Judul Praktikum Uji Fitokimia pada Ekstrak Rimpang Kunyit, Batang Kayu Manis, dan Daun Sirsak
A. Judul Praktikum : Uji Fitokimia pada Ekstrak Rimpang Kunyit, Batang Kayu Manis, dan Daun Sirsak
B. Tanggal Praktikum : Kamis, 04 April 2019 (07.30 WIB)
B. Tanggal Praktikum : Kamis, 04 April 2019 (07.30 WIB)
C.
Selesai Praktikum : Kamis, 04 April 2019 (12.00 WIB)
D.
Tujuan Praktikum
1.
Memilih
peralatan yang dibutuhkan sesuai dengan percobaan yang dikerjakan
2.
Memilih
bahan-bahan yang dibutuhkan sesuai dengan percobaan yang dikerjakan
3.
Mengidentifikasi
komponen kimia tumbuhan dari kelompok terpenoid, steroid, fenolik (antrakuinon,
tanin, dan fenol), flavonoid, dan
alkohol yang terkandung dalam ekstrak rimpang temulawak
E.
Dasar Teori
Fitokimia atau kadang disebut
fitonutrien dalam arti luas adalah segala jenis zat kimia atau nutrien yang diturunkan
dari sumber tumbuhan, termasuk sayuran dan buah-buahan. Dalam penggunaan umum,
fitokimia memiliki definisi yang lebih sempit. Fitokimia biasanya digunakan
untuk merujuk pada senyawa yang ditemukan pada tumbuhan yang tidak dibutuhkan
untuk fungsi normal tubuh, tapi memiliki efek yang menguntungkan bagi kesehatan
atau memiliki peran aktif bagi pencegahan penyakit. Karenanya, zat-zat ini
berbeda dengan apa yang diistilahkan sebagai nutrien dalam pengertian
tradisional, yaitu bahwa mereka bukanlah suatu kebutuhan bagi metabolisme
normal, dan ketiadaan zat-zat ini tidak akan mengakibatkan penyakit defisiensi,
paling tidak, tidak dalam jangka waktu yang normal untuk defisiensi tersebut.
Fitokimia, merupakan senyawa yang
begitu bermanfaat sebagai antioksidan dan mencegah kanker juga penyakit
jantung. Beberapa studi pada manusia dan hewan membuktikan zat-zat kombinasi
fitokimia ini didalam tubuh memiliki fungsi tertentu yang berguna bagi
kesehatan. Kombinasi itu antara lain menghasilkan enzim-enzim sebagai penangkal
racun, merangsang system pertahanan tubuh,
mencegah penggumpalan keping-keping darah, menghambat sintesa kolesterol
dihati, meningkatkan metabolism hormone, meningkatkan pengenceran dan
pengikatan zat karsionogen dalam liang usus, menimbulkan efek anti bakteri,
anti virus dan anti oksidan, mengatur gula darah serta dapat menimbulkan efek
anti kanker.
Uji fitokimia merupakan salah satu langkah penting dalam
upaya mengungkap upaya potensi sumber daya tumbuhan (Hidajati, dkk., 2016).
Menurut Robinson (1991, dalam Wardana, 2016) alasan lain melakukan fitokimia
adalah untuk menentukan ciri senyawa aktif penyebab efek racun atau efek yang
bermanfaat yang ditunjukkan oleh efek tumbuhan kasar bila diuji dengan sistem
biologis.
Analisis fitokimia adalah bagian dari ilmu
farmakognosis yang mempelajari metode atau cara analisis kandungan kimia yang
terdapatdalam tumbuhan atau hewan secara keseluruhan dan bagian-bagian nya
termasuk cara isolasi atau pemisahanya (Wardana, 2016). Hasil analisis
fitokimia dapat memberikan petunjuk tentang keberadaan komponen kimia (senyawa)
jenis golongan alkoloid, flavonoid, fenolik, steroid, dan triterpenoid pada
tumbuhan (Hidajati, dkk., 2016).
1.
Alkaloid
Istilah "alkaloid"
(berarti "mirip alkali", karena dianggap bersifat basa). Alkaloid
adalah golongan senyawa basa bernitrogen yang kebanyakan heterosiklik dan
terdapat di tetumbuhan (tetapi ini tidak mengecualikan senyawa yang berasal
dari hewan). Asam amino, peptida, protein, nukleotid, asam nukleik, gula amino
dan antibiotik biasanya tidak digolongkan sebagai alkaloid. Dan dengan prinsip
yang sama, senyawa netral yang secara biogenetik berhubungan dengan alkaloid
termasuk digolongan ini. Alkaloid dihasilkan oleh banyak organisme, mulai dari
bakteria, fungi (jamur), tumbuhan, dan hewan. Ekstraksi secara kasar biasanya
dengan mudah dapat dilakukan melalui teknik ekstraksi asam- basa. Rasa pahit
atau getir yang dirasakan lidah dapat disebabkan oleh alkaloid (Harborne,
1987).
Pada tumbuhan senyawa alkaloid terkandung dalam,
akar, biji, kayu maupun daun. Alkaloid merupakan senyawa hasil metabolisme yang
digunakan tumbuhan sebagai cadangan dalam sintesis protein. Kegunaan alkaloid
bagi tumbuhan adalah sebagai pelindung dari serangan hama, penguat tumbuhan,
dan pengatur kerja hormon (Wardana, 2016).
Gambar 1.1 Struktur Dasar Alkaloid
Sebagian
besar alkaloid alami yang bersifat sedikit asam memberikan endapan dengan reaksi yang terjadi dengan reagent Mayer (Larutan Kalium
Mercuri Iodida); reagen Wangner (larutan Iodida dalam Kalium Iodida);
dengan larutan asam tanat, reagen Hager
(saturasi dengan asam pikrat); atau dengan reagent Dragendroff (larutan Kalium Bismuth
Iodida). Endapan ini berbentuk amorf atau terdiri dari kristal dari berbagai
warna, Cream (Mayer), Kuning (Hager), coklat
kemerah-merahan (Wagner dan Dragendroff). Persamaan uji alkoloid sebagai
berikut:
Gambar 1.2 Reaksi Uji Skrining Alkaloid. A.
Reaksi Reagen Mayer, B. Reaksi Reagen Wagner, C. Reaksi Reagen Dragendorff.
(Nafisah,
dkk., 2014).
2.
Flavonoid
Tumbuhan
menghasilkan berbagai macam senyawa kimia organik, senyawa kimia ini biasa
berupa metabolit primer maupun metabolit sekunder. Kebanyakan tumbuhan
menghasilkan metabolit sekunder, metabolit sekunder juga dikenal sebagai hasil
alamiah metabolisme. Hasil dari metabolit sekunder lebih kompleks dibandingkan
dengan metabolit primer. Berdasarkan asal biosintetiknya, metabolit sekunder
dapat dibagi ke dalam tiga kelompok besar yakni terpenoid (triterpenoid,
steroid, dan saponin) alkaloid dan senyawa-senyawa fenol (flavonoid dan tanin).
Flavonoid
merupakan metabolit sekunder yang paling beragam dan tersebar luas, namun
saling berkaitan karena alur biosintesis yang sama.Sekitar 5-10% metabolit
sekunder tumbuhan adalah flavonoid, dengan struktur kimia dan peran biologi
yang sangat beragam.Senyawa ini dibentuk dari jalur shikimate dan
fenilpropanoid, dengan beberapa alternatif biosintesis.
Flavonoid
banyak terdapat dalam tumbuhan hijau (kecuali alga), khususnya tumbuhan
berpembuluh. Flavonoid sebenarnya terdapat pada semua bagian tumbuhan termasuk
daun, akar, kayu, kulit, tepung sari, nectar, bunga, buah buni dan biji.
Kira-kira 2% dari seluruh karbon yang difotosintesis oleh tumbuh-tumbuhan
diubah menjadi flavonoid.
Flavonoid
merupakan turunan fenol yang memiliki struktur dasar fenilbenzopiron
(tokoferol), dicirikan oleh kerangka 15 karbon (C6-C3-C6) atau memiliki gugus
fungsi phenylbenzopyran. Berdasarkan posisi terikatnya gugus fungsi pada cincin
aromatik dengan gugus benzopyrana (chromono), flafonoid dibedakan menjadi tiga
kelas yaitu flavonoid (2-phenyl benzopyrans), isoflavonoid (3-benzopyrans), dan
neoflavonoids (4-benzopyrans) (Marais, 2006).
