Laporan Praktikum Analisis Kation dan Anion dalam Suatu Sampel
I.
JUDUL PERCOBAAN : Analisis Kation dan Anion dalam Suatu Sampel
II.
WAKTU PRAKTIKUM : Mulai : Kamis, 3 Mei 2018 pukul 09.00 WIB
Selesai : Kamis, 3 Mei 2018 pukul 12.00 WIB
III.
TUJUAN PERCOBAAN : 1.
Menentukan
kation yang
terdapat dalam
analit
2. Menentukan anion yang terdapat dalam analit
IV.
DASAR TEORI
Kimia analisis dapat dibagi dalam 2 bidang, yaitu analisis kualitatif
dan analisis kuantitatif. Analisis kualitatif membahas tentang identifikasi
zat-zat. Urusannya adalah unsur atau senyawa apa yang terdapat dalam suatu
sampel. Sedangkan analisis kuantitatif berurusan dengan penetapan banyaknya
satu zat tertentu yang ada dalam sampel (A.L. Underwood : 1993).
Dalam
analisa kualitatif cara memisahkan ion logam tertentu harus mengikuti prosedur
kerja yang khas. Zat yang diselidiki harus disiapkan atau diubah dalam bentuk
suatu larutan. Untuk zat padat kita harus memilih zat pelarut yang cocok.
Ion-ion logam pada golongan-golongan diendapakan satu persatu, endapan
dipisahkan dari larutannya dengan cara disaring atau diputar dengan sentrifuge,
endapan dicuci untuk membebaskan dari larutan pokok atau dari filtrat dan
tiap-tiap logam yang mungkin ada harus dipisahkan.
Kation adalah ion-ion yang bermuatan positif. Dalam analisis kualitatif sistematik kation-kation
diklasifikasikan dalam lima golongan berdasarkan sifat-sifat kation itu
terhadap beberapa reagensia. Dengan memakai apa yang disebut regensia golongan secara
sistematik,dapat kita tetapkan ada tidaknya golongan-golongan kation, dan dapat juga memisahkan golongan-golongan
ini untuk pemeriksaan lebih lanjut. Reagensia golongan yang dipakai untuk
klasifikasi kation yang paling umum adalah asam klorida, hidrogen sulfida,
ammonium sulfida, dan ammonium karbonat. Klasifikasi ini didasarkan atas apakah suatu
kation bereaksi dengan reagensia- reagensia ini dengan membentuk endapan atau
tidak. Jadi boleh kita katakan bahwa klasifikasi kation yang paling umum,
didasarkan atas perbedaan kelarutan dari klorida, sulfida, dan karbonat dari
kation tersebut (Svehla G,1985).
A.
Klasifikasi Identifikasi
Kation
Klasifikasi kation
yang paling umum didasarkan atas perbedaan kelarutan dari klorida, sulfide, dan
karbonat dari kation tersebut.Kelima golongan kation dan ciri-ciri khas golongan-golongan
ini adalah sebagai berikut:
Ø golongan I: Kation-kation
golongan I adalah kation-kation yang akan mengendap bila ditambahkan dengan
asam klorida(HCl). Yaitu Ag+, Pb²+, dan Hg²+ yang akan mengendap sebagai
campuran AgCl, HgCl2 , dan PbCl2. Pengendapan ion-ion golongan I harus pada
temperatur kamar atau lebih rendah karena PbCl2 terlalu mudah larut dalam air
panas. Juga harus dijaga agar asam klorida tidak terlalu banyak ditambahkan.
Dalam larutan HCl pekat, AgCl dan PbCl2 melarut, karena Ag+ dan Pb²+ membentuk
kompleksi dapat larut (Keenan,1984:20).
