Laporan Praktikum Alkana, Alkena, dan Alkuna
A. Judul Praktikum : Alkana, Alkena, dan Alkuna
B. Hari, Tanggal Praktikum
: Kamis, 28 Februari 2019 (07.30 WIB)
C. Hari, Tanggal Selesai Praktikum : Kamis, 28 Februari 2019 (12.00 WIB)
D. Tujuan Praktikum:
1.
Membedakan jenis reaksi yang terjadi
pada alkana, alkena, dan alkuna
2. Mengetahui
sifat alkana dan alkuna yang dapat dibakar
E. Kajian Pustaka
a. Hidrokarbon
Hidrokarbon yang paling
sederhana adalah alkana, yaitu hidrokarbon yang hanya mengandung ikatan kovalen
tunggal. Hidrokarbon merupakan senyawa yang struktur molekulnya terdiri dari
hidrogen dan karbon. Molekul yang paling
sederhana dari alkana adalah metana. Metana berupa gas pada suhu dan tekanan
baku, merupakan komponen utama gas alam (Wilbraham, 1992).
Hidrokarbon dapat
diklasifikasikan menurut macam-macam ikatan karbon yang dikandungnya.
Hidrokarbon dengan karbon-karbon yang mempunyai satu ikatan dinamakan
hidrokarbon jenuh. Hidrokarbon dengan dua atau lebih atom karbon yang mempunyai
ikatan rangkap dua atau tiga dinamakan hidrokarbon tidak jenuh (Fessenden,
1997).
Penggolongan hidrokarbon didasarkan pada
dua hal, yaitu bentuk rantai karbon dan
jenis ikatan:
1. Berdasarkan Bentuk Rantai
Karbon
Hidrokarbon
digolongkan sebagai berikut:
a. Hidrokarbon alifatik: Hidrokarbon alifatik merupakan
hidrokarbon rantai terbuka.
Bentuk rantainya
adalah:
Rantai tunggal
Rantai rangkap dua Rantai rangkap tiga

(Fessenden,
1997).
b. Hidrokarbon
siklik: Yaitu rantai karbon tertutup.
Dibedakan atas karbosiklik dan heterosiklik.
1. Karbosiklik adalah senyawa karbon siklik yang rantai lingkarnya
hanya terdiri dari atom C saja. Yang termasuk karbosiklik adalah senyawa
aromatis dan alisiklik.
·
Senyawa aromatis adalah senyawa karbon
siklik yang terdiri atas 6 atom karbon atau lebih yang memiliki ikatan rangkap
2 terkonjugasi .
Contoh:

(Fessenden, 1997).
·
Senyawa alisiklik adalah senyawa
karbosiklik yang hanya mempunyai ikatan tunggal.
Contoh:

(Fessenden, 1997).
2. Heterosiklik adalah senyawa karbo siklik yang di dalam rantai
lingkarnya terdapat atom lain selain atom karbon.
Contoh:

(Fessenden, 1997).
2. Berdasarkan Jenis Ikatan
Antar-atom Karbon
a. Ikatan jenuh, jika semua ikatan karbonnya merupakan ikatan tunggal
Contoh:
b. Ikatan tak jenuh, jika mengandung ikatan rangkap 2 (
) maupun rangkap 3 (
) pada ikatan karbon
– karbon. Dikatakan tak jenuh karena ikatan rangkap, baik rangkap 2 maupun
rangkap 3 ini masih dapat mengalami pemutusan ikatan. Contoh:
(Fessenden, 1997).
b. Alkana
Alkana merupakan
hidrokarbon alifatik jenuh, yaitu hidrokarbon dengan rantai terbuka dan semua
ikatan karbon – karbonnya merupakan ikatan tunggal. Hidrokarbon dengan hanya
atom sp3 (yakni dengan hanya ikatan-ikatan tunggal) disebut alkana
(atau sikloalkana jika atom karbon itu membentuk cincin). Beberapa alkana yang
lazim ialah metana, etana, propana dan butana. Alkana-alkana ini berbentuk gas
dan terdapat dalam minyak bumi. Gas-gas ini digunakan sebagai bahan bakar.
Bensin pada hakikatnya adalah campuran alkana. Alkana dan
sikloalkana disebut hidrokarbon jenuh (saturated hydrocarbon), artinya
“jenuh dengan hidrokarbon”. Senyawa ini tak bereaksi dengan hidrogen Reaksi
halogenasi melalui tiga tahap yaitu inisiasi,
propagansi, terminasi (Riswiyanto, 2009).
Reaksi antara propana dan brom digambarkan sebagai berikut:

Alkana bereaksi dengan
oksigen menghasilkan karbon dioksida dan air. Namun pada kondisi minim oksigen,
alkana bereaksi dengan oksigen menghasilkan karbon monoksida dan air. Berikut
ini adalah reaksi pembakaran butana.
2H3C(CH2)2CH3
+ 18O2 → 8CO2 + 10H2O
Sedangkan pembakaran tak
sempurna menghasilkan karbon monoksida atau kadang-kadang karbon dalam bentuk
arang atau jelaga.
Misalnya:
2CH3–
CH2-CH3 + 7O2 ®
6CO + 8H2O
CH3-CH2-CH3
+ 2O2 ® 3C + 4H2O (Hart, 2003).
· Rumus Umum Alkana
Semua
alkana mempunyai rumus umum CnH2n+2
Contoh: CH3
– CH2 – CH3 propana
Dari contoh di atas diketahui bahwa jumlah atom C dan H selalu mengikuti
rumusumumnya meskipun bentuk rantainya berbeda (Petrucci, 1987).
· Sifat Alkana
1.
Hidrokarbon jenuh (tidak ada ikatan atom C rangkap
sehingga jumlah atom H nya maksimal) .
2.
Disebut golongan parafin karena affinitas kecil
(sedikit gaya gabung).
3.
Sukar bereaksi.
4.
Bentuk Alkana dengan rantai C1 – C4 pada suhu kamar
adalah gas, C4 – C17 pada suhu adalah cair dan > C18 pada suhu
kamar adalah padat.
5.
Titik didih makin tinggi bila unsur C nya
bertambah…dan bila jumlah atom C sama maka yang bercabang mempunyai titik didih
yang lebih rendah.
6.
Sifat kelarutan : mudah larut dalam pelarut non polar.
7.
Massa jenisnya naik seiring dengan penambahan jumlah
unsur C.
8.
Merupakan sumber
utama gas alam dan petrolium (minyak bumi).
· Kegunaan Alkana
Secara umum, alkana
berguna sebagai bahan bakar dan bahan baku dalam industri petrokimia.
1.
Metana; berguna sebagai bahan bakar untuk
memasak, dan bahan baku pembuatanzat kimia seperti H2 dan NH3.
2.
Etana; berguna sebagai bahan bakar untuk
memasak dan sebagai refrigerant dalam sistem pendinginan dua tahap untuk suhu
rendah.
3.
Propana; merupakan komponen utama gas elpiji
untuk memasak dan bahan baku senyawa organik.
4.
Butana; berguna sebagai bahan bakar
kendaraan dan bahan baku karet sintesis.
5.
Oktana; merupakan komponen utama bahan
bakar kendaraan bermotor, yaitu bensin.
c. Alkena
Alkena adalah senyawa
hidrokarbon tak jenuh yang mengandung sekurang-kurangnya satu ikatan rangkap
antara atom karbon dengan atom karbon yang lain. Alkena memiliki rumus umum
CnH2n. Sifat fisika alkena praktis identik dengan alkan induknya. Tititk didih
deret homolog alkena naik kira-kira 30oC tiap gugus CH2. Kenaikan
ini sama dengan yang diamati pada deret homolog alkana. Seperti dengan alkana,
percabangan dalam alkena menurunkan sedikit titik didih itu.
Meskipun alkena dianggap
non-polar, mereka sedikit lebih mudah larut dalam air daripada alkana
padanannya, sebab elektron pi, yang agak terbuka itu, ditarik oleh hidrogen (
dari air ) yang bermuatan positif parsial(sebagian). Alkena dapat mengalami
reaksi adisi oleh halogen. Berikut ini adalah contoh reaksi adisi alkena yaitu
etena (etilena).
CH2=CH2 + Br2 → BrCH2-CH2Br
Alkena dapat teroksidasi
menghasilkan karbon dioksida dan air apabila terdapat banyak oxidizing agents.
Berikut ini adalah reaksi pembakaran etena.
CH2=CH2 + 3O2
→ 2CO2 + 2H2O
(Riawan,
1990).
· Rumus Umum Alkena
Rumus
umum alkena adalah CnH2n
Contoh:
CH3
– CH2 – CH = CH2 CH3
– CH2 = CH – CH3
butena 2
butena
Jika