Gambar 5.1 Struktur
Dasar Golongan Flavonoid (1) Flavonoid, (2) Isoflavonoid, (3) Neoflavonoid (Marais, 2006).
Idendifikasi
senyawa flavonoid dengan ditambahkan mg 0,1 gram dan 2 tetes HCl pekat. Uji
positif ditandai terbentuknya warna merah (Harborne, 1987). Reaksi skrining
flavonoid seperti berikut:
Mg (s) + 2 HCl (aq)
à MgCl2 (aq) + H2 (g)
Gambar 5.2 Reaksi
Uji Skrining Flafonoid (Andersen et al., 2006).
3.
Saponin
Saponin
adalah segolongan senyawa glikosida yang mempunyai struktur steroid dan
mempunyai sifat-sifat khas dapat membentuk larutan koloidal dalam air dan
membui bila dikocok. Glikosida saponin bisa berupa saponin steroid maupun
saponin triterpenoid (Harborne, 1987).
Saponin
merupakan glikosida triterpen yang sifatnya menyerupai sabun, merupakan senyawa
aktif permukaan dan dapat menimbulkan busa jika dikocok dengan air dan pada
konsentrasi rendah dapat menyebabkan hemolisis pada sel darah merah pada
konsetrasi rendah.
Reaksi
uji skrining saponin sebagai berikut:
Gambar 7.1 Reaksi
Uji Skrining Saponin (Wardana, 2016).
Saponin
adalah glikosida triterpena dan sterol yang telah terdeteksi dalam lebih dari
90 genus pada tumbuhan glikosida adalah suatu kompleks antara gula pereduksi
(glikon) dan bukan gula (aglikon). banyak saponin yang mempunyai satuan gula
sampai 5 dan komponen ynag umum ialah asam glukuronat. adanya saponin dalam
tumbuhan ditunjukkan tanpa warna, sering kali bersifat optik aktif, kebanyakan
berbentuk kristal tetapi hanya sedikit yang berupa cairan (misalnya nikotina)
pada suhu kamar (Harborne, 1987).
4.
Steroid
Steroid
adalah molekul kompleks yang larut di dalam lemak dengan 4 cincin yang saling
bergabung (Lehninger, 1982). Steroid terdapat dalam hampir semua tipe sistem
kehidupan. Dalam binatang banyak steroid bertindak sebagai hormon. Steroid ini,
demikian pula steroid sintetikdigunakan meluas sebagai bahan obat (Fessenden
dan Fessenden, 1982).
Steroid
atau sterol merupakan triterpenena yang kerangka dasarnya sistem cincin
siklopentana perhidrofenantrena. Lemak
sterol adalah bentuk khusus dari steroid dengan rumus bangun diturunkan
dari kolestana dilengkapi gugus hidroksil pada atom C-3, banyak ditemukan pada
tanaman, hewan dan fungsi. Semua steroid dibuat di dalam sel dengan
bahan baku berupa lemak sterol, baik berupa lanosterol pada hewan atau
fungsi, maupun berupa sikloartenol pada tumbuhan. Kedua jenis
lemak sterol di atas terbuat
dari siklisasi squalena dari triterpena. Kolesterol adalah
jenis lain lemak sterol yang umum dijumpai (Harborne, 1987).
Gambar
Struktur kolesterol
Gambar 3.1 Struktur
Dasar Steroid (Siklopentana Perhidrofenantrena).
Reaksi uji skrining steroid dan terpenoid
sebagai berikut
Gambar 3.2 Reaksi
Uji Skrining dan Terpenoid (Wardana, 2016).
Senyawa
ini biasanya diidentifikasi dengan Perekasi Lebermann-Burchard yang merupakan
campuran antara asam asetat anhidrat dan asam sulfat pekat yang memberikan
warna hijau kehitaman sampai biru (Wardana, 2016). Alasan digunakannya asam asetat anhidrat
adalah untuk membentuk turunan asetil dari steroid yang akan membentuk turunan
asetil didalam kloroform setelah. Alasan penggunaan kloroform adalah karena
golongan senyawa ini paling larut baik didalam pelarut ini dan yang paling
prinsipil adalah tidak mengandung molekul air. Jika dalam larutan uji terdapat
molekul air maka asam asetat anhidrat akan berubah menjadi asam asetat sebelum
reaksi berjalandan turunan asetil tidak akan terbentuk.
5.
Triterpenoid
Terpenoid
merupakan derivat dehidrogenasi dan oksigenasi dari senyawa terpen. Terpen
merupakan suatu golongan hidrokarbon yang banyak dihasilkan oleh tumbuhan dan
sebagian kelompok hewan. Rumus molekul terpen adalah (C5H8)n. Terpenoid disebut
juga dengan isoprenoid. Hal ini disebabkan karena kerangka karbonnya sama
seperti senyawa isopren. Secara struktur kimia terenoid merupakan penggabungan
dari unit isoprena, dapat berupa rantai terbuka atau siklik, dapat mengandung
ikatan rangkap, gugus hidroksil, karbonil atau gugus fungsi lainnya (Harborne,
1987).
Gambar Struktur Isoprena
Terpenoid
merupakan komponen penyusun minyak atsiri. Minyak atsiri berasal dari tumbuhan
yang pada awalnya dikenal dari penentuan struktur secara sederhana, yaitu
dengan perbandingan atom hydrogen dan atom karbon dari suatu senyawa terpenoid
yaitu 8 : 5 dan dengan perbandingan tersebut dapat dikatakan bahwa senyawa
tersebut adalah golongan terpenoid (Wardana, 2016).
6.
Tanin
Tanin
merupakan zat organik yang sangat kompleks dan terdiri dari senyawa
Fenolik. Tanin merupakan senyawa polyphenol dengan bobot molekul tinggi
(1000-20000) yang mengandung gugus hidroksil dan gugus lainnya (misalnya
karboksil) untuk membentuk komplek yang kuat dengan protein dan molekul lain
seperti karbohidrat, membran sel bakteri, dan enzim pencernaan.
Tanin mengandung
sebagian besar gugus hidroksifenolik. Proteksi dari serangan ternak dapat
dilakukan dengan menimbulkan rasa sepat, serangan dari bakteri dan
insekta diproteksi dengan menonaktifkan enzim-enzim protoase dari bakteri
dan insekta yang bersangkutan. Tanin juga membentuk komplek dengan komponen
polimer dinding sel dari serangan organisme patogen dan menghentikan pembelahan
sel.
Menurut
batasnnya, tannin dapat bereaksi dengan proteina membentuk kopolimer mantap
yang tak larut dalm air. Dalam industri, tannin adalah senyawa yang berasal
dari tumbuhan, yang mampu mengubah kulit hewan yang mentah menjadi kulit siap
pakai karena kemampuannya menyambung silang proteina (Harborne, 1987:102).
Tannin
dapat diidentifikasi dengan menggunakan cara pengendapan menggunakan larutan
glatih 10% campuran natrium klorida-gelatin, besi (III) klorida 3% dan timbal
(II) asetat 25%. Reaksi uji skrining tannin sebagai berikut:
Gambar 6.1 Reaksi Uji Skrining Tannin (Wardana, 2016).
7.
Fenolik
Istilah
senyawa fenol meliputi aneka ragam senyawa yang berasal dari tumbuhan, yang
mempunyai ciri sama yaitu cincin aromatik yang mengandung satu atau dua
penyulih hidroksil. Senyawa fenol cenderung mudah larut dalam air karena
umumnya mereka seringkali berikatan dengan gula sebagai glikosida, dan biasanya
terdapat dalam vakuola sel (Harborne, 1987).
Menurut
Hart (1990), “ fenol mempunyai gugus yang seperti alkohol, tetapi gugus
fungsinya melekat langsung pada cincin aromatik”.
Pendeteksian
sederhanan senyawa fenol dilakukan dengan penambahan larutan besi (III) klorida
1%, uji positif ditandai dengan adanya warna hijau, merah keunguan, biru atau
hitam kuat (Wardana, 2016).
Gambar
4.1 Struktur Dasar Fenol
Reaksi uji skrining fenolik dengan reagen
FeCl3 sebagai berikut
FeCl3
(aq) + 6 ArOH (s) à 6 H+ + 3 Cl- +
[Fe(OAr)6]3- (aq)
Metabolisme
merupakan modifikasi senyawa kimia secara biokimia di dalam organisme dan sel. Metabolisme mencakup sintesis (anabolisme) dan penguraian (katabolisme) molekul organik kompleks.