Ø golongan II: Kation
golongan II tidak bereaksi dengan asam klorida, tetapi membentuk endapan dengan
hidrogen sulfide dalam suasana asam mineral encer. Ion-ion golongan ini adalah
Merkurium (II), Tembaga, Bismut, Kadnium, Arsenik (II), Arsenik (V), Stibium
(III), Stibium (V), Timah (II), Timah (III), dan Timah (IV). Keempat ion yang
pertama merupakan sub golongan 2A dan keenam yang terakhir sub golongan 2B.
Sementara sulfida dari kation dalam golongan 2A tak dapat larut dalam amonium
polisulfida. Sulfida dari kation dalam golongan 2B justru dapat larut.
Ø golongan III: Kation
golongan III tidak bereaksi dengan asam klorida encer ataupun dengan hidrogen
sulfida dalam suasana asam mineral encer. Namun, kation ini membentuk endapan
dengan amonium sulfida dalam suasana netral atau amoniak. Kation-kation
golongan ini adalah Cobalt (II), Nikel (II), Besi (II), Besi (III), Aluminium,
Zink, dan Mangan (II).
Ø golongan IV: Kation
golongan IV tidak bereaksi dengan reagensia golongan I, II, dan III.
Kation-kation ini membentuk endapan dengan amonium karbonat dengan adanya
amonium klorida, dalam suasana netral atau sedikit asam. Kation-kation golongan
ini adalah Kalsium, Strontium, dan Barium.
Ø golongan V: Kation-kation
golongan V merupakan kation-kation yang umum tidak bereaksi dengan reagensia
golongan sebulumnya. Yang termasuk anggota golongan ini adalah ion-ion
Magnesium, Natrium, Kalium, Amonium, Litium, dan Hidrogen (Vogel,1985:203-204).
Reagensia golongan yang dipakai untuk
klasifikasi kation yang paling umum adalah asam klorida, hidrogen sulfida,
amonium sulfida, dan amonium karbonat. Klasifikasi ini berdasarkan atas apakah
suatu kation bereaksi dengan reagen-reagen ini dengan membentuk endapan atau
tidak. Jadi boleh dikatakan bahwa klasifikasi kation yang paling umum
didasarkan pada perbedaan kelarutan dari klorida, sulfida, dan karbonat dari
kation tersebut.
B. Klasifikasi Identfikasi Anion
Metode yang digunakan untuk
mendeteksi anion tidaklah sistematik seperti metode yang digunakan untuk
menganalisis kation. Skema pemisahan anion-anion yang umum ke golongan yang
utama, dan yang dari masing-masing golongan menjadi anggota golongan tersebut
yang berdiri sendiri. Pemisahan anion-anion kedalam golongan utama bergantung
pada kelarutan garam pelarutnya. Garam kalsium, garam barium, dan garam zinc
ini hanya boleh dianggap berguna untuk member indikasi dari
keterbatasan-keterbatasan metode ini.
Beberapa uji pendahuluan dan uji
identifikasi terhadap anion dapat dilakukan dalam fasa padatan, tetapi untuk
memperoleh validitas pengujian yang tinggi biasanya dilakukan dalam keadaan
larutan. Pada uji pendahuluan dapat dideteksi dengan anion pengoksidasi dan
pereduksi, sifat anion terhadap asam perkolrat dan ion perak, dan sifat-sifat
anion terhadap asam sulfat pekat.
a.
Deteksi anion dengan sifat
pengoksidasi dan pereduksi
Jika sampel mengandung anion
pengoksidasi maka kecil kemungkinannya mengandung anion pereduksi, terutama
bila dilakukan pengujian dalam keadaan asam. Anion pereduksi hanya dapat berada
bersama-sama jika perlakuannya dilakukan dalam keadaan basa atau netral.
b.
Deteksi anion dengan sifat
reaksi terhadap asam perklorat dan ion perak
Pendeteksian anion menggunakan asam
perklorat dan ion perak memberikan hasil adanya pengelompokan anion dalam empat
golongan. Klasisikasi tersebut merupakan informasi awal tentang ada tidaknya
anion-anion dan bukan untuk proses pemisahan. Pengelompokan ini penting karena
untuk mengurangi interferensi dari anion kelompok lain.
