinya reaksi pada larutan. Setelah pemanasan didapatkan cermin perak pada tabung kedua, yakni campuran antara reagen tollens dan larutan formalin. Terbentuknya cermin perak ini membuktikan bahwa formaldehid dioksidasi menjadi asam karboksilat, sedangkan ion Ag+ dalam reagen tollens direduksi menjadi logam Ag (cermin perak).

Cermin perak  terbentuk karena adanya oksidasi formaldehid oleh reagen menjadi asam karboksilat yang dibuktikan dengan terbentuknya endapan perak di dinding   tabung. Oksidasi ini terjadi dikarenakan adanya atom hidrogen yang terikat pada gugus karbonil dan dapat dilepas dengan mudah pada proses oksidasi. Banyaknya jumlah endapan pada dinding  tabung dikarenakan gugus karbonil pada formalin kurang terlindungi oleh rantai utamanya daripada gugus karbonil pada benzaldehid. Jadi akan lebih mudah memutus ikatan H  pada formaldehid. Cermin perak yang dihasilkan tersebut terjadi dikarenakan ion perak beramoniak yang terdapat dalam reagen Tollens direduksi oleh formaldehid menjadi logam perak. Sedangkan pada tabung tiga dan empat tidak terbentuk cermin perak, karena aseton dan sikloheksanon merupakan turunan dari gugus keton. Sesuai dengan dasar teori bahwasannya reagen tollens tidak dapat mengoksidasi gugus keton melainkan reagen tollens dapat mengoksidasi gugus aldehid. Reaksi yang terjadi pada setiap tabung adalah :

a.         Tabung I: Reagen tollens+benzaldehid


 



b.        Tabung II: Reagen tollens+formaldehid


c.         Tabung III: Reagen tollens+aseton
 




d.        Tabung IV: Reagen tollen+sikloheksanon
2.    Uji  Fehling
Uji Fehling dan Benedict ini juga bertujuan untuk membedakan senyawa yang merupakan senyawa aldehid dan senyawa keton. Larutan Fehling dan larutan Benedict digunakan dengan cara yang sama.
Pada percobaan kedua yaitu uji Fehling yang bertujuan untuk membedakan reaksi antara aldehid dan keton menggunakan reagen Fehling. Prinsip uji Fehling yaitu reaksi reduksi dan oksidasi dimana Aldehid akan dioksidasi membentuk asam karboksilat, sementara ion Cu2+ akan tereduksi menjadi Cu+. Hasil uji positif apabila dalam suatu sampel terbentuk endapan merah bata (Raymond, 2005). Hasil dari uji tersebut jika senyawa itu merupakan senyawa keton, maka tidak ada perubahan pada larutan biru tersebut. Sedangkan jika senyawa itu merupakan senyawa aldehid, maka akan terbentuk endapan yang berwarna merah bata pada larutan berwarna biru tersebut. Dalam percobaan ini yang pertama dilakukan adalah membuat reagen fehling, 10 ml Fehling A (CuSO4) berwarna biru ditambahkan 10 ml Fehling B (KNaC4H4O6·4H2O) tidak berwarna dan menghasilkan larutan berwarna biru pekat. Reaksi ini membentuk senyawa kompleks bistartratocuprate (II). Berikut persamaan reaksinya:
Persamaan reaksinya sebagai berikut ini :
2KNaC4H4O6 + 2Cu2+ + 2OH- à Cu (C4H4O6)2- + Cu(OH)2 + 2Na+ + 2K+
Setelah itu reagen fehling digunakan untuk menguji formaldehid, aseton, sikloheksanon. Pertama dimasukkan masing-masing 5ml reagen fehling ke dalam 3 tabung reaksi kemudian pada tabung reaksi 1 ditambahkan 5 tetes larutan formaldehid berubah menjadi biru tua didihkan selama 5 menit menghasilkan endapan berwarna merah bata dan larutan berwarna biru keunguan. Pada tabung reaksi 2  ditambahkan 5 tetes larutan aseton tidak berwarna, larutan menjadi biru tua dan di didihkan selama 5 menit tidak ada perubahan pada larutan. Kemudian pada tabung reaksi 3 ditambahkan 5 tetes larutan sikloheksanon, larutan menjadi biru tua kemudian di didihkan selama 5 menit menghasilkan larutan berwarna biru keunguan tidak ada endapan.
Pada tabung reaksi 1 terbentuk endapan merah bata, disini menunjukkan bahwa larutan formaldehid dapat bereaksi dengan reagen fehling. Sesuai dengan teori bahwa reagen fehling  mengandung  ion Cu2+ yang bersifat oksidator lemah yang dapat mengoksidasi gugus Aldehid menjadi gugus Asam karboksilat. Sedangkan Aldehid mereduksi ion Tembaga(II) menjadi Tembaga(I) oksida. Hal ini dibuktikan dengan adanya endapan merah bata, Cu2O yang mengendap.
Berikut adalah persamaan reaksinya:
                                                                                    Endapan merah bata
Sedangkan pada aseton yang ditambahkan pereaksi fehling setelah dipanaskan tidak terjadi perubahan warna (tetap berwarna biru tua). Hal ini disebabkan karena aseton dengan dua gugus alkil lebih stabil dibandingkan formaldehid yang tidak memiliki gugus alkil. Aseton tidak bereaksi dengan pereaksi fehling karena gugus karbonil distabilkan oleh alkil didekatnya yang sifatnya menolak elektron. Menurut teori pereaksi fehling adalah zat pengoksidasi lemah, hanya aldehid yang dapat bereaksi dengan pereaksi fehling, sehingga untuk membedakan antara aldehid dan keton digunakan pereaksi tollens dan pereaksi fehling yaitu fehling A dan B.
Berikut persamaan reaksi senyawa  aseton dengan reagen fehling:



Berikut persamaan reaksi senyawa sikloheksanon dengan reagen fehling:
3.    Uji bisulfit
Percobaan adisi bisulfit ini bertujuan untuk menguji keberadaan keton berdasarkan kereaktifan senyawa keton terhadap suatu neuklofil, yaitu SO3-. Pereaksi dalam adisi bisulfit ini adalah Natrium hidrogensulfit (NaHSO3). Natrium hidrogensulfit biasa juga dikenal sebagai natrium bisulfit. Reaksi ini hanya berlangsung dengan baik untuk aldehid. Untuk keton, salah satu gugus hidrokarbon yang terikat pada gugus karbonil harus berupa gugus metil. Aldehid atau keton dikocok dengan sebuah larutan jenuh dari natrium hidrogensulfit dalam air. Reaksi adisi natrium hidrogensulfit pada aldehid dan keton biasanya digunakan dalam pemurnian aldehid dan keton dimana reaksi ini berlangsung baik. Senyawa adisi yang dihasilkan bisa diurai dengan mudah untuk menghasilkan kembali aldehid atau keton dengan memperlakukannya dengan asam encer atau basa encer.
Prinsip dari percobaan ini adalah adisi bisulfit pada ikatan rangkap karbonil. Digunakan 5 ml NaHSO3 tidak berwarna dalam erlenmeyer 50 ml kemudian didinginkan di dalam air untuk membentuk kristal NaHSO3. Selanjutnya ditambahkan 2,5 ml aseton tidak berwarna, tetes demi tetes sambil dikocok sampai tidak menghasilkan perubahan warna, ditambah 10 ml etanol tidak berwarna menghasilkan hablur berwarna putih.  Fungsi  penambahan etanol sebagai katalis untuk mempermudah proses  pengahabluran. Pada reaksi ini reagen bisulfit merupakan nukleofil. Aseton tidak mengandung gugus yang besar artinya rintangan steriknya kecil sehingga reaksi adisi bisulfit dapat berlangsung. Adisi tersebut dapat diindikasi dari bereaksiya aseton dengan larutan natrium bisulfit membentuk hablur yaitu 2-natriumsulfit-2-pentanol yang berwarna putih susu. Selain itu reaksi-ini dapat berlangsung karena ikatan-ikatan rangkap karbon-karbon yang menyendiri bersifat non-polar. Dan nukleofil tersebut menyerang ikatan –pi sehingga ikatan-pi dapat terputus dan terbentuk ikatan tunggal dengan nukleofil (Besari, 1962).
Larutan dan hablur yang terbentuk disaring, didapatkan residu (hablur berwarna putih) dan filtrat yang tertampung dalam tabung reaksi. Hablur berwarna putih dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan ditambah beberapa tetes HCl pekat sampai hablur larut. Penambahan HCl pekat berfungsi untuk memberikan suasana asam sehingga menandakan penambahan HCl pekat menyebabkan ikatan tunggal dalam hablur kembali membentuk ikatan rangkap sehingga terbentuk kembali aseton dan larutan NaHSO3. Persamaan reaksinya adalah:
4.    Pengujian dengan Fenilhidrazin
Pada percobaan ini yaitu pengujian dengan fenilhidrasin yang bertujuan untuk mengidentifikasi senyawa aldehid dan keton dengan prinsip kerjanya mengamati perbedaan titik lelehnya dengan cara mereaksikannya dengan fenilhidrasin. Digunakan benzaldehid sebagai aldehid dan sikloheksanon sebagai keton.
Dalam percobaan ini, pertama 5 ml fenilhidrasin yang berwarna kuning dengan bau menyengat dimasukkan pada tabung 1 ditambahkan 10 tetes benzaldehid tidak berwarna menghasilkan larutan berwarna putih keruh dan endapan berwarna kuning. Agar reaksi berjalan sempurna tabung reaksi ditutup dan diguncangkan sehingga menghasilkan hablur berwarna kuning. Hal tersebut dapat terjadi karena pasangan elektron bebas pada atom fenilhidrazin menyebabkan senyawa-senyawa ini bereaksi membentuk fenilhidrazon yang mula-mula membebaskan 1 mol air. Hasil dari reaksi ini adalah berupa hablur dimana hablur ini nantinya dapat mengidentifikasi senyawa benzaldehid. Reaksi yang terjadi :
Endapan disaring dan dicuci dengan air untuk melarutkan zat-zat yang tidak diinginkan serta agar hablur dapat menggumpal. Kemudian ditambah etanol tidak berwarna untuk menghablurkan kembali hablur yang sudah terbentuk. Residu dituang diatas kaca arloji dan diletakkan di eksikator.
Pengujian titik leleh diperoleh sebesar 127oC. Angka ini menunjukkan bahwa senyawa yang diuji adalah senyawa benzaldehid. fenilhidrazin yang didapat  tergolong murni, dikarenakan titik leleh yang diperoleh berada pada rentan titik leleh yang jelaskan sesuai teori. Jika dibandingkan dengan sikloheksanon, benzaldehid  lebih tinggi titik lelehnya dibanding keton, Hal ini dikarenakan pada aldehid terdapat ikatan hidrogen antar molekul sehingga mengakibatkan ikatannya kuat sehingga titik lelehnya tinggi.
Pada tabung 2 5 ml fenilhidrazin ditambah 10 tetes kemudian diguncang dan menghasilkan endapan putih kekuningan. Selanjutnya disaring dengan kertas saring dan corong penyaring untuk memisahkan residu dari filtratnya. Residu dicuci dengan sedikit air kemudian ditambah sedikit etanol. Dihasilkan titik leleh fenilhidrazon sebesar 82 oC, dimana secara teori 90oC – 120oC. menurut titik leleh yang dihasilkan jika dibandingkan dengan benzaldehid, sikloheksanon  lebih rendah titik lelehnya dibanding benzaldehid, hal ini dikarenakan pada keton tidak terdapat ikatan hidrogen antar molekul sehingga mengakibatkan ikatannya lemah sehingga titik lelehnya rendah menyebabkan sikloheksanon lebih banyak membutuhkan kalor untuk memutuskan ikatan rangkapnya.
Berikut persamaan reaksi pada tabung II:

5.    Reaksi Haloform
Pada percobaan ini bertujuan untuk membedakan aldehid dan keton menggunakan larutan iodium untuk membentuk iodoform. Iodoform termasuk senyawa haloform selain kloroform dan bromoform. Iodoform merupakan salah satu haloform yang berbentuk kristal berwarna kuning dan sedikit larut dalam air. Secara umum haloform dibuat dari suatu senyawa metil keton atau metil aldehida atau dari senyawa yang bila teroksidasi menghasilkan senyawa tersebut. Prinsip percobaan ini berdasarkan kemampuan untuk membuat senyawa haloform yang tersusun atas trihalometil berupa iodoform dalam suasana basa.

Penambahan NaOH ini untuk memberi suasana basa, karena dalam suasana basa senyawa trihalo mudah diuraikan menjadi haloform. Ditambahkan 5 tetes aseton pada tabung 1 lalu ditambah 2 mL iodium sambil digoncangkan sampai iodium tidak hilang lagi. Fungsi dari penambahan iodium yaitu untuk membentuk haloform karena atom hidrogen yang terikat pada atom karbon alfa dari aldehid dan keton diganti oleh iodin didalam larutan membentuk iodoform. Penambahan iodium ini sampai warna larutan iodium tidak  hilang. Hasil reaksi ini menghasilkan terbentuknya endapan kuning keruh (+++) dan memiliki bau seperti obat. Pada tabung 2 ditambah 5 tetes isopropil alkohol lalu ditambah 2 mL iodium sambil digoncangkan sampai iodium tidak hilang lagi, menghasilkan terbentuknya endapan kuning keruh (++) serta memiliki bau seperti obat. Jumlah endapan pada aseton lebih banyak daripada endapan isopropil alkohol. Hal tersebut dikarenakan atom hidrogen yang terikat pada atom karbon untuk aldehid dan keton dapat diganti oleh unsur halogen dalam larutan basa. Reaksi ini dapat berjalan dengan cepat karena adanya pengaruh tarikan elektron pada unsur halogen, sehingga atom hidrogen pada atom karbon menjadi lebih bersifat asam yang menyebabkan atom hidrogen mudah diganti oleh unsur lain, seperti iod. Sehingga menambah endapan yang terbentuk.

6.    Kondensasi Aldol
Kondensasi Aldol merupakan suatu reaksi adisi dimana tidak dilepaskannya suatu molekul kecil. Suatu reaksi kondensasi adalah reaksi dimana dua molekul atau lebih bergabung menjadi satu molekul yang lebih besar dengan atau tanpa hilangnya suatu molekul kecil (seperti air). Bila suatu aldehida diolah dengan basa NaOH dalam air, ion enolat yang terjadi cepat bereaksi pada gugus karbonil dari molekul aldehida yang lain. Hasilnya adalah adisi suatu molekul aldehida ke molekul aldehida yang lain (Fessenden dan Fessenden, 1986).
Anion enolat ialah suatu nukleofil, maka ia dapat ditambah kepada gugus karbonil. Reaksi ini akan menghasilkan suatu ikatan karbon-karbon yang baru, sehingga sangat berguna di dalam sintesa. Bila aldehida direaksikan dengan larutan basa yang encer, ia akan berkondensasi sesamanya menghasilkan aldol, yang bila dipanaskan akan menyingkirkan air menghasilkan aldehida tak jenuh, yakni krotonaldehida.
OH-
 
                           


    +                       


panas
 
H2O
 
                                       
                                                                         (Krotonaldehid)     
Kedua molekul yang berkondensasi di dalam kondensasi aldol tidak perlu kedua-duanya mempunyai atom hidrogen alfa, mudah berkondensasi dengan benzaldehid yang tidak mempunyai atom hidrogen alfa karena benzaldehid sendiri tidak bisa menjalankan reaksi aldol.
Pada percobaan ini, dimasukkan 4 mL larutan NaOH 1% ditambah 0,5 mL larutan asetaldehid. Kemudian digoncang hingga homogen. Ketika asetaldehid ditambahkan NaOH larutan tetap jernih tidak berwarna dan menghasilkan bau yang menyengat atau tengik (++). Setelah dipanaskan selama 3 menit larutan menjadi keruh berwarna kuning dan timbul bau yang lebih menyengat (++++). Timbulnya bau tengik ini menandakan terjadinya reaksi kondensasi aldol.
Dari percobaan ini asetaldehid jika direaksikan dengan basa encer (NaOH 1%) mengalami kondensasi menghasilkan aldol, yang jika dipanaskan akan lepaskan molekul air dan menghasilkan aldehid tak jenuh.