Sedangkan senyawa-senyawa organik yang dihasilkan dan terlibat dalam metabolisme itu disebut
sebagai metabolit. Beberapa metabolit penting dalam metabolisme tersebut adalah
senyawa-senyawa: karbohidrat, protein, lemak dan asam nukleat; yang
kesemuanya (kecuali lemak) berupa senyawa berbentuk polimerik; yaitu
senyawa karbohidrat tersusun dari unit-unit gula, protein tersusun dari
asam-asam amino, dan asam nukleat terdiri dari nukleotid-nukleotid.
Kurkumin merupakan
senyawa fenolik yang memiliki kemampuan sebagai antioksidan dengan mendonorkan
atom H dari gugus fenoliknya. Aktivitas Antidermatophytic kunyit kuning
(Curcuma longa) dengan bahan aktifAr-Turmerone, Turmeric Oil.Penelitian
yang dilakukan Suthisut dan Fields menggunakan daun kunyit kuning (Curcuma
longa) melalui proses hidrodestilasi diperoleh essensial oil yang kaya
akanα-phellandrene efektif menghambat pertumbuhan dan membunuh larva
Spilosoma Obliqu. Pada lingkungan sendiri, penelitian tentang kemampuan ekstrak
tumbuhan sebagai pestisida alam menggunakan senyawa metabolit sekunder tumbuhan
terbukti aman bagi lingkungan karena sifatnya yang mudah menguap sehingga tak
menyisakan residu.
Penelitian
menggunaan kunyit kuning (Curcuma longa) sebagai larvasida nyamuk telah
banyak dilakukan, namun penelitian yang dilakukan di korea menemukan bahwa perbedaan
daerah tempat hidup tanaman mempengaruhi kandungan kimia tanaman. Sedangkan penelitian
tanaman kunyit kuning sebagai larvasida, yang tumbuh di sulawesi selatan belum
pernah dilakukan. Demikian dengan kunyit putih (Curcuma petiolata) yang
belum ada penelitian sebelumnya mengenai aktivitasnya terhadap kemampuan
insektisida larvasida nyamuk.
Berikut ini merupakan data tabel metabolit sekunder pada
kunyit, dan daun sirsak:
(Rasdiana, 2014).
(Ningsih,
2016).
F.
Alat dan Bahan
·
Alat
1.
Gelas
ukur 25 mL 1 buah
2.
Gelas kimia
400 mL 1 buah
3.
Kaki
tiga dan kasa 1
buah
4.
Kaca
arloji 1
buah
5.
Tabung
reaksi secukupnya
6.
Corong 1
buah
7.
Pipet
tetes secukupnya
8.
Pembakar
spiritus 1 buah
9.
Neraca
empat lengan 1 buah
10.
Kertas
saring secukupnya
·
Bahan
1.
Serbuk
temulawak 10-15
gram
2.
H2SO4
2N secukupnya
3.
H2SO4
pekat secukupnya
4.
FeCl3
1% secukupnya
5.
Kloroform secukupnya
6.
HCl
pekat secukupnya
7.
Amoniak secukupnya
8.
Sebuk
Mg secukupnya
9.
Metanol
60-80% secukupnya
10.
Etanol
70% secukupnya
11.
Reagen
Meyer secukupnya
12.
Reagen
Wagner secukupnya
13.
Reagen
Dragendorff secukupnya
G.
Alur Kerja
1.
Persiapan
Ekstrak Metanol Rimpang Temulawak
|
Ekstrak
kental (sampel)
|
|
5
gram serbuk rimpang temulawak
|
|
· Dimasukkan
ke dalam gelas kimia 100 mL
· Diekstrak
/ dimeserasi dengan cara merendam serbuk kedalam 15 mL metanol 60 – 80 %
· Dipanaskan
· Disaring
menggunakan kertas saring
|
|
· Dipekatkan
dengan cara diuapkan di dalam penangas air
|
|
Filtrat
|
|
Residu
|
|
Komponen
kimianya
|
|
Rimpang
temulawak segar secukupnya
|
|
· Dibersihkan
dan dikuliti
· Dikeringkan
· Digiling
|
|
5
gram serbuk kering
|
2.
Identifakasi
Alkanoid Dengan Metode Culvenor – Fitzgerald
|
± 1 ml sampel
|
|
· Dicampur
dengan 1 ml kloroform dan 1 ml amoniak
· Dimasukkkan
kedalam tabung reaksi
· Dipanaskan
di atas penangas air
· Dikocok
· Disaring
|
|
Filtrat
|
|
Residu
|
|
· Dibagi
3 bagian yang sama
· Dimasukkan
di dalam tabung reaksi
|
|
Tabung reaksi 1
|
|
Tabung reaski 2
|
|
Tabung reaksi 3
|
|
· Ditambahkan
3 tetes H2SO4 2 N
· Dikocok
· Didiamkan
|
|
· Ditambahkan
3 tetes H2SO4 2 N
· Dikocok
·
Didiamkan
|
|
· Ditambahkan
3 tetes H2SO4 2 N
· Dikocok
· Didiamkan
|
|
Filtrat
terpisah
|
|
Filtrat
terpisah
|
|
Filtrat
terpisah
|
|
· Diambil
bagian atas
· Diuji
dengan pereaksi mayer
|
|
· Diambil
bagian atas
· Diuji
dengan pereaksi wagner
|
|
· Diambil
bagian atas
· Diuji
dengan pereaksi Dragendroff
|
|
Endapan
jingga
|
|
Endapan
coklat
|
|
Endapan
putih
|
|
· Menunjukkan
adanya
|
|
Alkanoid
|
3. Identifikasi Flavonoid
|
· Ditambahkan
3 ml etanol
· Dikocok
· Dipanaskan
· Dikocok
lagi
· Disaring
|
|
± 1
ml sampel
|
|
Filtrat
|
|
Residu
|
|
· Ditambah
0,1 gram Mg dan 2 tetes HCl pekat
|
|
Warna
merah pada lapisan etanol
|
|
· Menunjukkan
adanya flavonoid
|
|
Flavonoid
|
4.
Identifikasi
Saponin
|
± 1
ml sampel
|
|
· Didinginkan
dengan 10 nl air di dalam penangas air
|
|
Filtrat
|
|
· Dikocok
· Didiamkan
selama 15 menit
|
|
Busa
yang stabil (bertahan lama)
|
|
· Menunjukkan
adanya
|
|
Saponin
|
5.
Identifikasi
Steroid
|
± 1
ml sampel
|
|
· Dicampurkan
dengan 3 ml etanol 70 %
· Ditambahkan
2 ml H2SO4 pekat dan 2 ml asam asetat anhidrat
(reagen Liebermann – Burchard)
|
|
Perubahan
warna dari ungu ke biru atau hijau
|
|
· Menunjukkan
adanya
|
|
Steroid
|
6.
Identifikasi
Triterpenoid
|
± 1
ml sampel
|
|
· Dicampurkan
dengan 2 ml kloroform dan 3 ml H2SO4 pekat
|
|
Terbentuknya
warna merah kecoklatan pada antar permukaannya
|
|
· Menunjukkan
adanya
|
|
Triterpenoid
|
7. Identifikasi Tanin
|
±
1 ml sampel
|
|
· Didihkan
dengan 20 ml air diatas penangas air
· Disaring
|
|
Filtrat
|
|
Residu
|
|
· Ditambahkan
2-3 tetes FeCl3 1 %
|
|
Terbentuknya
warna coklat kehijauan atau biru kehitaman
|
|
· Menunjukkan
adanya
|
|
Tanin
|
H.