-
Anion golongan I terurai dalam larutan asam kuat membebaskan
gas bila larutannya dipanaskan
-
Anion golongan II stabil pada HClO4 encer dan
mudah mengendap sebagai garam nitrat dalam suasana asam
-
Anion golongan III stabil pada HClO4 encer dan
mudah mengendap sebagai garam nitrat dalam suasana basa
-
Anion golongan IV stabil pada HClO4 encer dan
mudah mengendap sebagai garam nitrat dalam suasana netral
-
Anion NO2- akan terlihat di golongan I
dan III jika konsentrasi pada analit tinggi
-
Anion S2-, SO32-, CO32-,
dan NO2- tidak stabil dalam HClO4 encer jika
larutan dipanaskan
c.
Deteksi anion dengan sifat
terhadap asam sulfat pekat
Penggunaan larutan asam sulfat pekat
dalam analisis anion bergantung pada kemampuan anion sebagai bahan pengoksidasi
dan sifat keaasamannya. Sampel uji menggunakan H2SO4
harus menggunakan sampel dalam bentuk padatan. Jika sampel yang diuji adalah
campuran garam, hasil dari uji tidak selalu mudah untuk diinterpretasikan,
karena gas yang terbentuk mungkin terperangkap. Demikian pula dengan garam yang
sulit larut dan garam yang mengandung karakter kovalen yang hanya bereaksi
lambat dengan asam.
d.
Beberapa tes khusus untuk
identifikasi anion dalam sampel
1.
Membuat larutan persiapan
Zat yang akan diperiksa anionnya
dipanaskan dengan Na2CO3 jenuh. Endapan disaring lalu
filtrate (larutan persiapan) digunakan untuk analisis selanjutnya
2.
Pembuktian ion sulfat
Larutan persiapan ditambahkan HCl 6M
hingga larutan bersifat asam kemudian didihkan. menambahkan larutan BaCl2.
Endapan putih yang terbentuk menunjukkan adanya ion sulfat
3.
Pembuktian ion nitrat
Larutan persiapan ditambah dengan H2SO4
pekat, kemudian tambahkan larutan FeSO4 jenuh perlahan-lahan lewat
dinding tabung. Terbentuknya cincin coklat menunjukkan adanya ion nitrat.
4.
Pembuktian ion klorida
Larutan persiapan dengan larutan AgNO3.
Endapan putih yang larut dalam ammonia menunjukkan adanya ion klorida
5.
Pembuktian ion bromida
Larutan persiapan ditambah dengan
larutan AgNO3. Endapan kuning muda yang larut dalam ammonia pekat
menunjukkan adanya ion bromida
6.
Pembuktian ion iodide
Larutan persiapan ditambahkan dengan
CuSO4. Terjadi endapan coklat yang merupakan campuran dari tembaga
(I) iodide dan iodium. Warna coklat yang hilang dengan penambahan natrium
tiosulfat menunjukkan adanya ion iodida
7.
Pembuktian ion sulfide
Larutan persiapan ditambah dengan
larutan Pb asetat. Kemudian timbul endapan hitam dari timbal (II) sulfida yang
menunjukkan adanya ion sulfida
8.
Pembuktian ion sulfit
Larutan persiapan diatmabah
denganlarutn perak nitrat. Timbul endapan putih yang larut dalam natrium sulfat
berlebih menunjukkan adanya ion sulfit. Jika larutan dididihkan maka timbul
endapan abu-abu dari Ag.
9.
Pembuktian ion tiosulfat
Larutan persiapan ditambahkan dengan
larutan iodine yang berwarna coklat. Hilangnya warna coklat menunjukkan adanya
ion tiosulfat.