7.    Identifikasi Karboksilat
Pada percobaan ke 8 yakni identifikasi Asam Karboksilat yang dimulai dengan penambahan larutan CH3COOH dengan KMnO4. CH3COOH adalah asam sederhana setelah asam formiat yang biasa digunakan oleh konsumen rumah tangga untuk penambah cita rasa asam. setelah dimasukkan dalam tabung, CH3COOH ditambahkan KMnO4 yang memiliki karakteristik cairan berwarna ungu sangat pekat dengan fungsi untuk  mengoksidasi CH3COOH karena sifatnya sebagai oksidator kuat. Akan tetapi, pada saat penambahan KMnO4 tidak menimbulkan reaksi suatu apapapun. Hal ini dapat terjadi karena CH3COOH tidak reaktif terhadap KMnO4 dengan hasil tetap berwarna ungu pekat.
Reaksi yang terjadi oleh keduanya adalah sebagai berikut:
CH3COOH + 2KMnO4 ® 3CO2 + 2MnO4 + 2KOH +  2H2O
Praktikum dilanjutkan dengan memasukkan 5 mL larutan tidak berwarna CH3COONa 10% ditambahkan 3 mL larutan kuning jernih FeCl3 5% berfungsi untuk menghasilkan endapan yang mengandung ion ferri.  Setelah penambahan FeCl3 5% larutan berubah warna menjadi warna merah kecoklatan dengan bau khas Asam Asetat.  Berikut reaksi yang terjadi:
3CH3COONa (aq) + FeCl3 (aq) + H2O  à Fe(OH)2 [(CH3COO)3] (s) + CH3COOH (aq) + 3 NaCl (aq)
Larutan dipanaskan hingga membentuk endapan yang menggumpal berwarna coklat, dan filtrat tidak berwarna. Setelah itu filtrat ditambahkan pereaksi K4­FeCN6 berfungsi untuk menunjukkan apakah filtrat masih mengandung ion ferri atau tidak. Dan setelah filtrat ditambahkan dengan 3 tetes larutan K4­FeCN6  larutannya berubah bewarna hijau muda. Setelah penambahan tersebut hasilnya dibandingkan dengan warna FeCl3 dengan jumlah yang sama. Ternyata warna dari kedua larutan tersebut berbeda yaitu warna hijau muda untuk filtrat dengan penambahan K4­FeCN6 dan warna  kuning jernih untuk FeCl3. Hal ini menunjukkan bahwa tidak lagi terkandung ion ferri dalam filtrat, tetapi larutan tersebut mengandung ion ferro. Reaksi yang terjadi adalah seperti dibawah ini :
Fe2+ + [Fe(CN)6]3- → Fe3+ + [Fe(CN)6]4-
percobaan ini dinamakan reaksi asam asetat.


J.      KESIMPULAN
1.    Uji tollens digunakan untuuk identifikasi adanya senyawa aldehid dan keton (formalin) dibuktikan dengan terbentuknnya endapan
2.    Reagen fehling dapat digunakan untuk identifikasi gugus aldehid ditandai dengan adanya endapan merah bata pada uji dengan formaldehid
3.    Reagen fehling tidak dapat bereaksi dengan senyawa keton (aseton dan sikloheksanon)
4.    Reagen benedict dapat digunakan untuk identifikasi gugus aldehid (formaldehid) dengan terbentuknya endapan berwarna merah bata
5.    Adisi bisulfit menghasilkan putusnya ikatan rangkap pada keton menjadi ikatan tunggal adisi berwujud hablur berwarna putih, kemudian penambahan HCl membebaskan gugus karbonil ditandai dengan adanya hablur atau endapan yang larut
6.    Titik leleh benzaldehid fenilhidrazin didapatkan sebesar 127oC
7.    Titik leleh sikloheksanon didapatkan sebesar 82 oC
8.    Aseton direaksikan dengan iodium dan NaOH membentuk iodoform ditandai dengan endapan kuning
9.    Isopropil alkohol bereaksi dengan NaOH dan iodium membentuk iodoform ditandai dengan endapan kuning dengan suasana basa
10.    Asetaldehid yang direaksikan dengan basa encer mengalami kondensasi yang menghasilkan aldol
11.    Untuk mengidentifikasi gugus karboksilat, dapat menggunakan asamm asetat yang teroksidasi oleh KMnO4 dengan terbentuknya endapan coklat kehitaman dimana terjadi pengompleksan yaitu filtrat.