Hasil Pengamatan
|
No.
|
Prosedur Percobaan
|
Hasil Pengamatan
|
Dugaan/Reaksi
|
Kesimpulan
|
|
|
Sebelum
|
Sesudah
|
||||
|
1.
|
Persiapan ekstrak metanol
|
· Rimpang kunyit berwarna jingga
· Daun sirsak berwarna hijau
· Kayu manis berwarna
coklat
· Metanol larutan tidak berwarna
|
· Setelah diblender
kunyit serbuk berwarna jingga, daun sirsak serbuk berwarna hijau, kayu manis
serbuk berwarna coklat
· Setelah
diekstraksi, ekstrak kunyit larutan berwarna jingga, ekstrak daun sirsak
larutan berwarna hijau, ekstrak kayu manis larutan berwarna coklat
|
|
Diekstraksi dengan larutan
metanol menghasilkan ekstrak kunyit larutan berwarna jingga, ekstrak daun
sirsak larutan berwarna hijau, ekstrak kayu manis larutan berwarna coklat
|
|
2.
|
Identifikasi Alkaloid
|
· Sampel daun sirsak berwarna hijau tua
· Sampel batang kayu manis berwarna coklat
· Sampel rimpang kunyit berwarna jingga
· Ammoniak tidak berwarna
· Kloroform tidak berwarna
· Reagen mayer berwarna kecoklatan
· Reagen wagner bewarna kuning kecoklatan
· Reagen dragondorf berwarna kuning
kecoklatan tua
|
Daun sirsak
· Sampel daun sirsak + kloroform= larutan
berwarna hijau
· +ammoniak terbentuk 2 lapisan
· Dipanaskan&dikocok= larutan berwarna
hijau pada lapisan bawah, pada lapisan atas bewarna kuning
· Filtrat daun sirsak + reagen mayer= uji
positf (+) endapan bewarna putih
· + reagen wagner= uji positif (+) endapan
coklat
· +reagen dragondorf= uji positif (+) endapan
bewarna jingga
Batang kayu manis
· Sampel kayu manis+ kloroform= berwarna coklat
· +ammoniak= terbentuk 2 lapisan
· +dipanaskan&dikocok= larutan bewarna
coklat tua
· Filtrat kayu manis+ reagen mayer= uji
positf (+) endapan bewarna putih
· +reagen wagner= uji positf (+) endapan
bewarna coklat
· +reagen dragondorf= uji positf (+) endapan
bewarna jingga
Rimpang kunyit
· Sampel kunyit+ kloroform= berwarna orange
· +ammoniak= terbentuk 2 lapisan
· +dipanaskan&dikocok= larutan bewarna
jingga
· Filtrat kayu manis+ reagen mayer= uji
positf (+) endapan bewarna putih
· +reagen wagner= uji positf (+) endapan
bewarna kecoklatan
· +reagen dragondorf= uji positf (+) endapan
bewarna jingga
|
Reaksi Meyer
Reaksi Wagner
Reaksi Dragendorff
|
Pada sampel
daun sirsak, batang kayu manis, dan rimpang kunyit pada uji reagen mayer,
wagner, dan dragondor dihasilkan uji positif (+), terdapat endapan:
· Reagen mayer berwarna putih
· Reagen wagner berwarna coklat
· Reagen dragondorf berwarna jingga
|
|
3.
|
Identifikasi Flavonoid
|
· Sampel kunyit larutan
berwarna jingga
· Sampel daun sirsak
larutan berwarna hijau
· Sampel kayu manis larutan
berwarna coklat
· Etanol 70% larutan tidak berwarna
· Mg : serbuk warna hitam
· HCl pekat larutan tidak berwarna
|
· Sampel kunyit + etanol + dipanaskan + Mg =
larutan hijau jernih, endapan hitam
· Sampel kunyit + HCl pekat = larutan warna
jingga, terdapat gelembung
· Sampel daun sirsak + etanol + dipanaskan + Mg =
larutan warna jingga, endapan hitam
· Sampel daun sirsak + HCl pekat = larutan
warna hijau, terdapat gelembung
· Sampel kayu manis + etanol + dipanaskan + Mg =
larutan warna coklat, endapan hitam
· Sampel kayu manis + HCl pekat – larutan
warna coklat, terdapat gelembung
|
Mg(s) + 2HCl(aq) ® MgCl2(aq) + H2(g)
|
· Sampel kunyit dan kayu manis menghasilkan
uji positif terhadap flavonoid
· Sampel daun sirsak menhasilkan uji negatif
terhadap flavonoid
|
|
4.
|
Identifikasi Saponin
|
· Sampel kunyit larutan
berwarna jingga
· Sampel daun sirsak
larutan berwarna hijau
· Sampel kayu manis larutan
berwarna coklat
|
· Sampel + air = warnal lebih muda
· Setelah dipanaskan tidak tebentuk residu
· Filtrat kayu manis terbentuk busa
· Filtrat daun sirsak dan kunyit tidak
terbentuk busa
|
1-Ariobinopiriosil – 3β – asetil leonelat
Aglikan
|
· Kayu manis uji positif terhadap saponin
· Kunyit dan daun sirsak uji negatif terhadap
saponin
|
|
5.
|
Identifikasi steroid
|
·
Sampel
kunyit larutan berwarna jingga
·
Sampel
daun sirsak larutan berwarna hijau
·
Sampel
kayu manis larutan berwarna coklat
·
Etanol
larutan tidak berwarna
·
H2SO4
larutan tidak berwarna
· Asetat anhidrat larutan tidak berwarna
|
· Setelah ditambah etanol larutan menjadi
jernih
· Ditambah
H2SO4 larutan menjadi berwarna lebih gelap,
terbentuk gas, dan panas
· Ditambah asetat anhidrat larutan berwarna
kehijauan atau merah kehijauan
|
Sampel mengandung steroid jika larutan
berwarna ungu hijau
|
Semua
sampel mengandung steroid
|
|
|
Persamaan
reaksi identifikasi steroid
|
||||
|
6.
|
Identifikasi Triterpenoid
|
·
Sampel
kunyit larutan berwarna jingga
·
Sampel
daun sirsak larutan berwarna hijau
·
Sampel
kayu manis larutan berwarna coklat
·
Kloroform
larutan tidak berwarna
·
H2SO4
larutan tidak berwarna
|
·
Setelah
ditambah kloroform:
Kunyit: tidak ada endapan
Daun sirsak: tidak ada endapan
Kayu manis: ada endapan
· Setelah ditambah H2SO4 terbentuk 4
lapisan
|
Sampel mengandung triterpenoid jika larutan berwarna
merah coklat
|
Kunyit dan kayu manis mengandung triterpenoid
|
|
Persamaan reaksi Identifikasi Triterpenoid
|
|||||
|
7.
|
Identifikasi Tanin
|
·
Sampel
kunyit larutan berwarna jingga
·
Sampel
daun sirsak larutan berwarna hijau
·
Sampel
kayu manis larutan berwarna coklat
·
Aquades
tidak berwarna
·
FeCl3
1% larutan berwarna kuning
|
· Setelah ditambah air larutan menjadi
berwarna lebih muda
· Setelah ditambah FeCl3 1%:
Kunyit: larutan jingga endapan coklat
Daun sirsak: larutan berwarna hijau
Kayu manis: larutan coklat kehijauan
|
Sampel mengandung tanin jika terbentuk endapan coklat
|
Kunyit dan kayu manis mengandung tanin
|
|
Persamaan reaksi identifikasi tanin
(aq) + 6 H+ (aq)
+ 3Cl-(aq)
|
|||||
|
8.
|
Identifikasi Fenolik
|
·
Sampel
kunyit larutan berwarna jingga
·
Sampel
daun sirsak larutan berwarna hijau
·
Sampel
kayu manis larutan berwarna coklat
· NaCl larutan tidak berwarna
|
· Setelah ditambah NaCl terbentuk endapan
· Ditambah gelatin terbentuk endapan; kunyit
(++); daun sirsak (+); dan kayu manis (+++)
|
Sampel mengandung fenolik jika terbentuk endapan putih
|
Sampel kayu manis mengandung fenolik
|
|
Persamaan
reaksi identifikasi fenolik
|
|||||
I.
Analisis Dan Pembahasan
K.
Kesimpulan
Pada uji fitokimia
ekstrak rimpang kunyit, daun sirsak, dan batang kayu , uji-uji yang dilakukan
yaitu uji alkaloid, flavonoid, saponin, steroid, triterpenoid, dan tanin.
Tujuan dari
praktikum fitokimjia ini adalah dapat memilih peralatan yang dibutuhkan sesuai
dengan percobaan yang dikerjakan, memilih bahan-bahan yang dibutuhkan sesuai
dengan percobaan yang dikerjakan, dan mengidentifikasi komponen kimia tumbuhan atau bagian
tumbuhan (rimpang, batang, daun) dari kelompok terpenoid,
steroid, fenolik (antrakuinon, tanin, dan fenol), flavonoid, dan alkohol yang terkandung dalam
ekstrak rimpang temulawak yang merupakan senyawa bioaktif.
Skrining fitokimia merupakan analisis kualitatif
terhadap senyawa-senyawa metabolit sekunder yang berada di dalam tumbuhan. Fitokimia
memberikan aroma khas, rasa dan warna tertentu bagi tanaman dalam berintegrasi
dengan lingkungan. Suatu ekstrak dari bahan alam terdiri
atas berbagai macam metabolit sekunder yang berperan dalam aktivitas
biologinya. Senyawa-senyawa tersebut dapat diidentifikasi dengan pereaksi -pereaksi yang
mampu memberikan ciri khas dari setiap golongan dari metabolit sekunder.