10. Pembuktian ion karbonat
Larutan persiapan ditambah dengan
kalsium klorida. Endapan putih yang terjadi menunjukkan adanya ion karbonat
11. Pembuktian ion fosfat
Larutan persiapan daitambah dengan
MgCl2, NH4Cl, NH4OH. Timbulnya endapan putih
MgNH4PO4 menunjukkan adanya ion fosfat
12. Pembuktian ion asetat
Larutan persiapan ditambah dengan
FeCl3. Warna larutan berubah menjadi coklat. Kemudian encerkan lalu
panaskan. Maka terbentuklah endapan coklat dari Fe(OH)2CH3COO.
Pengujian anion dilakukan setelah uji
kation. Pengujian terhadap anion relatif lebih sederhana karena
gangguan-gangguan dari ion-ion lain yang ada dalam larutan minimal. Pada
umumnya anion-anion dapat digolongkan sebagai berikut:
1.
Golongan sulfat:
SO42-, SO32-, PO43-, Cr2O72-, BO33-, CrO42-, AsO43-,
AsO33-
2.
Anion-anion ini mengendap dengan Ba2+ dalam suasana basa.
Golongan halida:
Cl-, Br-, I-, S2-
3.
Anion golongan ini mengendap dengan Ag+ dalam larutan asam
(HNO3) Golongan nitrat:
NO3-, NO2-, CH3COO-
Semua garam dari golongan ini larut
Analisis anion tidak jauh berbeda
dengan analisis kation, hanya saja pada analisis anion tidak memiliki metode
yang sistematis seperti analisis kation. Uji analisis anion juga berdasarkan
pada sifat fisika seperti warna, bau, terbentuknya gas, dan kelarutannya.
V.
ALAT DAN BAHAN
·
Alat
1.
Tabung reaksi 12
buah
2.
Pipet tetes 15
buah
3.
Gelas kimia 2
buah
4.
Pemanas spiritus 1
buah
5.
Gelas ukur 1
buah
6.
Kaki tiga 1
buah
7.
Kasa 1
buah
8.
Penjepit kayu 1
buah
9.
Rak tabung reaksi 1 buah
·
Bahan
1.
Sampel
2.
aquades
3.
Larutan HCl 6M
4.
Larutan HCl encer
5.
H2O panas
6.
H2O dingin
7.
Larutan K2CrO4 1M
8.
Larutan KI 1M
9.
Larutan H2SO4 encer
10.
Larutan Na2CO3 jenuhh
11.
Laruta H2SO4 pekat
12.
Larutan FeSO4 jenu
VI.
ALUR PERCOBAAN
·
Pengujian kation
![]() |
||
![]() |
||
·
Pengujian Anion
![]() |

![]() |

|
VII.
HASIL PENGAMATAN
No. Perc
|
Prosedur
Percobaan
|
Hasil
Pengamatan
|
Dugaan /
Reaksi
|
Kesimpulan
|
||||||||||||||||||||||||
Sebelum
|
Sesudah
|
|||||||||||||||||||||||||||
2
|
|
|||||||||||||||||||||||||||
No. Perc
|
Prosedur
Percobaan
|
Hasil
Pengamatan
|
Dugaan /
Reaksi
|
Kesimpulan
|
||||||||
Sebelum
|
Sesudah
|
|||||||||||
2
|
Pengujian anion.
![]()
|
- Sampel tidak brwarna
- Larutan Na2CO3
jenuh tidak berwarna
- H2SO4 pekat
tidak berwarna
- Larutan FeSO4
jenuh berwarna coklat.
|
- Sampel + Na2CO3
terbentuk endapan putih dan filtrat agak keruh
- Filtrat +
H2SO4 pekat menjadi tidak berwarna
- Filtrat +
H2SO4 pekat + FeSO4 jenuh terbentuk cincon coklat
|
- MA2(s)
+ CO32- (aq)
↔ MCO3(s) + 2A-(aq)
- 2NO3-
(aq) + 4H2SO4(aq) + 6Fe2+(aq)
→ 6Fe3+(aq) +
2NO(g) + 4H2O(l)
- 6Fe3+(aq)
+ 2NO(g) → Fe(NO) (aq)
|
Dari
percobaan tersebut dapat disimpulkan bahwa sampel mengandung anion nitrat
(NO3-) dibuktikan dengan terbentuknya cincin coklat.
|
|||||||
VIII.