DAFTAR PUSTAKA

 

Besari, I. (1962). Kimia Organik untuk Universitas. Bandung: Armico.
Fessenden, J. F. (1999). Kimia Organik. Jakarta: Erlangg.
Hart, H. (2003). Kimia Organik. Jakarta: Erlangg.
Petrucci, R. H. (1987). Kimia Dasar. Jakarta: Erlangga.
Raymond, C. (2005). Kimia Dasar Konsep-konsep Inti Jilid 1. Jakarta : Erlangg.
Respati. (1986). Pengantar Kimia organic Jilid 1. Jakarta: Aksara Baru.
Riawan, S. (1990). Kimia Organik Jilid I. Jakarta: Bina Rupa Aksara.
Riswiyanto. (2009). Kimia Organik. Jakarta: Erlangga.
Riyadhi, A. (2010). Petunjuk Praktikum Kimia Organik I. Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah.
Sudarmo, U. (2006). Kimia 3. Jakarta: Erlangga.



LAMPIRAN
a.    Jawaban Pertanyaan
1.    Jelaskan perbedaan cara menguji secara kualitatif antara senyawa yang memiliki gugus aldehid, keton, dan karboksilat !
Jawab :
Untuk menguji senyawa yang memiliki gugus aldehid dan keton dapat digunakan beberapa pereaksi, antara lain :
a.    Pereaksi Tollens
Pereaksi tollens berfungsi sebagai oksidator lemah yang mengoksidasi senyawa aldehid menjadi asam karboksilat, yang ditandai dengan terbentuknya cermin perak.
b.    Pereaksi Fehling
Pereaksi fehling merupakan kompleks Cu(II) tartrat dalam larutan asam. Ion Cu(II) direduksi menjadi ion Cu2O yang merupakan endapan berwarna merah bata
c.    Pereaksi Benedict
Aldehid alifatik dioksidasi menjadi asam karboksilat dengan pereaksi benedict (kompleks ion Cu(II) sitrat dalam larutan basa). Ion Cu(II) direduksi menjadi Cu2O (endapan berwarna merah bata). Aldehid aromatik dan keton tidak bereaksi dengan perekasi benedict
d.   Tes dengan NaOH
NaOH yang berfungsi sebagai sumber ion OH yang akan berikatan dengan rantai aldehid. Uji positifnya yaitu larutan berwarna kuning



1.    Jelaskan untuk menguji perbedaan gugus fungsi antara aldehid dan keton digunakan uji Fehling dan Benedict !
a.    Uji Fehling
Senyawa yang mengandung gugud aldehid dapat bereaksi dengan pereaksi fehling ditandai dengan terbentuk endapan berwarna merah bata, sedangkan senyawa yang mengandung gugus keton tidak dapat bereaksi dengan pereaksi fehling. Endapan merah bata dapat terbentuk karena aldehid mampu mereduksi ion Cu(II) menjadi Cu(I) oksida. Sedangkan pada gugus keton tidak memiliki gugus OH atau H bebas sehingga tidak bereaksi dalam uji fehling.


a.    Uji Benedict
Pereaksi benedict merupakan yang mengandung Cuprisulfat, natrium karbonat dan natrium sitrat. Jika pereaksi ini bereaksi dengan dengan senyawa yang mengandung gugud aldehid dan dipanaskan akan menghasilkan endapan berwarna merah bata yang merupakan pereaksi benedict yang telah mengalami reduksi menjadi Cu2O yang mengendap pada bagian dasar tabung reaksi. Sedangkan senyawa aldehid akan terjadi oksidasi menjadi asam karboksilat(aldehid aromatik tidak dapat bereaksi dengan perekasi benedict). Sedangkan pada gugus keton tidak dapat bereaksi dengan pereaksi benedict, karena keton tidak dapat teroksidasi dengan pereaksi benedict (keton tidak mempunyai atom hidrogen yang menempel pada atom karbonil).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perbedaan Open Acces dan Close Acces serta Kelebihan dan Kekurangannya

Laporan Praktikum Rekristalisasi dan Pembuatan Aspirin

Laporan Praktikum Titrasi Penetralan (Asidi-Alkalimetri) dan Aplikasi Penentuan Kadar NH3 dalam Pupuk ZA