Berbagai metode yang dapat digunakan untuk identifikasi metabolit sekunder yang
terdapat pada suatu ekstrak antara lain dengan cara uji peraksi kimia.
Pada praktikum kali
ini serbuk simplisia daun sirsak, batang kayu manis dan rimpang kunyit akan
diuji dengan menggunakan beberapa pereaksi kimia untuk mengetahui apakah
simplisia tersebut mengandung senyawa kimia seperti alkaloid, flavonoid,
saponin, tanin, kuinon dan triterpenoid/steroid.
1.
Penyiapan ekstrak metanol rimpang temulawak
Preparasi sampel terdiri dari 3 tahapan,
yaitu proses pencucian, pengeringan, dan pengecilan ukuran. Bahan uji pada
ekstrak daun sirsak, batang kayu manis dan rimpang kunyit dicuci dan dikeringkan
dengan cara diangin-anginkan sampai sampel kering kamudian dihancurkan hingga
halus. Diperoleh serbuk berwarna hijau kecoklatan pada serbuk daun sirsak,
berwarna jingga pada serbuk rimpang kunyit dan berwarna coklat pada batang kayu
manis.
Ekstraksi adalah proses untuk mengisolasi
senyawa dari suatu tumbuhan. Ragam ekstraksi bergantung pada tekstur dan
kandungan air bahan tumbuhan yang diekstraksi pada jenis senyawa yang diisolasi
(Harborne 1987). Ekstraksi bergantung pada jenis dan komposisi dari cairan
pengekstraksi. Cairan pelarut yang biasanya digunakan dalam proses ekstraksi
adalah air, eter, atau campuran etanol air. Ekstraksi dengan menggunakan
pelarut etanol air sebaiknya menggunakan cara maserasi.
Pada proses maserasi bahan terhadap pelarut organik.
Maserasi merupakan cara penyarian yang sederhana, tujuan dari maserasi adalah untuk
pemecahan dinding dan membran sel akibat perbedaan tekanan antara di dalam dan
di luar sel, sehingga metabolit sekunder yang ada dalam sitoplasma akan
terlarut dalam pelarut organik dan ekstraksi senyawa akan sempurna karena dapat
diatur lama perendaman yang dilakukan. Pelarut organik yang digunakan adalah
metanol, karena Pelarut metanol menghasilkan rendemen yang lebih tinggi
dibandingkan dengan pelarut lain yang memiliki polaritas lebih rendah. Hal ini
menunjukkan bahwa senyawa dalam ekstrak daun sirsak, batang kayu manis dan
rimpang kunyit memiliki kepolaran yang
mendekati metanol, karena perolehan senyawa didasarkan pada kesamaan kepolaran
dengan pelarut. Senyawa-senyawa polar akan larut pada pelarut polar. Sehingga
metanol dapat melarutkan sekuruh golongan metabolit sekunder. Pada ekstrak daun
sirsak, batang kayu manis dan rimpang kunyit terkandung senyawa yang cenderung
bersifat polar seperti senyawa fenol.
Setelah itu dilakukan pemanasan pada sampel
pelarut, dihasilkan masing-masing sampel daun, batang dan rimpang terbentuk 2
lapisan. Pemanasan dengan penangas air untuk mempercepat proses ekstraksi.
Selanjutnya disaring dengan menggunakan kertas saring. Diperoleh filtrat pada
daun sirsak yang berwarna larutan hijau kehitaman dan residu hijau tua, filtrat
pada batang kayu manis berwarna coklat tua dan residu berwarna coklat tua dan
filtrat pada rimpang kunyit berwarna larutan jingga dan residu yang berwarna
kuning. Filtrat yang diperoleh dipekatkan dengan cara penguapan dalam penangas
air selama ± 1 menit untuk menghasilkan ekstrak rimpang temulawak kental.
Ekstrak inilah yang akan digunakan sebagai sampel yang kemudian diuji fitokimia
sampel untuk mengetahui komponen kimianya.
2.
Identifikasi alkaloid
Uji alkaloid ini menggunakan metode
culvenor-fitzgerald (Harborne, 1987). Alkaloid pada umumnya larut dalam bahan
pelarut lipofil, yang garamnya larut dalam pelarut hidrofil.Pada umumnya
alkaloid bersifat basa (adanya gugus amino) yang mengandung atau satu lebih
atau nitrogen, biasanya dalam gabungan sebagai bagian dari siklik (Harborne,
1987).
Pada tumbuhan senyawa alkaloid terkandung
dalam, akar, biji, kayu maupun daun. Alkaloid merupakan senyawa hasil
metabolisme yang digunakan tumbuhan sebagai cadangan dalam sintesis protein.
Kegunaan alkaloid bagi tumbuhan adalah sebagai pelindung dari serangan hama,
penguat tumbuhan, dan pengatur kerja hormon (Wardana, 2016).
Gambar 1.1 Struktur
Dasar Alkaloid (Fessenden & Fessenden, 1986).
Prinsip pada uji alkaloid yaitu sampel yang
akan diuji diekstraksi dengan mengunakan kloroform dan ammoniak kemudian diaduk
perlahan-lahan. Ekstraksi dengan penambahan kloroform bertujuan untuk
memutuskan ikatan antara asam tannin dan alkaloid yang terikat secara ionic
dimana atom N dari alkaloid berikatan saling stabil dengan gugus hidroksil
genolik dari asam tannin. Dengan terputusnya ikatan ini alkaloid akan bebas,
sedangkan asam tannin akan terikat oleh
kloroform. Sedangkan pengadukan bertujuan untuk memperbanyak kontak yang
terjadi antara kloroform dengan target semakin banyak. Hal ini memungkinkan
ikatan antara asam tannin dan alkaloid semakin banyak sehingga alkaloid bebas
semakin banyak yang terekstraksi. Setelah itu dilakukan proses pemanasan diatas
penangas air kemudian dikocok dan disaring.
Masing-masing sampel kemudian didistribusikan
kedalam tabung reaksi menjadi 3 bagian yang sama banyak. Setelah itu dilakukan
penambahan 3 tetes larutan H2SO4 2M, dikocok kuat-kuat dn didiamkan selama
beberapa menit hingga terpisah.
Penambahan asam sulfat 2N ini berfungsi untuk mengikat kembali alkaloid
menjadi garam alkaloid agar dapat bereaksi dengan pereaksi-pereaksi logam berat
yaitu spesifik untuk alkaloid yang menghasilkan kompleks garam anorganik yang
tidak larut sehingga terpisah dengan metabolic sekundernya. Penambahan asam
sulfat 2N menyakibatkan larutan terbentuk menjadi dua fase karena adanya
perbedaan tingkat kepolaran antara fase aqueous yang polar dan kloroform yang
relative kurang polar. Garam alkaloid akan larut pada lapisan atas, sedangkan
lapisan kloroform berada pada lapisan paling bawah karena memiliki massa jenis
yang lebih besar (Harborne, 1987). Sedangkan pengocokan dengan kuat bertujuan
untuk melarutkan senyawa-senyawa pada tiap-tiap lapisan secara tepat dan sempurna.
Lapisan atas (lapisan atas sulfat) kemudian di
uji skrining fitokimia menggunakan tiga reagen yaitu mayer, wagner, dan
dragendorff.
Pereaksi meyer bertujuan untuk mendeteksi
alkaloid, dimana pereaksi ini berikatan dengan alkaloid melalui ikatan koordinasi
antara atom N alkaloid dan Hg pereaksi meyer sehingga menghasilkan senyawa
kompleks merkuri yang nonpolar mengendap berwarna putih. Reaksi pada uji
alkaloid ini dengan pereaksi meyer
adalah:
Gambar
1.2. Persamaan Reaksi Alkaloid dengan Pereaksi Mayer
Pada uji alkaloid dengan pereaksi Mayer,
diperkirakan nitrogen pada alkaloid akan bereaksi dengan ion logam K+ dari
kalium tetraiodomerkurat (II) membentuk kompleks kalium-alkaloid yang
mengendap.
Pada reaksi menggunakan pereaksi Wagner, ion
logam K+ membentuk ikatan kovalen koordinasi dengan alkaloid sehingga membentuk
kompleks kalium-alkaloid yang mengendap. Persamaan reaksinya dapat dinyatakan
sebagai berikut:
Gambar 1.3. Persamaan Reaksi Alkaloid dengan Pereaksi Wagner
Pada reaksi menggunakan reagen Dragendorf,
ion logam K+ membentuk ikatan kovalen koordinasi dengan alkaloid sehingga
membentuk kompleks kalium-alkaloid yang mengendap. Persamaan reaksi dapat
dinyatakan sebagai berikut:
Gambar 1.4. Persamaan Reaksi Alkaloid dengan Pereaksi
Dragendorrf.