dibandingkan dengan rumus umum alkana, yaitu CnH2n+2,
alkena mengandung lebih sedikit atom hidrogen (H), oleh karena itu alkena disebut
hidrokarbon alifatik tidak jenuh.
· Sifat Alkena
a. Sifat Fisika
Alkena
merupakan senyawa nonpolar sehingga tidak larut dalam air dan memiliki massa
jenis lebih kecil dari air. Alkena dapat larut dalam alkena lain,
pelarut-pelarut nonpolar dan etanol. Pada temperatur kamar alkena yang memiliki
dua, tiga dan empat atom karbon berwujud gas. Sedangkan Alkena dengan dengan
berat molekul lebih tinggi dapat berupa cair dan padatan pada suhu kamar
(Sudarmo, 2006).
Nama
|
Rumus molekul
|
Titik leleh (°C)
|
Titik didih (°C)
|
Massa jenis(g/cm3)
|
EtenaPropen-1-Butena
|
C2H4C3H6C4H8
|
-169-185-185
|
-104-48-6
|
0,5680,6140,630
|
1-Pentena
|
C5H10
|
-165
|
30
|
0,643
|
1-Heksena
|
C6H12
|
-140
|
63
|
0,675
|
1-Heptena
|
C7H14
|
-120
|
94
|
0,698
|
1-Oktena
|
C8H16
|
-102
|
122
|
0,716
|
1-Nonesa
|
C9H18
|
-81
|
147
|
0,731
|
1-Dekena
|
C10H20
|
-66
|
171
|
0,743
|
b.
Sifat kimia
Ikatan
rangkap yang dimiliki alkena merupakan ciri khas dari alkena yang disebut gugus
fungsi. Reaksi terjadi pada alkena dapat terjadi pada ikatan rangkap dapat pula
terjadi diluar ikatan rangkap. Reaksi yang terjadi pada ikatan rangkap disebut
reaksi adisi yang ditandai dengan putusnya ikatan rangkap (ikatan π) membentuk
ikatan tunggal (ikatan α) dengan atom atau gugus tertentu. Selain sifat-sifat
tersebut dapat mengalami reaksi polimerisasi dan alkena juga dapat bereaksi dengan
oksigen membentuk korbondioksida dan uap air apabila jumlah oksigen melimpah,
apabila jumlah oksigen tidak mencukupi maka terbentuk karbonmonooksida dan uap
air (Riyadhi, 2010).
· Kegunaan Alkuna
Plastik adalah polimer
dari alkena atau turunan-turunan alkena. Beberapa jenis plastik yang populer
dalam kehidupan sehari-hari, antara lain sebagai berikut:
1.
Polietilena adalah plastik tipis transparan (tembus
cahaya) yang sebagai sampul buku atau pembungkus barang yang ringan seperti kue
dan gula.
2.
Polipropilena adalah plastik yang agak tebal dan tidak
tembus cahaya, yang biasa digunakan untuk mengemas barang di toko-toko dan
berbentuk jinjingan.
3.
PVC adalah plastik keras untuk pipa saluran air atau
peralatan rumah tangga, seperti ember dan kursi plastik.
4.
Teflon adalah plastik tahan api yang banyak dipakai
sebagai pengganti logam. Dibandingkan dengan logam, plastik memiliki beberapa
keunggulan, yaitu murah, ringan, tahan karat, dan tidak menghantar listrik.
d. Alkuna
Alkuna adalah
hidrokarbon tak jenuh yang memiliki ikatan rangkap tiga antara dua atom karbon. Senyawa
yang mempunyai dua ikatan karbon rangkap tiga disebut alkadiuna, sedangkan
senyawa yang mempunyai satu ikatan karbon rangkap dua, dan satu ikatan karbon
rangkap tiga disebut alkenuna. Alkuna
memiliki rumus umum CnH2n-2. Secara
tradisional, alkuna yang banyak digunakan adalah etuna (disebut juga asetilen).
Asetilen dihasilkan dari reaksi antara kalsium karbida (CaC2) dengan air.
Alkuna dapat mengalami reaksi adisi oleh halogen menghasilkan vinil dihalida
atau alkil tetrahalida. Berikut ini adalah contoh reaksi antara etuna dengan