ANALISIS DATA DAN
PEMBAHASAN
a.
Analisis kation
Pada analisis kation, mula-mula
sample analit yang bewarna putih dimasukkan ke dalam tabung reaksi lalu
diencerkan dengan aquades 5 ml. Sampel analit yang sudah diencerkan kemudian
dibagi ke dalam tiga tabung dengan volume yang sama. Tabung pertama digunakan
untuk mengidentifikai kation, tabung kedua digunakan untuk mengidentifikasi
anion, dan tabung ketiga digunakan untuk larutan cadangan, larutan cadangan ini
berfungsi sebagai persediaan jika terdapat larutan analit yang gagal dalam
proses identifikasi baik kation maupun anion. Pada tabung reaksi pertama untuk
mengidentifikasi kation, yaitu ditambahkan 3 tetes larutan HCl 6M (tidak
bewarna). Jika didalam larutan tersebut terbentuk endapan bewarna putih maka
ditambahkan lagi 1-2 tetes HCl encer. Digunakan HCl encer karena HCl encer
mempunyai konsentrasi yang tidak terlalu tinggi, dan jika ditambakan HCl pekat
lagi maka akan berpengaruh ada Ksp sehingga akan membentuk ion senama atau pengendapan
yang sempurna. Tujuan pemberian larutan HCl yaitu untuk mengendapkan kation
golongan I yang diendapkan sebagai garam klorida yang didasarkan pada fakta
bahwa garam klorida dari golongan I tidak larut dalam suasana asam (pH 0,5-1).
Jika masih terdapat endapan setelah ditambahkan larutan HCl encer maka larutan
tersebut terdapat kation-kation golongan I.
Pb2+(aq) + 2HCl(aq)
PbCl2(s) + 2H+(aq)
Kation golongan I dapat membentuk garam
klorida jika direaksikan dengan Cl-. Garam klorida dari kation golongan I
adalah endapan Hg2Cl2, AgCl, dan PbCl2 bewarna
putih. Pengendapan ini mengandung kation-kation golongan I yang terdiri dari
ion-ion perak (Ag+), merkuri(II) Hg22+, dan
timbal (Pb2+).
Larutan kemudian didekantasi, tujuan
dekantasi pada percobaan ini yaitu untuk memisakan endapan dengan filtrat.
Endapan yang mengandung kation-kation
golongan I kemudian dicuci dengan H2O dingin yang bertujuan untuk
memaksimalkan pengendapan, lalu cuci endapan lagi dengan menggunakan H2O
panas, tujuan pencucian endapan menggunakan H2O panas yaitu untuk
melarutkan endapan PbCl2, karena semakin panas maka kelarutan akan
semakin besar, sedangkan Hg2Cl2 an AgCl tidak dapat larut
dalam air panas. Kemudian larutan didekantasi hingga filtrat dan endapan
memisah. Pada endapan terdapat kation-kation AgCl2 dan Hg2Cl2
dan pada filtrat terdapat kation Pb2+.
Filtrat
didiamkan hingga dingin dan terdapat endapan kristalin putih PbCl2.
Untuk mengidentifikasi kation Pb2+, bagi filtrat kedalam 3 tabung
reaksi, pada tabung reaksi pertama dilakukan penambahan larutan K2CrO4
yang akan membentuk endapan PbCrO4 bewarna kuning.
Pb2+(aq) + K2CrO4(aq)
PbCrO4(s) + 2K+(aq)
(endapan kuning)
penambahan larutuan H2SO4
encer pada tabung kedua mebentuk endapan PbSO4 bewarna putih.