Berikut hasil uji alkaloid pada ekstrak metanol
daun sirsak, batang kayu manis, dan rimpang kunyit.
Tabel.1. Hasil Uji Alkaloid Ekstrak Metanol Daun
Sirsak, Batang Kayu Manis, dan Rimpang Kunyit.
|
Uji
Alkaloid
|
Daun
Sirsak
|
Batang
Kayu Manis
|
Rimpang
Kunyit
|
|
Reagen mayer
|
+
|
-
|
-
|
|
Reagen wagner
|
+
|
+
|
-
|
|
Reagen dragondorf
|
+
|
+
|
+
|
Dari data pada tabel 1. Dapat diketahui bahwa
ekstrak metanol daun sirsak, batang kayu manis, dan rimpang kunyit positif
mengandung alkaloid. Hasil uji dinyatakan positif ketika masing-masing sampel
direaksikan dengan pereaksi meyer terbentuk endapan putih kekuningan, dengan
pereaksi wagner terbentuk endapan cokelat dan dengan pereaksi dragendorff
terbentuk endapan merah jingga (Priyanto, 2012).
3.
Identifikasi flavonoid
Flavonoid adalah suatu kelompok senyawa fenol
yang tersebar yang ditemukan di alam dan banyak dalam tumbuh-tumbuhan.
Flavonoid sering dikenal sebagai bioflavonoid yang berperan sebagai
antioksidan. Golongan flavonoid bersifat polar sehingga lebih larut dalam
pelarut polar dan semipolar. Kepolaran senyawa tersebut dikarenakan flavonoid
merupakan senyawa polihidroksi (memiliki lebih dari satu gugus hidroksil)
(Harborne, 1987).
Polihidroksi dari flavonon akan direduksi
oleh logam magnesium dalam asam klorida dalam larutan etanol sehingga membentuk
garam benzopirilium yang berwarna merah, kuning, atau disebut dengan garam
flavilium (Harborne, 1987).
Gambar 2.1. Struktur Dasar Flavonoid (Fessenden &
Fessenden, 1986).
Langkah pertama dalam percobaan ini adalah
memasukkan masing-masing 1ml sampel daun sirsak, batang kayu manis dan rimpang
kunyit kedalam tabung reaksi dan ditambah etanol 70%, kemudian dikocok dan
larutan tetap ada dalam lapisan air dan dipanaskan diatas penangas air setelah itu
dikocok kembali dan dan disaring. Kelarutan zat dalam pelarut tergantung dari
ikatannya (polar, semipolar, atau non polar). Etanol termasuk ke dalam pelarut
polar, sehingga sebagai pelarut etanol diharapkan dapat menarik zat-zat aktif
yang juga bersifat polar (Harborne, 1987).
Filtrat yang dihasilkan pada sampel daun
sirsak berwarna hijau, pada kayu manis berwarna coklat dan pada rimpang
berwarna kuning. Setelah itu masing-masing sampel ditambahkan 0,1 gram Mg
terdapat endapan Mg berwarna hitam. Saat penambahan 2 tetes HCl pekat endapan Mg
larut, dihasilkan larutan berwarna hijau pada sampel daun sirsak, pada sampel
kayu manis larutan berwarna merah, dan pada sampel rimpang kunyit larutan
berwarna jingga. Penambahan logam Mg dan HCl untuk mendeteksi adanya senyawa
flavanoid dimana flavanoid akan bereaksi dengan Mg. Uji positif ditandai
terbentuknya warna merah (Harborne,
1987).
Perubahan pada lapisan atas berwarna merah
dan larutan bawah berwarna kemerahan karena flavanoid mengalami perubahan
serapan cahaya ke arah panjang gelombang yang lebih besar akibat adanya reaksi
reduksi oleh HCl.
Warna merah pada lapisan etanol menunjukkan
adanya flavonoid yang berupa fenol pada sampel. Persamaan reaksinya sebagai
berikut:
Berikut hasil uji flavonoid pada ekstrak
metanol daun sirsak, batang kayu manis, dan rimpang kunyit.
Tabel.2. Hasil Uji Flavonoid Ekstrak Metanol Daun Sirsak, Batang Kayu
Manis, dan Rimpang Kunyit.
|
Sampel
|
Uji
Flavonoid
|
|
Daun sirsak
|
-
|
|
Batang kayu manis
|
+
|
|
Rimpang kunyit
|
+
|
Dari data pada tabel 1. Dapat diketahui bahwa
ekstrak metanol daun sirsak negative (-) pada uji flavonoid, sedangkan pada batang
kayu manis, dan rimpang kunyit positif (+) mengandung alkaloid. Uji positif pada
akaloid ditandai dengan terbentuknya larutan berwarna merah (Harborne, 1987).
4.
Identifikasi
saponin
Saponin merupakan senyawa aktif permukaan
yang kuat dan bersifat seperti sabun,
serta dapat dideteksi berdasarkan kemampuannya membentuk busa jika dikocok
dalam air dan menghemolisis sel darah merah pada konsetrasi rendah (Harborne,
1987). Saponin banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari, misal untuk bahan
penyuci kain (batik) dan sebagai sampo (Hidajati, dkk., 2016:41).
Langkah pertama dalam uji saponin adalah memasukkan
masing-masing sampel dari daun sirsak, batang kayu manis dan rimpang kunyit sebanyak
1 ml kedalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan 10 ml aquades dan dipanaskan
didalam penangas air. Pada saat ditambahkan aquades masing-masing sampel
mengalami pengenceran sehingga menghasilkan larutan pada sampel daun sirsak
berwarna hijau muda, pada sampel kayu manis berwarna coklat dan pada sampel
rimpang kunyit berwarna kuning. Setelah dipanaskan larutan tidak mengalami
perubahan, selanjutnya larutan dikocok
menimbulkan busa pada masing-masing larutan sampel, tetapi busa yang dihasilkan hanya sedikit dan tidak
dapat bertahan lama, akan tetapi dalam teori gelembung busa tidak hilang selama
15 menit. Oleh karena itu, pada percobaan kami tidak sesuai dengan teori. Timbulnya
busa pada uji analisis saponin menunjukkan
adanya glikosida yang mempunyai kemampuan membentuk buih dalam air yang
terhidrolisis menjadi glukosa dan senyawa lainnya (Marliana et al., 2005).
. Persamaan reaksi hidrolisis saponin dalam
air dapat dinyatakan sebagai berikut :
Gambar 3.1 Reaksi Uji
Skrining Saponin (Marliana et al., 2005).
Berikut teori hasil uji saponin pada ekstrak
metanol daun sirsak, batang kayu manis, dan rimpang kunyit:
Tabel.3. Hasil Uji Saponin Ekstrak Metanol
Daun Sirsak, Batang Kayu Manis, dan Rimpang Kunyit..
|
Sampel
|
Uji
Saponin
|
|
Daun sirsak
|
+
|
|
Batang kayu manis
|
+
|
|
Rimpang kunyit
|
-
|
Dari data pada tabel 3. Dapat diketahui bahwa
ekstrak metanol daun sirsak batang kayu manis positif (+) mengandung saponin,
dan rimpang kunyit negatif (-) tidak mengandung saponin. Uji saponin dapat
dideteksi berdasarkan kemampuannya membentuk busa saat dikocok dalam air
(Harborne, 1987).
5.
Identifikasi steroid
Steroid adalah molekul kompleks yang larut di
dalam lemak dengan 4 cincin yang saling bergabung (Lehninger, 1982). Steroid
terdapat dalam hampir semua tipe sistem kehidupan. Dalam binatang banyak
steroid bertindak sebagai hormon. Steroid ini, demikian pula steroid sintetik digunakan
meluas sebagai bahan obat (Fessenden dan Fessenden, 1982).