brom:
HC≡CH + 2
Br2 → HCBr2CHBr2 (1,1,2,2-tetrabromo
etana)
Alkuna bereaksi dibakar dengan oksigen menghasilkan karbon dioksida dan uap
air. Berikut ini adalah contoh reaksi pembakaran etuna.
2HC≡CH +
10O2 → 4CO2 + 2H2O
(Besari,
1962).
· Rumus Umum Alkuna
Rumus umum alkuna adalah CnH2n-2
·
Kegunaan Alkuna
1. Alkuna
yang mempunyai nilai ekonomis penting hanyalah etuna (asetilena), C2H2 . Gas
asetilena dugunakan untuk mengelas besi dan baja.
F. Alat Dan Bahan
· Alat
1. Tabung
reaksi 2 buah
2. Pipa
bengkok 1 buah
3. Sumbat
gabus/karet 1 buah
4. Pipet
tetes 1 buah
5. Statif 1
buah
6. Gelas
ukur 1
buah
7. Bak 1 buah
8. Korek
api 1 buah
·
Bahan
1.
Kalsium karbida (CaC2) /
karbit secukupnya
2.
Gas elpiji (propana + butana) 1 buah
3.
Air brom (Br2) 7 ml
4.
Air secukupnya
5.
Lidi 1
buah
G. Alur Percobaan
1. Gas
Elpiji dengan Air Brom
![]() |
2.
Karbit
![]() |
3.
Reaksi Adisi Alkuna
![]() |
H. Hasil Pengamatan
No. Perc
|
Prosedur Percobaan
|
Hasil Pengamatan
|
Dugaan/Reaksi
|
Kesimpulan
|
|||||||||||||||||||
Sebelum
|
Sesudah
|
||||||||||||||||||||||
1.
|
|
-
Air brom berwarna kuning
|
-
Setelah dialiri gas elpigi air brom menjadi tidak
berwarna
-
Warna nyala api dari gas elpigi berwarna kemerahan
|
Propana:
![]() ![]()
Butana:
![]() ![]() ![]() ![]() |
-
Terjadi reaksi substitusi pada senyawa alkana
|
||||||||||||||||||
2.
|
|
-
CaC2 berbentuk serbuk abu-abu
|
-
CaC2 ditambah air berbentuk gas C2H2
yang berbau menyengat
-
Dialirkan ke dalam abung reaksi lain yang berisi gas
C2H2 dan dinyalakan dengan korek api terjadi letupan
dan terdapat jelaga didalam tabung
reaksi
-
Warna nyala api yang dihasilkan berwarna jingga
kemerahan
|
- Reaksi karbit dengan air
CaC2(s) +
2H2O(l) → CaOH)2(aq) + C2H2(g)
|
-
Terjadi nyala api berwarna kemerahan, jadi
pembakaran gas etena tidak sempurna
|
||||||||||||||||||
3.
|
Reaksi
adisi alkuna
|
-
Air brom berwarna kuning
|
-
Setelah dilairi gas elpigi, larutan menjadi tidak
berwarna
|
-
Gas C2H2 yang
dialirkan dengan air brom terjadi reaksi adisi, dari alkuna yang ter
adisi menjadi alkena, lalu ter adisi lagi menjadi alkena. Hal ini terbukti
dengan berubahnya warna larutan brom dari kuning menjadi tidak berwarna.
|
|||||||||||||||||||
I.
Analisis Dan Pembahasan
Pada
percobaan pertama bertujuan untuk mengetahui jenis reaksi yang terjadi pada
alkana, yakni reaksi substitusi (halogenasi). Denagn cara mengalirkan gas
elpigi ke dalam air brom, didapatkan hasil air brom tidak berwarna. Hal ini
dikarenakan pada gas elpiji mengandung senyawa alkana diantaranya yaitu,
Propana(C3H8), Butana(C4H10) dan
Iso-butana. Maka pada saat gas elpiji dialirkan kedalam air brom, senyawa
alkana yang terkandung di dalam gas elpiji bereaksi dengan air brom sehingga
terjadi reaksi substitusi. Jika senyawa jenuh alkana direaksikan dengan salah
satu golongan halogen maka akan terjadi reaksi substitusi. Reaksi subtitusi
merupakan reaksi penggantian atom senyawa hidrokarbon oleh atom senyawa lain.
Reaksi
substitusi pada senyawa jenuh alkana adalah sebagai berikut:
R - H + X2R – X + H – X
Reaksi
senyawa alkana yang terdapat didalam gas elpiji dengan air brom:
Reaksi pada
propana:

Atau

(Fessenden
& Fessenden, 1986).
Reaksi
pada butana:

Atau

(Fessenden
& Fessenden, 1986).
Reaksi pada isobutana

Atau

(Fessenden
& Fessenden, 1986).
Dapat disimpulkan bahwa perubahan warna yang dialami
oleh air brom yang semula berwarna kuning berubah menjadi tak berwarna, karena
adanya reaksi penggantian atom H dengan Halogen (reaksi substitusi).
Pada
percobaan kedua yakni uji nyala pembakaran gas elpiji yang bertujuan untuk
menunjukkan sifat alkana yang dibakar. Dengan pencampuran butiran karbit dengan
air yang dapat membentuk gas C2H2 yang dialirkan kedalam tabung reaksi lain. Persamaan
reaksinya adalah:
(Fessenden
& Fessenden, 1986).
Setelah
disulut dengan korek api terjadi letupan api berwarna jingga dan terdapat
jelaga berwarna hitam. Hal tersebut menunjukkan bahwa pembakaran gas asetilena
adalah pembakaran tidak sempurna karena membentuk jelaga berwarna hitam. Warna
nyala api gas asetilena berwarna merah karena pada dasanya warna nyala pada
alkuna berbeda dengan nyala pada alkana karena perbedaan kuat ikatan di dalam
senyawa tersebut. Pembakaran tidak sempurna suatu senyawa alkana yang bereaksi
dengan oksigen menghasilkan gas karbon monoksida dan air. Adapun persamaan
reaksi pembakaran yang terjadi pada gas etuna atau asetilena adalah sebagai
berikut:
(Fessenden
& Fessenden, 1986).
Percobaan
yang ketiga yaitu bertujuan untuk mengetahui reaksi yang terjadi pada alkuna
yakni reaksi adisi dengan cara mereaksikan gas karbit atau gas asetilen dengan
air brom. Gas karbit sisa dari percobaan kedua dialirkan ke dalam 5 ml air brom
yang terdapat didalam tabung reaksi. Warna air brom yang awalnya berwarna
kuning berubah menjadi larutan tak berwana. Perubahan warna air brom tersebut
menandakan bahwa senyawa asetilena pada gas karbit telah mengalami reaksi adisi
dengan Bromin. Pada jumlah air brom yang sedikit akan mengadisi alkuna menjadi
alkena. Sedangkan bila air bromnya berlebih maka dapat mengadisi alkena menjadi
alkana.
Persamaan reaksinya adalah :