Pb2+(aq) + H2SO4(aq)
PbSO4(s) + 2H+(aq)
(endapan putih)
penambahan larutan KI pada tabung
reaksi ketiga membentuk endapan PbI2 bewarna kuning.
Pb2+(aq) + 2KI(aq)
PbI2(s) + 2K+(aq)
(endapan kuning)
Pada percobaan ini, identifikasi golongan
I bisa dilihat dengan jelas karena pada masing-masing sampel terbentuk endapan
yang sesuai dengan teori yang ada.
Endapan AgCl dan Hg2Cl2
dipisahkan dengan cara melarutkan ke dalam larutan HNO3 encer.
Secara teori jika pemisahan endapan AgCl dan dengan Hg2Cl2
di larutkan ke dalam HNO3 encer, maka akan terbentuk endapan bewarna
putih. Sedangkan pada percobaan kami pemisahan endapan AgCl dan Hg2Cl2
tidak terbentuk adanya endapan bewarna putih, sehingga kation dari golongan I
bukan dari AgCl maupun Hg2Cl2.
b.
Analisis Anion
Pada saat mengidentifikasi anion
dalam sampel, pertama-tama kami membuat larutan persiapan terlebih dahulu.
Sampel yang akan dianalisis anionnya ditambahkan dengan Na2CO3
yang kemudian didihkan. Penambahan Na2CO3 ini bertujuan
untuk menguji adanya logam berat dalam sampel yang ditunjukkan dengan adanya
endapan hasil reaksi antara logam berat dan ion karbonat. Setelah itu larutan
didekantasi untuk memisahkan antara endapan (Pb2+) dan filtrat.
Sehingga terjadi reaksi :
MA2(s) + CO32-
(aq) ↔ MCO3(s) + 2A- (aq)
Filtrat
yang terbentuk digunakan dalam proses identifikasi anion. Pada percobaan ini
kami menggunakan proses identifikasi ion nitrat (NO3-).
Filtrat yang telah diperoleh dari larutan persiapan tersebut ditambah dengan H2SO4
pekat. Tujuan dari penambahan H2SO4 pekat tersebut
adalah untuk memberi suasana asam pada larutan dan untuk menaikkan suhu larutan
yang ditandai dengan panaanya tabung reaksi. Kemudian larutan diberi FeSO4 dan ternyata terjadi reaksi
yang bersifat eksostrem dimana sistem melepas panas sehingga membuat tabung
reaksi terasa panas. Setelah didiamkan beberapa menit terbentuk cincin coklat
[Fe(NO)2+) pada pertemuan kedua larutan tersebut. Terbentuknya
cincin coklat dikarenakan pada pertemuan kedua larutan tersebut konsentrasi H+
mencapai titik tertinggi. Hal ini membuktikan adanya ion nitrat dalam
sampel. Sehingga terjadi reaksi :
2NO3-
(aq) + 4H2SO4(aq) + 6Fe2+ (aq) → 6Fe3+ (aq)
+ 2NO(g) + 4SO42- (aq) + 4H2O(l)
Fe2+ (aq) +
NO(g) → [(Fe(NO)]2+ (aq)
IX.
KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
Svehla,
G. 1985. Vogel: Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan
Semimikro. Edisi ke lima. Jakarta: PT. Kalman Media Pustaka.
L. Underwood, A. 1993. Analisis Kimia Kualitatif.
Edisi ke empat. Jakarta: Erlangga.
Achmad, Hiskia. 2012.
Kimia
Analitik Kualitatif. Bandung : PT
Citra Aditya Bakti.
Poedjiastoeti,
Sri, Dkk. Tanpa
Tahun. Analisis
Kimia
Kualitatif. Surabaya:
FMIPA-Unipress-UNESA.
Tim Dosen Kimia Analitik I. 2015. Panduan Praktikum Kimia Analitik I Dasar-
Dasar Kimia Analitik. Surabaya: Jurusan Kimia
FMIPA UNES









Komentar
Posting Komentar