Langkah pertama dalam identifikasi steroid
adalah memasukkan masing-masing sampel dari daun sirsak, batang kayu manis dan
rimpang kunyit sebanyak 1 ml kedalam tabung reaksi, kemudian ditambah 3 ml
etanol 70%. Senyawa ini diidentifikasi dengan reaksi lieberman-burchard
(anhidrat asetat-H2SO4) ) yang memberikan warna hijau kehitaman sampai biru
(Maliandari, 2012 di dalam Wardana,, 2016). Yaitu dengan menambahkan 2 ml H2SO4
pekat melalui dinding tabung untuk mereduksi asetil dari steroid, penambahan
lewat dinding dikarenakan agar proses reduksi tidak secara besar sehingga akan
menimbulkan letupan-letupan kecil, dan
setelah penambahan H2SO4 pekat terbentuk
2 lapisan. Selanjutnya ditambah 2 ml
asetat anhidrat, hasil percobaan ini pada larutan sampel daun sirsak menghasilkan
2 lapisan larutan bewarna hijau dan kekuningan, pada sampel kayu manis bewarna coklat
tua dan merah kecoklatan, pada sampel rimpang kunyit bewarna jingga. Tujuan daari
penambahan larutan asetat anhidrat adalah untuk membentuk turunan asetil dari steroid
sehingga menimbulkan perubahan pada larutan yakni menimbulkan adanya gelembung
dan terdapat 2 lapisan.
Berikut merupakan mekanisme reaksi pada sampel ekstrak rimpang
temulawak:
Berikut hasil uji steroid
pada ekstrak metanol daun sirsak, batang kayu manis, dan rimpang kunyit.
Tabel.4. Hasil Uji Steroid Ekstrak Metanol
Daun Sirsak, Batang Kayu Manis, dan Rimpang Kunyit.
|
Sampel
|
Uji
Steroid
|
|
Daun sirsak
|
+
|
|
Batang kayu manis
|
+
|
|
Rimpang kunyit
|
+
|
Dari data pada tabel 4. Dapat diketahui bahwa
ekstrak metanol daun sirsak, batang kayu manis, dan rimpang kunyit positif (+) mengandung
steroid. Uji steroid dapat dideteksi pada perubahan warna yang memberikan warna
hijau kehitaman sampai biru (Maliandari, 2012).
6.
Identifikasi Triterpenoid
Terpenoid merupakan komponen penyusun minyak
atsiri. Minyak atsiri berasal dari tumbuhan yang pada awalnya dikenal dari
penentuan struktur secara sederhana, yaitu dengan perbandingan atom hydrogen
dan atom karbon dari suatu senyawa terpenoid yaitu 8 : 5 dan dengan
perbandingan tersebut dapat dikatakan bahwa senyawa tersebut adalah golongan
terpenoid (Wardana, 2016).
Langkah pertama dalam identifikasi
triterpenoid adalah memasukkan masing-masing sampel dari daun sirsak, batang
kayu manis dan rimpang kunyit sebanyak 1 ml kedalam tabung reaksi, kemudian
ditambah 2 ml kloroform masing-masing sampel tidak terbentuk endapan, kemudian ditambah
3 ml H2SO4 pekat membentuk 4 lapisan. Fungsi kloroform adalah untuk melarutkan
triterpenoid yang mudah larut dalam pelarut organik karena kloroform memiliki
sifat semipolar. Sedangkan fungsi H2SO4 adalah untuk mereduksi triterpenoid
yang menghasilkan warna merah kecoklatan. Dalam penambahan H2SO4 dikarenakan
agar proses reduksi tidak secara besar sehingga akan menimbulkan
letupan-letupan kecil.
Berikut merupakan mekanisme reaksi
Liebermann-Burchard pada sampel ekstrak rimpang temulawak:
Berikut hasil uji triterpenoid
pada ekstrak metanol daun sirsak, batang kayu manis, dan rimpang kunyit.
Tabel.5. Hasil Uji Triterpenoid Ekstrak Metanol Daun Sirsak, Batang Kayu
Manis, dan Rimpang Kunyit.
|
Sampel
|
Uji
Triterpenoid
|
|
Daun sirsak
|
-
|
|
Batang kayu manis
|
+
|
|
Rimpang kunyit
|
+
|
Dari data pada tabel 5. Dapat diketahui bahwa
ekstrak metanol daun sirsak negatif (-) pada uji triterpenoid, sedangkan batang
kayu manis, dan rimpang kunyit positif (+) mengandung triterpenoid. Uji yang banyak
digunakan ialah reaksi lieberman-burchard (anhidrida asetat-H2SO4 pekat) yang
dengan kebanyakan triterpena dan sterol memberikan warna hijau biru (harborne,
1987:147). Beberapa triterpen dikenal dengan rasanya terutama rasa pahit
(Wardana, 2016).
7.
Identifikasi tanin
Tanin dalam angiospermae terdapat khusus
dalam jaringan kayu. Tanin dapat bereaksi dengan protein membentuk suatu
polimer mantap yang tidak dapat bereaksi dengan air (Harborne 1987).
Langkah pertama dalam identifikasi tanin
adalah memasukkan masing-masing sampel dari daun sirsak, batang kayu manis dan
rimpang kunyit sebanyak 1 ml kedalam tabung reaksi, kemudian ditambah 10 ml
air, dipanaskan dalam penangas air dan disaring. Didapatkan filtrat pada sampel
daun sirsak berwarna hijau muda, pada batang kayu manis berwarna coklat dan pada rimpang kunyit
berwarna kuning. Selanjutnya masing-masing sampel ditambah 2-3 tetes larutan
FeCl3 1% berwarna kekuningan. Dihasilkan perubahan warna pada sampel daun
sirsak berwarna hijau tua, pada sampel batang kayu manis berwarna coklat
kehijauan dan pada sampel rimpang kunyit berwarna coklat, yang menandakan dalam
masing-masing sampel mengandung tanin. Di mana gugus fenolik pada senyawa tanin
berikatan dengan ion Fe dari FeCl3 membentuk senyawa kompleks yang member warna
coklt kehijauan. Persamaan reaksinya sebagai berikut:
(aq) + 6 H+ (aq) + 3Cl-(aq)
Berikut hasil uji tanin pada ekstrak metanol
daun sirsak, batang kayu manis, dan rimpang kunyit.
Tabel.6. Hasil Uji Tanin Ekstrak Metanol Daun Sirsak, Batang Kayu Manis,
dan Rimpang Kunyit.
|
Sampel
|
Uji
Triterpenoid
|
|
Daun sirsak
|
+
|
|
Batang kayu manis
|
+
|
|
Rimpang kunyit
|
-
|
Dari data pada tabel 6. Dapat diketahui bahwa
ekstrak metanol daun sirsak, batang kayu manis, positif (+) mengandung tanin dan
rimpang kunyit negatif (-) pada uji tanin.
8.
Identifikasi fenolik
Istilah senyawa fenol meliputi aneka ragam
senyawa yang berasal dari tumbuhan, yang mempunyai ciri sama yaitu cincin
aromatik yang mengandung satu atau dua penyulih hidroksil. Senyawa fenol
cenderung mudah larut dalam air karena umumnya mereka seringkali berikatan
dengan gula sebagai glikosida, dan biasanya terdapat dalam vakuola sel
(Harborne, 1987).
Langkah pertama pada percobaan identifikasi
fenol adalah memasukkan masing-masing sampel dari daun sirsak, batang kayu
manis dan rimpang kunyit sebanyak 1 ml kedalam tabung reaksi, kemudian ditambah
1 ml NaCl 1% dan 1 ml gelatin 10% untuk mendeteksi adanya kandungan fenol pada
masing-masing sampel tersebut. Penambahan NaCl 1% berfungsi untuk mengendapkan
zat- zat lain yang bukan fenol, endapan
yang terbentuk kemudian ditambah dengan gelatin. Timbulnya endapan menunjukkan
adanya fenol atau zat samak. Tanin
bersifat dapat mengendapkan protein (Harborne, 1987). Endapan yang terbentuk
tersebut berasal dari reaksi antara fenol dengan gelatin yang merupakan senyawa
turunan protein, gelatin juga dapat diperoleh dengan cara mengekstrak kolagen
hewan dan mengeringkannya.
Persamaan reaksi senyawa fenolik:
Berikut hasil uji fenol
pada ekstrak metanol daun sirsak, batang kayu manis, dan rimpang kunyit.
Tabel.7. Hasil Uji Fenol Ekstrak Metanol Daun Sirsak, Batang Kayu Manis,
dan Rimpang Kunyit.
|
Sampel
|
Uji
Fenol
|
|
Daun sirsak
|
-
|
|
Batang kayu manis
|
+
|
|
Rimpang kunyit
|
+
|
Dari data pada tabel 7. Dapat diketahui bahwa
ekstrak metanol daun sirsak negativ (-) mengandung tanin, sedangkan batang kayu
manis, dan rimpang kunyit positif (+) mengandung fenol. Uji positif ditandai
dengan adanya warna hijau, merah keunguan, biru atau hitam kuat (Harborne, 1987
di dalam Wardana, 2016:29).