(Fessenden & Fessenden, 1986).
Persamaan
reaksi di atas menunjukkan bahwa alkuna (ikatan rangkap tiga) akan mengalami
reaksi adisi jika direaksikan dengan halogen menjadi alkena (ikatan rangkap)
dan jika terus direaksikan dengan halogen berlebih maka akan membentuk ikatan
tunggal (alkana).
Pada
percobaan keempat bertujuan untuk mengamati warn anyala pada kompor gas elpigi,
didapatkan hasil warna nyala Setelah dibakar api yang tercipta berwarna biru.
Hal ini menunjukkan bahwa pembakaran yang terjadi merupakan pembakaran
sempurna, artinya gas yang dibakar akan diubah menjadi CO2 dan H2O. Pembakaran
disertai dengan pembebasan kalor (panas) dan cahaya. Pembakaran propana akan
menghasilkan kalor sekitar 531 kkal/mol (ΔH = -531 kkal/mol). Sedangkan
pembakaran butana akan menghasilkan kalor sekitar 688 kkal/mol (ΔH = -688
kkal/mol). Berikut adalah persamaan reaksinya:
CH3CH2CH3
+
O2 à 3CO2 +
4H2O ΔH =
-531 kkal/mol
CH3CH2CH2
CH3 +
O2 à 4CO2 +
5H2O ΔH = -688 kkal/mol
Persamaan reaksinya adalah:
Reaksi
pada propana:
Reaksi
pada butana:
Reaksi
pada isobutana:

(Fessenden & Fessenden, 1986).
J.
Kesimpulan
Berdasarkan percobaan
yang telah kami lakukan dapat disimpulkan:
1. Ketika
alkana direaksikan dengan halogen, akan terjadi reaksi subtitusi (halogenasi).
2. Terjadi
nyala api berwarna jingga dan terdapat jelaga berwarna hitam yang menunjukkan
terjadinya pembakaran gas etena tidak sempurna.
3. Gas
C2H2 atau etena yang direaksikan dengan air brom terjadi reaksi adisi, dari
alkuna yang teradisi menjadi alkena, lalu teradisi lagi menjadi alkana, yang
dibuktikan dengan perubahan warna air brom menjadi tidak berwarna.
4. Pembakaran
sempurna alkana akan menghasilkan CO2 dan H2O. Dimana, api
yang dihasilkan berwarna biru.
Daftar Pustaka
Anthony, Wilbraham, C., dan Michael, B, Matta. 1992. Pengantar Kimia Organik dan Hayati. Bandung: penerbit ITB.
Besari, I. 1962. Kimia Organik untuk Universitas. Bandung: Armico.
Fessenden, Ralph J, dan Fessenden, Joan S. 1997. Kimia Organik. Jakarta: Bina Aksara.
Hart, H. 2003. Kimia Organik. Jakarta: Erlangga.
Petrucci, R. H. 1987. Kimia Dasar. Jakarta: Erlangga.
Respati. 1986. Pengantar Kimia Organik Jilid 1. Jakarta: Aksara Baru.
Riawan, S. 1990. Kimia Organik Jilid 1. Jakarta: Bina Rupa Aksara.
Riswiyanto. 2009. Kimia Organik. Jakarta:
Erlangga.
Riyadhi, A. 2010. Petunjuk
Praktikum Kimia Organik 1. Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah.
Sudarmo, U. 2006. Kimia 3. Jakarta: Erlangga.
Lampiran
a.
Lampiran jawaban pertanyaan
1. Apakah isi dari gas elpiji ? Tulis rumus kimianya !
Jawab :
Gas elpiji terdapat tiga senyawa alkana yaitu
propana, butana, dan siklobutana.

2. Gas apakah yang terjadi sewaktu karbit diisi air ?
Jawab :
Dari reaksi diatas, yang terjadi ketika endapan
karbit yang berwarna abu – abu ditambahkan dengan air dihasilkan air kapur dan
gas asetilen. Jadi gas yang dihasilkan adalah gas asetilena atau gas C2H2.
3. Tuliskan reaksi – reaksi yang terjadi dari gas
tersebut setelah dimasukkan dalam air brom !
Jawab :
Saat gas asetilena direaksikan dengan air brom terjadi
reaksi adisi, sehingga reaksi yang terjadi adalah :

Dari reaksi diatas, diketahui bahwa saat etuna
direaksikan dengan air brom mengalami reaksi adisi menghasilkan 1,2-
dibromoetena. Saat air brom yang dihasilkan berlebih direaksikan kembali
sehingga terjadi reaksi adisi menghasilkan 1,1,2,2-tetrabromoetana.













Komentar
Posting Komentar