Tujuh golongan metabolit sekunder tumbuhan
diatas memiliki fungsi dan manfaat masing-masing, dari semua golongan metabolit
sekunder golongan fenolik dan flavonoid yang memiliki aktivitas antioksidan.
Kepolaran senyawa fenolik bersifat semi-polar sehingga digunakan pelarut
semi-polar seperti kloroform untuk mengekstraknya (Wardana, 2016).
J.
Diskusi
Pada
percobaan identifikasi saponin, kami mendapatkan data pada sampel kami
menghasilkan negatif (-) tidak mengandung saponin. Pada saat larutan dikocok akan menimbulkan busa pada
masing-masing larutan sampel, tetapi
busa yang dihasilkan hanya sedikit dan tidak dapat bertahan lama, sedangkan
dalam teori gelembung busa yang dihasilkan tidak akan hilang selama 15 menit.
Oleh karena itu, pada percobaan kami tidak sesuai dengan teori yang menjelaskan
bahwa pada sampel daun sirsak dan batang kayu manis positif (+) mengandung
saponin dan pada rimpang kunyit negatid (-) tidak mengandung saponin.
Dari percobaan yang telah dilakukan, dapat
disimpulkan bahwa :
1. Diekstraksi dengan
larutan metanol menghasilkan ekstrak kunyit larutan berwarna jingga, ekstrak
daun sirsak larutan berwarna hijau, ekstrak kayu manis larutan berwarna coklat
2.
Pada sampel daun sirsak, batang kayu manis,
dan rimpang kunyit pada uji reagen mayer, wagner, dan dragondor dihasilkan uji
positif (+), terdapat endapan:
-
Reagen
mayer berwarna putih
-
Reagen
wagner berwarna coklat
-
Reagen
dragondorf berwarna jingga
3. Sampel kunyit dan kayu manis menghasilkan uji
positif terhadap flavonoid, Sampel daun sirsak menhasilkan uji negatif terhadap
flavonoid
4. Kayu manis uji positif terhadap saponin, Kunyit
dan daun sirsak uji negatif terhadap saponin
5.
Semua
sampel mengandung steroid
6. Kunyit dan kayu manis mengandung triterpenoid
7. Kunyit dan kayu manis mengandung tanin
8. Sampel kayu manismengandung fenolik
Daftar
Pustaka
Fessenden,
Ralp J. dan Joan S. Fessenden. 1982. Kimia
Organik Edisi Ketiga Jilid 2. Jakarta: Erlangga.
Harborne,
J.B. 1987. Metode Fitokimia. Penuntun
Cara Modern Menganalisis Tumbuhan. Terjemahan Kosasih Padmawinata dan Iwang
Soediro. Bandung: Institut Teknologi Bandung.
Hart,
Harold. 1990. Kimia Organik Suatu Kuliah
Singkat. Terjemahan Suminar Achmadi. Jakarta: Erlangga.
Hidajati,
Nurul, dkk., 2016. Penuntun Praktikum
Kimia Organik II. Surabaya: Jurusan Kimia FMIPA UNESA.
Lehninger. 1982. Dasar-Dasar Biokimia. Jakarta: Erlangga.
Marais,
J.P.J., Deavours, B., Dixon, R.A., dan Ferreira, D. 2006. The Stereochemistry Of Flavonoids dalam: Grotewold, E (Ed.). The
Science Of Flavonoids. Springer Science Business Media. United State Of
America. Halaman 1.
Marliana,
S. D., Suryanti, V., Suyono. 2005. Skrining
Fitokimia dan Analisis Kromatografi Lapis Tipis Komponen Kimia Buah Labu Siam
(Sechium Edule Jacq. Swartz) dalam Ekstrak Etanol. FMIPA, Universitas
Sebelas Maret (UNS) Surakarta.
Nafisah,
M., Tukiran., Suyatno., Nurul, Hidayati. 2014. Uji Skrining Fitokimia Pada Ekstrak Heksan, Kloroform,dan Methanol dari
Tanaman Patikan Kebo (Euphorbia Hirta). Jurusan Kimia FMIPA UNESA,
Prosiding Seminar Nasional Kimia Surabaya, 20 September 2014. Universitas
Negeri Surabaya.
Ningsih.
C. R., Zusfahair, & Kartika, D. 2016. Identifikasi
Senyawa Metabolit Sekunder Serta Uji Aktivitas Ekstrak Daun Sirsak sebagai Anti
bakteri. Jurnal Molekul, 101-111.
Rasdiana,
Ishak, H., & Maming. 2014. Ekstrak
Kunyit Putih dan Kunyit Kuning Terhadap Mortalitas Larva Anopheles Sp.
Studi Kesehatan Masyarakat, 1-12.
Robinson,
T., 1991. Kandungan Organik Tumbuhan Obat
Tinggi, Diterjemahkan oleh Kokasih Padmawinata. 191-193. Bandung: ITB.
Wardana,
Andika Pramudya. 2016. Elusidasi Struktur
Senyawa Hasil Isolasi Dari Eksrtak Kloroform Kulit Batang Tumbuhan Gowok
(syzygius polycephalum) dan Uji Aktivitas Antioksidan. Skripsi Sarjana Pada
Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Surabaya: tidak diterbitkan.
Lampiran
a. Jawaban
pertanyaan
1.
Tulis secara lengkap
reaksi setiap uji fitokimia
-
Uji Meyer
HgCl2(aq) + 2KI(aq) à HgI2(aq)
+ 2 KCl(aq)
HgI2(aq) + 2 KI(aq) à
K2[HgI4](aq)
-
Uji Wagner
I2(aq) + KI(aq) à KI3(aq)
-
Uji Dragendorff
Bi(NO3)3(aq) + 3KI(aq)
à BiI3 + 3KNO3(aq)
BiI3(aq) + KI(aq) à
K[BiI4](aq)
-
Identifikasi Flavonoid
Mg (s)
+ 2HCl (aq) à MgCl2 (aq)
+ H2 (g)
-
Identifikasi Saponin
-
Identifikasi Steroid
-
Identifikasi Triterpenoid
-
Identifikasi Tanin
(aq)+6H+(aq) + 3Cl-(aq)
-
Identifikasi fenolik
2.
Tulis struktur dasar
masing-masing kelompok senyawa steroid, triterpenoid, tanin, saponin,
flavonoid, dan alkaloid
|
|
|
|
|
Flavonoid
|
Alkaloid
|
Steroid
|
|
|
|
|
|
Triterpenoid
|
Saponin
|
Tanin
|
3.
Sebutkan
senyawa-senyawa flavonoid apa saja yang terdapat pada daun sirsak, batang kayu manis dan rimpang
kunyit, berdasarkan literarur!
Jawab:
Sebagian besar flavoniod yang terdapat pada tumbuhan terikat pada
molekul gula sebagai glikosida, dan dalam bentuk campuran. Flavon dan flavonol merupakan senyawa yang
paling tersebar luas dari semua pigmen tumbuhan kuning
4.
Sebutkan fungsi dan
manfat daun sirsak, batang kayu manis dan rimpang
kunyit bagi kehidupan
manusia
Manfaat daun sirsak
untuk kesehatan yaitu:
1. Mencegah dan mengobati kanker
payudara, prostat, pankreas, dan paru-paru.
2. Membantu merileksasi otot.
3. Menghambat mutasi gen.
4. Menghambat proses pertumbuhan
bakteri jahat.
5. Mengobati eksim dan rematik.
6. Mengurangi stres.
7. Menyehatkan jantung.
8. Menurunkan tekanan darah
tinggi.
9. Meredakan rasa nyeri.
10.Dapat dijadikan sebagai obat
anti kejang.
11.Menghambat perkembangan
parasit.
12.Menghambat perkembangan virus.
13.Membunuh cacing parasit.
14.Mengobati bisul.
15.Membantu melebarkan pembuluh
darah.
Manfaat kunyit:
-
Dapat
membantu menjaga kulit
-
menjadi
lembut dan halus, membuat kulit
-
bersinar,
menghasilkan kulit mulus dan
-
menghilangkan
noda seperti bintik-bintik.
-
Daun
Kunyit ini juga digunakan untuk
-
meringankan
penyakit kulit seperti eksim dan
-
sebagai
antiseptik untuk mengobati luka dan
-
luka
bakar.
Manfaat kayu manis
-
Rempah-rempah
Penggharum masakan
Komentar
Posting Komentar